Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Apa Tidak Boleh Berekspetasi?

3 min read

Apa Tuidak Boleh Berekspetasi?

Apa tidak boleh berekspetasi? menurut kalian bagaimana?

Sebenarnya di artikel ini aku hanya ingin bercerita mengenai ekspetasi-ekspetasiku yang kebanyakan luntur dan tidak sesuai dengan kenyataan. Entah itu tidak sesuai karena aku mendapatkan hal yang buruk atau sesuatu yang lebih luar biasa daripada itu. Sampai kemudian aku berada di titik mempertanyakan “memangnya salah ya berekspetasi?”, Kemudian setelah aku menemukan jawabannya, yaa aku kira kalian harus menyimak artikel ini sampai akhir.

Cerita Mengenai Ekspetasi-Ekspetasi Saat Sekolah

Kedua orang tua ku adalah guru. Aku kecil saat itu tidak sadar sedang mengemban tugas “status sosial” orang tua ku, sebagai kaum yang katanya cerdas. Aku kira itu akan menjadi hal yang baik bagiku. Karena aku bisa menyerap pelajaran dengan mudah dan menjadi siswa yang berprestasi. Iya memang, tapi nyatanya ekspetasiku tidak berjalan mulus. Aku harus menjalani banyak pembullyan, karena status sosial orang tuaku. Mereka mengatakan aku pelit, bahkan sampai mengolok-olok aku menggunakan nama atau dalih orang tua ku karena sebagian dari mereka tahu satu dari orang tuaku kalau mengajar sedikit galak, hahaha. Nyatanya ekspetasiku sebagai anak dari seorang guru tidak membawaku pada hasil yang selalu baik. Bahkan gosipnya salah satu guru berusaha selalu memojokkan aku karena tidak menyukai orang tuaku yang juga guru. Yaampun ada-ada saja, tapi memang ada. Dan aku tersiksa saat itu.

Berlanjut ke jenjang berikutnya, aku si anak desa yang begitu idealis mencoba bersekolah ke kota. Pertama kali datang untuk tes masuk, aku begitu kagum gedung calon sekolahku yang begitu apik dan luas, mungkin sekolahku yang dulu hanya 1/5 nya. Saat itu aku berdoa dan tentunya berekspetasi, wah nanti disini banyak anak-anak yang berprestasi dan cerdas, semoga aku bisa menjadi kawan mereka dan ketularan cerdas. Nyatanya, aku bisa katakan sekarang, tidak semuanya seperti itu.

Di awal semester, aku bahkan sampai nyeletuk “Loh cuman gini?” (beneran gak sombong gais, itu pemikiranku saat itu). Bahkan di sekolah kota ini aku justru menemukan budaya menyontek yang bahkan terang-terangan ada. Padahal di sekolahku dulu hal seperti ini menjadi hal yang tabu. Entahlah, aku memang sedikit kecewa. Tapi justru aku menemukan hal yang lebih baik, yang tidak aku ekspetasikan sebelumnya. Aku bisa mencoba kegiatan di luar akademik yang ternyata menyenangkan, dan bisa mendukungku untuk berprestasi pula. Aku pun kagum dengan metode pembelajaran beberapa guru, yang lebih membuatku semangat belajar.

Di jenjang berikutnya, aku dikagetkan dengan adanya sistem bentak-membentak saat masa orientasi siswa. Yang baiknya, angkatanku adalah angkatan terakhir yang menerima hal seperti itu. Aku yang berekspetasi bisa menemukan hal baik saat itu seketika luntur semuanya, wkwkwk. Aku banyak menerima ekspetasi (yang bahkan belum muncul) sudah luntur duluan.

Ekspetasi Saat Kuliah

Awal masuk kuliah, aku tidak terlalu banyak berekspetasi. Takut kecewa seperti yang lalu-lalu. Tapi lagi-lagi aku khilaf, di tengah jalan aku memupuk sedikit banyak ekspetasi, ada yang berjalan sesuai rencana ada yang tidak. Banyak hal yang berusaha aku pegang sebagai ekspetasi dan idealisme, sedikit luntur di tengah jalan. Bahkan rasa-rasanya berat sekali pengkhianatan ekspetasi kepadaku saat fase-fase ini. Aku dijungkir balikkan pada jurang realita yang tidak semulus ekspetasi. Tapi sekali lagi, aku katakan bahwa setiap aku dijungkir balikkan ekspetasiku sendiri, ada hal yang ternyata bisa mengangkatku. Hal tersebut membuat aku berkata “Oh masih terdapat hal-hal baik yang patut aku syukuri”. Hal-hal tersebut bahkan belum pernah terbesit di ekspetasiku.

Ekspetasi dan Realita

Banyak orang yang menuliskan

“Ekspetasi Vs Realita”

Seperti mereka itu sedang bermusuhan. Ekspetasi terkesan baik dan realita sebaliknya. Padahal tidak sepenuhnya hal itu benar.

Saat ini aku sadar, realita adalah perwujudan kompleks dari suatu ekspetasi yang kita impikan. Terkadang wujud itu sesuai apa yang kita inginkan, dan kadang tidak. Namun jangan hanya memandang dari satu sisi saja, percayalah bahwa realita memberikan dampak baik di luar ekspetasi kita. Beneran deh, itu yang ternyata selalu terjadi padaku.

Memang kita tidak akan langsung menyadarinya, yaiyalah namanya dikhianati ekspetasi, ya kecewa. Tapi saat kita sudah menenangkan diri, atau waktu sudah berjalan sedikit lama, kita pasti akan menyadarinya.

Dulu nih, aku berekspetasi aku gak akan ikut-ikutan organisasi lagi deh saat kuliah, udah kapok saat SMA. Aku mau fokus mengejar nilai (yang secara nyata tidak ada gunanya), fokus dan fokus. Aku mau berprestasi di kelas. Seperti saat dulu ketika idealisme ku belum ternodai, si anak desa. Karena aku berpikir, kalau aku mengikuti organisasi, akan berantakan kuliahku. Ternyata aku tercebur juga, dan ternyata aku sangat menikmatinya dan lebih baik daripada pengalaman ku yang lalu-lalu.

Ada hal-hal luar biasa yang nyatanya otak kita tidak bisa mengekspetasikan, dan itu terjadi loh di hidup kita !

Apa tidak boleh berekspetasi?

Apa tidak boleh berekspetasi?

Aku pernah berada di titik mempertanyakan hal ini, mungkin sampai sekarang. Sampai rasanya aku ingin berhenti berekspetasi, sampai berhenti mempercayai orang lain. Rasanya ingin aku telan mentah-mentah sendiri kekecewaan itu sebelum aku sempat memikirkan hal-hal indah karena berekspetasi.

Meskipun sekarang aku bisa mengatakan bahwa berekspetasi itu tidak salah, nyatanya aku terkadang tidak siap untuk kecewa. Tapi ya, ini yang bisa aku bagikan kepada kalian:

Berekspetasi itu tidak sama sekali salah. Tapi sikap setelah ekspetasi yang tidak terwujud, itulah yang harus diolah. Kecewa boleh, itu manusiawi. Tapi jangan berhenti dan berlarut-larut.

Memangnya kenapa sih aku bisa mengatakan bahwa berekspetasi itu tidak salah?

Karena menurutku, ekspetasi itulah yang membuat kita hidup. Karena kita masih berharap, dan hidup ada karena harapan. Justru ekspetasi-ekspetasi itu yang membuat kita semangat menjalani hari karena ada harapan yang akan diperjuangkan untuk menjadi kenyataan.

Meskipun susah ketika dikecewakan, tapi jangan berhenti berekspetasi !

Salam,

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *