Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Bad News is Good News : All About the Money

2 min read

Bad News is Good News

Peribahasa “Bad News is Good News” memang sudah lama terdengar dari dunia jurnalistik. Mengisyaratkan jika “Berita buruk adalah berita baik”. Dari peribahasa itu, mungkin kamu sudah sedikit membayangkan isi dari artikel ini.

Benarkah berita buruk adalah berita baik? Bagaimana konsepnya…

Schadenfreude

Sebelum kita membahas lebih dalam tentang ‘berita’, saya kenalkan satu istilah yang seringkali dimiliki manusia, namanya schadenfreude.

Schadenfreude adalah istilah dari Jerman yang memiliki arti ‘Senang melihat orang lain susah’. Dalam pengertian bahasa, bisa diartikan “sakit bahagia”.

Lho, sakit kok bahagia?

Pernah nggak kamu merasa nyaman ketika melihat temanmu dapat nilai lebih buruk ketimbang kamu? Pernah nggak kamu merasa santai, ketika melihat teman kamu lebih dimarahi oleh guru ketimbang kamu?

Pada umumnya, “Manusia itu bahagia ketika melihat orang lain menderita,”

Gambaran Schadenfreude

Ada beberapa pola pikir yang sejalan dengan schadenfreude ini, diantaranya adalah:

  • “Nggak seru kalau nggak lihat konflik.”
  • “Untung aja aku nggak kek gitu.”
  • “Semoga aja dia lebih buruk ketimbang aku.”
  • “Nggak papa sana rame, terpenting kita menikmati.”
  • “Asyik, ada bahan pembicaraan lagi nich.”
  • Dan lain-lain.

Ketika Mendengar Berita Buruk…

Jika berita buruk itu bersumber dari keluarga sendiri (atau teman), mungkin kamu akan sedih. Merasa menanggung beban dari permasalahan itu.

Namun ketika bersumber dari orang lain, orang yang kamu benci, atau orang yang berpotensi mengganggu bisnis, usaha, atau niatmu, mungkin kamu akan ‘sedikit’ bahagia.

Bahkan terkadang, kamu sendiri yang menciptakan berita buruk itu pada sainganmu.

Ini masih terkotak dalam hubungan dua arah. Tentu beda dengan pers dan berita…

Berita : Korporasi Benefit

Semua pers, siaran, televisi, dan channel apapun yang berhubungan dengan berita, tentu akan menganggap apa yang mereka bawakan adalah fakta yang benar (aktual dan faktual).

Padahal, terselip sebuah pola pikir ‘ambil keuntungan’. Semakin wow berita yang dibawakan, maka akan semakin menarik pula untuk diikuti.

Maka ‘terkadang’ pers dan berita itu membawakan berita dengan bekal:

  • Cepet-cepetan tayang
  • Gelegar dan provokasi
  • Dibumbu-bumbui agar menganakkan berita baru

Ingat: ‘T-e-r-k-a-d-a-n-g”

Dimana sebuah pers mendapatkan keuntungan?

Jawabannya adalah : Pembaca dan Penonton.

Dimana Uang itu Lahir

Sejauh ini saya menemukan dua pola,

Pertama: berita — penonton — iklan — uang

Kedua: berita — kepercayaan — penonton — iklan — uang

Kenapa kog akhirnya uang?

Ya, memang tidak dapat dipungkiri, pemberitaan adalah komoditas. Sebuah bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan.

All About the Money

Dengan banyak yang membaca berita, maka akan banyak iklan yang mau membayar. Jadi, ‘terkadang’ pemberitaan adalah tentang traffic/visitor/penonton.

Lalu lintas netizen dan masyarakat yang haus informasi adalah good news bagi sebagian orang.

Titik Good News-nya

Alurnya gini:

Masyarakat suka orang lain menderita — media pers ‘cenderung’ suka memberitakan penderitaan orang lain — masyarakat antusias melihat — penonton naik — iklan masuk — uang cair.

Kesimpulannya gini, “Penuhi kebutuhan schadenfreude masyarakat, maka kamu bisa kaya”

Jadi kenapa korupsi lebih gencar dipublikasi ketimbang prestasi?

Sebab masyarakat lebih suka melihat serunya konflik antar koruptor dengan KPK beserta bala tentaranya ketimbang lihat prestasi.

Prestasi mah gitu-gitu aja. Alur klimaks dan anti-klimaksnya tidak memuaskan otak layaknya kasus korupsi.

Jika masyarakat suka yang negatif-negatif, maka terjadi iklim pemberitaan dalam media yang ‘mau nggak mau harus memberitakan hal-hal yang negatif agar banyak ditonton dan dilihat.’

Soalnya, pers butuh uang = uang butuh iklan = iklan butuh penonton = penonton butuh konten yang negatif. Hehe…

Refleksi Konten Youtube

Buat masalah — dipropagandakan — dipermasalahkan — ramai — trending — penonton banyak — iklan dan subscribe.

Konten Youtube yang Negatif

Kenapa gaya konten seperti itu bisa menarik perhatian penonton?

Sebab penonton itu butuh masalah orang lain untuk menutupi masalahnya sendiri.

Atau kalau nggak gitu, penonton itu ingin melihat akibat yang timbul dari sebuah tindakan negatif orang lain, tanpa harus melakukannya sendiri. (coba ulangi kalimat ini).

Hal ini akan tetap berakhir : iklan dan uang. Jadi, bisa dikatakan, “Secara tersirat dalam adagium, All about the money.

Dampak Negatifnya

Pemberitaan, konten, dan apapun itu yang negatif, tentu akan membawa dampak negatif pula.

Kenapa Media di Jepang tidak menyorot gelimpangan korban Tsunami 2011 secara terang-terangan? Menurut beberapa sumber, fokus tayangannya adalah proses regu penyelamat memberikan pertolongan.

Hal itu tentu dilakukan bukan karena Bad News is Good News, akan tetapi tanggung jawab moral dan manajemen kecemasan masyarakat. Bila yang disorot hanya korban, kerusakan, dan penderitaan, maka akan berdampak buruk bagi otak dan psikologi warga Jepang.

Sama seperti itu, bila berita dan konten yang dikonsumsi masyarakat kita adalah berita dan konten negatif, maka otak dan psikologi masyarakat kita juga akan negatif pula. Contohnya:

  • Berkomentar tanpa kesopanan
  • Memakai bahasa yang buruk untuk percakapan
  • Lebih suka entertaiment ketimpang edukasi
  • Mengunggah hal-hal yang hanya untuk viral saja
  • Bertindak menerobos pintu-pintu moral dan etika
  • Dan masih banyak lagi

Karena dengan melakukan yang negatif, maka penonton akan semakin banyak. Dengan banyaknya penonton, maka banyak pula pendapatannya uangnya. Simple bukan?

Padahal, kalau hanya ingin terkenal dan viral, kamu hanya perlu mengencingi sumur zam-zam. Setelah itu, kamu bakalan dikenal di seluruh dunia. Bahkan nama negara kita akan disebut. Namun dalam konteks negatif…

Kesimpulan

Berita buruk bisa diuangkan, uang inilah yang menjadi goodnews bagi sebagian orang.

Yuks sama-sama belajar berpikir dan bertindak yang positif. Jangan jadikan Bad News is Good News.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *