Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Kekompakan yang Toxic

3 min read

Siapa bilang warga +62 ini tidak kompak dan individualis, salah sekali. Buktinya kompak dalam melanggar aturan PSBB, kompak dalam melakukan korupsi bersama-sama, dan sebagainya. Sepertinya kekompakan ini pun telah diajarkan dari zaman mengenyam pendidikan sampai menjadi mahasiswa. Sehingga ala bisa karena biasa.

“KALIAN ITU SATU ANGKATAN ! YANG KOMPAK” begitulah ocehan yang paling sering kita dengar saat OSPEK di perkuliahan. Mungkin itu yang terbayang sampai saat ini di benak para manusia +62 yang budiman sehingga apa-apa menjadi kompak, wkwkwk baguslah. Tapi yaa, bukannya kompak dalam segala hal itu bagus, ada kekompakan yang toxic. Kekompakan tersebut yang sebenarnya adalah racun pembunuh perlahan. Mungkin ada yang sudah sadar tapi tak menghiraukannya, dan ada pula yang pura-pura tidak sadar.

Kekompakan yang toxic adalah kekompakan yang tidak baik. Kompak ini biasanya mengurung kita agar tidak berkembang atau bahkan mencegah kita melakukan hal yang baik. Dengan dalih “kompak”,terbitlah suatu mayoritas, dimana ketika ada mayoritas tentu ada pihak minoritas. Dalam kekompakan toxic, pihak minoritas selalu dipojokkan, seolah menghianati kerja sama, di cap individualis, dan tidak bisa di percaya. Padahal sebenarnya pihak minoritas tersebutlah yang berhasil selamat dari racun yang tersembunyi dalam dalih “kekompakan”.

Contohnya saja saat sekolah. Sebagai makhluk yang sangat idealis kala itu,wkwwk, saya mendapat wejangan bahwa

“Menyontek atau bekerja sama saat ujian merupakan suatu tindakan yang menghasilkan dosa jariyah”.

Karena apa? nilai hasil contekan itu akan dimasukkan kedalam rapor kita, kemudian dari rapor akan diakumulasikan menjadi nilai di ijazah kita, lalu dari ijazah kita melamar pekerjaan, atau daftar universitas, sampai akhirnya kita mapan dari nilai yang tertulis di rapor kita. Kemapanan tersebut merupakan hasil menyontek, sehingga bisa saya simpulkan uang dari kemapanan tersebut tidak barokah, dan menghasilkan suatu dosa yang terus menerus kita dapat alias dosa jariyah.

wkwkwk, itu kan pandangan idealis ala keagamaan ya. Mari memandang dari sisi yang lain, yaitu nalar logis nya. Suatu kekompakan yang toxic seperti kerja sama dalam ujian (atau keburukan yang lainnya), akan memojokkan pihak yang tidak mengikuti kerja sama. Alhasil ada kemungkinan “nilai” yang tidak bekerja sama akan kalah dengan sekumpulan kelompok yang bekerja sama.

Selain itu, dengan adanya kerja sama tersebut, menghasilkan nilai yang semu. Padahal dalam teori pendidikan, katanya nilai itu yang menentukan kemampuan siswa yang sebenarnya. Tapi kalau nilainya semu seperti ini? apa gunanya?

Selain itu, dengan adanya kekompakan toxic ini, dapat dikatakan menguntungkan juga merugikan beberapa pihak. Pihak yang diuntungkan ini karena mereka tidak perlu melakukan hal yang “ekstra” untuk survive dalam lingkungannya karena ada tim tersebut. Pihak yang dirugikan merasa kurang bisa survive di lingkungan tersebut, sehingga kemampuan aslinya tidak bisa berkembang. Lalu jika ada pihak yang merasa diuntungkan dan disisi lain ada yang dirugikan, apakah bisa disebut kekompakan yang baik?

Contoh mudah yang lain adalah kekompakan untuk tidak mengumpulkan tugas pada waktunya, kompak mengerjakan tugas ala kadarnya bersama-sama, kompak tidak bertanya saat presentasi atau bahkan kompak tidak menjawab pertanyaan dari dosen atau guru. Memang ini namanya kompak, tapi yang meracuni. Dengan adanya kompak-kompak dalam hal ini ada beberapa pihak yang merasa dirugikan. Ada siswa yang ingin benar-benar menanyakan sesuatu karena dia penasaran, ada siswa yang ingin menjawab untuk menguji kemampuannya, bahkan ada siswa yang mengerjakn tugas dengan sepenuh hatinya *eakk terhalang karena komunitas kekompakan toxic ini. Padahal hakekatnya pendidikan adalah mengembangkan kemampuan bukan? Seharusnya siswa yang expert ini lebih di gaet, agar mau mengajari yang kurang expert, bukan malah di jauhi dengan dalih tidak kompak.

Dengan adanya kekompakan toxic ini akan memunculkan suatu “pemikiran” atau “jawaban” yang seragam. Padahal dalam beberapa hal, dibutuhkan “proses pemikiran dan jawaban” yang beragam. Dengan adanya keseragaman ini, bagaimana kita bisa berpikir lebih luas lagi?

Kadang saya juga sedikit bersedih, ketika beredar slide PPT di akhir presentasi

“yang bertanya akan mendapatkan azab”

memang sebagai guyonan ini sedikit lucu, namun jika diseriusi tidak logis sekali sepertinya wkwkwk. Dengan bertanya, berarti audiens menyimak presentasimu (bukan berarti yang tidak bertanya tidak menyimak) dan merasa ada yang tidak dimengerti atau kurang sesuai dengan pemahamannya, sehingga ditanyakan. Tentu pembawa presentasi yang baik pasti paham mengenai slide yang dipresentasikan, sehingga pastinya tidak bingung dong kalau di cecar pertanyaan, seharusnya malah bahagia berarti ada yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai yang di presentasikan. Malah ini diacam azab, ini boleh jadi masuk ke melarang kebebasan berpendapat loh, di negara demokrasi hal tersebut yaa masih ada ada saja wkwkwkwk.

Parahnya, dalam kekompakan toxic ini, biasanya memberikan hukuman sosial kepada pihak-pihak yang tidak mau diajak “kompak”.

Dari sini akan muncul masalah yang baru yaitu pembullyan bahkan mungkin hal lain yang lebih berbahaya. Padahal seharusnya dengan adanya kekompakan, akan menciptakan kemaslahatan atau kebaikan bukan? ini malah sebaliknya, beginilah namanya kekompakan yang toxic.

Memang seharusnya banyak mindset yang perlu diubah. Tidak dari pihak yang melakukan dari kekompakan toxic tersebut, tapi juga dari pihak yang menjadi alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Tapi yaa, perubahan yang paling mudah itu memang dimulai dari diri sendiri.

“Sok sokan bicara gini, emang kamu gak pernah ngelakuin?”

wkwkwk, disini saya hanya mengungkapkan keluh kesah dan pendapat saya, bukan berarti saya sok bijaksana maupun munafik. Saya masih berusaha dan belum bebas sepenuhnya dari kekompakan toxic ini, tapi ya diusahakan perlahan.

Karena cepat atau lambat kita kan menyadari bahwa kekompakan toxic ini benar-benar toxic, menyakiti secara perlahan, dan penyesalan selalu terletak diakhir bukan?

Wkwkwk, kalian boleh sebebasnya menghujat saya dikolom komentar, saya tunggu argumen kalian ! terimakasih, salam.

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

5 Replies to “Kekompakan yang Toxic”

  1. Tulisan yang menarik untuk dikomentari. Kekompakan toxic disini berarti kekompakan racun. Setiap racun punya penawar, penawarnya adalah orang-orang yang sadar akan racun tersebut dan memiliki keberanian untuk mengubahnya. Penyebab toxic ini adalah orang-orang yang memprovokasi kekompakan toxic tersebut, namun yang membuat toxic ini semakin menjalar sebenarnya adalah orang yang sudah sadar tapi tak menghiraukannya, dan orang-orang yang pura-pura tidak sadar.
    Saya sependapat dengan tulisan ini. Apalagi dengan ujung dari tulisan ini,bahwa perubahan yang lebih mudah memang dimulai dari sendiri. Tapi, penulis saat ini sedikit atau banyak sedang mengubah maindset seseorang melalui tulisan ini. Jadi, yang saya sayangkan dari tulisan ini adalah kurangnya sedikit kalimat penguatan terhadap orang2 minoritas agar tetap mempertahankan kebaikan tersebut, meskipun tidak ada keberanian dan blm bisa menjadi penawar, setidaknya tidak membuat toxic ini semakin menjalar.
    Saya rasa tulisan ini bisa menjadi salah satu ramuan untuk bisa menjadi penawar jika hal tersebut ada dlm tulisan ini.
    Mohon maap komennya panjang, karena itu yang mengganggu pikiran saya.
    You’re a good writter 🙂

    1. Terimakasih atas tambahan penjelasan dan sarannya kak. Memang penawarnya adalah orang orang minoritas yang sadar. Namun layaknya penawar suatu pandemi, akan butuh waktu yang lama sampai akhirnya mereka teruji ampuh untuk mengatasi pandemi tersebut. Saya pun belum terlalu berani sebenarny mengangkat topik ini, sehingga untuk penguatan kaum minor belum terlalu saya sampaikan dengan gamblang. Terimakasih penguatannya sekali lagi..

      Menurut saya, dari kaum minornya sendiri seharusnya juga ada kerja sama. Sehingga kerja sama toxic ini akan berhadapan dengan kerja sama yang baik.. Nantinya akan tercipta keseimbangan seperti ying dan yang..

      Pada akhirnya, semoga panjang umur hal hal yang baik 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *