Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Berdamai dengan Inner Child : Susah Tapi Harus

3 min read

Aku pikir diantara kita sudah tahu istilah ini, tapi aku kira banyak yang belum tahu. Aku saja baru mengenal istilah “inner child” baru-baru ini. Sehingga aku hanya ingin menulis ulang dari sumber-sumber yang aku tahu.

Apa itu inner child? Inner child adalah kepribadian “anak kecil” yang ada pada kita. Inner child ini merupakan refleksi dari ingatan kita saat berusia 6-7 tahun. Karena menurut sumber yang aku ketahui, pada usia tersebut otak kita akan merespon suatu hal sangat cepat, sehingga berakibat kita mudah mengingatnya.

Sekarang, coba kalian ingat pada usia tersebut kalian ngapain? pasti ada suatu peristiwa yang terkenang kan? yang sampai sekarang kalian mengingatnya? Kalau belum coba ingat-ingat lagi, pasti ada…

Nah ada juga yang menyebutkan bahwa inner child ini sebenarnya adalah luka batin semasa kita kecil yang diakibatkan oleh berbagai hal. Dari luka ini yang akan membentuk refleksi kepribadian kita kemudian.

Bagaimana Inner Child membentuk kepribadian kita?

Nah, ternyata dari peristiwa yang kita ingat tersebut, ada yang baik dan ada yang buruk. Dan mereka ternyata bisa mempengaruhi kepribadian kita di masa sekarang loh, hah kok bisa?

Iya, karena ingatan saat kecil, akan membentuk suatu kepribadian kita yang rasanya ingin menghindari peristiwa buruk itu terjadi lagi dalam hidup kita. Dan jika peristiwa baik yang kita kenang, kita pasti akan menginginkan peristiwa tersebut terjadi lagi.

Misalnya, saat usia 6-7 tahun yang teringat adalah kalian menjadi korban pembullyan. Hal ini akan membentuk kepribadian kalian yang kurang bersosialisasi dengan dunia luar, kalian menjadi mudah tersinggung karena diejek oleh seorang teman, bahkan kalian akan melakukan berbagai upaya untuk menghindari pembullyan dan menutupi pembullyan di masa lalu kalian tersebut.

Atau saat usia tersebut, kalian sedang sering-seringnya diajak liburan oleh keluarga. Mungkin saat dewasa kalian pasti akan sering ingin merasakan liburan atau explore berbagai tempat yang baru.

Faktor pembentuk Inner Chilld

Pada usia ini selain kenangan tentang pertemanan awal sekolah, pola asuh orang tua juga sangat mempengaruhi. Kalian pasti ingat bagaimana orang tua mengasuh kalian pada masa itu. Kalau belum ingat-ingat lagi deh, hehe. Kenangan yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pula dan kenangan yang buruk tidak bisa dipungkiri bisa membentuk kepribadian yang buruk pula.

Anak yang diasuh dengan pola asuh yang sedikit keras, selalu dihukum karena melakukan kesalahan, atau selalu dimarahi ketika melakukan suatu hal yang tidak tepat. Bisa menjadikan suatu kepribadian anak yang selalu ingin mengejar kesempurnaan. Di masa dewasanya dia amat sulit menolerir kegagalan.

Padahal kita tahu sendiri pada masa sekarang ini, kegagalan adalah suatu hal yang wajar sebagai pembelajaran hidup. Karena saat masa kecil definisi kegagalan itu begitu sempit, semakin dewasa akan semakin luas. Namun inner child kita yang sudah terdidik untuk tidak menerima kegagalan tidak bisa berkompromi dengan hal tersebut. Sehingga akan membuat luka batin yang parah pada diri kita.

Selain itu, anak yang pada masa kecilnya kurang dekat dengan orang tua karena berbagai hal (misalnya orang tuanya terlalu mementingkan pekerjaan daripada mengasuh anaknya), akan mengakibatkan ikatan anak dan orang tua lemah di masa yang akan mendatang. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak dapat terbuka kepada orang tua, karena refleksi ingatannya pada masa kecil seharusnya dia tidak begitu. Tentu hal ini akan berdampak buruk.

Namun anak yang diasuh dengan pola asuh yang tepat pada usia tersebut bisa membentuk kepribadian yang tepat pula pada saat usia dewasa. Biasanya nih setahuku para influencer yang pengetahuannya luas, dari kecil mereka sudah dibiasakan membaca buku-buku yang “berbobot”. Sehingga mereka sudah terbiasa “melahap” pengetahuan dari banyak sumber.

Berdamai dengan Inner Child

Sadar gak, terkadang hal buruk yang terjadi pada kita di masa sekarang adalah dampak dari kita mengabaikan inner child kita? Misalnya kita sedih karena merasa tidak diapresiasi oleh suatu lingkungan.

Ternyata keinginan “diapresiasi” ini merupakan suatu refleksi hal yang tidak kita dapatkan di masa kecil. Sehingga saat dewasa kita sangat ingin mendapatkan hal ini. Dan akan mudah tersinggung maupaun kesentil jika tidak mendapatkannya.

Contoh lain yang saya sebutkan di atas, ketika kita mengalami pembullyan di masa kecil. Kita akan mudah merasa khawatir terhadap tindakan kita dan mudah merasakan tidak aman.

Kita menjadi anti kritik terhadap segala sesuatu. Karena kita menganggap kritik sebagai suatu pembullyan, dan inner child kita tidak ingin mengalami hal tersebut kembali.

Lalu bagaimana cara agar kita berdamai dengan inner child tersebut?

1. Terima dan jangan dilupakan

Inner child adalah bagian dari diri kita yang tentunya akan membentuk kepribadian kita. Kita tidak harus menolaknya bahkan tidak menganggapnya ada. Karena semakin kita tidak menganggap keberadaannya, kita akan semakin bingung dan selalu bilang “kok bisa ya aku seperti ini?”. Akhirnya kita akan melakukan suatu kesalahan-kesalahan yang sebenarnya hanya sebagai ajang penolakan dan menghindari kenagan tentang Inner child kita tersebut. Memng susah untuk menerimanya, tapi ingat dibagian artikel “mudah baperan” aku katakan bahwa:

Untuk menjadi manusia sepenuhnuya, kita harus menerima semua emosi yang hadir pada diri kita. Begitupun dengan kenangan yang hadir dalam inner child, jadi jangan dilupakan….

2. Refleksi dan evaluasi terus-menerus

Terkadang kita juga harus melakukan refleksi dengan inner child kita. Ajak mereka bicara, katakan bahwa

Iya aku dulu memang dapet gini,gak dapet gitu. Tapi udah dong, udah. Aku sekarang sudah hidup bahagia kok. Meskipun pernah terluka di masa lalu

Lakukan evaluasi pula terhadap inner child mu tersebut. Hal-hal apa yang membuatmu terluka dan bahagia. Apakah kamu benar-benar membutuhkannya sekarang? Jangan hanya menuruti balas dendam atau ke egoan masa kecilmu, kamu jadi mengabaikan masa sekarang.

3. Kamu tidak sendiri

Setiap orang pasti mempunyai inner child mereka masing-masing. Hal inilah yang perlu kamu sadari, kamu gak sendirian. Banyak orang diluar sana yang survive karena masa kecilnya, atau berusaha mendapatkan sesuatu karena masa kecilnya. Kamu jangan bermurung terus yaa….

Akhirnya, aku hanya mampu bilang kamu hebat telah melampaui sejauh ini.. Tetap berproses dan semangat ya 🙂

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *