Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Gedang Vs Gedang dan Strategi Memecah Belah Bangsa

2 min read

gedang vs gedang

Kita akan bahas kenapa membahas gedang vs gedang dalam perspektif konflik sosial itu perlu.

***

Bayangkan kamu jadi orang jawa, terus ada orang yang ngatain kamu, “Wajahmu Amis!”

Mungkin kamu bakalan tersinggung, tapi jangan dulu. Klarifikasi dulu, dia orang mana. Jangan-jangan orang Sunda. Dalam bahasa Sunda, Amis itu Manis.

Gedang, adalah bahasa jawa dari Pisang. Tapi dalam bahasa Sunda gedang itu artinya pepaya. Sama-sama buahnya, tapi bisa salah paham kan, jika tidak tahu.

Ada lagi, kamu orang jawa disuruh, “Cokot!”

Jangan keburu digigit, jangan-jangan itu nyuruh ngambil.

Padahal itu baru dua bahasa lho ya, Jawa dan Sunda. Bahkan orang-orang sampai menyempatkan diri untuk membahas hal-hal seperti ini…

Apakah penting?

Sangat Penting!

Bahasa adalah kunci peradaban, tanpa bahasa kita tidak bisa berkomunikasi. Bahasa adalah sandi, kenapa dikatakan sandi?

Sebab hanya golongan yang mau mempelajarinya saja yang bisa mengerti. Maka dari itu, agar kita tidak salah paham, kita harus tahu apa maksud orang. Apa arti dari ucapan seseorang.

Pada titik inilah, kita bisa dipecah belah. Misal, satu orang menyuruh dengan bahasa daerah. Tapi orang daerah lain menangkapnya beda, bukan menyuruh tapi membunuh.

Bahaya kan? Itulah alasan kenapa klarifikasi itu sangat penting.

Indonesia : Masyarakat Ribuan Bahasa

Indonesia adalah masyarakat yang memiliki perbedaan bahasa daerah yang sangat besar. Jika rasa kedaerahan melebihi nasionalisme, bukan tidak mungkin seseorang mudah banget untuk diprovokasi.

Jika tidak saling memahami, maka gampang banget masyarakat Indonesia ini diadu-domba. Seperti pada penjajahan Belanda yang memakai strategi belah bambu dan adu-domba. 

Indonesia jika tidak saling mengenal sebagai ‘satu masyarakat setanah air perjuangan’ maka akan bahaya sekali. Maka dari itu, mengenal suku lain itu penting. Apalagi kamu di lingkungan yang pluralitas sukunya tinggi.

Indonesia : Masyarakat Ratusan Suku

Bagaimana rasanya jika sukumu dihina oleh suku lain?

Mungkin kamu marah atau mungkin biasa saja. Negara yang memiliki banyak suku, berarti juga memiliki potensi besar mudah diprovokasi. Sebut saja kasus kisruh Sampit.

Kita harus mengenang masa-masa itu, bukan untuk menumbuhkan luka. Tapi mengingatkan agar masyarakat dengan beragam suku itu harus saling mengenal, karena potensi salah paham itu besar sekali.

Indonesia : Masyarakat Ratusan Aliran Spiritual

Kalau ngomongin jumlah agama resmi mungkin hanya 6. Namun aliran spiritual ketuhanan tentu sangat banyak. Bahkan Indonesia memiliki suku yang mungkin saja belum terjamah data kependudukan.

Mereka tentu memiliki ideologi kehidupan tersendiri. Kita bahas 6 agama saja, mungkin konfliknya sudah sangat banyak. Konflik fisik tentu pernah terjadi, namun lihat saja konflik media maya.

Wow! Penggorengan isu didasarkan bahasa satu agama, diadukan dengan bahasa agama lain. Sehingga, agama lain salah paham akhirnya berakhir ricuh. Sering banget hal ini dilakukan. Ditunggangi pergulatan politik parahnya.

Inilah sebab: kenapa konflik agama bisa muncul. Bukan karena struktur ideologi dari agama itu, akan tetapi rentannya hati dan kebaperan orang-orang yang mengikuti ajaran suatu agama.

Media Sosial itu Rentan

Kebebasan orang mengupload apapun di media sosial, membuat kerap kali banyak kesalahpahaman. Maka dari itu, kita harus bijak dalam mengupload konten apapun.

Sekecil apapun sebuah masalah, bisa dibawa jadi viral jika sudah di dunia maya. Kenapa?

Sebab banyak pengangguran di dunia maya. Orang-orang gabut yang ingin melihat orang lain bertengkar. Orang yang suka banget lihat orang lain susah dan bermasalah.

Maka kamu yang sehat, jangan menciptakan ide bagi buzzer untuk menciptakan keviralan di media sosial. Yuks, sama-sama berjalan di dunia maya dengan sehat dan berpikiran positif.

Harusnya Gedang Vs Gedang itu Gurauan

Kalau mau bergurau, nggak masalah kog. Yang terpenting adalah dewasa menyikapi dan tidak gampang baperan. Karena terkadang, gurauan yang terlalu bisa bikin sakit hati.

Lebih bahaya jika ada satu orang ingin bergurau, orang lainnya lihat tapi nangkepnya serius. Wah, mis-interpretasi inilah yang bisa melahirkan konflik. Menciptakan provokator-provokator yang bisa saja membawa konflik itu di dunia nyata.

Kalau untuk gurauan gedang vs gedang, pepaya vs pepaya, nggak masalah. 

Asalkan, jangan Sunda Vs Jawa atau Satu suku dengan suku lain.

Hidup damai itu lebih menentramkan dan menyehatkan, yuks jangan buat provokasi. Sudah banyak kog buzzer-buzzer yang hidup karena provokasi, maka dari itu kamu jangan ikut-ikutan…

Tidak semua orang memiliki mental gurauan seperti mentalmu, tidak semua orang memiliki selera humor sama sepertimu, maka dari itu, jangan berlebihan, apalagi sudah berhubungan dengan suku, ras, agama, dan antargolongan.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *