Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Menjadi Bermartabat Saat yang Lain Terlihat Begitu Bangsat

3 min read

Waduuhh, dari judulnya kayaknya ingin nyindir seseorang atau sesuatu ya? kok sangar amat?

Tenang saja gais, memang judulnya sedikit hiperbola. Intinya, di artikel ini aku sedang mencoba menguraikan fenomena banyak orang di luar sana yang masih bisa bersikap baik meskipun menerima perlakuan yang sebaliknya.

aku pengeeen banget seperti mereka, tapi ya namanya manusia banyak salahnya, terkadang khilaf pula. jadi ke kepoan aku akhirnya melahirkan artikel ini. Mengapa ada beberapa orang yang terlihat tetap bermartabat meski di sekitarnya terlihat SANGAT SANGATLAH BANGSAT.

Kenapa Kita Harus Menjadi Baik Ke Semua Orang?

berawal dari kekepoanku yang pertama,

“apakah kita harus menjadi baik ke semua orang?”

Jawaban idealisku tentunya iya. Karena merujuk pada yang aku percayai bahwa tujuan manusia di ciptakan di dunia ini adalah untuk senantiasa beribadah kepada Tuhan.

Dan aku meyakini bahwa dengan menjadi baik, merupakan salah satu wujud ibadah yang paling mudah kepada Tuhan.

Selain itu, dengan menjadi baik, kita pula telah menjalankan fungsi yang benar sebagai kholifah di muka bumi ini. Bagaimana bumi akan tentram dan selamat jika pemimpinnya begitu BANGSAT BANGSAT?

oh, maaf. aku tidak membicarakan pemimpin yang sedang mempimpin suatu negara atau pemerintahan, namun lebih ke pemimpin diri sendiri, yaitu kita semua ini.

Masih ingatkan kalau kalian itu pemimpin untuk diri sendiri? Jadi, jangan terlalu menggantungkan diri ke orang lain yaah… u’re what u think, what u speak, and what u do.

Selain itu, aku berpikir,

“Apa sih salahnya menjadi baik? jadi orang kok ya suka banget cari masalah. Kalau ingin dibaikin orang lain, ya harus baik juga dong sama orang. aku juga ingin hidup damai dan tentram kok, dan dengan menjadi baik adalah salah satu jalan ninjaku untuk mewujudkannya”

Yaah, itu jawaban idealisnya yaa…

Lalu mungkin kalian berpikir

“Apa kita tetap boleh baik kepada orang yang menyakiti kita?”

Secara realistis mungkin banyak dari kalian yang menjawabnya

“Jangan dong”

“Halah buat apa sih!”

“Jangan buat orang injak-injak harga dirimu dengan mudah dong”

“Iya kamu boleh baik, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri dong”

Familiar kan dengan jawaban seperti itu?

oke untuk point tersebut, mari kita bahas di point selanjutnya

Apakah Kita Boleh Jahat Kepada Orang yang Jahat Kepada Kita?

Aku pernah melakukan survey kecil-kecilan yang aku taruh di story whatsappku

“Mengapa kita harus tetap baik kepada orang jahat kepada kita?”

Dan banyaak sekali jawaban dari teman-teman. Sebelumnya aku sangat berterimakasih kepada yang menjawabnya dan maaf apabila belum sempat aku balas.

Salah satu jawaban dari temanku yang mengena di hati adalah

“Eye for an eye will make whole world blind”

serta

“Kita akan menuai apa yang kita tanam”

Kemudian setelah aku pikir-pikir, tentu ada benarnya. Jadi bukan berarti ketika kita memutuskan untuk tidak jahat kepada seseorang, berarti kita tidak mampu berbuat jahat kepada dia, bukan begitu.

Tapi kita sadar, apa yang akan kita lakukan sekarang akan kembali pada kita di masa depan. Siapa yang tahu siklus kehidupan ini berputarnya bagaimana. Siapa tahu perlakuan jahat kita kepada seseorang justru akan berbalik pada diri kita sendiri dengan orang lain sebagai perantaranya.

Jadi jika saya boleh bilang,

Dengan kita tidak jahat kepada seseorang yang jahat kepada kita, berarti kita juga menyayangi diri kita sendiri agar terhindar dari perlakuan jahat seseorang di masa depan.

Katanya Kesabaran Itu Ada Batasannya, Apa Benar?

Beranjak pada poin berikutnya, jika kita harus selalu baik kepada semua orang, tentunya kita harus tetap sabar menghadapai perlakuan mereka.

Kemudian pasti kalian familiar dengan pernyataan :

“Tapi kan sabar ada batasannya !”

Jika saya boleh menjawab :

TENTU TIDAK. yang namanya sabar ya tidak ada batasannya, itu hanya alibi manusia saja untuk membenarkan hawa nafsunya yang sudah memuncak dan tak terbentung lagi untuk melakukan balas dendam serta meneruskaan rantai setan.

Jadi. ketika kamu memutuskan untuk membatasi dirimu untuk berlaku tidak sabar, maka selamat, kamu telah mengizinkan setan untuk mengambil alih kendalimu, sementara, atau mungkin selamanya (?)

Lalu Harus Bagaimana?

Pasti setelah ini, kalian bingung

“Lalu apakah aku harus diuntut sabar dan terus tertindas atas semua perilaku bangsat di sekitarku?”

“Apakah bukannya begitu aku sama saja merendahkan harga diriku sendiri?”

Tenang saja…

Tentu disinilah fungsinya akal manusia, memang kita harus dituntut sabar dalam menghadapi sesuatu. Tapi tentunya kita tahu cara elegan untuk tampil membalas perlakuan jahat para netijen kepada diri ini. Tidak perlu lah koar-koar pula agar terlihat sama dengan mereka.

Cukup tampilkan versi terbaik dari dirimu, jika mereka tidak bisa menyamainya, tentu wajar bagi mreka untuk iri atau dengki, namun kau tak perlu risau, itu satu tanda bahwa kau sudah satu tahap di atas mereka.

Jika dihujat, kamu tentu harus sabar, tapi sabar saja tidak cukup. Bukan dengan balas dendam, tapi dengan membuktikan pada sisis positif bahwa kamu tidak seburuk yang mereka pikirkan.

Dan ingat satu hal,

Good Things Come When Good Times

Jadi jangan khawatir, hal buruk dan bangsat tidak akan selalu datang, pasti ada masanya kamu menikmati hari-hari bahagia.

Dan mungkin di lain hari, ada saatnya kamu berkutat dengan hal-hal bangsat itu lagi. Jadi semua dalam hidup ini selalu berputar kawan, kecuali kalau kalian sudah meninggal, xixixixi

Tapi Eits, Jangan Terlalu Percaya Diri

Di poin-poin sebelumnya, mungkin saya terlalu memanjakan Anda untuk bagaimana terlihat begitu bermartabat di hadapa orang-orang yang begitu bangsat. Tapi izinkan saya membalikkan pespektif di poin ini :

“Apakah Anda yakin, bukan Anda yang telah berlaku bangsat kepada seseorang atau beberapa orang?”

“Apakah Anda sudah cukup yakin perilaku Anda dibilang bermartabat untuk hal-hal yang bahkan tidak begitu bangsat?”

“Memangnya Anda tidak pernah melukai seseorang dan merasa bertindak sama bangsatnya dengan mereka?”

Jadi, ya, di poin ini aku hanya minta kalian intropeksi diri terlebih dahulu. Mungkin, kita semua ini sama-sama bangsat, tapi dalam hal yang berbeda dan mungkin kita juga tidak bermartabat dalam menghadapi hal-hal yang bangsat.

Tapi ya tak apa, namanya juga manusia, yang penting terus mengintropeksi diri dan mengevaluasi, bukan begitu?

Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

One Reply to “Menjadi Bermartabat Saat yang Lain Terlihat Begitu Bangsat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *