Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tidak Melupakan Masa Lalu yang Kelam : Haruskah?

2 min read

Tidak melupakan Masa Lalu yang kelam : Haruskah?

Tidak melupakan masa lalu yang kelam? seperti apa?

Sebenarnya artikel ini aku buat ketika aku membaca ulang bukuku. Di salah satu babnya, teman yang aku wawancarai mengatakan hal ini

Bertemu denganmu bukanlah kebetulan, aku yang memilihnya. Begitu pula kata ini aku yang memilihnya. Dan hidup yang kita jalani semuanya tentang pilihan bukan kebetulan

Buku What We Got From Senior High School

Indah banget bukan kata-katanya? haha siapa yang baper nih? tapi aku tidak akan menghubungkannya dengan romance ya, aku akan bahas pada topik yang lebih umum lagi.

Temanku mengatakan bahwa suatu pertemuan tidak ada yang kebetulan.

Semuanya adalah pilihan kita sendiri. Pilihan yang didasarkan pada proses panjang yang secara sengaja maupun tidak sengaja kita lalui. Contohnya saja kalian yang mengenal aku karena kita satu kampus, atau bahkan satu organisasi. Tentunya ini adalah hasil dari pilihan kalian mengapa kalian memilih kampus tersebut, atau mendaftar di organisasi yang sama dengan ku. Meskipun kalian tidak tahu di dalamnya ada aku. Tapi kan intinya itu adalah pilihan kalian?

Jika dalam hubungan, aku pernah membaca dalam buku “Woeman Relationship”. Bahwa suatu hal atau masalah dalam hubungan sebaiknya tidak dilupakan, namun diselesaikan. Definisi selesai ini bukan berarti “putus” gitu aja ya, tapi benar-benar selesai. Misal nih (mon maap sebelumnya), kalian memiliki masalah dengan sebut saja : pacar. Yang kemudian membuat status kalian berganti menjadi : mantan. yaudah, masalahnya juga harus sudah selesai dong. Kalian tidak boleh melupakannya hanya karena kalian pernah punya masalah dengan orang tersebut. Yang membuat kalian disetiap mengingatnya kalian akan menangis tersedu-sedu, atau marah membabi buta. Itu pertanda hanya hubungan kalian saja yang sedang berusaha dilupakan, bukan menyelesaikan masalah.

Dalam buku tersebut dikatakan, pertanda kalian selesai dengan masalah kalian adalah ketika kalian mengingatnya, kalian akan biasa-biasa saja. Jadi ya tidak ada suatu sisa luapan emosi yang tersisa. Meskipun dalam realitanya sedikit susah diterapkan, but yha thats the theory..

It’s okey to have problem with someone or something. But when the problem is done, dont forget them.

Wujud Penerimaan Diri Seutuhnya

Selanjutnya, karena masa lalu merupakan bagian dari kita. Maka Seburuk apapun masa itu, itu adalah bagian dari diri kita bukan? Jadi jika kita ingin benar-benar mencintai diri kita sendiri, (dan itu harus, sebelum mencintai orang lain) maka sebaiknya kita juga tidak melupakan masa-masa tersebut.

Hal ini akan menjadi wujud penerimaan diri kita sendiri secara seutuhnya. Penerimaan bahwa kita tidak bisa hidup dengan kenangan-kenangan yang baik saja, tapi juga bisa hidup dengan kenangan-kenangan buruk yang pernah kita lalui. Seperti ying dan yang, harus seimbang. Memangnya kita ini malaikat yang hanya bisa berbuat baik saja? atau iblis yang bisa berbuat buruk saja? Kita ini manusia yang kadang benar kadang juga khilaf. Sehingga menerima hal buruk merupakan menerima bagian dari diri kita sendiri untuk dicintai. Karena siapa lagi yang akan mau mencintai diri kita, sebelum kita sendiri yang memulainya?

Menghargai Takdir yang Sudah Tuhan Berikan

Tadi sudah dikatakan oleh temanku bahwa suatu pertemuan merupakan sebuah pilihan, tidak ada suatu kebetulan. Pilihan-pilihan tersebut tentunya akan menghasilkan serangkaian takdir yang akan kita terima sebagai konsekuensinya. Dan sekelam atau seburuk apapun takdir itu, tentunya kita harus menerimanya bukan sebagai bentuk untuk menghargai takdir itu sendiri? Ibarat kata kita yang memulai, tentu kita yang harus menerima dan mengakhiri. Wujud syukur kita terhadap Tuhan yang masih berbaik hati menurunkan takdir untuk kehidupan kita (yaa kita masih diberi hidup, gak mati), adalah menghargainya. Dengan memberi ruang khusus dalam ingatan kita dan tidak serta merta melupakannya, itu adalah wujud menghargai takdir Tuhan yang sudah diberikan kepada kita.

Fungsi Kaca Spion Itu Urgent !

Kaca spion digunakan untuk melihat kebelakang. Seperti halnya dengan masa lalu, fungsinya sama dengan kaca spion. Meskipun kita hidup di masa kini, tetapi kita tetap membutuhkan masa lalu sebagai bahan pertimbangan kita, agar ibarat kata kita tidak akan kecelakaan, lebih berhati-hati ketika akan mengambil keputusan dan tidak terjebak pada hal yang sama. Sehingga jangan sampai dirimu menghilangkan kaca spionmu, nanti malah bahaya dong… kalau nyebrang bisa tertabrak, alias kalau mengambil keputusan bisa keliru lagi, padahal di masa lalu udah pernah.. Dilupain sih masa lalunya..

Mengenang, Bukan Flashback yang Berlarut-larut

Meskipun tidak boleh melupakan masa lalu, kita tidak boleh terlalu bergantung padanya. Hidup kita harus berjalan dengan prinsip kita sendiri. Jangan sampai tidak melupakan, kalian akan terjebak dalam masa tersebut dan melalaikan masa yang ada sekarang.

Ingat, meskipun kaca spion sangat dibutuhkan, tapi dia lebih kecil daripada kaca depan. Melupakan memang tidak boleh, tapi porsinya harus disesuaikan. jangan sampai justru tidak bisa bangkit dalam kurungan kaca spion, padahal berkaca di kaca depan lebih jelas.

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

One Reply to “Tidak Melupakan Masa Lalu yang Kelam : Haruskah?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *