Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Sistem Patriarkhi dalam Sinetron Romansa Indonesia

3 min read

sinetron indonesia

Pandemi ini, karena di rumah saja, akhirnya aku mau tidak mau pasti melihat tontonan ibu di tv ruang tengah yaitu sinetron. Meskipun aku di ruang tamu berkutat dengan handphone atau laptop. Karena di pintu ruang tamu ku ada bagian yang terbuat dari kaca, dan bisa memantulkan layar dari televisi. Kalau tidak begitu, minimal aku pasti mendengar suaranya, meskipun earphone ku tak henti-hentinya memutar lagu di telingaku. Atau jika suntuk dengan laptop, pasti tidak sengaja ikut-ikutan nonton televisi pula. Sebagai refreshing lah, konyol pulak sih ceritanya.

Tidak seperti sebagian remaja yang mencintai sinetron, apalagi sinetron indonesia. Aku sedikit muak dengannya. Tapi kadang ikutan gemes.

“Ini yang buat script kreatif banget sih”

atau sekadar

“Gini banget sih ceritanya, drama banget” Padahal emang jelas-jelas mereka sedang berdrama.

Hadeh, beneran kalau ada kesempatan gak lihat sinetron pasti akan kulakukan. Tapi kalian tahu kan posisiku, mau ke kamar, di kamar tidak ada jaringan yang memadai. Jadilah ruang tamu adalah ruang favoritku pagi-siang-malam. Aku juga menghargai sinetron tersebut karena itu media refreshing ibuku, meskipun membuat spaneng diriku berkali-kali lipat karenanya. Akhirnya mampus lah aku terpaksa melihatnya setiap malam.

Sinetron Indonesia

Sinetron adalah istilah untuk program drama bersambung produksi Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi di Indonesia. Tapi semakin kesini, definisi sinetron dalam masyarakat semakin menyempit. Masyarakat mulai menganggap bahwa tayangan yang disebut sinetron adalah tayangan dengan episode yang puanjang banget, dengan kisah-kisah yang klasik, dan kebanyakan adalah romansa.

Dalam sinetron biasanya suatu peran akan mudah pendeskripsiannya. Setiap tokoh mempunyai “ciri khas paten” yang tidak boleh dilanggar. Si protagonis yang buaik banget, sampai terkadang aku menyebutnya gak baik, tapi bodoh. Karena mudah banget ditipu. Si Antagonis yang juahat banget sampai rasa-rasanya dia lebih jahat dari setan.

Padahal kita tahu manusia tidak hanya memiliki satu sisi. Tapi kan ya namanya drama. Tapi loh jadinya gak natural banget. Padahal kan seharusnya drama merefleksikan kehidupan sehari-hari. Hash

Kemudian pasti ada beberapa tokoh di pihak antagonis dan protagonis. Tokoh pendukung ini terkadang gak kalah gak masuk akalnya. Meskipun kawan baik atau pendukung si tokoh protagonis, mereka tidak bisa menghentikan si antagonis.

Alur dari ceritanya pun terkadang mudah banget ditebak. Yang pasti adalah : Tokoh protagonis atau antagonis utama gak akan mati, jika mati pasti sinetronnya mau end alias menjelang episode terakhir. Tapi terkadang gak bisa ditebak juga sih, terkadang doang, wkwkwk.

Romansa di Sinetron Indonesia : Segala-galanya.

Gak tau juga ya kenapa kebanyakan sinetron yang laris di Indonesia itu sinetron yang mengangkat topik romansa. Mungkin karena “alurnya mudah, tokohnya ciri nya mudah (pokoknya cantik, ganteng dan glowing), serta digandrungi semua kalangan”. Stigma romansa yang seperti segala-galanya, apalagi bagi kaum perempuan, turut memupuk kesuburan sinetron romansa ini.

Tapi menurutku, kok gini banget gituloh. Aku pikir jika cerita ini ada di dunia nyata, tidak seperti ini juga dong drama nya. Bahkan pernah kan kalian mendengar “Eh kisah cinta mereka loh kayak sinetron”. Saking melekatnya stigma “model romansa versi sinetron” di banyak kalangan.

Sebenarnya tidak ada salahnya menjadikan romansa suatu topik dalam sinetron. Tapi menurutku, konyol banget. Penempatan romansa dalam sinetron Indonesia itu berasa di atas segala-galanya. Mengalahkan posisi Tuhan yang wajib di sembah.

Mana ada sesi menyembah Tuhan di Sinetron romansa, jika ada mungkin hanya sesi berdoa, kemudian ya balik lagi kebucinannya, awoakakaka.

Sistem Patriarkhi Dalam Sinetron Romansa

Cobak pikir deh, mana ada kasus romansa yang sampai melibatkan dua perusahaan besar. Bucin level akut. Saingan rebutan cowok atau cewek, seringnya sih cowok yang diperebutkan. Yha, dari sini kita tahu patriarkhi masih melekat erat di masyarakat. “Kalau bucinnya gak dituruti, kontrak kerja sama kedua orang tua pasangan akan hilang”. Gitu banget siih. (Kalau kalian tahu sinetronnya yaudah lah yah wkwkwk)

Ada lagi, yang sudah versi suami istri. Padahal sudah memiliki istri 4, masih mau menikah lagi. Di sinetron ini aku juga banyak hal yang tidak memanusiakan perempuan. Perempuan dianggap tidak bisa menjadi istri yang baik kalau gak nurut sama suaminya (padahal tidak selalu dalam hal yang baik), gak bisa punya anak, bahkan menolak permintaan suami. Bahkan dari istri-istrinya ini pun kadang tidak akur, memperebutkan harta suami. Minimal jatah bersama suami. Seakan laki-laki itu segalanya banget.

Perempuan pun dalam kebanyakan sinetron (yang aku tonton), selalu terpedaya dengan yang namanya cinta. Seakan kalau mereka sudah jatuh cinta bisa melakukan segalanya. Namun mereka terkadang tidak merasa sedang ditipu. Bahkan ketika sudah disakiti, masih belum sadar dan berusaha mempertahankan cinta diantara mereka.

Akhirnya lahirlah sinetron curahan hati seorang *****.

Meskipun beberapa sinetron menampakkan perempuan adalah sosok yang berdaya, namun hanya sebagian kecil, dan aku mengapresiasinya.

Tapi yang lainnya, seperti menamkan doktrin perempuan itu pasti akan takluk kepada laki-laki. Apapun caranya. Bucin perempuan itu akut banget.

“Tapi kan berarti perempuan bisa bertindak sebagai subjek. Buktinya dia bisa melakukan apapun untuk cintanya, meskipun perempuan”

Hah? menurutku itu bukan pandangan menempatkan perempuan sebagai subjek. Tapi justru menghina perempuan, yang seakan-akan tidak bisa hidup tanpa laki-laki. Seperti yang dikatakan di artikel pelakor, yang menyatakan perempuan adalah subjek, menurutku itu bukan makna subjek yang tepat. Tapi menghina secara terselubung.

Refleksi Sinetron Romansa : Apakah salah?

Terkadang aku berada dalam suatu kebingungan yang tidak penting,

“Sebenarnya penempatan romansa yang seperti di atas segala-galanya ini, gara-gara sinetron yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, atau kehidupan sehari-hari yang melahirkan script romansa yang seperti ini”

Jadi aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, sinetronnya atau kehidupan masyarakat yang sekarang ini.

Aku tahu sinetron yang seperti itu juga ada salahnya. Harusnya mereka membuat beberapa nilai-nilai kehidupan yang lebih berarti daripada itu.

Karena kita tahu di usia yang sekarang ini, galau gak hanya karena romansa! galau gak hanya tentang cinta! jika kau masih merasa seperti itu, ayodonggg buka matamu, dunia yang lebih luas menantimu

Tapi dilihat dari sisi entertainnya, sinetron yang seperti ini jelas menghibur. Masyarakat juga pasti lelah dengan keadaan pandemi ini, yang memaksa kita tidak bisa kemana-mana. Jadi ya, mungkin daripada stres, hadirlah sinetron romansa ini sebagai penghiburnya.

Sebenarnya aku menghargai banyak sinetron di luar sana yang tidak mengangkat topik romance dan tetap bisa menarik pennton. At least, aku masih tetap akan menyampaikan apresiasi pada industri per-sinetron-an di Indonesia, yang sudah menghibur banyak orang, termasuk ibuku yang berumur hampir setengah abad ini.

Menurut kalian bagaimana? Maaf jika artikel ini terkesan marah-marah atau hanya mengkritik, aku percaya dunia per-sinetron-an itu tidak mudah, jadi aku akan tetap mengapresiasi kerja keras mereka. Aku sangat terbuka jika kalian mau berdiskusi denganku di kolom komentar, aku tunggu !

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *