Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Privilege? Setiap Orang Berjuang Kok :)

2 min read

“Iya dia kan ada privilege jadi gampang lah ya”

“Orang tuanya kan sukses, jadi wajar dong dia sukses juga”

“Kamu kan sudah punya privilege? kok masih gak puas sih?”

Mungkin kalian pernah mendengar kata-kata tersebut diucapkan teman kalian, atau bahkan kalian pernah mengucapkannya?

Memang tidak bisa disangkal, bahwa “Privilege is important”. Privilege bisa menentukan kesuksesan bahkan kadar berjuang seseorang. Ini nyata, meskipun se idealis apapun kalian menyangkal “Semua orang bisa sukses kok”, Tapi jika privilege nya berbeda lalu apa masih pantas jika diukur dengan kadar kesuksesan yang sama? Lagipula, kalian perlu memeriksa definisi sukses kalian itu apa? Jika muluk-muluk, kalian perlu pahami hal ini.

Piramida Kebutuhan Maslow dan Privilege

Gambar diatas, adalah piramida maslow. Pasti anak jurusan “pendidikan” tidak asing dengan hal ini bukan? Jika dikaitkan dengan teori belajar seingatku,

“Kita ini belajar, untuk mencapai tingkat kebutuhan yang mana sih?”

Ada yang belajar hanya untuk agar bisa kaya, ada yang hanya agar bisa dapat pekerjaan alias dapat uang, bahkan ada yang belajar yaaa untuk mengembangkan kreatifitas dan menambah pengetahuan. Katanya sih semakin tinggi tingkatan kita dalam piramida tersebut, semakin baik pula.

Tapi tidak itu yang aku bahas disini, aku mau mengaitkannya dengan Privilege

Memangnya apa kaitannya?

Kita semua pasti tahu privilege setiap orang berbeda-beda bukan? Nah, jika dikaitkan dengan piramida maslow ini, anggap saja privilege tersebut adalah garis start kita dalam berjuang. Lalu bagaiamana dengan dengan garis finishnya?

Garis finishnya tentunya bebas terserah kita. Lagi-lagi aku katakan hidup adalah pilihan. Terserah kau mau maju satu tingkat, dua tingkat, atau bahkan mundur tiga tingkat. Tapi aku mau menghighlight, definisi sukses menurut piramida maslow ini

Definisi sukses dari piramida tersebut jika dikaitkan dengan privilege adalah, ketika kita mampu untuk naik satu tingkat.

Entah itu dari tingkat safety-love. love-esteem. Atau bahkan sampai pada tingkat tertinggi yaitu Self-actualisation. Meskipun tahap paling bagus katanya adalah self-actualisation. Tapi kan yang perlu kita pahami lagi, start setiap orang itu berbeda.

Start setiap orang berbeda

Nah setelah paham bahwa definisi sukses adalah naik satu tingkat, yang perlu kita pahami setelahnya adalah start setiap orang berbeda. Ada yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susah, artinya dia masih kesulitan dalam tahap terendah. Ada yang sudah tercukupi sandang pangan papannya, tapi tidak mendapatkan relasi atau kasih sayang dari orang terdekat, artinya dia masih berjuang untuk tahap “Love”nya. Ada yang bahkan sudah tercukupi semuanya, sehingga dia tinggal mencapai tahap pengembangan diri.

Setelah kita tahu bahwa start setiap orang berbeda, tentu akan sangat “Kurang ajar” untuk menyamakan definisi sukses bagi setiap orang. Padahal sebenarnya dia sudah berjuang, namun karena apa yang dia perjuangkan kau anggap “biasa saja” atau bahkan “sudah memiliki”, lalu kau menganggapnya tidak berjuang.

Begitu pula memandang orang yang privilege nya di atas kita, bagaimana?

Meskipun Ada Privilege, Setiap Orang Berjuang Kok 🙂

Ada yang tau serial kartun “Naruto?”, yang tau pasti juga tau tentang serial kartun anaknya “Boruto”. Banyak yang mengira bahwa boruto ini tidak seru serialnya, karena dia sudah hidup enak, tercukupi segalanya, punya keluarga. Tidak seperti ayahnya dulu yang harus berjuang dari awal.

Padahal, menurut saya boruto itu juga seru. Dia juga berjuang, namun untuk hal lain, tidak seperti ayahnya. Dia berusaha mendapatkan pengakuan bahwa “dia bisa ya karena dia sendiri, bukan karena dia anak dari naruto”. Dia ingin mencari jalan perjuangan yang berbeda dari orang tuanya. Lalu kenapa dibanding-bandingkan? Kan start mereka memang berbeda, dan mereka sama-sama berjuang untuk naik ke tingkat selanjutnya.

Menurut saya, ini merupakan cerminan banyak kehidupan di masa sekarang.

Ada yang orang tuanya dulu dari kalangan tidak berada, berjuang dari nol. Akhirnya kini sukses. Kini waktunya anaknya yang berjuang. Namun banyak yang menganggap anaknya ini tidak berjuang karena bantuan privilege orang tuanya. Padahal, sudah aku katakan tadi, bahwa definisi sukses adalah ketika naik satu tingkat. Memangnya kamu benar-benar tahu dia sedang ditingkat yang mana kok sewot banget bilang dia tidak sukses atau tidak berjuang?

Ada anak orang tak berada, ingin memperjuangkan hidupnya agar mendapatkan pekerjaan lebih layak untuk orang tuanya. Ada anak orang yang biasa-biasa aja ingin memperjuangkan kasih sayang orang tuanya karena orang tuanya sibuk dengan hal lain, ada anak orang kaya yang ingin berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari orang tuanya, bahkan ada yang ingin mengembangkan ilmu nya karena dia sudah memiliki apapun.

Jangan jadikan privilege orang lain tameng mu untuk menghujat lainnya atau mencari aman. Memang mereka terkadang mempunyai kemudahan yang tidak kamu punya, tapi bukan berarti mereka tidak berjuang dan tidak ingin meraih kesuksesan

Tabayyun yuks

Pada akhirnya, cara yang paling ampuh yang aku tawarkan adalah refleksi kepada diri s-sendiri, alias tabayyun. Kita ini sedang sampai tahap mana, dan mau mencapai tahap yag mana. Kalau ingin sukses ya, minimal kita harus naik satu tingkat dari tingkatan kita sekarang.

Dan yahhh, gak capek apa menyamakan definisi kesuksesanmu dengan orang lain? Gak capek memperbudak diri sendiri untuk keinginan keduniawian ini? Naik satu tingkat itu sudah susah loh, sudah hebat !

Jangan jadikan orang lain standar kesuksesanmu, tapi jadikan dirimu sendiri di masa lalu sebagai standarnya. Kau sudah baik dan sukses jika kau bisa lebih baik dari masa lalu.

Ingat, sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. cmiiw

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *