Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Dunia Penuh dengan Prank

4 min read

“Nggak tahu deh, banyak banget orang yang suka nge-lucu ketika kondisinya kek gini! Ada yang prank tes iman hingga prank sampah. Kenapa ya ya, orang itu suka melihat orang lain susah! Meski kok nggak mikir kalau dia berada di posisi susah itu!”

Gua sih nggak punya masalah dengan siapapun di sini. Terserah kalau mau buat konten kek gimana, terserah! Gua juga nggak peduli. Tapi yo mbok yang bisa nalar gitu lo! Apakah bisa diukur kemanusiaannya gitu lho…

Sudah tahu hidup di negeri ini penuh dengan prank penguasa, kok nambah-nambah lagi prank dalam kehidupan. Ya buat lucu-lucu sih nggak papa, tapi yang baik gitu ngapa sih. Apa nggak ada hal lucu yang nggak melibatkan unsur memberatkan penderitaan orang lain.

Loe sebenarnya tahu nggak sih artinya prank itu apa? Gua kasih tahu kalau loe nggak tahu. Prank itu kata dari bahasa inggris, artinya tipuan lucu. Jadi, orang nipu itu nggak dosa lagi, tapi lucu. Konsep semacam ini terlalu goblok sebenarnya, sebab tak semua tipuan boleh dan pantas dibuat lucu-lucuan.

Lha di zaman ini nggak! Nipu dijadikan kebiasaan, dijadikan konten unggulan, dan penguat traffic untuk memunculkan penonton dan berakhir pada uang adsense. Akhirnya menipu untuk uang, dosa demi uang, menyakiti orang lain untuk me­ngkayakan diri sendiri. Bangsat banget kan?

Kalau dilihat dari perspektif agama, ya pasti hal ini sangat keterlaluan dan dosa. Akan tetapi pasti dilihat dulu gimana model pranknya. Tetap aja, kalau orang-orang modern yang bawa dalil, pasti membawa-bawa dalil untuk membenarkan tindakan mereka. Jadi, pinter-pinter mbolak-mbalikkan dalil aja, biar bisa menghalalkan penipuan untuk dijadikan prank.

Apalagi, beberapa orang di zaman ini orang nggak terlalu peduli dengan agama. “Persetan dengan aturan itu semua, cari uang itu susah, masih aja ditambah-tambahi dengan aturan yang ngikat. Agama itu di tempat ibadah, bukan di kehidupan sosial!”

Manusia modern yang otaknya kaya kaya dan kaya, pasti mikirnya sekuler kek gitu. Ya nggak semuanya sih, tapi kebanyakan. Mereka nggak peduli amat dengan konsep dosa, neraka, dan hal-hal yang bersifat ghaib lainnya.

Sekiranya menyenangkan apalagi dapat uang, kenapa nggak? Diberi kemudahan, kenapa harus cari yang sulit. Sikat aja dah, toh dosa itu ditanggung di akhir kok. Akhirat itu adanya setelah mati kok! Sekarang kan masih hidup, nggak usah deh ngurusin hal-hal yang semacam itu, ribet!

Berceceran manusia di bumi ini yang memiliki pola pikir semacam itu. Sehingga, nggak peduli mau prank, bisnis menipu, dan lain-lain. Asalkan bisa dapat uang, kenapa nggak?

Jangankan konten youtube, kita lihat aja ada berapa juta bisnis nipu di media sosial. Tak terhitung!!! Bisnis jual beli handphone murah, sepeda motor murah, barang murah, dan lain-lain. Modusnya, harus tranfer uang dulu, kemudian lost kontak, akhirnya konsumen tertipu.

Bisnis semacam itu benar-benar ngumbruk, berceceran tak terhingga di media sosial. Orang benar-benar udah gila, tega, dan nggak punya rasa berdosa dengan orang lain. Bahkan, mereka sudah mendapatkan puluhan korban yang benar-benar merasa dirugikan dan nggak tahu harus ngapain setelah kena tipu.

Seperti itulah teganya manusia ketika menghilangkan kemanusiaannya demi mencari kekayaan. Nggak peduli merugikan orang lain, terpenting dia untung, terusin aja dah! Asal tanpa nama, tanpa alamat, tanpa identitas, jadi polisi akan kesusahan melacak dan menemukan. Sehingga, bisnis nipu bisa terus berjalan.

Sama sepeti konten creator media sosial, banyak dari mereka nggak segan untuk nipu demi mendapatkan traffic pengunjung sehingga bisa dapat banyak adsense. Padahal adsense itu boleh-boleh aja, sah-sah aja, tapi kalau traffic penonton dihasilkan dari nipu, apa hal itu benar-benar nggak kebangeten, apa hal itu nggak dosa?

Okay, udah males gua bahas prank-prank itu. Beberapa orangnya toh juga sudah dipenjara juga, semoga dia mendapat pelajaran baik dari apa yang dia lakukan. Dan plis, gua dan semua orang pasti berharap, prankster-prankster itu nggak ngulangi tindakan mereka.

“Plis deh! Jangan goblok ngulangi kesalahan dua kali dengan sadar! Kepleset di tempat yang sama dua kali itu bodoh, masuk ke lubang yang sama dua kali itu tanda orang nggak mau mengambil pelajaran. Jangan mencoba terus menyulut emosi netizen lah! Netizen itu keras parah!!!

Prank Penguasa

Nggak warga negaranya aja, pemerintahnya juga ternyata suka nge-prank rakyatnya. Bayangkan, pemerintahan di negara ini dimulai dari kampanye bullshit, dijalankan dengan tindakan-tindakan pencitraan, dan berbagai keputusan diambil tanpa koordinasi yang jelas dan penuh dengan kesombongan.

Anggap aja gua ngomong ngelantur ya, jadi loe nggak usah percaya tulisan ini nggak papa. Gua nganggap kalau sejak dulu yang namanya penguasa memang mungkin sudah berusaha keras untuk memperbaiki kualitas kekuasaannya, tapi selalu gagal dan menciderai hati rakyat.

Sehingga, ungkapan penguasa penipu, penguasa tukang prank, penguasa goblok, penguasa bullshit, penguasa nggak bertanggungjawab muncul di ranah kehidupan media sosial rakyat. Hal itu memang terjadi di sistem pemerintahan ini. Nggak tahu deh kenapa, selalu aja membuat geram hati rakyat.

Katanya a, kenyatannya b. Bilangnya a, terus di lapangan b. Susah! Nggak tahu dah kenapa kok gitu? Gua nggak berburuk sangka ya, kalau penguasa itu, otak dan matanya tertutup nafsu jabatan dan kekayaan. Sehingga keputusan yang diambil ngelantur nggak jelas dan malah menimbulkan kesusahan bagi rakyat.

Untungnya, nggak semua penguasa dan nggak semua pejabat suka nge-prank. Jadi, loe bisa agak bernafas lega, sebab masih ada pejabat yang memiliki nurani dan rasa kasian untuk berani menipu rakyat. Pejabat yang benar-benar nggak menginginkan kekuasaan dan kekayaan, sehingga kebijakan yang diambil bisa terlihat jelas dan nggak nyusahin rakyat.

Tapi hal semacam itu nggak terlalu tersorot media, sebab yang disorot itu kebanyakan pencitraan dan gaya-gayaannya pemerintahan yang gila jabatan dan kekayaan.

Tapi sekali pejabat yang baik buat salah, gila bener orang-orang kalau mem-bully. Habis-habisan, mati-matian, sebab ada provokator yang dibayar untuk menghajar pejabat yang memiliki citra bagus itu.

Ujung-ujungnya adalah nafsu ingin tetap tenar dan memiliki citra yang tak kalah dari pejabat lain. Gini ni yang bikin geli! Jabatan itu benar-benar diperebutkan, bukan untuk memperjuangkan kesejahteraaan, akan tetapi untuk mendapatkan sesuatu dari jawaban yang diperebutkan itu.

Lagi-lagi adalah uang, kekayaan, keglamouran hidup, dan kesejahteraan orang-orang tertentu. Nggak tahu sih, apakah ketika manusia diberikan sebuah kuasa, otaknya langsung berubah jadi tega gitu. Mungkin iya, jadi posisi orang yang mengeritik penguasa adalah posisi sakit hati atau posisi nggak dapat jatah kekuasaan. Mungkin seperti itu!

Ya itulah manusia, makhluk yang otaknya cenderung suka melihat orang lain menderita. Nggak tahu kenapa, mungkin belum diinstal softwere bahagia melihat kebahagiaan orang lain. Sehingga, tak ada lagi orang yang suka nipu dan membuat guyonan dengan menyakiti hati orang lain.

Penguasa juga begitu, janganlah suka melihat rakyat menderita dan mudah diprovokasi. Kalian ada itu untuk menciptakan kesejahteraan, bukan untuk menciptakan emosi rakyat melihat kelakuan kalian yang nggak jelas.

Kalau nggak mungkin, jangan mudah ngomong dan berjanji. “Wes tho, itu demi kebaikan kalian sendiri hei para pejabat. Rakyat itu sudah males melihat janji-janji palsu dan prank-prank itu. Stop apa-apa dibuat pencitraan!”

***

Udah lah, males gua bahas kek gini lama-lama. Terserah loe semua dah mau nge-prank atau mau ngapain. Pengusa dan pejabat, terserah loe ya mau nipu atau gimana! Gua ini orang yang punya agama, jadi optimis aja gua, kalau ganjaran dari penipuan itu kalau nggak loe dapatkan di dunia, di akhirat semua bakalan dibalas sesuai dan adil.

Jadi, tindakan loe-loe sendiri yang melakukan, dosa dan konsekuensi ke depannya loe juga yang harus nanggung. Kalau dibilangi nggak bisa, juga terserah loe. Mungkin gua nggak ngerti aja kondisi loe yang mengharuskan melakukan loe melakukan tipu-tipu itu. Tapi ya kok kebangeten aja gitu!

Dah lah, mungkin itu aja dulu cuitan gua kali ini. Mungkin topik ini sudah basi dibahas, tapi ya daripada gua nggak nulis. Mending terlambat daripada tidak sama sakali kan? Kalau loe males baca artikel kek gini, ya gua maap.

Loe juga bisa komentar ataupun ngasih saran ke tulisan ini atau tulisan yang lain. Terserah loe pokoknya. Kalian share ataupun nggak, gua juga nggak terlalu peduli. Kalian klik link artikel ini aja, gua sudah sangat bersyukur, “Eh ada orang yang sempat nge-klik artikel yang gua buat! Puji Tuhan…”

Okey, salam terserah loe, dan sampai ketemu di artikel selanjutnya yah!

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Dunia Penuh dengan Prank”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *