Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Self Love : Awal Mula Motivasi Internal

3 min read

Self love, Motivasi Internal

Sebenarnya artikel ini berawal dari kegelisahan saya mengenai motivasi internal yang berujung menyangkut pautkannya dengan self love. Semua di artikel ini adalah pemikiran saya dalam kebingungan, yang berusaha mencari kebenaran -meskipun terkadang berujung pada mencari pembenaran-. Harap-harap kalian bisa menyimak sampai akhir, syukur lagi jika kalian memiliki sudut pandang yang berbeda dan mau membagikannya di kolom komentar.

Pertanyaanku mengenai Self Love

Sebelum memulai membaca selanjutnya, aku ingin menyuguhkan pertanyaan yang mungkin kalian tahu jawabannya, jika tidak mungkin kalian mempertanyakan hal yang sama.

Mengapa ya konsep mencintai diri sendiri init tidak dikenalkan di pendidikan formal? Jika ada, maka tolong sampaikan di kolom komentar

Justru dari kecil kita diajarkan untuk mencintai orang lain, seperti terbukti dalam lagu ” Satu-satu aku sayang ayah”, dalam lagu tersebut tidak ada makna untuk mencintai diri sendiri.

Kenapa konsep mencintai diri sendiri itu justru ditemukan ketika kita tumbuh dewsa, bahkan banyak orang “dewasa” yang belum bisa melakukan dan menemukannya, mengapa perjuangan “mencintai diri sendiri” ini seakan lebih susah namun disepelekan oleh banyak orang ?

Kenapa yang sering digaungkan adalah mencintai orang lain dengan segala kebucinannya?

Konsep Self Love : Apakah Egois ?

Sebuah konsep untuk mencintai, mengenali, dan menyayangi diri sendiri ini acap kali dianggap egois. Kalau teman saya dikategori lugas, biasanya menyampaikan bahwa

Manusia itu egois dan opportunis

okey saya tidak ingin membahas dari sisi tersebut. Saya ingin menyampaikan dari sudut pandang “pembenaran” saya.

Konsep mencintai diri sendiri ini dimaksudkan agar kita tidak menenggelamkan diri kita sendiri untuk sesuatu yang bahkan terkadang kurang pantas untuk diperjuangkan.

Kita memang tidak bisa memilih mau dilahirkan di keluarga seperti apa, dengan fisik yang seperti apa, dengan lingkungan yang seperti apa, tapi semua itu adalah pemberian Tuhan yang luar biasa kepada kita.

Kita wajib untuk mencintai itu semua. Mulai dari ubun-ubun sampai telapak kaki, semua adalah pemberian Tuhan yang luar biasa.

Tidak ada manusia yang bertanggung jawab untuk mencintai dirimu sendiri sepenuhnya kecuali dirimu sendiri. Lalu jika tidak kamu lakukan, siapa yang akan mencintainya?

mungkin kamu akan menjawab orang tua, keluarga, saudara, teman, atau bahkan kekasih. Tapi percayalah, sepenuh apapun cinta mereka, mereka pasti punya cinta yang lain.

Skenario terparahnya, jika kamu meninggal pun, memang mereka akan bersedih. Tapi mungkin akan bertahan berhari-hari, paling parah bertahun-tahun. Kemudian mereka pasti akan dipaksa harus menjalani kehidupan selanjutnya tanpa dirimu, mereka tidak bisa stuck begitu saja.

Lalu dengan skenario terparah tersebut, masih tidak mau kamu mencintai dirimu?

Apakah self love itu egois? Tentu saja menurut saya tidak. Justru dengan mencintai diri kita sendiri kita sedang mencintai pemberian Tuhan. Dengan “mencintai” , tentunya kita akan merawatnya dengan sepenuh hati. Memberinya “pupuk” ilmu pengetahuan, makanan dan minuman sehat, bahkan skill-skill yang sangat berguna untuk kehidupan kita.

Mencintai diri Sendiri, Berhenti Mencintai Orang Lain?

Lagi pula tidak ada penegasan bahwa dengan mencintai diri kita sendiri, kita berhenti mencintai orang lain. Bukan seperti itu,

poin utamanya adalah dengan mencintai diri kita sendiri, kita bisa mengetahui potensi bahkan seluk beluk diri kita yang bahkan tidak bisa memilih mau lahir bagaiamana ini. Dengan mengetahui hal tersebut, kita bisa berbagi, bermanfaat, bahkan bisa mencintai orang lain dengan tepat.

Dengan tepat bagaimana sih?

misalnya, aku mencintai diriku, diriku ini memiliki kegemaran untuk menulis -baik itu tulisan yang jelas sampai tulisan yang gak jelas-. Karena aku mencintainya, aku membiakan diriku ini untuk menulis dan membagikannya kepada semua orang, dan ternyata ada orang yang menerima manfaat dari konsep “mencintai diriku sendiri”ini.

Jika semisal aku mengabaikan kegemaranku menulis, lalu terus tidak mencintai diriku sendiri, tapi mengejar cinta otang lain, bagaimana aku akan bisa mendapatkannya? wong mencintai diriku sendiri saja tidak bisa, kok mengharap cinta orang lain

Mencintai orang lain sebagai seorang manusia yang utuh, bukan sebagai objek yang berharap akan selalu didekat manusia tersebut.

Toh kita dilahirkan di dunia ini sama-sama mengemban amanah menjadi khalifah, menjadi pemimpin, menjadi seorang “manusia”. Sehingga tidak ada salahnya, bahkan menurut saya menjadi suatu keharusan, belajar menjadi manusia seutuhnya -yang salah satunya adalah dengan mencintai diri sendiri-, bukan hanya mesin yang melakukan kegiatan rutin harian tak tahu arah tujuan.

Mencintai Diri Sendiri : Bertemu Pada Frekuensi yang tepat

Dengan mencintai diri kita sendiri, kita akan menampilkan bagaimana “truly who we are” siapa kita yang sebenarnya. Dengan begini, orang-orang yang berada dalam lingkungan kita, adalah orang-orang uang menghargai kita dengan “wajah asli” kita.

Tidak perlu kita berusaha setengah mati untuk menampilkan sikap agar diterima dalam suatu lingkungan, biar yang benar-benar menghrgai kita akan datang sendirinya.

Meskipun banyak juga orang-orang yang sudah atau sedang mencintai diri mereka sendiri, tidak berada pada lingkungan yang benar-benar satu frekuensi atau menghargai mereka. Tapi setidaknya, dengan mencintai diri mereka sendiri, mereka bisa lebih berdamai dengan diri mereka dan lingkungannya.

Menumbuhkan Motivasi Internal dengan Self Love

Terkadang saya stuck dengan pertanyaan

“Selama ini saya berjuang untuk siapa?”

Jika dibilang keluarga, terkadang tak sepenuhnya benar. Karena saya banyak melakukan hal yang “kurang” didukung oleh mereka. Apalagi teman, atau kekasih bahkan saya tidak punya, hahahaha.

Ternyata jawabannya cukup dengan

“Diriku sendiri”

tapi ketika saya menemukan jawaban itu, kenapa ya saya sering kali tidak puas? seakan “percuma” jika harus memperjuangkan semua hal untuk “diri kita sendiri”

Termakan Stigma dan Doktrin Dari Kecil

Ternyata jawabannya, memang kebanyakan dari kita tidak diajarkan bahwa berjuang untuk “diri sendiri” itu perlu. Dari kecil, simbol kesuksesan kita adalah ketika kita berhasil dipuji oleh orang lain, pengakuan oleh orang lain. Sehingga, kita acap kali abai dengan diri kita sendiri.

Kurang Mencintai Diri Sendiri

Dengan doktrin bahwa sukses itu berarti dipuji orang lain, dari kecil kita tidak dibiasakan untuk mencintai diri sendiri itu perlu.

Tumbuhlah konsep cinta adalah “ketika orang lain mengakuinya”.

Padahal ada orang yang berhak dicintai, yang menemani kita dari lahir sampai sekarang yaitu “diri kita sendiri”.

Mengenal Motivasi Internal dan Kaitannya dengan Self Love

Motivasi internal adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Motivasi ketika kita melakukan sesuatu atas dasar suka, tertantang, ingin tahu. Bukan sekadar mengharapkan pengakuan orang lain.

Motivasi ini tumbuhnya lebih lambat, namun juga lebih lama dibandingkan dengan motivasi eksternal. Karena pihak eksternal bisa berubah-ubah, sedangkan diri kita ya kita ini, tidak akan berubah sampai kapanpun jua.

Dengan mencintai diri kita sendiri, kita akan mengetahui hal-hal apa yang kita sukai, kta cintai, bahkan potensi atau skill kita.

Sehingga kita bisa menumbuhkan motivasi internal pada diri kita karena kita tahu hal-hal apa yang akan mendorong kita berkembang karena dasar “suka”, bukan mengharap pengakuan orang lain.

Jadi ketika aku masih kurang puas dengan jawaban “aku berjuang ya untuk diriku sendiri”, mungkin karena aku belum sepenuhnya mencintai driku sendiri 🙂

Kesimpulan

Kembali ke tujuan hidup, kita hidup untuk beribadah bukan? dengan mencinti diri kita sendiri, itu adalah salah satu ibadah 🙂

Lagi pula dengan menumbuhkan motivasi internal, biasanya kita lebih “ikhlas” dalam melakukan sesuatu, bukankah itu termasuk wujud beribadah ?

Aku tunggu komentar kalian

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

5 Replies to “Self Love : Awal Mula Motivasi Internal”

  1. tulisan yg bagus, terimakasih udh membolehkan saya membaca nyaa.

    Mengapa ya konsep mencintai diri sendiri init tidak dikenalkan di pendidikan formal? Jika ada, maka tolong sampaikan di kolom komentar

    Justru dari kecil kita diajarkan untuk mencintai orang lain, seperti terbukti dalam lagu ” Satu-satu aku sayang ayah”, dalam lagu tersebut tidak ada makna untuk mencintai diri sendiri.

    me = perkenankan saya menjawab nya,
    knp di dunia formal tdk d ajarkan mencintai diri sendiri, karena mnrt dunia formal, manusia adl makhluk sosial, jadi, dg kita bersikap egois, maka kita melawan takdir bahwa manusia adl mahkluk sosial, gt sih. ini hanya pendapat ku lo ya, hehehe, terimakasih.

    1. Terimakasih kak sudah membaca tulisan kami 🙂
      Di tulisan ini sudah saya garis bawahi bahwa mencintai diri sendiri itu bukan berarti egois kok kak, tapi kita mengenali diri kita sendiri baru kemudian melihat pada orang lain. Sedangkan orang egois hanya mementingkan diri sendiri tapi abai dengan orang lain.
      Ibarat kata dalam sebuah janji, orang egois tidak mau hadir hanya karena alasan malas, sedangkan mencintai diri sendiri karena dia sedang ada keadaan darurat.

      Sekali lagi terimakasih, semoga bisa menjadi suatu manfaat tulisannya:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *