Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Membesar-Besarkan Masalah: Apakah Sifat Alamiah Setiap Manusia?

4 min read

Membesar-Besarkan Masalah: Sifat Alamiah Manusia?

Pernah tidak, ketika kalian terlibat dalam suatu masalah dengan seseorang atau dia sedang curhat mengenai sesuatu, akhirnya dia bilang seperti ini (yang cenderung terlihat semakin membesar-besarkan masalah):

“Iya iya, aku yang salah, emang aku selalu salah kok. Kapan sih aku bener?”

“Iya emang gak ada yang suka aku, aku kan jelek”

“Iya emang aku itu bodoh kok, gak bisa apa-apa”

“emang gak ada yang mau temenan sama aku, iya kan?”

Dan semacamnya.

Kemudian kalian berpikir,

“Loh kok malah dibesar-besarin gini sih, masalahnya kan dia cuman gak ngesave foto kamu, bukan berarti kamu jelek dong”

“Loh masalahnya kan cuman mereka gak ajak kamu ngopi, bukan berarti kamu gak punya teman”

“Loh emang kan dari masalah ini kamu salahnya gini, aku juga salah. Kok jadi beranggapan kamu selalu salah?”

Akhirnya masalah yang sepele jadi semakin besar karena topiknya digeneralisasi. Emang manusia hobinya selalu gitu ya? Selalu membesar-besarkan masalah? Atau bagi yang laki-laki nih, kalian ngerasa perempuan seperti itu gak? Atau laki-laki yang seperti itu?

well, sebenarnya entah itu laki-laki atau perempuan bisa mengalami hal yang sama. Mereka cenderung terfokus untuk menggeneralisasi suatu hal “negatif” yang ibaratnya “Sensitif dengan masa lalu dan pemikiran” mereka.

Pada kali ini, aku akan mencoba mengenalkan kalian istilah yang berkaitan dengan hal ini, yaitu “Negative Core Belief”

Mengenal Istilah Negative Core Belief

Secara gampangannya, Negative Core Belief ini merupakan suatu keyakinan yang tertancap erat dipikiran kita mengenai berbagai hal negatif yang ada di diri kita, orang lain, dan dunia sekitar.

Pada kali ini, aku lebih ingin memfokuskan pembahasan pada negative core belief mengenai diri sendiri. Contoh mudahnya yaitu, ketika dipikiran kalian ada keyakinan seperti ini:

“Saya tidak berharga”

“saya tidak patut dicintai”

“saya memang jelek, menjijikkan”

“saya bodoh”

“Keputusan saya memang selalu salah”

dan lain sebagainya.

Parahnya lagi, Negative Core Belief ini memicu suatu tindakan atau suatu keputusan yang kalian gunakan di kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti:

“Aku gak mau memulai hubungan dengan lawan jenis. Nanti aku pasti ditolak, aku kan jelek”

“Aku gak mau berhubungan dengan banyak orang, nanti mereka pasti mengejekku atau menjauhiku. Kan emang gaada yang suka aku”

dan lain sebagainya.

Jadinya dengan berbagai keyakinan negatif mengenai diri kalian sendiri yang kalian yakini, akan menghindarkan dari kemungkinan bertemu hal baru yang bersinggungan dengannya. Seperti tidak mau bertemu orang baru, memulai hubungan baru, atau terjebak dalam hubungan yang toxic.

Kapan dan Apa Penyebab Negative Core Belief Muncul?

Negative Core Belief muncul ketika seseorang sedang menghadapi atau berada pada situasi yang bersinggungan dengan keyakinan negatifnya.

Misalnya saja:

Kamu beranggapan bahwa kamu tidak dicintai, hanya karena pasanganmu sibuk bermain game daripada memperhatikanmu. Hal ini karena di masa lalu, kamu merasa tidak pernah diperhatikan oleh orang lain.

Jadi, negative core belief itu diakibatkan oleh:

Polah Asuh Orang Tua yang Salah

Jadi, untuk kalian para calon orang tua nich, aku berpesan bangeeet :

Perhatikan dan asuh anak kalian dengan sepenuh hati. Terutama saat masa kecilnya. Karena pada saat itu, anak membentuk suatu pola ingatan paten yang akan dia ingat seumur hidupnya. Memang bener, di usia itu anak tidak bisa mengingat secara sempurna, namun dia akan mengingat pola-polanya dengan baik, dan akan dijadikan pedoman saat dewasa.

Misal nih, saat kecil anak terlalu diporsir untuk bisa dalam segala hal. Namun tidak diberi apresiasi sama sekali. Tapi ketika salah, dia akan dimarahi.

Nah saat dewasa, ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Dia akan berusaha menyelesaikan tugasnya seperfect mungkin. Jika ada saran atau kritik terhadap pekerjaannya, dia akan langsung sensitif dan berpikir bahwa

“Ia tidak bisa apa-apa”

atau

“Ia selalu salah”

Pemikiran akibat polah asuh ini terkadang tidak disadari oleh sebagian orang. Karena saking lamanya tertancap dipikiran sejak kecil, jadi seolah menjadi kebenaran dan suatu pedoman. Hal ini juga bisa terkait dengan istilah inner child, yang sudah pernah aku bahas di artikel sebelumnya.

Pengalaman Traumatis di Masa Lalu

Negative core belief juga bisa diakibatkan oleh pengalaman trumatis di masa lalu. Misalnya seseorang yang trauma dikecewakan oleh pasangannya, ketika dia memulai hubungan baru dan terdapat masalah, dia cenderung memberi label

“Emang ya, aku tuh pantesnya dikecewain sama laki-laki”

dan tentunya hal ini akan semakin membesar-besarkan masalah bersama pasangan yang baru. Padahal, masalahnya sangat sepele waktu itu.

Dampak Negative Core Belief

Keyaninan negatif yang tertancap pada diri ini tentunya secara disadari atau tidak dapat mengakibatkan berbagai dapak yang buruk. Nah berikut aku simpulkan 3 dampak negatif yang diakibatkannya:

Lingkaran Setan Keyakinan Negatif yang Terus Berulang

Ketika kalian memiliki suatu keyakinan negatif terhadap diri kalian sendiri, tentunya ini akan menjadikan suatu lingkaran setan yang tak kunjung selesai.

Maksudnya bagaimana nih?

Misalnya ketika kalian meyakini bahwa diri kalian itu tidak berharga, pada akhirnya kalian tidak akan melakuakn segala sesuatu yang kalian pikir menghasilkan sesuatu yang sia-sia. Hal ini akan menghindarkan kalian bertemu atau belajar hal baru. Pada akhirnya kalian akan gitu -gitu saja dan tidak berkembang.

Dengan merasa tidak berkembang, kalian merasa semakin tidak berharga.

Mumet aja kan? Tapi emang nyatanya begitu, pernah merasakannya?

Ketidakberdayaan Diri

Ketika kalian meyakini hal negatif yang ada pada diri kalian, ini akan mebantu mengetahui kekurangan yang ada pada diri sendiri. Namun, justru sebagian besar, kekurangan tersebut hanya kalian batasi pada tahapan kritik yang menyakitkan, bukan suatu saran yang membangun.

Jadi kalian malah menghindari berbagai hal yang memperbaiki kekurangan kalian tersebut, karena terlalu terpaku pada keyakinan negatif yang kalian miliki.

Misalnya, kalian berpikir bahwa kalian bodoh, sehingga tidak ingin mengikuti suatu kompetisi. Padahal yang dibutuhkan dalam suatu kompetisi bukan hanya suatu kepintaran, melainkan usaha, kerja keras, dan kemauan untuk belajar.

Menambah Masalah

Nah, coba bayangkan, misalnya nih pasangan kalian tidak membalas pesan kalian karena sedang dijalan. Kalian berpikir dia sengaja cuek dan berpikir bahwa

“Dia kok gak perhatian ke aku sih, hmmm iya emang aku gak pantes diperhatiin”

Akhirnya kalian bilang begitu ke pasangan. Pasangan yang capek-capek dari perjalanan pun semakin kesel dong, padahal dari kemarin kan ya diperhatiin, kok gara-gara gitu aja jadi gini sih

Akhirnya ribut kan? Semakin menambah masalah kan? padahal cuman gara-gara gak balas pesan.

Coba deh renungkan, pasti banyak masalah baru yang timbul karena pemikiran atau tafsiran negatif skalian sendiri

Jadi, Apakah Membesar-Besarkan Masalah Termasuk Sifat Alamiah?

Tentu saja tidak, itu hanya berasal dari negative core belief yang kalian libatkan dalam masalah kalian.

Jad yang terjadi berikutnya adalah, masalah tersebut semakin besar karena semakin di generalisasi. Tidak lagi fokus pada topik permasalahan tersebut.

Lalu Bagaimana Jika Sudah Terbiasa Membesar-Besarkan Masalah?

Jika kalian memiliki kebiasaan itu, yang bisa kalian lakukan adalah menemukan pola negative core belief yang kalian yakini ketika menghadapi suatu masalah.

Jika kalian merasa sedih karena tidak mendapat nilai bagus, perhatikan lagi kenala kalian sedih? misal kalian sedih karena dengan tidak mendapat nilai bagus kalian akan dimarahi orang tua, setelah dimarahi kalian merasa tidak berguna. maka negative core belief kalian adalah merasa tidak berguna.

Jika sudah menemukannya, yang kalian lakukan berikutnya adalah berdamai dengannya. Ketika ada suatu masalah, jangan terburu-buru membesarkannya, perhatikan lagi apakah negative core belief kalian ikut didalamnya. Jika iya, stop. Lakukan rileksasi agar kalian lebih tenang, baru kemudian selesaikan masalahnya dengan tidak melibatkan keyakinan negatif dalam diri yang belum tentu kebenarannya.

Kalian juga bisa mengatasinya dengan berfokus pada masalah tersebut. Jangan menyangkut-pautkan kepada hal-hal lain yang bahkan ternyata tidak terkait yang kemudian akan membesar-besarkan masalah. Hindarkan pula terlalu banyak menafsirkan, belum tentu orang yang kalian ajak bicara memiliki pola pikiran sama dengan kalian.

Ingat, kalian semua berharga ! Stay santay okey!


Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u212204976/domains/logikami.id/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668

Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u212204976/domains/logikami.id/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *