Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Menghadapi Stigma “Kok Baperan sih?”

3 min read

Sebelumnya aku membuat artikel ini bukan untuk mencari validasi atas sifatku maupun beberapa pembaca yang memiliki sifat yang sama yaitu baperan. Aku hanya ingin berbagi pandanganku mengenai hal ini dari sisi “korban”. Jika teman-teman ingin menyampaikan pendapat, kolom komentar terbuka lebar untuk diskusi kita.

Mulai Dari Pengertiannya

Baper,kosa kata yang trending di kalangan remaja ini merupakan akronim dari bawa perasaan. Orang yang baper disebut dengan istilah baperan. Banyak orang yang memberi konotasi kurang baik bersamaan dengan kata ini muncul, seperti:

“Kok baperan sih?”

“Makanya, jadi orang jangan baper”

“Gitu aja baper”

“Gak asik ah, baperan”

Padahal dari arti kosa katanya tidak selalu mengartikan hal yang buruk, dasar manusia. Jika ditanya, apakah aku hanya pernah menjadi korban dari stigma ini? Haha tentunya tidak. Dari pelaku, korban, sampai pura-pura tidak menjadi korban rasa-rasanya sudah aku jalani, haha. Tapi yha, sekali lagi ini hanya pandanganku.

Jika dilihat dari kosa katanya, sebenarnya membawa perasaan ini tidak selamanya buruk. Dengan membawa perasaan, berarti bukankah kita melibatkan “hati” dan “insting” kita terhadap sesuatu yang sedang terjadi? Bukankah itu berarti menghadirkan “seluruh diri kita” untuk menanggapi atau menerima sesuatu?

Mengapa bisa begitu?

Karena secara garis besar manusia memiliki akal dan rasa. Jika manusia turut menghadirkan rasanya dan tidak hanya akalnya, bukankah itu pertanda dia menjadi “seutuhnya manusia”?

Baper sering dikaitkan dengan luapan emosi. Saya pernah mendapat ilmu dari seminar yang membahas tentang emosi bahwa :

dengan menerima suatu emosi datang, kita sedang menerima diri kita sebagai seutuhnya manusia. Jadi tidak salah kan kalau aku mengatakan bahwa baper merupakan bagian dari menjadi manusia?

Konotasi negatif ini timbul karena seakan-akan baper hanya dikaitkan dengan luapan emosi yang berlebihan. Padahal tidak selamanya begitu. Emosi yang berlebihan memang tidak baik, tapi hidup tanpa emosi berarti hidup tanpa minat, hidup tanpa greget, hidup tanpa memiliki rasa cinta. Terhadap apapun itu.

Justru dari seminar yang pernah saya dapat, pintu masuk “penerimaan emosi” kita adalah dengan emosi sedih. Dengan menerima keadaan bahwa kita sedang bersedih, kita akan mudah menerima emosi-emosi yang lain seperti bahagia, marah, maupun yang lainnya. Dijelaskan pula bahwa kita tidak bisa hanya menerima beberapa emosi, karena hal itu akan berdampak pada emosi yang lainnya. Jadi mana mungkin kita berharap akan selalu bahagia tapi menolak saat sedih itu datang? Tentu tidak bisa, jika kita tidak tahu kapan standar kita akan bersedih, bagaimana kita akan mengetahui kapan kita akan bahagia? Bagaimana kita akan menghargai perasaan bahagia jika kita selalu menolak kesedihan? Jadi jangan bilang “baperan”ya kalau ada teman kalian yang sedih karena suatu hal, hehe. Dia lagi bermetafosa menjadi manusia seutuhnya tuh! (Duh kayak kepompong aja)

Jadi secara pendapatku pribadi, menjadi baperan tidaklah salah. Tapi?

Ada tapinya ya gais, jangan sampai perasaanmu ini mempengaruhi hal-hal yang seharusnya pantas untuk dipengaruhi. Seperti tanggung jawab maupun orang lain. Gak adil dong kalau kamu baper, terus marah-marah sama temenmu tapi kamu harus suruh dia gak marah balik sama kamu? Kecuali dia teman dekatmu yang sudah mengerti kamu.

Jadi kamu tetap harus menempatkan perasaanmu pada hal yang tepat, meskipun susah tapi mari belajar bersama. Karena gak lucu dong, kalau kamu direktur besar suatu perusahaan tapi karena mood jelek, kamu tidak hadir meeting penting dengan klien. Bisa hancur perusahaan kalau setiap pemimpinnya seperti itu.

Jadi, bagaimana menghadapi stigma tersebut?

Sebagai orang yang kadang baperan, kadang lelah banget kalau digituin sama orang-orang. Kadang berpikir, apa aku yang salah mempunyai perasaan yang peka? Atau mereka yang tidak paham? Padahal sebagai manusia, kita tidak tahu mana perkataan atau perbuatan yang akan menyakiti orang lain, meskipun bagi kita sendiri tidak menyakitkan.

1. Penerimaan

Yasudah lah, jika mereka yang tidak bisa menerima, biarkan aku saja yang mengalah. Gak ada yang buruk kok dicap sebagai orang yang baperan ! Aku mau kasih nice quote nih :

Dengan membawa perasaan terhadap sesuatu, biasanya insting kita akan terasah. Sehingga kita memiliki kepekaan yang berlebih terhadap sesuatu. Kepekaan ini tentunya juga akan berdampak baik pada kita nantinya.Bagaimana? Tentu dengan menghindarkan kita dari kemungkinan-kemungkinan buruk atau keputusan-keputusan yang tidak baik. Selain itu, Dengan memiliki kepekaan yang berlebih, kita akan lebih cepat mengetahui sesuatu yang sedang terjadi daripada yang lain. Seperti penyebab konflik, ataupun hal yang lain.

2. Memahami

Kita kadang sakit kalau dicap baperan, tapi kita tidak boleh bersedih aja ya (meskipun agak susah). Sekali lagi, jika mereka tidak mau memahami, marilah kita mengalah untuk memahami mereka. “Siapa sih emang yang mengucapkan hal tersebut?”

“Mengapa sih mereka mengucapkan hal seperti itu?”

Mungkin karena cara pandang mereka menghadapi sesuatu berbeda dengan kita, dan jika hal itu terjadi,  itu tidak sepenuhnya salah mereka.

Karena kalau kata boy candra :

“Ngak semua orang bisa mikir kayak kamu”

Ya Memang

Harusnya kalimat itu juga berlaku untuk dirimu sendiri. Tujukan pada dirimu sendiri.

“Nggak semua orang juga harus sepemikiran denganmu”

3. Komunikasikan

Kadang stigma tersebut timbul dari kesalahpahaman atau miskomunikasi. Kalian menanggapinya A, dia B, mereka C. Sehingga akan menjadi salah kaprah, dan salah satu pihak akan dituduh sebagai orang yang baperan dan berkonotasi negatif. Sebelum hal ini terjadi, komunikasikan. Apa maksud dan tujuan dari suatu hal yang membuat mereka memberi label “baperan” pada kalian, kemudian katakan cara pandang kalian mengenai hal tersebut. Memang ini sedikit susah, but trust me it works

4. Manajemen Rasa

Setelah mengetahui bahwa membawa perasaan itu tidak salah asal tidak mengganggu tanggung jawab maupun orang lain, kita juga harus mulai memanajemen bagaiaman luapan rasa tersebut. Bagaiamana? Pokoknya ya dengan menerima emosi itu terlebih dahulu, nanti seiring waktu juga kita pasti akan terasah bagaimana menempatkan emosi-emosi tersebut pada hal yang benar. Jadi selain mengetahui waktu yang tepat, kita juga harus mengetahui orang yang sekiranya bisa mengerti kita. Yap, lingkungan yang satu frekuensi atau teman dekat bisa dijadikan salah satu opsi. Biar kita bisa terus menjadi diri kita.

Pura-Pura Gak Baper Di Kemudian Hari

Hal ini banyak dilakukan oleh orang yang memiliki “kepekaan yang berlebih” di lingkungan mereka apabila “perasaannya” dianggap sebaagai hal yang salah. Beneran deh ini jangan kalian lakuin, karena akan menjadi boomerang di suatu waktu yang mendatang. Kalian bagai men denial  diri kalian sendiri. Dapat aku katakan dengan hal ini kalian tidak mencintai diri kalian sendiri.

Ingat ya, memanajemen rasa dan pura-pura tidak memiliki rasa itu beda loh

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

One Reply to “Menghadapi Stigma “Kok Baperan sih?””

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *