Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Membahas Nikah Muda dari Sisi Anti Enak-Enak : Previllege dan Sisi Perempuan

5 min read

Mungkin di media sosial udah banyak bertebaran mengenai sisi ena-ena nya nikah muda kan ya? jadi aku membuat artikel ini hanya sebagai penyeimbang dan tentunya menyampaikan keluh kesah sebagai seorang perempuan kepada pasangan muda yang bahkan umurnya dibawah ku namun sudah bersuami/beristri saja, huhu.

Baru-baru ini sedang viral kasus nikah muda pasangan yang menimbulkan kontroversi netizen-netizen budiman +62 ini. Tidak hanya terhenti dengan menikah muda, mereka juga membuat konten youtube membahas serba-serbi pernikahan mereka. Meskipun mereka menolak di sebut sebagai ajang promosi, nyatanya kita tahu bahwa dengan melihat suatu tontona, pikiran masyarakat bisa menjadi terpengaruh bahkan terdoktrin bukan? tontonan apapun itu. Bahkan kemarin berhasil digandeng oleh salah satu komunitas yang sudah eksis menganggungkan gerakan anti pacaran untuk mengadakan live streaming mengenai kajian pra nikah. Wait, itu kajian loh? seharusnya kalau kajian kan ada data-data yang perlu disajikan, bukan hanya mengenai pengalaman pribadi bukan?

Ah yasudahlah, aku tidak ingin membahas mengenai kasus tersebut berlarut-larut, netizen sudah ahli dalam menentukan pendapat dan kemana mereka berpihak. Tapii, izinkan aku menyampaikan secara general mengenai sisi yang anti enak-enak nikah muda. karena seperti ying dan yang, harus imbang bukan? kalau di genjot promosi terus gaada kritiknya, yang jadi malah ajang doktrinasi dong?

Lanjut, aku membahas ini bukan pertanda aku sudah menikah ya gais:”, tapi bukan berarti kalau aku belum menikah aku ga boleh bahas ini kan? jadi pembahasannya sejauh pengetahuan ku saja mengena dunia tersebut. Kalau ada temen-temen yang ingin berbagi sangat di persilahkan di kolom komentar.

pertama, yaitu dari sisi previllege. Nikah muda memang enak, kalau previllege nya sudah mumpuni. Sudah banyak duit, hidup tinggal enak-enak dirumah, sudah punya rumah sendiri, gak lagi nyusahin orang lain khususnya orang tua, pekerjaannya mapan, lingkungannya mendukung (gak di hujat banyak tetangga) dan lain sebagainya. Namun kalau previllegenya gak mumpuni, mbok ya jangan di paksa.

Kebanyakan dalil dari yang membenarkan nikah muda ini pasti “rezeki kan Allah yang ngatur, kenapa khawatir”.. yo gaiss, jangan lupakan bahwa : Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum melaikan kaum itu sendiri yang mengubahnya. Lagian kalian kok kepedan kalau Allah bakalan ngasih pengaturan rezeki yang lurus-lurus aja kekalian, gaada naik turunnya. Memang rezeki akan diatur, tapi kan pengaturannya siapa yang tahu? Wallahua’lam

Lah kalau rumah masih numpang orang tua, masih pengangguran, utamanya yang lakii nih, mau nikahin anak orang, mau diajak tinggal dimana? tinggal di rumah orang tua? oke sampek sini gapapa sih. Terus mau dikasih makan apa? uang jajan dari orang tua juga? lah gak kasian sama orang tua kalian,bebannya nambah satu deh. Kalau gitu apa bedanya sama ngajakin temen buat nginep rumah sama numpang makan wkwkwkwk.

“kan bisa usaha bareng kalau udah nikah nanti”, ya bagus deh kalau sudah kepikiran gitu. tapi ya usahanya yang pasti yaa, jangan hanya angan-angan yang terlalu umum dan semu. Minimal kalian sudah ada ancang-ancang mau ngapain setelah nikah nanti. Mau ngapain ini dalam tanda untuk mempertahakan kehidupan kalian berdua. Karena hidup kita tahu gak sekadar cinta gaisss untuk bertahan, ada banyak aspek lagi salah satunya upaya bertahan hidup. Tapi ya lebih bagusnya usahanya harus jalan dulu yaaaa… kan habis upacara pernikahan butuh makan, minum juga kan? mau pakek uang siapa? uang orang tua lagiii?

Bahas upacara pernikahan juga nih, memang kata-katanya upacara pernikahan yang bagus itu yang sederhana aja, mahar yang paling bagus adalah mahar yang paling murah. Tapi gaiss, sesederhana apapun itu, pasti butuh biaya kan?? entah itu untuk memberi fee bapak penghulu, beli mahar, fotocopy undangan, kasih konsumsi yang rewang-rewang dirumah.. dan berbagai printilan nikah yang kata-katanya sederhana. Kalau kalian masih numpang orang tua tolong dongg kasian orang tua kalian itu loh terbebani lagi…

Sama mumpung inget nih, kemarin aku juga liat ada youtubers nikah muda (beda kasus sama yang diatas) buat konten tentang nikah muda.. Dan yang teringat dibenakku, kenapa yang dibahas masalah ranjang woii??? Iya memang mungkin pengalaman baru dan tidak bisa terlupakan, aslinya tidur sendiri tiba-tiba tidur berdua sama orang asing.. Tapi kan, we know itu masalah pribadi kalian lah ye, kita gak tahu pun gak papa, urgensinya itu kurang… mbok ya yang dibahas itu pengatruran keungan, pembagian jobdesc dalam urusan rumah tangga dan yang lainnya yang lebih berbobot gituloh.. bner Q dan A sih, tapi kan setidaknya bisa memfilter mana yang sekiranya lebih ada urgensi untuk di sampaikan ke masyarakat.

Lanjut nih, dari sisi perempuan. Nah sebenernya aku tuh turut peduli aja karena sesama perempuannya, jadi kayak ada ikatan batinnya nya gitu, eak, paan sih wkwkkwk.

“Tapi yang perempuannya kan mau, jangan sok peduli deh”

woa, itu boomerang banget gitu kan bagi netizen-netizen yang mau peduli, malah ujung-ujungnya diserang dan dicap sok perhatian. Nah untuk yang ini aku mau mengutip postingannya mbak kalis mardiasih di instagram @kalis.mardiasih

“ya iya sih, emang pas dikawinin itu anak perempuannya sadar alias nggak lagi pingsan. tapi, kesadaran dia ada di level apa? jangan-jangan nggak ada kesempatan diskusi mendalam, nggak punya kesempatan menalar kritis. Mau ya mau aja, wong jawaban mau juga bisa bersumber dari rasa takut, manipulasi bahkan ancapan. Yang dianggap kesadaran, ternyata bukan benar-benar kesadaran”.

Nah untuk level kesadaran sendiri, mbak kalis juga membagikan di instagramnya bahwa level sadar ada empat, yaitu :

  1. kesadaran magis : seorang manusia mampu tidak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Contohnya semua yang terjadi itu dianggep takdir gitu, usaha dan sebab-akibatnya tidak dilibatkan.
  2. Kesadaran naif : Seseorang mengerti bahwa kemiskinan, kebodohan atau tertindas adalah kondisi yang tidak semestinya. Ia merasa ada yang salah, tapi sebab keterbatasan penalaran, ia tidak menemukan penyebab suatu masalah, dan tentu saja tidak bisa mengajukan solusi dari permasalahan itu.
  3. Kesadaran kritis : seseorang mampu memahami persoalan karena ia mampu menalar dengan baik. prosesnya mulai dari identifikasi akar masalah, critical thinking hingga mampu menemukan solusi alternatif dari masalah itu.
  4. Kesadaran transformatif : seseorang yang telah mencapai tahap kesadarankritis, selanjutnya kesadaran itu mendorong adanya sebuah tindakan penyelesaian persoalan bahkan dorongan menciptakan perubahan yang lebih baik.

Nah jadi perlu di pastikan lagi nih, si perempuan itu sedang dalam tingkat kesadaran yang mana?

Oke lanjut, dari sisi pengalaman biologis perempuan ya.. Jika dibandingkan dengan laki-laki, pengalaman biologis nya sekadar sunat dan mimpi basah kan? Itu pun sudah didapatkan sebelum menikah dan sesudah menikah pun akan sama. Sedangkan perempuan, setelah menikah pengalaman biologis nya akan bertambah : hamil, melahirkan nifas bahkan sampai menyusui. Jika membahas tentang kematangan reproduksi, dari sumber yang aku tahu, kematangan reproduksi perempuan itu saat umur 24 tahun. Jadi kalau sebelum itu, kemungkinan-kemungkinan kecelakaan juga besar. Kemudian juga dikaitkan dengan kekuatan fisik perempuannya. Kita tahu kalau saat melahirkan itu perjuangannya gak sekedar kayak main lempar tangkap bola kan ya gais 🙁 taruhannya nyawa loh.. kalau fisiknya ga kuat apa yang terjadi? Wallahua’alam. Kita juga tahu bahwa angka kematian ibu melahirkan itu cukup tinggi di Indonesia. Angka kematian ibu melahirkan pada 2018/2019 berada di angka 305 per 1000 kelahiran hidup-Cr: google.

“tapi kan, kematangan reproduksi setiap perempuan itu berbeda-beda, gak bisa dong disamaratakan 24 tahun”

Yo gaiss aku tahu, tapi sebagai orang MIPA, eakk. tahu kan yang namanya standarisasi? jadi riset itu berani menyatakan tersebut karena data-datanya juga mengarah ke hal tersebut. Kita tahu memang ada kemungkinan yang menyeleweng, tapi kan standar nya segitu, emang kamu bisa yakin darimana kalau organ reproduksimu matang sebelum itu? jadi ya daripada salah saat eksperiman, sebaiknya mengikuti kajian pustaka bukan?

“Tapi kan meninggal saat melahirkan itu mati syahid”

Aku loh suedih ketika mendengar ini menjadi alibi para pasangan nikah muda. Yaa kita kan meskipun kita tidak bisa menghindari takdir kematian, tapi kan kita bisa mengupayakan langkah-langkah yang baik untuk mengantisipasi hal tersebut. Lagian para lelaki, emang kalian udah rencana gitu ya? abis ditinggal istri langsung nikah lagi, gituu?? *sarkasm. Kasian kan si perempuannya huhuhuuu.

Lanjut, berkaitan dengan pengalaman biologis perempuan yang bertambah, mentalnya juga akan kena efeknya dong. Apalagi perempuan di usia muda (remaja) menurut teori psikologi yang pernah saya pelajari, itu masih labil, masa pencarian jati diri. Jadi bener-bener butuh support system yang mumpuni. Nah jika hal ini tidak dia dapatkan, apa yang terjadi? stres, depresi, bahkan ketika hamil tentu akan berpengaruh pada jabang bayinya.. Wong perempuan saat mens saja sudah uring-ringan dan moodswing, apalagi saat hamil, maupun pasca melahirkan?

Apalagi ada tuh yang namanya baby blues sydrome. yaitu kondisi yang dialami perempuan berupa munculnya perasaan gundah dan sedih berlebihan. Perubahan suasana hati ini umumnya terjadi setelah ibu melahirkan. Secara umum, baby blues syndrome akan memburuk pada 3-4 hari paska melahirkan. Kondisi ini juga biasanya hanya terjadi pada 14 hari pertama (halo doc). Nah bayangin, udah usia labil, terkena baby blues syndrome, mana support systemnya gak mumpuni?? udah jangan nyalahin perempuan yang baperan deh, ini memang fakta nya ada yang kayak gitu dan gak bisa dianggap remeh. Toh memiliki kepekaan perasaan yang tajam banyak manfaatnya kan?

Jadi kan aku tuh minta tolong banget, kalau gak urgent banget alasan untuk menikah “dibawah umur” ya jangan dulu gitulo. Banyak aspek-aspek yang perlu diperhatikan. Finansial, Kesiapan mental, sampai hal yang sepele berupa perjanjian pra nikah antara saumi-istri. Kita semua tahu bahwa menikah adalah ibadah seumur hidup. Gak hanya terbatas pada saat upacara pernikahan lalu selesai semuanya. Konsekuensianya besar dan semua orang juga tidak menginginkan hubungan pernikahannya kandas ditengah jalan kan? Jadi harus benar-benar disiapkan dengan tak hanya memenangkan alibi ingin menghindari zina.

Closing statement nih, buat kalian yang beralasan menikah muda untuk menghindari zina, emang nafsu kalian sebesar apa sih? apa tidak bisa di alihkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat? aku yakin kok, para akhi-ukhti ku ini adalah manusia sepenuhnya. Mempunyai otak dan kemampuan berpikir sehingga membedakannya dengan binatang. iya kan?

Jadi bagaimana? aku menunggu komentar kalian yak, tolong beri aku wawasan lebih lagi, silahkan di kritik maupun di beri saran, and let discuss it. Cheers ! salam perempuan 🙂

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

One Reply to “Membahas Nikah Muda dari Sisi Anti Enak-Enak :…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *