Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Aku takut lupa cara bersosialisasi dengan makhluk hidup

2 min read

sudah lebih dari satu bulan, aku menjalankan kewajibanku sebagai warga negara NKRI yang baik dan menurut kepada pemerintah, yaitu #Dirumahaja. Disinilah aku sekarang, pukul 11 malam diruang tamu bersama laptop, hp dan musik yang kudengrkan lewat Earphone. Sempat lupa hari apa, ingatan hanya sekadar tugas kuliah sampai sedikit lupa kalau ini bulan ramadlan yang mulia.

Aku memang tidak berhak untuk menggerutu apalagi mengutuk semua yang terjadi, tapi biarlah ini menjadi keluh kesahku dan semoga bukan keluh kesah kalian pula. Jika iya, mari bergandeng tangan secara daring.

Memang tidak ada social distancing, karena kita tetap bersosialisasi dengan teman, guru, dosen, maupun mencari kenalan baru lewat sosial media kita. Semua kita lakukan secara daring, minimal jika ada yang secara offline, itu hanya sebatas pada keluarga kita ataupun beberapa orang yang memang kita harus menemuinya. Oh iya, saya ucapkan semangat pula untuk teman-teman yang belum diberi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan masih terjebak di perantauan.

Memang tidak ada social distancing, tapi keduanya dengan perantara handphone, laptop, tablet, atau alat elektronik lainnya.

Bisa gak kalau aku katakan, sebenarnya kita itu tidak sedang bersosialisasi dengan orang-orang di gadget kita, tapi sebenarnya kita sedang bersosialisasi dengan gadget kita sendiri? gadget, si benda mati yang dingin, tak memiliki akal dan perasaan. Namun dengan bangganya kita sering mengatakan bahwa kita sangat sayang kepada mereka. Halah kalau rusak juga minta baru wkwkwkkw.

Setiap hari dengan gadget, membuatku semakin mengerti kapan dia baterianya habis, kapan aku berhenti menggunakannya karena dia terlalu panas, atau sekadar mengelapnya yang terlalu kotor dengan debu. Aku jadi sangat ahli untuk perhatian dengan gadget jadinya wkwkwkkwk.

aku, yang terlalu lama berinteraksi dengan benda mati ini, takut lupa cara bersosialisasi dengan makhluk hidup.

“Loh tapi kan ada keluarga?”

Bagaimana aku bisa sepenuhnya bisa bersosialisasi dengan keluarga ku kalau setiap bangun tidur yang aku sapa bukan adik atau ibuku, melainkan gadget ku, untuk merampungkan deadline atau sekadar mengecek ada tambahan tugas apa hari ini. Silahkan kalian mengatai ku tidak bisa mengontrol jadwal kehidupanku, mungkin aku yang memang butuh belajar, dan aku sangat bersedia apabila kalian mau mengajari ku bagaimana caranya.

Semua ke-onine-an ini memasuki waktu tanpa batas, menghinggapi 24 jam waktuku dalam satu hari. satu jam tidak mengecek gadget rasa-rasanya sudah tertinggal informasi yang amat sangat banyak. Kemudian scroll grup dengan penuh kemalasan, belum juga selesai scroll chat yang lama, sudah banyk notification yang berlomba-lomba masuk di hp yang sudah usang ini.

Bahkan hal yang paling bisa membuat aku ketakutan adalah ketika ketiduran dan terdapat sebuah panggilan masuk, wah sudah berprasangka banyak, entah itu kuliah sudah mulai, deadline tugas telah tiba ataupun alarm dari teman untuk mengerjakan tugas. wkwkwk lucu sekali, rasa-rasanya kita takut sesuatu melebihi ketakutan yang lainnya.

Sekali lagi aku takut, ketika bertemu dengan teman ku nanti, kala semua telah usai, aku lupa caranya sekadar menyapai mereka :

“Hai, apa kabar?”

karena terlalu sering menanyakan

“P” “Bagaimana tugasmu apa sudah selesai?”

Memang semua ke-online-an ini kadang membuat aku senang karena bisa mengerjakannya dengan tiduran, dengan makan, dengan mengerjakan beberapa hal yang lainnya. Tapi tetap saja, manusia butuh bersosialisasi, sosialisasi dengan manusia, bukan hanya dengan gadget si benda mati yang tidak akan hidup sampai kapanpun.

Bahkan untuk tugas pun, kita harus berkelompok secara daring. Tidak bisa dipungkiri memang, tulisan dan suara tidak bisa menyampaikan 100% makna pesan secara sempurna. Karena manusia juga membutuhkan komunikasi secara ekspresi, secara isyarat dan tatap muka. Kerap kali terjadi mis interpretasi, sehingga pemahaman membutuhkan waktu yang lebih lama daripada tatap muka secara langsung.

Bisa gak kalau aku katakan bahwa aku takut lupa caranya menjadi manusia kelak? karena aku lupa cara bersosialisasi. Aku takut lupa caranya bercerita secara langsung, aku takut lupa cara berbicara dihadapan teman-teman di kelas, aku takut cara berdiskusi secara tatap muka, aku takut lupa, cara memahami interaksi secara offline kelak.

ah, tolong ingatkan aku ya teman-teman, jika aku mudah terlupa. Kita tahu bahwa sifat manusia adalah mudah lupa. Aku harap kita tidak sama-sama lupa, biar bisa saling mengingatkan. Jika lupa keduanya, aku takut, istilah bertatap muka dan berinteraksi secara offline akan dihapuskan dari kamus kata kita sebagai manusia.

Terakhir, aku juga hanya bisa berharap semua ini segera usai. Aku percaya Tuhan menitipkan sesuatu yang bermanfaat dari segala musibah ini, namu malam ini, aku seakan tidak bisa melihat manfaat itu semua, sehingga ingin aku curahkan. Agar esok hari aku bisa bangun kembali dengan melihat manfaat Tuhan yang begitu tak terkira.

terserah lah kalau kalian katakan aku terlalu berlebihan, tolong ingatkan ya jika aku terlalu brlebihan.

salam rindu,

aku, yag mumpung belum lupa cara merindukanmu.

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

2 Replies to “Aku takut lupa cara bersosialisasi dengan makhluk hidup”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *