Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Keluarga : Pisau Tajam Bermata Dua

4 min read

Kenapa aku bisa mengatakan bahwa keluarga merupakan pisau tajam bermata dua?

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan “Selamat Hari Keluarga Nasional !” yang jatuh kemarin, pada tanggal 29 Juni 2020. Segala doa baik aku aamiinkan paling serius untuk setiap keluarga para pembaca. Namun jangan lupa mendoakan aku balik yah, hehehe…

Aku menulis artikel ini hanya untuk menghadapkan dua fakta yang saling bersebrangan tentang keluarga. Karena dari bacaan yang pernah aku baca, hanya menampilkan satu sisi dari keluarga. Entah itu sisi positif atau negatifnya, sehingga pola pikir kita tidak bisa secara utuh.

Kenapa aku katakan keluarga adalah pisau tajam bermata dua?

tidak hanya bermata dua, namun juga tajam. Karena kebaikannya merupakan hal terbaik dalam hidup sedangkan keburukannya membuat hidup tidak ada artinya.

Keluarga : Previlege Pertama dan Terpenting

1. Previlege Pertama

Saat kita lahir di dunia, orang pertama yang haru akan kedatangan kita adalah keluarga kita. Yak, dengan ini bisa aku katakan bahwa keluarga merupakan previlege pertama kita. Lingkungan pertama yang membuat kita merasa memiliki hak-hak istimewa sebelum mengenal lingkungan lain seperti lingkungan desa atau perumahan, sekolah, perkuliahan, bahkan pekerjaan. Karena merupakan lingkungan pertama, di situ lah seharusnya kita mendapat dasar-dasar pendidikan maupun hal lainnya yang bermanfaat untuk diterapkan sebagai persiapan untuk terjun di lingkungan berikutnya.

Seperti ada orang tua yang membiasakan anaknya untuk membaca sejak kecil. Maka ketika bersekolah, anak tersebut tentu tidak akan mengalami masalah yang berarti dalam membaca ketika di sekolah.

Selain itu dapat pula berupa dasar-dasar bersikap terhadap apapun itu. Anak yang dibiasakan untuk bersikap sopan dan santun, tentu akan bersikap seperti itu pula jika dengan tetangganya maupun di lingkungan lainnya.

Kebiasaan dalam keluarga merupakan kebiasaan yang akan kita bawa dan bersiap kita kenalkan pada lingkungan kita berikutnya.

2. Previlege Terpenting

Keluarga juga merupakan orang yang akan kita jumpai dalam tempat berpulang kita, yaitu rumah. Rumah yang baik adalah rumah yang mampu membuat nyaman penghuninya. Dan bagaimana itu terwujud? tentunya keluarga yang supportif yang akan mewujudkannya. Jadi, di sinilah letak previlege terpenting itu. Karena keluarga merupakan orang yang kita temui setiap hari (sebelum kita nge kos ataupun berpindah rumah), tempat kita berpulang dan seharusnya juga sebagai tempat untuk menceritakan keluh kesah. Sehingga suatu keluarga yang supportif, dapat menyelesaikan apapun masalahnya.

Keluarga yang supportif tentunya merupakan idaman semua orang. Bagaimana tidak, ketika semua orang membencimu, kamu akan tetap mendapatkan tempat pasti untuk tetap dicintai. Keluarga yang supportif adalah aset yang benar-benar berharga, dan tidak bisa ditukarkan dengan apapun.

Dikatakan terpenting juga karena keluarga adalah pondasi pertama dalam perilaku. Kita semua tahu bahwa pondasi utama terletak di dasar, sehingga keruntuhan suatu bangunan dapat dengan mudah terjadi karena suatu pondasi utamanya yang tidak kokoh.

Dari keluarga juga biasanya kita akan diarahkan bagaimana lingkungan berikutnya akan kita dapatkan, meskipun hanya di awal mula. Seperti lingkungan perumahan atau desa maupun lingkungan sekolah. Karena Lingkungan ketika kita dewasa, selain karena keluarga, kita akan mendapatkan lingkungan selanjutnya karena pengalaman kita sendiri. Seperti pekerjaan dan jodoh. Namun percayalah, pasti ada peran keluarga juga di sana.

Selain itu, status sosial dan ekonomi keluarga juga merupakan previlege yang sangat tidak bisa diabaikan. Meskipun kita tahu banyak kasus orang yang bisa berjuang untuk mengalahkan previlege itu, tapi beneran deh, hal tersebut tidak bisa dilakukan setiap orang. Perjuangan anak penguasa pengusaha dengan perjuangan anak tukang becak pasti berbeda. Meskipun aku tahu pasti sama-sama susah, tapi “level” dan “hal” yang diperjuangkan tentunya berbeda. Tantangannya pun berbeda pula. Jadi aku tidak merendhkan salah satunya ya.. Tapi pasti berpengaruh dan hal tersebut benar adanya.

Bagaimana Jika Rumah Seakan Enggan Menjadi Tempat Berpulang?

rumah dalam bahasa inggris, terdapat dua artian, yaitu “home” dan “house”. Sepengetahuanku yang membedakan adalah jika home merupakan tempat yang membuat kita nyaman, tempat berpulang. Sedangkan house hanya sekadar bangunan, tidak tedapat suatu rasa yang membuat nyaman. Nah, jika suatu rumah hanya menjadi “house” bagi seseorang, bagaimana itu bisa?

Jika tadi aku membahas keluarga supportif, kali ini disebabkan oleh keluarga yang destruktif. Keluarga yang seperti ini, menghancurkan mental bahkan bisa fisik seseorang. Dan karena merupakan tempat berpulang, hal yang membuat sakit itu akan datang sering, bahkan setiap hari. Tergantung berapa sering kita pulang kerumah. Saat di rumah rasanya tidak semakin nyaman saja, tapi semakin ingin meninggalkannya. Karena yaa tersiksa…

Sehingga seseorang akan enggan untuk berpulang kerumahnya. Rasanya dia menemukan tempat lain yang lebih nyaman daripada rumah. Tempat tidak ada hal-hal negatif yang akan menghancurkannya. Meskipun nyatanya kita tidak bisa lepas dari hal yang negatif, tapi memiliki keluarga destruktif merupakan hal negatif yang terbesar! percayalah….

Lalu bagaimana sebuah keluarga dapat menjadi keluarga yang destruktif?

Biasanya, keluarga seperti ini sangat menjunjung tinggi kesempurnaan. Memiliki banyak tuntutan, yang ditujukan untuk setiap anggota keluarganya, terutama seorang anak. Dalam keluarga ini, kesalahan dianggap sebagai bukan suatu hal yang wajar, yang layak untuk diberi hukuman. Bukan evaluasi bersama. Keluarga ini tumbuh tanpa adanya jiwa-jiwa saling mengapresiasi. Tidak adanya kesalingan berpendapat dalam keluarga, hanya relasi menurut-dituruti.

Selain itu, biasanya keluarga ini adalah tipe-tipe keluarga yang percaya bahwa anak adalah suatu aset yang harus balik modal. Jadi siap-siap saja jika fasilitasmu sudah mumpuni namun kau tumbuh menjadi anak yang tidak berguna dalam keluarga ini! Siap-siap aja…

Meskipun tidak ada yang salah ketika kau percaya paham anak adalah aset yang harus mengembalikan modal orang taunya. Namun aku tidak suka paham itu. Anak adalah manusia seutuhnya yang berhak menentukan jalan hidupnya. Ya, dia memang benar aset, yang harus dirawat orang tuanya. Namun bukan berarti orang tuanya semena-mena menentukan masa depan anak tersebut tanpa mempertimbangkan pendapatnya. Ingat, dalam keluarga ini hanya ada relasi menuruti-dituruti.

Keluarga destruktif hanya akan mngelilingimu dengan luka dan luka.

Masalah Keluarga, Hal yang Dapat Paling Menghancurkan Kita

Kenapa demikian? Karena masalah dalam keluarga tidak satu, dua hari atau bahkan satu, dua bulan yang bisa selesai. Minimal kalau selesai, pasti ada lagi masalah lain yang muncul. Dan ketika itu muncul, kita tidak bisa bertindak banyak. Karena ya itu tempat berpulang kita. Tempat kita tidur, makan, mandi, meskipun kita sedang bertengkar sekalipun.

Ketika kita mau cerita pun, kita pasti akan berpikir, apakah kita akan bercerita kepada orang lain atau tidak. Karena masalah keluarga adalah hal yang sangat privasi bagi banyak orang. Ketika cerita pun kita tidak akan terjamin akan mendapat penyelesaian yang terbaik pula, karena yaa keluarga setiap orang itu berbeda. Setelah bercerita pun, pasti ada yang berpikir menyesal untuk menceritakannya. Karena dia menganggap sedang menyebar aibnya sendiri.

Banyak yang menganggap masalah keluarga adalah aib, sehingga terus ditutupi. Di luar dia tampak bahagia, namun saat pulang ke rumah dia kembali berundung dengan luka. Lalu untuk apa berpulang jika begini?

Karena hal tersebut, masalah-masalah dalam keluarga akan terungkap dalam waktu yang lama. Seperti kasus KDRT maupun pemerkosaan terhadap anak sendiri. Akses bantuan pun dibatasi perasaan enggan bercerita tersebut. Padahal, yang namanya kekerasan, siapa yang betah?

Bahkan, untuk beberapa masalah, kau bahkan tidak bisa menyelesaikannya seumur hidup. Dan tentunya kau juga harus tetap menghadapinya setiap hari jika kau tetap ingin hidup.

Harapan Untuk Keluarga

Saat aku menulis ini, aku teringat ucapan coki pardede ketika diwawancarai dalam satu channel youtube :

Aku menginginkan keluarga yang disaat aku terkena masalah, merupakan orang pertama yang aku hubungi dan aku ajak bercerita

Dan yha, kita semua menginginkan keluarga yang supportif. Entah itu pada akhirnya kita dapat atau tidak, kita tidak bisa memilih bukan kepada Tuhan saat kita dilahirkan? Jadi, Tuhan pasti tahu tempat kita sekarang adalah tempat terbaik menurut-Nya.

Meskipun kita tahu bahwa keluarga merupakan pisau tajam bermata dua, Tentunya jangan lupa untuk melakukan evaluasi untuk keluarga yang akan kau bangun kedepannya nanti ! Jangan sampai kau meninggalkan nilai-nilai baik yang sudah kau dapatkan dapatkan di keluargamu dan mengulangi hal-hal buruk.

Terakhir, jangan lupa bahagia!

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *