Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Analisis Sok Logis ‘Komunitas Pelakor Indonesia’

5 min read

komunitas pelakor indonesia

Sudah lama saya melihat group komunitas pelakor Indonesia di facebook. Group ini tidak dikunci, semua orang bisa melihatnya dengan bebas. Segala bentuk postingan, cuitan, dan unggahan anggotanya bisa dinikmati khalayak umum.

Mencoba mendalami satu group ini dengan menyelaraskan beberapa informasi dari seseorang yang telah praktik berumah tangga, membuat saya tercerahkan. Nah, pencerahan ini semoga saja bermanfaat untuk kamu semua.

Tulisan ini saya buat senyaman mungkin dan se-informatif mungkin, sehingga bisa dipahami oleh pembaca. Oke, check this up…

Konsepsi Pelakor dari Seorang Pelakor

Secara bahasa, pelakor adalah akronim dari ‘perebut laki orang.’ Merujuk pada seorang perempuan yang (secara sadar maupun tidak sadar) menciptakan hubungan “cinta” dengan laki-laki yang masih memiliki istri (suami orang).

Pelakor adalah lawan kata pebinor (perebut bini orang). Istilah pebinor kurang dikenal, namun bukan berarti laki-laki perebut istri orang itu tidak ada (malah lebih banyak mungkin).

Ditinjau dari perspektif korban (isteri orang), pelakor adalah manusia bedhjat, bangsat, dan hinanya serendah bahan bakar api neraka. Kenapa demikian? Karena pelakor telah berhasil merenggut suami sekaligus kebahagiaan korban.

Namun, pernah nggak kamu berpikir dari sudut pandang pelakornya. Nah, saya kasih tahu:

“Sebagian pelakor, menganggap jadi pelakor adalah sebuah profesi. Dengan interpretasi intensif, bahwa mereka membisniskan kebahagiaan, seksualitas, dan keharmonisan rumah tangga orang lain.”

Untungnya, pola pikir semacam itu hanya dimiliki sebagian pelakor yang hidup di muka bumi ini. Sisanya, berasalan kadung cinta suami orang, kadung baper, kadung tidak bisa pisah, dan kadung bahagia. Intinya: ada unsur ketidaksengajaan.

Logika Seorang Suami

Ini penting bagi kamu perempuan. Anggap saja saya sok tahu, tapi kalau esok kamu ngerasakan sendiri, ya jangan nyalahin siapa-siapa. Tulisan ini semoga bisa menjadi peringatan, bahwa: suami bisa setia ketika dia ingin setia dengan pondasi apa yang sudah ada pada dirinya.

Nggak paham? Nggak masalah. Intinya: semua suami memiliki potensi untuk tertarik pada perempuan lain (selain istri sahnya). Apa sih itu “Pondasi yang sudah ada pada diri seorang suami”?

1. Logika dan Agama

Bisa saja, perasaan ‘cinta’ itu timbul karena kedekatan, kebiasaan, dan konektivitas. Perpaduan tiga hal itu bisa menciptakan ‘cinta’.

“Nggak usah tanya sumbernya darimana, cari sendiri kalau mau tahu,”

Pada tiga hal itulah, seorang pelakor memiliki pintu untuk memasukan reling jiwa keharmonisan keluarga seseorang. Mendekati, membiasakan diri, dan menciptakan korelasi sehingga terjadi kenyamanan.

Namun jangan khawatir, 3 pintu itu akan tertutup jika seorang pria memiliki logika dan agama. Karena, bila logika diartikan sebagai konstruksi pola pikir sistematis yang didasarkan pada ilmu pengetahuan faktual, maka realitas ‘diduakan itu menyakitkan’ tentu membuat seorang pria tidak berani menduakan istrinya sendiri.

Namun logika hanya berkontribusi 40% dalam menutup 3 pintu itu.

60%-nya adalah agama. Sebab agama adalah aturan sistematis, paten, dan kuat yang bisa membawa nalar menuju hakikat kedewasaan yang sempurna. Fakta sejarah mungkin bisa memberi pelajaran, tapi fakta masa depan itu tidak ada.

Sehingga, seorang suami tanpa konsep agama, bisa berpikir, “Nggak papa selingkuh, asalkan nggak ketahuan.”

Berhenti disitu! Tidak sampai ada ketakutan dengan ‘Tuhan’.

2. Manajemen Pembiasaan

Satu hal paling dipikir seorang laki-laki ketika menikah (dari wawancara, meme, dan silahkan kamu cari sendiri kalau nggak percaya) adalah seks. Emm, secara berat hati, saya katakan hubungan seksual.

Ilmu sat4nisme, memberikan pelajaran besar bahwa, “Ritual seksual adalah puncak kenikmatan dan ibadah yang memberikan aura spesifik yang bisa dikolaborasikan dengan mantra khusus untuk mencari petunjuk s4tan.”

Jika secara teori, perempuan menikah untuk mencari kebahagiaan psikologi dan kehidupan, maka laki-laki lebih cenderung seks dan kenikmatan sesaat.

Saya kasih tahu ke kamu semua: Ukuran kesiapan seorang laki-laki untuk menikah adalah ketika dia sudah mampu berpikir bahwa nikah bukan tentang seks. Nikah bukan tentang hubungan badan aja. Akan tetapi sebuah tanggung jawab kolaboratif yang harus dibentuk dan disiapkan secara fisik dan mental bahkan jauh sebelum dia menikah.

Saya sebut saja manajemen pembiasaan. Maksudnya adalah proses mendisiplinkan diri seorang laki-laki untuk biasa hidup seperti punya istri sebelum dia punya istri. Paham nggak? Ulangi lagi kalau tidak paham.

Karena kok gitu?

Secara teori, nikah itu indah, nikah itu ibadah. Namun realita lapangan, terkadang tidak tersusun sesuai dengan komposisi teori tersebut. Maka yang terjadi adalah misteori yang menciptakan realitas yang bahkan bersebrangan / berkebalikan dengan teorinya.

Ketika Laki-laki terus memaksa anaknya untuk meng-iyakan kalau nikah itu indah, maka tubuh akan selalu menuntut keindahan itu. Sedangkan, tubuh perempuan itu sensitif. Senggol sedikit aja bisa berkurang ‘cantiknya’.

Kalau laki-laki tidak mau memaksa untuk membiasakan diri (baca: ngalah pada situasi dan kondisi), maka rasa bosan itu muncul. Jika hal itu terjadi, maka laki-laki jauh lebih mudah untuk cari pelampiasan yang sesuai dengan ekspektasi (sebut saja: cantik).

Realitas Hubungan Pernikahan

Pertama: Pria setiap hari melihat istrinya. Bosan pasti! Kalau nggak membiasakan diri, maka disenyumin pelakor sedikit aja, pasti baper. Teori pernikahan, ketika bosan itu cari gaya baru bukan pasangan baru. Bener nggak?

Kedua: Istri setiap hari dilihat, kekurangannya makin lama makin terlihat. Keburukannya makin lama makin terbongkar. Bosan atau bahkan muak, bisa terjadi. Disitulah pelakor mengedipkan matanya, suami orang pun langsung jatuh hati.

Ketiga: Istri makin tua, pelakor silih berganti tapi hampir semuanya ‘terlihat muda’. Ya, namanya aja pelakor. Kalau nggak main bedak, ya main dukun. Meski mainnya bedak, tapi tidak terlepas dari teori dan pengalaman.

Dari tiga realitas itu, seorang laki-laki patutnya sudah mulai menata diri, membiasakan hati, dan belajar menghargai jika pernikahan tidak se-simpel buat anak, rawat anak, nikahan anak, terus dikubur anak.

Jika tidak ada manajemen pembiasaan, maka kemungkinan besar seorang laki-laki cenderung ingin selingkuh.

Jarak : Kunci Memahami ‘Kecepatan Relatif Cinta’

Jarak adalah faktor besar yang mempengaruhi seseorang. Jauhnya pria dengan istrinya, tentu membuat kebutuhan seksual tidak terpenuhi. Ketika hal ini terjadi,bisa saja seorang pria mencari pelampiasan lain.

Mau disangkal seperti apa, “Jarak adalah salah satu cara mudah untuk melupakan mantan.”

Karena ketika jarak diperbesar, gelobang perasaan dibawah akan menunjukkan penurunan pada amplitudonya. Ini juga yang bisa dijadikan analogi kangen.

Jika garis kesimbangan gelombang (sebut: jarak) diungkapkan sebagai konektivitas cinta, maka puncak kangen adalah ketika gelombang itu hampir memiliki amplitudo 0 (hampir menyentuh garis keseimbangan). Ketika kangen diabaikan, maka ketidakpedulian akan dihadirkan.

Orang yang memiliki istri pun juga demikian. Ketika gelombang itu terbiarkan sebab kerjaan, maka konektivitas cinta akan dialihkan pada subjek lain. Maka dari itu, ketika kamu ingin hubunganmu baik, perhatikan jarak.

Pelakor bakalan gampang banget goda dan menarik hati laki-laki ketika dia jauh dari jangkauan istrinya. Tapi logika dan agama masih berlaku disini.

Intinya, korelasi jarak dengan gerbang pelakor adalah konektivitas cinta atau bisa kamu sebut baper.

Kenapa Ada Pelakor?

1. Karena pelakor adalah profesi

Nggak perlu heran, jika ada pelakor profesional. Karena dibalik jerih payah mengganggu keluarga orang lain, ada uang dan kenyamanan di situ.

2. Memang Perasaan

Pelakor yang nggak sengaja, membela diri, kalau mereka sebenarnya tidak ingin ganggu keluarga orang. “Tapi karena sudah kadung cinta, ya gimana lagi?” Kembali ke 3 gerbang sebelumnya, kedekatan, kebiasaan, dan konektivitas.

3.  Luka Psikologi

Bisa jadi ini adalah alternatif alasan kenapa ada pelakor. Sebab suami atau mungkin pacar mereka sudah pernah diambil orang lain. Bisa dikatakan, balas dendam.

Siapa yang Salah?

Semua. Pelakor ataupun seorang suami semuanya salah. Kesalahan pelakor adalah jadi pelakor, kesalahan suami adalah nggak mau sadar kalau dirinya sudah punya istri. Kesalahan suami bisa dirujuk pada bagian ‘logika suami’ sebelumnya.

Siapa yang Jadi Korban?

Isteri sah berserta anak keturunannya. Rintihan group sebelah “curhatan wanita korban pelakor” memberikan bukti kalau ada luka yang dalam ketika suami mereka direbut orang lain. Anak-anak hasil ulah kejahatan pelakor pasti sangat benci dengan pelakor itu.

Apakah Poligami Adalah Solusi?

Gak! Kalau hanya berkonsep pada memuaskan nafsu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kalau nggak membiasakan diri, sampai poligami 11 istri pun bakalan kurang. Ya kalau sang istri mau, calon istri mau ya mungkin nggak masalah.

Tapi jujur saja, secara logika poligami sama sekali buka solusi. Karena menikah bukan tentang menyenangkan nafsu, akan tetapi beribadah.

Komunitas Pelakor Indonesia

Bukti bahwa banyak laki-laki yang cerai demi seorang pelakor, bukti bahwa banyak pelakor yang sukses menjiwai karirnya, bukti bahwa laki-laki cenderung terpedaya, jika tidak memiliki pondasi yang kuat.

Kenapa Group Pelakor Indonesia Ada, tapi Pebinor tidak Ada?

Sebab faktanya, laki-laki adalah objek terpedaya. Pendukung kesetaraan gender jangan baper dulu ya. Saya nggak bermaksud memposisikan perempuan sebagai pelaku perusak rumah tangga orang lain. Saya hanya memberikan saut fakta kalau perempuan bisa jadi subjek.

Memang, pebinor banyak, gigolo banyak, berita banyak yang memberitakan.

Tapi, lumrahnya yang namanya PSK, Open BO, Open VCS itu dari golongan kaum Hawa. Kenapa demikian?

Karena perempuan memiliki konotasi keindahan, kalau nggak ditutup (atau malah diumbar) maka orang bakalan menikmati keindahan itu.

Kenapa hewan dan tumbuhan itu beautifull, kok bukan handsome?

Sebab tumbuhan dan hewan itu pantas jadi cantik (meski jantan) bukan dilihat dari kelaminnya, akan tetapi keindahannya…

Kesimpulannya

Nggak ada! Anggap saja itu hiburan dan angin lalu saja…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

3 Replies to “Analisis Sok Logis ‘Komunitas Pelakor Indonesia’”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *