Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Corona, Kapan Selesainya?

3 min read

Sejak dulu, gua itu nggak yakin-yakin banget dengan keberadaan bakteri, virus, dan segala hal yang berbau mikroskopis. Sebab menurut gua, itu bikin ribet. Ketika mau gini, mikir ada bakteri. Niat mau gitu, mikir ada virus. Kalau gua mempercayai itu, rasanya hidupku semakin susah. Jadi, aku memutuskan untuk nggak percaya banget dengan hal-hal berbau kecil banget.

Meski logikaku menolak, tapi minimal hatiku bisa santai. Terlepas dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern di zaman ini, gua hanya pengen hatiku tenang aja. Lha setelah gua punya kepercayaan kek gitu, sekarang malah muncul COVID-19.

Jadi, mau nggak mau gua harus percaya banget dong, dengan virus yang satu ini. Sebab sudah jelas propagandanya. Video-video dari luar negeri yang memperlihatkan korban Corona. Selain itu, sosialisasi masif tenaga medis, influencer, dan semua orang. Sekarang, nggak ada yang nggak percaya kalau virus ini nggak bahaya.

Sebagian orang panik, sebab penyebarannya sangat cepat. Medianya pun begitu sederhana, lewat mata, hidung, mulut. Bersalaman bisa nular, bersin, ludah, pokoknya ada kontak. Gara-gara penyebarannya yang guampang banget inu, nggak heran kalau orang-orang pada takut.

Saking takutnya, banyak yang egois mikirin diri mereka sendiri. Nimbun makanan, masker diborong, bahkan alat pelindung diripun habis hingga tenaga medis kehabisan sampai pakai jas hujan.

Sekarang gua nggak mikir ke virusnya, tapi ke psikologi manusianya. Gini, anggap aja gua bodoh dan nggak tahu apa-apa. Pikirkan kalau semua orang Indonesia nggak boleh ke China, otomatis mereka nggak tahu langsung kondisi China gimana.

Tetapi media gencar memviralkan banyak video tentang Corona. Mulai dari darurat Covid-19, cara melindungi diri, gejala, video korban, pemakaman korban, dan sebagainya. Sebab masifnya publikasi ini, sebagian masyarakat takut. Mereka jadi nggak mikir apapun selain diri mereka dan orang terdekat mereka.

Membuktikan, kalau manusia itu labil banget. Dipicu dengan informasi yang didominasi, mereka bakalan chaos! Kacau, nggak karu-karuan. Gua juga mikir, “Kalau karena Covid-19 aja manusia bisa kek gitu, apalagi kiamat nanti ya?”

Logis banget bukan, kalau manusia lupa pada istrinya, anak-anaknya, keluarganya, bahkan ibu kandungnya. Semua orang pada sibuk memikirkan diri mereka sendiri. Sama kayak ketika ada gempa. Mendadak bumi bergoyang, manusia nggak mikir apapun selain menyelamatkan diri. Jadi, masuk akal banget kalau hari kiamat bener-bener dahsyat.

Lah, kok ngomongin kiamat sih! Okay, kita lanjut ke Corona. Orang-orang sekarang sebab dirundung rindu, kangen ingin melakukan kegiatan offline, pengen ketemu dan berkumpul-kumpul lagi pasti bertanya-tanya, “Kapan ya pandemi ini selesai?”

Gua bilangi guys, “Pasti selesai kok! Tapi nggak tahu kapan. Wkwkwkw…”

Gua ngomong gitu sebab ya gimana lagi? Di tengah pandemi lho, (bukan bencana kecamatan), kita masih sibuk mikirin diri sendiri, ya nggak tahu kapan selesainya. Malah, pajabat pemerintahan ada yang memanfaatkan momen untuk curi-curi. Gua bener-bener nggak habis pikir.

Gini wes, kita mikir kemungkinan terburuknya. Covid-19 ini tak ditanggulangi dengan jelas, sebab instruksi pemerintah juga bingung. Mau lockdown, belum siap. Kalau nggak lockdown, orang kok semakin hari semakin nggak peduli. Serba salah, serba bingung, dan tak tahu harus ngapain bukan?

Ya gara-garanya kita semua belum satu pemikiran. Caranya biar satu pemikiran, ya belakangkan urusan pribadi kalian! Tapi sulit ya? Pasti lah. Kalau gampang ya rebahan. Meski gitu, remaja-remaja malah alasan bosen di rumah, tetep keluar nongkrong, pacaran, atau jalan-jalan.

Bukannya gua memberikan pesimisme, tapi kalau kek gini terus, ilmuan manapun ya mau nggak mau ngomong kalau, “Pandemi ini bakalan lama hilangnya.”

Nggak ada Corona aja, negara kita itu ruwet, aneh, ribet. Apalagi setelah ada Corona. Tambah makin menjadi-jadi. Lebih lagi, virus ini belum ada penangkalnya yang ampuh. Kalau kita nunggu penangkalnya, dijamin bakalan lama. Kalian pasti tahu kan, kalau ngembangin antivirus itu nggak gampang.

Ya, kalau rumornya udah ditemukan tapi belum diperjualbelikan, itu gua nggak tahu. Pokoknya, gua yakin ada orang yang suka dengan adanya pandemi ini, “Diuntungkan”. Ada orang yang untung.

Persatuan itu mustahil terjadi, bila semua orang nggak merasakan senasib seperjuangan. Satu satu orang untung di tengah sejuta orang rugi, sejuta orang itu bisa dipecah belah. Persatuan pun sulit terjadi.

Terus kapan selesainya? Nggak tahu bro! Kalau gua ngira-ngira sih, di Indonesia ini bakalan selesai paling baik di tahun depan, entah bulan apa. Gua malah lebih takut bila ada gelombang resesi ekonomi, yang memicu kekisruhan politik, dan berakhir pada chaosnya masyarakat.

Bayangkan, enam bulan aja manusia nggak dapat kerja dan penghasilan. Mustahil mereka nggak stress! Akhirnya mereka nggak peduli lagi, pokoknya perut terpenuhi, apapun dilakukan. Hal ini benar-benar nggak mustahil terjadi. Potensinya sangat besar.

Gua hanya nyaranin, kita harus kolaborasi. Hilangkan strata kaya miskin, suku, ras, budaya, golongan, ormas dan lain-lain. Waktunya semua lini masyarakat bersatu untuk melawan satu objek yang bernama Corona. “Kita pasti memang kan? Lho wong kita 17 juta lebih manusia Indonesia, sedang musuhnya hanya satu!”

Pemerintah harus bisa lebih merangkul influencer, konglomerat, ahli ekonomi, masyarakat, jangan fokus mengurusi politik kalian. Gua sudah nggak peduli politik kalian di kondisi kek gini. “Silahkan main politik praktis kalian, tapi jangan di situasi kek gini lah! Jangan bikin masyarakat semakin gregeten dengan kalian.”

Gua nggak pengen nyalahin, hanya mengucapkan unek-unek aja. Covid-19 ini benar-benar ujian untuk semua negara. Negara mana yang punya analisis tinggi dan gerak yang sigap, pasti bakalan keluar dari permasalahan ini dengan cepat. Apakah Indonesia nggak bisa?

Bisa! Sangat bisa, hanya kurang kolaborasi aja. Masih terlalu mikirin egonya sendiri. Gua yakin, semakin kita cepat berkolaborasi, semakin cepat kita melalui masa pandemi ini. Percayalah kawan, semua ini pasti selesai. Tapi kalian bisa milih, selesai dengan cepat atau lambat? Semua tergantung kita semua. Bukan gua, loe, dia., ataupun mereka.”

Udah lah, biar waktu yang menjawab. Gua bacot banyak-banyak pun juga nggak ngefek. Yah, cuma unek-unek aja kok. Kalau logikaku salah, ya gua minta maaf dan minta pembenaran dari kalian semua.

Sabar yah, tingkatkan Imun dan Iman, ikuti prosedur biar aman, yang masih kerja semangat, ya nggak kerja di rumah aja. Kalau bisa kerja di rumah ya di rumah aja. Lebih baik kalau kalian tinggal di kantor kalian. Pokoknya hindari menciptakan kerumunan, ayo kita bersatu!!! Ini bakalan cepat berlalu kok, optimis aja.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *