Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Membahas Sunat Perempuan Dari Berbagai Perspektif

4 min read

Jadi kali ini saya akan membahas sunat perempuan dari berbagai perspektif, meliputi mitos, gerakan perempuan, sampai medis.

Sebenarnya artikel ini hanya sebagai notulensi saya dari mengikuti webinar yang membahas hal ini. Namun saya akan berbagi menggunakan bahasa saya sendiri. Jadi mungkin ada beberapa istilah yang akan saya sederhanakan, dan beberapa informasi akan saya sampaikan secara umumnya. Namun karena pembahasan ini begitu sensitif, saya juga mohon dikoreksi apabila ada kesalahan. Mari saling berbagi di kolom komentar.

Sunat Perempuan, saya pun pertama kali ini mendengar pembahasan ini ketika MI, ketika pelajaran fiqih bab khitan. Meskipun tidak ada di buku paket, guru saya sempat membahas hal ini namun hanya umumnya saja.Serta beliau menggarisbawahi “sangat bahaya jika tidak tepat” saat menyampaikannya.

Yang saya ingat sampai saat ini adalah beliau mengatakan bisa menyebabkan “lemah syahwat” (yaaa saya yang masih MI polos polosnya orang mana tahu arti dari kata itu, dan mana berani mempertanyakan lebih lanjut, haha).

Sunat perempuan ini dilakukan di berbagai usia. Ada yang saat bayi saat baru dilahirkan, saat remaja, bahkan ada yang saat dewasa. Namun ada beberapa orang juga yang tidak mengetahui hal ini bahkan beberapa negara tidak mengenal istilah ini.

Ternyata sunat perempuan ini bisa dikategorikan sebagai “pelanggaran hak perempuan”. Bahkan sudah banyak komunitas perempuan serta peraturan medis ini yang melarangnya. Tapi mengapa tetap berjalan dan masih ada yang menganggap tabu dibicarakan? Yuk bahas satu-satu.

Mitos Sunat Perempuan

Sesuatu yang berlatar belakang “mitos” kadang menjadi suatu momok berat untuk diberhentikan. Karena mitos mengakar dalam pikiran masyarakat dan sudah menjadi suatu pandagan dalam menilai sesuatu. Entah itu benar atau tidak, “Kan mitosnya begitu” itulah alasannya. Padahal di era sekarang ini, sudah waktunya berpikir kritis dikembangkan.

Jadi, apa saja mitos sunat perempuan yang membuat hal ini tetap langgeng di masyarakat?

  1. Dianggap sebagai cara ampuh menjaga kelangsungan identitas budaya
  2. Dianggap sebagai cara ampuh menjaga keperawanan dan feminitas perempuan
  3. Dianggap sebagai cara ampuh mengontrol hasrat seksualitas perempuan
  4. Dianggap sebagai cara ampuh menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi perempuan
  5. Dianggap sebagai simbol keislaman

Nah apakah mitos ini benar? saya akan menyajikan pemaparan selanjutnya. Biar teman-teman nanti bisa menjawab sendiri kebenaran mitos ini.

Gerakan Perempuan : Menentang Sunat Perempuan

Nah ternyata hal yang baru saya ketahui, banyak gerakan-gerakan perempuan di luar sana yang sudah dan sedang berusaha untuk menentang sunat perempuan. Sebagai penggiat kesetaraan gender, Mereka melanggar hal ini “melanggar hak perempuan”. Karena dalam prosesnya, sunat perempuan akan sangat berbahaya jika dilakukan. Selain itu, dalam mitos yang disebutkan, sunat ini akan mengontrol hasrat seksual perempuan.

“Lah, siapa anda kok mau mengontrol kami” (gitulah gampangannya)

Maksudnya kan perempuan juga bisa mengaturnya sendiri kan, gak perlu upaya yang begitu ekstrem seperti itu. Selain itu, dengan di sunat, perempuan tidak bisa menikmati kenikmatan hubungan seksual secara seutuhnya, bahkan bisa jadi tidak sama sekali. Ini nantinya akan menjadi seperti perampasan hak perempuan. Kenapa begitu? nanti kita bahas di sisi medis.

Selain itu, dalam mitos tersebut juga dijelaskan bahwa sunat perempuan akan ampuh menjaga keperawanan dan feminitas perempuan. Hal ini seperti mendoktrin stigma bahwa “perempuan yang feminim seharusnya…” “Perempuan yang perawan seharusnya…”. Tentunya hal ini akan sangat bertententangan dengan prinsip keseteraan gender. Dan tentu saja, belum ada survei yang membuktikan bahwa dengan melakukan sunat, perempuan akan terjaga keperawanan dan feminitasnya.

Sisi Agama Sunat Perempuan

Dalam sisi agama ini juga dijelaskan asal muasal budaya sunat perempuan. Apakah benar berasal dari agama islam? atau agama lain? yuk simak..

Sunat perempuan jika dalam bahasan arab adalah khifadh (jika laki-laki kita mengenalnya khitan). Khitan ini sendiri merupakan suatu hal yang sudah ada sejak Nabi Musa As. Ajaran ini untuk membedakan bangsa israel dengan bangsa-bangsa lain.

Lalu bagaimana dengan khifadh (sunat perempuan)?

Sebenarnya khifadh merupakan tradisi untuk perempuan yang beranjak dewasa, yang merupakan akulturasi budaya mesir dan romawi. Jadi tidak ada hubungannya yah dengan agama..

Selain itu, tidak ada dalil yang menjelaskan mengenai khifadh ini. Adapun hadist-hadist yang menyampaikan ini dianggap sebagai hadits yang hasan (lemah). Beberapa hadist yang sahih justru condong melarang sunat perempuan. (Sebelumnya maaf bangeettt saya ga bisa menampilkan haditsnya, karena slide pptnya gajadi di share:( tapi apa yang sampaikan ini merupakan notulensi pribadi saya, jadi jujur kok).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa MUI No.9A tahun 2008 juga menyatakan tentang hukum pelarangan khitan terhadap perempuan. Fatwa pelarangan khitan tersebut dilatar belakangi oleh sejumlah pertimbangan yang utuh dan terintegrsi, diantaranya pertimbangan mengenai esensi atau dasar pesnyariatan khitan pada perempuan, batas/tata cara serta pertimbangan lain di masa mendatang yang sehubungan dengan reproduksi perempuan.

Sisi Medis Sunat Perempuan : Ngeri ey 🙁

Sebenarnya ini adalah bagian yang mampu bikin saya lemes sendiri:( Okelah mari kita bahas..

Sebenarnya sudah bayak regulasi kesehatan tentang sunat perempuan. Salah satunya adalah peraturan kementrial kesehatan pada tahun 2006 tentang pelarangan khitan perempuan.

Perkembangan Organ Genetalia Pada Manusia. Kiri: Laki-laki ; Kanan : Perempuan

Sebelumnya maaf kalau gambarnya kurang jelas, karena ini saya screenshot dari hp. Tapi semoga poin-poin saya tersampaikan dengan baik.

Nah dari gambar diatas, saya mau menjelaskan poin mitos yang menyatakan bahwa sunat perempuan menjaga kebersihan organ reproduksi perempuan, seperti halnya laki-laki. Nyatanya secara fisik atau anatominya, organ reproduksi perempuan itu sangat terbuka. Sehingga sangat mudah dibersihkan dengan tidak perlu disunat. Tidak seperti laki-laki yang terdapat kulit pada ujung penis yang akan menyebabkan penumpukan kotoran pada daerah itu kalau tidak disunat.

Selain itu, mengapa dalam medis disebut sebagai “mutilasi” organ genital perempuan, karena yang dipotong pada perempuan saat disunat adalah sebagian kecil klitorisnya (perhatikan warna kuning pada bagian perempuan bawah sendiri). Sedangkan pada laki-laki kan yang diambil adalah kulit yang menutupi ujung penis (saya tidak tahu apa itu istilahnya:() sehingga yaa organ genital nya tetep, gak kepotong.

Jadi ya secara anatomi aja udah beda gais yang dipotong 🙁 hay kalian kaum laki-laki, kulit ujung penisnya dipotong aja udah sakit banget kan? Lah ini kalau yang sunat perempuan, ibaratnya ujung penisnya yang dipotong. Gak ya sakit e lebih maxxxx 🙁 huhu

Sedangkan dalam hubungan seksual, klitoris merupakan titik rangsangan bagi perempuan. Sehingga ini menjawab pertanyaan bahwa dengan dipotongnya sebagian kecil bagian ini, akan membuat perempuan tidak bisa mencapai kepuasan seksual atau bahkan lemah syahwat. (Oke ini pembahasan dewasa, tapi ini sex education gais, semua wajib tahu !)

Nah bagian yang membuat saya ngeri adalah, jika nyunatnya gak pas….

Wong ketika nyunatnya pas aja tetep bahaya, apalagi kalau gak pas.

Jadi perlu diketahui bahwa di bawahnya klitoris, terdapat uterus. Uterus ini berfungsi sebagai tempat keluarnya pipis para perempuan. Nah jarak uterus dan klitoris ini hanya sekitar 1-2 cm. Jadi deket banget jaraknya. Ditambah letak uterus ini kadang tersembunyi, kadang tidak terlihat dengan mudah.

Nah, kata pak dokternya nih… Kalau misalnya ada orang awam yang melakukan sunat perempuan, terus menimbulkan luka. Nah dari luka tersebut akan terjadi perlengketan. Bayangin kalau perlengketannya itu sampai ke bagian uterus? uterusnya tertutup dong? Minimal kalau gak sepenuhnya, sebagian kecil deh. Hal ini akan menyebabkan aliran pipis kita jadi terhambat, yang jika pipis itu tidak lancar alirannya berpotensi menyebabkan batu ginjal. Nah loh, horor gak tuh?

Apalagi kalau perlengketannya sampai ke bagian yang lain… saya tidak bisa bayangin :((((

Jadi itulah berbagai perspektif mengenai sunat perempuan. Semoga kalian bisa mengambil kesimpulannya yang sendiri. Intinya tidak ada esensi yang kuat hal ini dilakukan, bahkan amat sangat berbahaya. Semoga bermanfat!

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

2 Replies to “Membahas Sunat Perempuan Dari Berbagai Perspektif”

    1. Sama-samaa..
      Yang penting sekarang kamu udah tahu yah, gak semua ber efek buruk kok, cuman ya resikonya tinggi. Semoga bisa mengedukasi :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *