Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Mengenal Sandwich Generation: Untuk yang Akan Menjajaki Dunia Kerja dan Berkeluarga

4 min read

Sandwich Generation

Sebelumnya, saya membuat artikel tentang Sandwich Generation ini setelah melakukan beberapa percakapan dengan ibu saya mengenai masa depan dan berbagai masalah, termasuk financial. Tentu di usia 20-an ini, memikirkan hal itu dengan orang tua merupakan hal yang tidak bisa kita hindari. Karena ingin dipungkiri atau tidak, kita sebentar lagi akan terjun ke dunia kerja, dan bahkan sebentar lagi menjadi orang tua. Apalagi jika kalian adalah “Calon tumpuan keluarga yang nantinya akan berkeluarga juga”.

Mengenai masalah financial dan dunia kerja, kali ini saya ingin membahas suatu istilah yang mungkin beberapa teman sudah mengenalnya. Mungkin artikel ini hanya berisi sedikit riset dan sebagian besar dari opini saya. Jadi mungkin jika ada yang kurang berkenan, silahkan berkomentar. Kolom komentar sangat saya buka lebar bagi kalian yang ingin berdiskusi.

Apa Itu Sandwich Generation

Istilah satu ini mulai diperkenalkan pada jurnal berjudul “The Sandwich Generation: Adult Children of Aging” milik Dorothy A. Miller yang terbit pada tahun 1981. Wah ternyata sudah lama ya? Tapi ini bukan skripsi yang acuannya harus lima tahun terakhir kan? Hehe. Lagi pula jurnal ini masih sangat linear sampai sekarang.

Pada jurnal tersebut, secara mudahnya dijelaskan bahwa Sandwich Generation merupakan generasi yang menangung biaya hidup dua generasi, yaitu generasi sebelumnya dan sesudahnya. Generasi sebelumnya ini maksudnya adalah orang tuanya, sedangkan generasi sesudahnya adalah anak-anaknya.

Dinamakan sandwich generation, karena ibarat keberadaan mereka ini terhimpit seperti roti sandwich. Mereka seperti sayuran, daging, serta beberapa isian sandwich yang terhimpit oleh dua roti. Dua roti itulah yang dimaksudkan generasi sebelum dan sesudahnya.

Sehingga bagi generasi, beban hidup mereka terasa begitu banyak. Ya menanggung beban hidup sendiri, beban hidup anak-anak, dan juga tambah beban hidup orang tua. Oleh sebab itu, dalam berbagai jurnal dan pernyataan, generasi ini dinyatakan sangat mudah untuk terkena stres.

Kebimbangan Menjadi Sandwich Generation

Bagi para sandwich generation, seringkali membimbangkan beberapa hal. Jika kalian belum terpikirkan kebimbangan ini, maka mari saya ajak untuk bimbang bersama, hehe.

“Jadi nanti aku harus membiayai orang tua ku apa tidak ya?”

“Kan pendapatanku juga gak seberapa nih, kebutuhan anak banyak, orang tua bagaimana ya?”

“Aduh kayaknya uang ini cukup buat kehidupanku berdua sama suami/istri deh, bagaimana ya ayah/ibu nanti?”

Dan berbagai kebingungan lainnya.

Memang membingungkan juga bagi sandwich generation, dimana sebagian dari generasinya sendiri belum matang ekonomi. Tapi justru terjepit harus membiayai kehidupan banyak orang.

Bagaimana sekarang, apa kalian sudah mulai bimbang? hehe.

Generasi Sandwich Jika Dipandang Dalam Agama Islam

Jika menurut agama islam, berbakti kepada orang tua adalah salah satu kewajiban bagi setiap anak. Salah satu bentuk berbakti ya dengan membantu meringankan kehidupan orang tua di hari tua.

Jadi dalam islam, Sandwich Generation sebenarnya bukanlah suatu beban. Namun, itu memanglah suatu kewajiban yang harus dijalankan untuk meraih ridho-Nya dan banyak pahala.

“Tapi kan???” mungkin itulah yang ada di kepala kalian setelah aku menulis kalimat di atas. Tapi itu menurut pandangan murni islam jika dilihat dari kontekstual dan teori. Namun kita sendiri tahu bahwa berbagai teori tentu tidak bisa berjalan dengan 100% sempurna karena memang di dunia ini tidak ada suatu kesempurnaan yang nyata.

Jadi, bagi kalian yang membaca sampai sini, tolong diteruskan sampai kebawah ya… Biar tidak jadi miskonsepsi. Entar kalau miskonsepsi malah berabeh kan ya hehe

Bagi Kalian Para Calon Sandwich Generation

Beberapa orang memang rasanya tidak bisa menghindarkan dari sandwich generation. Entah itu sekarang atau pada masa depan nanti. Pad sub ini aku juga, tidak akan serta merta menyatakan bahwa WAJIB AIN bagi kalian untuk mencukup kebutuhan orang tua dan anak. Islam sendiri juga ada toleransi bukan terhadap beberapa peraturan?

Tapi disini aku juga bukan ingin menjadikan kalian anak yang DURHAKA kepada orang tua atau justru DZALIM kepada anak dan istri/suami. Namun aku hanya ingin kalian lebih cerdas dalam mengambil keputusan di masa depan kelak jika akan mengalami hal ini suatu saat nanti.

Jangan Menikah Jika Hanya Bermodal Cinta

lololo kok malah bahas menikah? Iya kan memang ada kaitannya.

Menikah merupakan suatu “fase” yang sakral. Dimana kalian akan menjalin hubungan “sampai mati” (jika tidak cerai) dengan pasangan kalian. Cinta memanglah perlu dipupuk antara kedua pihak. Namun yang perlu kalian ingat adalah:

Jatuh Cinta Itu Mudah, Namun Mempertahankannya Perlu Susah Payah

Perlu banyak hal yang harus kalian siapkan, termasuk finansial. Jika belum siap untuk menafkahi diri sendiri, apalagi jika ketanggungan orang tua, maka alangkah baiknya kalian tidak melibatkan orang lain untuk semua kesusah payahan kalian.

Tapi kan tidak semua orang dilahirkan bisa langsung kaya atau sukses? Memang iya. Setidaknya sebelum menikah, kalian harus sudah matang “rencana kedepan untuk mematangkan finansial” serta melakukan beberapa tahap. Lantas kalian putuskan menikah kapan itu terserah yang penting rencana finansialnya matang.

Jangan justru belum matang ekonomi dan rencananya, nikahin anak orang. Lalu di tengah bahtera pernikahan orang tua juga nuntut dibiayain. Kalian belum ada rencana matang. buyar de bingung kan jadinya? Apa mau ngepet aja?

Berkomunikasi Dengan Baik dan Mengalokasikan Dana untuk Orang Tua

Terkadang diminta atau tidak, orang tua sedikit banyak mengharapkan suntikan dana dari anak-anaknya. Beberapa dari mereka menginginkannya bukan murni ingin uangnya, tapi setidaknya sebagai pertanda bahwa kalian masih mengingat mereka. Beberapa dari yang lainnya bahkan tidak mengharapkan sama sekali dan menyerahkan kewenangan keuangan sepenuhnya kepada anaknya.

Sebagai anak yang baik, tentu sudah sepatutnya kalian menyiapkan dana untuk orang tua. Tapi tentunya harus di awali dengan komunikasi yang baik dengan mereka. Kalian mampunya berapa, mereka butuhnya berapa, lalu dicari pasnya. Karena kalian sendiri tentu menanggung beban keluarga kalian sendiri.

Maka sangat beruntung bagi kalian yang memiliki orang tua yang supportif bahkan untuk hal yang seperti ini. Ingat, kalian memiliki kewajiban untuk menafkahi mereka, tapi seimbangkan dengan kebutuhan dari keluarga kalian. Agar nantinya tidak tercipta keirian atau mungkin kesalahpahaman dari pihak keluarga kalian maupun dari sisi orang tua.

Menyiapkan Dana untuk Anak

Ayolah, aku masih belum selesai kuliah, kok diajak mikir anak sih:( belum waktunya tahu

Tapi, apa salahnya untuk menerima ilmu. Lebih baik mengetahui lebih awal daripada telat mengetahui kemudian bingung sendiri bukan?

Jadi, setelah kalian mengatur dana untuk generasi sebelumnya, waktunya untuk mempersiapakn dana bagi generasi sesudahnya, yaitu anak kalian. Hal ini saya contoh dari ibu yang ternyata diam-diam sudah mempersiapkan dana pendidikan saya dan adik bahkan sejak kami kecil.

Sebagai calon orang tua, tentunya kalian bisa mencontoh ini. Jangan justru pengen punya anak aja tapi persiapannya kurang. Mereka adalah salah satu bentuk karunia Tuhan yang harus kalian jaga dan kalian beri nafkah dengan sepenuh hati nantinya.

Aduh kenapa ngomongku udah kayak mama muda begini? Ah dahla, itu ya pokoknya hehe

Menyiapkan Dana Pensiun

Bagi kalian para sandwich generation, alangkah lebih baik untuk mempermudah anak kalian nantinya bukan? Kalian tentu menginginkan mereka bahagia dan salah satunya yaitu dengan meringankan beban mereka.

Maka langkah yang harus kalian tempuh adalah dengan menyiapkan dana pensiun bagi diri kalian sendiri. Hal ini berguna ketika kalian sudah tidak bisa produktif bekerja, setidaknya kalian masih memiliki tumpuan dana untuk menjalani hidup. Sehingga anak kalian tidak akan mengalami posisi yang sama dengan kalian saat ini.

Kesimpulan

Bagi beberapa orang, menjadi sandwich generation merupakan hal yang tidak terhindarkan. Tapi itu bukan berarti kalian menjadi stress dan merutuki keadaan. Persiapkan hal itu, bahkan ketika belum waktunya tiba. Sehingga pda akhirnya, kalian akan mempunyai persiapan yang matang.

Jadi, tetap semangat!

Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *