Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Sebaik-Baik Tempat Perempuan Adalah Di Rumah, Lalu Bagaimana Dengan Ibuku?

4 min read

Ibu tunggal, Guru

Ibuku bukan ibu rumah tangga, sehingga bukan perempuan yang di rumah saja… Beliau pernah mengatakan :

Misale ibuk gak duwe penggaweyan yo paling wes stres, terus iso ne nangis-nangis terus

(Misalnya ibu ini tidak punya pekerjaan ya mungkin sudah stres dan hanya bisa menangis terus-menerus)

Kata ibuku kepadaku waktu itu yang sering diulang sampai sekarang. Kami kehilangan ayah beberapa tahun yang lalu, dan tulang punggung keluarga kami sekarang adalah ibu. Seorang perempuan tangguh yang menafkahi tiga anak dan ibunya. Anak sulungnya pun perempuan, yaitu aku, dan dua adikku laki-laki. Jadi bisa kita tahu dari sini, keluarga kami hanya mempunyai dua orang laki-laki yang bahkan belum tamat bangku sekolah. Sedangkan para perempuannya yang lebih dewasa, yang lebih paham bagaimana melanjutkan kehidupan tanpa seorang laki-laki dewasa.

Ketika mengingat-ingat kata-kata ibu, aku teringat sebuah ucapan yang digaung-gaungkan untuk perempuan. Katanya,

“sebaik-baik tempat perempuan adalah di rumah”

“Pahala yang amat besar dilimpahkan kepada perempuan yang berdiam di rumah”

“Perempuan boleh keluar rumah asal mendapat izin dari suami, jika tidak boleh harusnya dia tetap di rumah”

Lalu aku berpikir, bagaimana dengan ibuku?

Apakah beliau bukan merupakan perempuan yang baik-baik? Apakah beliau tidak mendapatkan pahala yang besar karena menafkahi kami? Apakah ibuku harus mendapatkan suami kembali untuk diperbolehkan keluar rumah? Apakah nantinya aku juga tidak termasuk perempuan yang baik-baik karena menggantikan pekerjaan ibuku yang sudah pensiun? Ah, rasanya aku sangat tidak terima dengan pernyataan itu, namun yasudahlah. Karena mereka yang mengucapkan mungkin ilmunya lebih tinggi daripada aku, seorang mahasiswi yang masih banyak belajar ini.

            Aku membayangkan jika ibu tetap di rumah, karena menafsirkan dalil-dalil tersebut secara tekstual. Mungkin aku akan disuruh putus kuliah. Lalu menemani ibu di rumah sebagai seorang perempuan yang baik-baik, sembari menunggu laki-laki datang ke rumahku untuk menikahiku. Kemudian kehidupan kami terangkat kembali karena finansial suamiku. Adikku mungkin juga disuruh ibuku untuk putus sekolah. Kemudian mencari pekerjaan yang entah apa itu mengingat adikku masih sekolah dasar dan menegah pertama. yah mereka kan laki-laki? Katanya laki-laki harus menafkahi perempuan. Sungguh kasihan nasib adikku jika itu terjadi.

            Namun bayanganku tidak terealisasi. Ibuku sebagai perempuan yang berpendidikan, tidak rela kami putus dari pendidikan kami. Beliau sudah mempunyai pekerjaan bahkan sebelum menikah dengan ayah, dan setelah menikah beliau tetap bekerja, sebagai seorang guru. Karena beliau paham pentingnya pendidikan untuk masa depan kami, beliau tetap menyekolahkan kami. Beliau banting tulang mengurusi kehidupan kami, menyediakan keperluan pendidikan kami, menasehati kami, dan menjaga kami. Beliau sosok ibu namun berperan ganda sebagai ibu dan ayah. Kami dididik dengan disiplin, dan sebagai seorang anak sulung, aku tahu ibuku berada di jalan yang benar.

 Diluar sana, aku membayangkan banyak perempuan yang termakan dengan dalil ini dan ditafsirkan secara tekstual.

bagaimana nasib mereka? Apakah mereka akan mendapatkan kehidupan yang layak? Mengingat ini sudah era 2020, bukan era siti nurbaya lagi. Perempuan juga harus memperoleh pendidikan yang bermutu dan bekerja jika perlu, karena minimal perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika ibuku tidak pernah sekolah karena dirumah saja, mana mungkin aku dan adikku memiliki IQ yang lumayan seperti ini. (Hahaha sombong dikit doanggg). Bukankah dalam ilmu biologi dijelaskan bahwa kecerdasan anak berasal dari gen ibunya?

            Selain itu, aku dikenalkan konsep ketidakpastian masa depan, salah satunya dari ibuku. Ibuku pernah berkata,

 “Sampeyan mene yen ndelek bojo, ojo nggantungno bojone, engkok yen koyok ibuk ngene, bingung dewe sampeyan”

(kamu nanti kalau mencari suami, jangan menggantungkan suami mu, nanti kalau seperti ibu gini, kamu akan bingung sendiri)

            Aku tidak berani melihat wajah ibu waktu mengucapkannya, takut meneteskan air mata. Memang benar sekali perkataan ibu, aku tidak boleh menggantungkan suamiku (salah satunya urusan finansial) meskipun katanya seharusnya perempuan seperti itu. Karena siapa tahu masa depan nanti, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja aku ditinggal mati suamiku seperti ibuku, bercerai, atau usaha suamiku bangkrut. Memang tidak ada yang menginginkan itu terjadi, namun siapa yang tahu masa depan? Sehingga alangkah baiknya kita berjaga-jaga menyiapkan kemampuan sebagai perempuan yang mandiri mulai dari sekarang.

Terlepas dari dalil tersebut secara tekstual, aku berpikir bahwa memang tidak sebaiknya perempuan di rumah saja.

Perempuan berhak menjalani kehidupannya secara seutuhnya. Perempuan berhak mengenyam pendidikan sampai tuntas, berhak belajar apapun yang dia minati. Belajar ilmu akademik, mendalami kegemarannya, dan meningkatkan softskill yang dia punya. Karena perempuan juga akan mendapatkan kemungkinan masa depan yang sama dengan laki-laki. Dia memiliki kemungkinan untuk menghidupi keluarganya sebelum menikah, berumah tangga yang tidak harmonis, bahkan tidak berumah tangga karena hal lain.

            Selain itu, pendidikan yang didapatkan perempuan juga sangat bermanfaat diterapkan dalam kehidupan berumah tangga. Perempuan bisa belajar manajemen finansial sehingga keuangan keluarga akan selalu balance, bagaimana mengoordinasi konflik dalam keluarga. Atau bahkan belajar mengenai hak maupun kewajiban sebagai seorang istri dan ibu. Sehingga sebagai seorang perempuan yang berpendidikan, tidak mudah didoktrinasi oleh suaminya kelak. Sehingga dalam keluarga tersebut akan tercipta diskusi dan asas “saling” dalam pelaksanannya. Perempuan akan menjadi partner laki-laki yang baik dalam keluarga, dan ibu yang tangguh bagi anak-anaknya.

Memang akan ada pahala besar bagi perempuan yang menetap dirumah. Tapi aku rasa suatu kewajiban besar bagi ibuku untuk menafkahi kami sekeluarga.

Alih-alih mendapat pahala, aku rasa ibu mungkin akan mendapatkan dosa karena menelantarkan anak-anaknya. Jika masih banyak perempuan yang termakan perkataan ini, aku kira kalian perlu melihat perspektif lain. Masih banyak pahala dalam jumlah besar ketika kalian memilih untuk tidak di rumah saja. Kalian akan mendapatkan pahala menuntut ilmu, pahala mencari nafkah, dan pahala lain yang lebih berarti. Aku rasa konsep pasti mendapat pahala dan tidaknya hanya Tuhan yang tahu. Hal itu tentu tergantung oleh situasinya, tidak bisa saklek begitu saja.

 Tadi sudah aku katakan bahwa perempuan adalah manusia seutuhnya.

Tidak bisa disamaratakan bahwa keluar rumahnya perempuan hanya akan menimbulkan fitnah. Rasanya seperti perempuan ini suatu barang yang tidak bisa mengontrol diri agar tidak jatuh fitnah kepada dirinya, hahaha. Aku kira jika ibu saya tetap di rumah, justru malah akan menimbulkan fitnah. Karena pasti tetangga-tetanggaku akan berpikir,

“Darimana dia mendapatkan uang untuk anak-anaknya ya? Kan dia tidak bekerja? Apa dia punya simpanan?”

Jadi justru dengan keluar rumahnya ibuku dari rumah untuk bekerja, akan menyelamatkan kami sekeluarga dari fitnah.

            Memang susah menjadi ibu tunggal, tapi aku rasa yang dilakukan ibuku sudah benar. Aku rasa ibuku bukan sumber fitnah dan sumber dosa. Ibuku merupakan tumpuan kami, dan akan kami jaga. Ibuku merupakan contoh perempuan tangguh yang mampu melawan stigma bahwa perempuan seharusnya di rumah saja. Suatu saat nanti akupun yang akan menggantikan posisi ibu sebagai tulang punggung keluarga, dan aku tidak mau dirumah saja.

Namun aku yakin, daripada memilih mendapat pahala yang besar karena harus tetap dirumah, ada kewajiban yang membuahkan pahala lebih besar. Yaitu jika aku terus mampu menjalani pendidikan dan bekerja nantinya.

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

2 Replies to “Sebaik-Baik Tempat Perempuan Adalah Di Rumah, Lalu Bagaimana…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *