Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Cari Uang Itu Susah! Hidup itu Kejam

3 min read

Cari Uang Itu Susah

Ketika manusia menginjak umur di atas 20, mungkin sudah terbesit dalam hati untuk mencari uang sendiri. Kalau nggak gitu, ada rasa malu minta uang jajan ke orang tua. Dengan kata lain: Sudah mulai ngerti kalau cari uang itu susah!

Di saat anak-anak, manusia mungkin sudah ditanggung oleh orang tuanya. Makan dicukupi, jajan diberi jatah, dan semua hal bisa dapatkan. Hanya perlu membuka mulut dan ngomong, “Minta itu…”

Semakin nambah umur, semakin tidak bisa mengatakan hal itu. Jika kamu tidak merasakan hal itu, berarti kamu terlalu dimanja. Ya masak sih, sudah umur lebih dari 20 tahun belum terbersit untuk hidup mandiri…

Cari Uang Susah Banget

Sebenarnya, tulisan ini bukan untuk membuat hati kamu kecil untuk cari uang. Saya sebenarnya juga takut nulis hal-hal seperti ini. Soalnya tulisan seperti ini lebih cocok untuk diri saya sendiri. Apalagi di kala pandemi kek gini…

Semua orang sedang disibukkan cari penghasilan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Mungkin termasuk kamu sekalian…

Di kala nganggur di rumah, otak berputar, “Pekerjaan apa ya, yang bisa dijadikan tambahan penghasilan?”

  • Ada yang bikin Youtube
  • Terjun ke dunia freelance
  • Bantu-bantu usaha keluarga
  • cari kerjaan part time sambil nyantai
  • membuat produk sendiri
  • Sampai mencuri atau bergelut di usaha gelap

Semua itu dilakukan demi apa? Uang. Hanya demi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan. Emm… Tapi nggak selalu gitu sih, kadang juga untuk memenuhi keinginan.

Pokoknya, semakin dewasa manusia akan semakin mikir bagaimana cara hidup. Bagaimana cara biar nggak ngandelin atau menyusahkan orang lain. Pasti itu!

Kecuali kamu orang super kaya raya yang hartanya nggak habis 10 keturunan…

Kalau Hanya untuk Kebutuhan, Gampang

Misal nih, satu hari kamu butuh makan 10 ribu dua kali. Jadi 20 ribu satu hari. Dikali 30 hari, sama dengan 600 ribu. Terus keperluan lain-lain, anggap 400 ribu…

1 juta satu bulan untuk satu orang. Mungkin angka itu besar ketika disebutkan. Tapi dengan berjalannya waktu, angka itu kecil.

Sama halnya, kalkulasi kehidupanmu. Misal dari kecil semua kebutuhan kamu ditotal, sudah dapat berapa ratus juta?

Mulai dari persalinan, popok, obat ketika kamu sakit, makanan bubur, dan apapun hingga kamu tumbuh dewasa. Berapa milyar?

Tentu banyak kalau disebutkan dalam tempo satu detik. Karena hal itu berjalan seiring waktu, maka dirasakan tanpa beban apapun.

Siapa sangka, seorang pencari kayu, pencari rongsokan, penjual makanan ringan, pedagang kaki lima, bisa menghidupi anak-anaknya hingga dewasa. Bukan satu anak, bisa sampai tiga ataubahkan sembilan anak.

Berapa ratus juta? Tak terhitung lah pokoknya…

Pertanyaannya: Kok Ada? Kok Bisa? Kok Cukup?

Orang tua pasti njawab, “Nggak tahu…”

Soalnya dia menyayangi anaknya. Merawat dan berharap kehidupan baik terbentang di masa depan anaknya.

Selain itu, Kenapa Orang Miskin Bisa Hidup?

Bayangkan, penghasilan minim banget. Tapi bisa membesarkan manusia hingga dewasa. Apakah itu bukan anugrah?

Ada lho, orang yang nggak hanya kerja ngambilin sisa padi orang, bisa membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh dewasa. Anaknya itu tumbuh dengan sehat, berbadan besar, dan tentunya normal (tidak cacat sama sekali).

Kok bisa? Hayo…

Jangankan Hal  itu, Orang-Orang Di Jaman ini…

Banyak banget yang bangun rumah. Rumah diperbaiki jadi minimalis. Uang mereka dari mana?

Kerja, tentu kerja. Lha kok ada kerjaan?

Kenapa lho, pekerjaan mereka itu tetap ada. Terus ada, hingga bisa membangun rumah bagus kek gitu? Bagaimana Tuhan menciptakan alur rezeki?

Nggak tahu.

Tuhan terlalu adil kayaknya… Bahkan, kata ustadz-ustadz, setiap manusia itu memiliki rezekinya sendiri. Asalkan orang itu mau usaha.

Jadi, bagi orang-orang yang sudah benar-benar dewasa, mungkin mencukupi kebutuhan itu gampang banget. Tapi yang nggak gampang itu…

Memenuhi Keinginan yang Kagak Ada Habisnya

Entah mengapa, ‘keinginan’ adalah satu hal yang membuat manusia merasa kurang. Padahal sudah cukup.

Padahal, hidup mereka sudah kaya: rumah bagus, kendaraan terbaru (meski kredit), setiap hari ya masih makan (bahkan kekenyangan), dan pokoknya, semua hal yang diperlukan untuk hidup dan berkehidupan sudah tercukupi (banget).

Keinginan yang membuat manusia melupakan apa yang namanya ‘bersyukur’.

Keinginan dan ambisi dunia yang membuat manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Sehingga, terjadi kekacauan sistem sosial seperti:

  • Pekerjaan haram merajalela
  • Persaingan yang tidak sehat
  • Saling menjatuhkan kompetitor
  • Tidak menyukai kepemilikan orang lain
  • Dan lain-lain

Hal itu memang sangat disayangkan, akan tetapi sudah sunnatullah (hukum alam).

Kalau manusia hanya perlu mencukupi kebutuhan, mungkin tidak ada kata ‘Dunia ini Kejam’.

Orang Bodoh

Melihat Keadilan Tuhan

Pernah seseorang berkata pada saya, “Aku ni pengangguran, tapi kalau ingin sesuatu, pasti aaada aja kerjaan yang tiba-tiba datang. Nggak tahu. Mesti selalu gitu. Bahkan, pekerjaan itu bisa datang, hanya dengan ibu mendoakanku.”

Mendengar kalimat itu, saya merasa hina banget.

Saya aja yang belum kerja, sudah berambisi ingin ini dan itu. Kebutuhan hidup mungkin sudah tercukupi, tapi rasanya nggak pernah bersyukur.

Terus saja berdoa, minta ini dan itu. Namun lupa bagaimana caranya mensyukuri rezeki yang tak terhingga dari Tuhan.

Rezeki yang berupa:

  • Nafas yang gratis
  • Indra yang normal
  • Tubuh yang lengkap
  • Perut yang selalu terisi
  • Fasilitas rumah tinggal
  • Keluarga yang sayang
  • Teman yang asyik
  • Guru yang keren
  • Sekolah yang bagus dan baik
  • Sosial yang tak berkonflik
  • Paling penting: Agama yang sempurna
  • Dan masih banyak lagi

Tapi kenapa saya nggak pernah mensyukuri nikmat-nikmat hebat itu?

Memang, saya hanya manusia bodoh, lupa diri, dan nggak ngerti apa-apa…

Jadi, Cari Uang itu Susah Nggak?

Mungkin aja nggak, asalkan hanya untuk kebutuhan. Bukan untuk keinginan.

Keinginan manusia itu tak terbatas (~). Maka perlu uang yang tak terbatas (~) pula agar semua keinginan itu tercapai. Bener nggak?

Orang Bodoh

Cari uang itu susah, kalau untuk keinginan. Tapi kalau untuk kebutuhan, ya kata guru saya, “Pasti selalu ada.” Atau kata paman saya, “Allah menyobek mulut kamu, berarti Allah juga bertanggung jawab mengisinya.”

Mungkin itu aja bahasan kali ini, Terima kasih sudah mau baca.

(Salam dari orang yang kebanyakan berteori, tapi prakteknya nol.)

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *