Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Membahas Film TILIK : Sudut Pandang Mantan Pelakon Amatiran

4 min read

Mungkin sedikit telat bagi saya untuk menuliskan artikel mengenai sudut pandang film tilik ini, tapi tidak apalah. Kata orang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Film tilik, telah menjadi trending akhir-akhir ini. Saya sendiri mengetahuinya dari twitter beberapa minggu lalu. Film pendek berdurasi belasan menit tersebut menceritakan ibu-ibu desa yang beramai-ramai mengunjungi rumah bu lurah di rumah sakit. Dalam perjalanannya, banyak hal yang mereka bahas, bahkan rasan-rasan mengenai topik tertentu.

Kontroversi Film Tilik

Selain menuai banyak sekali apresiasi dari banyak orang, bahkan sutradara terkenal, film pendek ini juga menuai kontroversi dari para netizen. Yaa memangnya apa sih yang tidak lepas dari komentar nyinyir netizen?

Mulai dari sterotipe perempuan indonesia, tidak menampilkan pesan positif, bahkan membenarkan kebenaran dari hoax. Banyak sekali sepertinya selain itu, namun yaa saya tidak ingin membahasnya terlalu dalam.

Memang tidak ada yang salah daripada mengkritik serta menafsirkan karya orang lain,

wong dunia ini itu sebenarnya simple, yang ribet itu cuman tafsiran manusia-manusianya. Bukan begitu?

Tapi terkadang beberapa netizen ini menyampaikan kritik tanpa isi, hanya sebuah gonggongan tak berbobot. Tak apa bila ada suatu analisis yang mendalam, namun jika hanya komentar pedas tak berisi, skip lah ya

Saya memang suka membahas hal-hal berkaitan dengan penafsiran berbagai hal, termasuk film. Namun berkaitan dengan adanya film tilik ini, jiwa-jiwa (mantan) pelakon saya terpanggil, jadi izinkan saya membahasnya.

Sudut Pandang dari Film Tilik dari Mantan Pelakon Amatiran

Sebenarnya saya sempat berfikir,

“Memangnya kamu siapa, berani-beraninya berpendapat mengenai hal ini?”

Yha saya memang hanya seorang pemula yang hanya memiliki kompetensi pada bidang per-lakonan. Menggeluti dunia tersebut pun hanya saat ekstrakulikuler SMP, kemudian lanjut tipis-tipis membantu teman-teman saat kompetisi lomba film antar kelas. Bahkan terkadang hanya menunaikan tugas untuk pelajaran bahasa atau budaya.

Tapi tidak apa, toh Indonesia masih menganut kebebasan berpendapat bukan? Oh kalian bilang hanya formalitas?Ya gatau deh kalau gitu wkwkwkwk.

Saya hanya ingin membahas berbagai hal mengenai hal ini :

Mengomentari lakonnya, bukan Orangnya

Pernah suatu ketika film yang ada saya-nya, di putar di sekolah dan ditonton oleh teman-teman bahkan kakak kelas. Ketika film selesai dan saya mau pulang, ada yang berkomentar

“Ojo jahat-jahat toh buk nang anake” (jangan jahat-jahat buk sama anaknya)

Dalam hati saya merutuk, tolong yaa itu cuman adegan beberapa menit. ini saya, udah hidup belasan tahun dan tidak pernah seperti itu !

Saya gak tau kalau itu memang guyonan, tapi nadanya gak lucu sama sekali 🙁

Lain kesempatan, saya pernah dijadikan bahan guyonan beberapa sanak saudara karena peran saya yang “katanya lucu” dengan nada mengejek.

Kemudian saya jadi kepikiran mengenai bu tejo, apakah di dunia nyata beliau mengalami hal yang sama lebih parah?

Karakter yang paling terkenal dalam film tilik ini memang Bu Tejo dengan segala kenyinyiran yang beliau miliki. Banyak netizen yang mengapresiasi akting beliau yang benar-benar menjiwai, namun tidak sedikit yang mengkritiknya.

Memang tidak ada yang salah, namun yang salah adalah dengan mengomentari orangnya secara langsung. Memiliki nama asli siti fauziah, terkadang beliau dikritisi secara pribadinya, bukan aktingnya.

Perlu teman-teman tahu, tidak semua bahkan mungkin tidak ada orang yang berperan sebagai tokoh jahat atau antagonis, di realitasnya seperti itu. Wong ngerjakan film itu butuh koordinasi berbagai pihak kok, kalau dia seenaknya sendiri ya gak jalan filmnya. Namanya juga peran, hanya beberapa menit saja, kok diambil repot?

Tokoh Antagonis itu sangat berkesan dalam suatu film atau drama

Memang saya sendiri tidak memungkiri, kehadiran suatu tokoh antagonis itu yang menghidupkan suatu cerita. Bagaimana tidak, merekalah yang membawa konflik dalam cerita tersebut.

Justru saya sangat mengapresiasi orang-orang yang mau memerankan peran antagonis. Mereka mengambil tantangan lebih dalam drama tersebut. Seperti halnya bu tejo. Bahkan dengan perannya, mereka telah siap menerima cercaan dari para netijen budiman +62

Bayangkan saja, tanpa adanya tokoh antagonis, tidak akan ada konflik, padahal konflik merupakan unsur penting dalam suatu alur atau plot cerita. Yaa yang ada lempeng-lempeng saja sampai akhir. Yang ada kalau begitu, kalian gak akan tertarik dengan filmnya, malah ngantukkk saat nonton. Paham kan?

Banyak Drama yang menampilkan realitas, bukan hanya idealitas

Ketika banyak yang melihat film tilik, kemudian bilang

“Wah ini melanggengkan sterotipe tidak baik ini”

Loh justru itu, film atau drama yang dibuat manusia itu juga mencerminkan realitas yang ada dalam kehidupan. Tidak hanya menampilkan idealitas-idealitas menurut manusia.

Bukan bermaksud dengan menampilkan realitas-realitas tersebut, berarti film itu ikut melanggengkan dan setuju dengan adanya hal tersebut dalam kehidupan nyata. Peran film dan drama itu juga sebagai sindiran dan refleksi loh ! jadi dengan menampilkan hal-hal tersebut, pihak produksi sedang bilang kepada kita semua

“ini loh hal yang terjadi dalam lingkungan kita sekarang, gak baik kan? mau diterusin gini aja?”

Jadi langkah selanjutnya adalah menghindari hal-hal tersebut, bukan dengan mengomentarinya dan mempraktekannya pada kehidupan nyata ya guysss.

Ohiya, lagi-lagi realitas tersebut ada untuk menampilkan konflik. Memang semua manusia menginginkan hidup damai, ayem tentrem, tanpa gangguan apapun. Tapi realitasnya, Anda tahu sendiri bukan? Kenapa kok gak nyalahin masalah yang ada di realitas aja? wkwkwk

Nggak mendapatkan kesan baik? cari lagi !

Ada yang bilang, film tilik ini tidak mengandung nilai-nilai positif sama sekali. Ada yang bilang, “Ada sih, tapi gak seberapa”

Jika kalian sok tahu begitu, tolong cari-cari lagi. Setiap film atau drama itu pasti mengandung nilai-nilai baik, baik itu secara tersurat maupun tersirat.

Bagaimana dengan yu ning, beliau kan yang mengumpulkan banyak ibu-ibu yntuk menjenguk bu lurah yang sakit, bukankah itu hal yang positif?

Atau yu ning yang ingin selalu berpositif thinking (yang meskipun salah) bukankah hal positif?

terkadang kesan tersirat amanat-amanat baik tersebut juga tersampaikan melalui sindiran-sindiran dalam film atau drama tersebut lohh, jadi cobaa cari lagi, kalau tidak ketemu coba terus cari lagii. Coba tanya writer script atau sutradaranya, pasti mereka telah memikirkan hal ini matang-matang.

Memangnya tugas film atau drama harus mendidik?

Akhir-akhir ini, banyak dari netizen yang ramai-ramai mengomentari suatu konten, film, atau apalah karena tidak mendidik.

Padahal menurut saya, tidak semua tugas dari film atau drama itu mendidik. Tugas utama mereka adalah “entertain” atau “menghibur”. Sangat bagus apabila terdapat hal-hal positif yang ada di dalamnya.

Sekarang coba bayangkan, kalau semua konten mendidik, apa kalian tidak bosan? saya pikir pasti 90% dari kalian menyatak bosan. Untuk itu terdapat berbagai jenis konten, drama, film yang berfungsi sebagai penyegaran otak kita semua.

Saya akhir-akhir ini juga sering melihat berbagai konten yang “hanya menghibur”. Apakah saya mengabaikan amanat atau pesan baik? tentu tidak, saya hanya suntuk aja, butuh hiburan.

Bukan berarti dengan melihat beberapa konten tanpa ada hal mendidik, saya menjadi tidak terdidik

Membuat Film itu Gak Ada yang Mudah

Hal terakhir yang ingin sampaikan kepda teman-teman budiman semua, membuat film itu sangat tidak mudah loh, tidak ada yang mudah.

bahkan untuk film pendek yang berdurasi 1 menit, pasti melibatkan banyak proses terlebih dahulu. Ada proses pembuatan script, diskusi dan koordinasi dengan banyak pihak, menghafalkan script, take akting berkali-kali, latihan mendalami peran yang terkadang tidak sebentar, serta editing kemudian baru bisa di publish.

Kemudian dengan enaknya kalian menghujat hal tersebut tanpa melakukan analisis mendalam terlebih dahulu, memangnya kalau buat sendiri, bisa?

Lagi-lagi ini hanya sudut pandang film tilik dari pendapat saya secara pribadi, sebagai seorang yang merasa masih mempunyai kebebasan berpendapat. silahkan berkomentar, kalian juga memiliki kebebasan berkomentar kok

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *