Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Grup Telegram BO : Fakta Sindikat Ini Masih Ramai

5 min read

grup telegram bo

Meneruskan pembahasan mengenai Sindikat Open BO, kali ini saya akan mengulas lebih detail tentang satu platform penjualan harga diri oleh kaum wanita ini, telegram. Grup telegram BO sangat banyak di dalam media sosial yang satu ini.

Bagaimana sikap kita sebagai masyarakat cerdas (smart people)?

Tobat Cuy!

Pernah Open Booking? Atau kalau nggak gitu, pesen BO?

Kalau belum, alhamdulillah. Jangan coba-coba ya. Terlebih kaum Adam yang otaknya mesum nich…

Hey orang-orang kaya yang udah punya istri, stop! Jangan cari-cari grup telegram BO untuk cari-cari wanita cantik, selebgram, ataupun cewek-cewek imut. Ingat istri, ingat Tuhan.

Kamu juga yang masih jomblo, duit tu ditabung. Jangan buat bayar BO! Sayang banget, 2 juta hingga 10 juta itu kamu sia-siain.

Tukang BO dan pemesan BO setelah baca artikel ini mungkin langsung bilang gini, “Terserah gue lah! Emang lo siapa ngatur-ngatur gue. Tubuh-tubuh gue, uang-uang gue, diri-diri gue, elo siapa?”

Ya! Terserah, dosa yang nanggung juga elo.

Tidak Sekedar Cari Jodoh

Jika kamu gabut, kamu bisa coba Bot cari jodoh di telegram. Sebuah sistem chat dengan seseorang yang tidak diketahui, berisi orang-orang yang cari Dilan dan cari pasangan (mungkin saking jonesnya).

Anak-anak muda banyak yang pakai bot ini, namun hal itu tidak begitu masalah. Hal yang jadi masalah adalah ketika yang diakses anak-anak muda dalam telegram adalah Grup Telegram BO atau nggak gitu, konten semi-p0rnografi.

Jadi, di dalam telegram itu nggak hanya berisi orang-orang gabut cari Dilan atau jodoh yang entah kemana, akan tetapi juga transaksi open BO, VCS, dan lain-lain. Jadi, aplikasi ini nampaknya bahaya bagi anak di bawah umur.

Kenapa Wanita/Cewek Open BO?

Sebelum kita menelisik lebih dalam tentang grup telegram BO, saya akan sedikit memberikan perspektif beda dari segi pelakunya.

Kenapa wanita Open BO?

Ini adalah 7 alasan wanita Open BO dan menjual harga dirinya…

  • Butuh uang, cari makan, untuk hidup (idealis)
  • Males kerja yang lain, enak Open BO
  • Trauma Psikis sebab pelecehan s3ksual dan sejenisnya di masa lalu
  • Butuh uang lebih, buat beli make up dan skincare
  • Dijual pacarnya (sebab pacarnya mucikari)
  • Tuntutan keluarga (jarang banget)
  • Cari kerja lainnya susah dan merasa Open BO itu boleh-boleh saja

Dari 7 alasan itu, mungkin kamu yang Open BO lebih paham. Namun, rata-rata wanita Open BO itu, kalau nggak karena alasan 1 ya alasan 2 dan 4.

Apakah Open BO itu boleh?

Ya boleh dong. Buktinya di grup telegram itu banyak. Sindikat Open BO di Twitter juga banyak. Transaksinya di Whatsapp juga banyak. Jadi, secara personal, Open BO itu boleh.

Terus, yang pesen itu boleh nggak?

Ya boleh dong. Buktinya yang pesen juga banyak. Orang kaya maupun orang miskin, kalau pengen, kog kebetulan ada uang (biasanya utang juga) ya pesen BO. Tinggal buka group, pilih-pilih, terus jadi deh.

Tapi tunggu dulu!!!

Menurut saya, Open BO itu nggak boleh! Open BO aja nggak boleh, apalagi mesen BO. Secara, sistem Open BO ini sama dengan mucikari menjual PSK-nya. Terus, si wanita boleh diapa-apain (dan harus nurut) kemauan bedjat yang mesen.

Secara agama, hal itu zina. Bahkan menurut saya, bisa sampai zina mugholadzoh. Hehe…

Terus ada yang alasan gini, “Lho, itu kan jual diri untuk hidup. Siapa tahu mereka itu punya anak, punya keluarga yang harus dihidupi, dan urgensi kehidupan yang membuat mereka mau nggak mau melakukan Open Bo.”

Dualisme dan Mencampuradukkan antara Haq dan Bathil ini menurut saya adalah kesalahan dalam memikirkan hukum. Ingat, hukum itu ditaati, bukan didistorsi (diplintirkan).

Oke, kalau alasannya sangat urgent, tapi pemuka agama, masyarakat, dan orang-orang terkenal ya mbok jangan ‘dengan mudahnya membolehkan Open BO ini’.

Kalau nggak bisa ngasih kerjaan halal pada PSK, ya diam aja. Jangan mendukung gitu lho…

Harga Open BO di Grup Telegram

Grup yang berhubungan dengan penjualan harga diri manusia (Open BO dan VCS) nampaknya ramai anggota. Ribuan orang masuk ke situ entah dengan tujuan apa.

“Lho, penulis kog tahu, jangan-jangan join?”

Saya sempat masuk ke grup telegram BO, namun tidak join. Beberapa hal yang saya temukan di dalam group itu adalah sebagai berikut:

  • Gambar S3ksi Pol (Real Angel katanya, padahal, “Masak ya Angel Open BO sih?”)
  • Layanan yang diberikan (fasilitas ber-BO-an, tolol memang)
  • Harga yang memuat durasi (semakin lama, semakin mahal)
  • Testimoni (untuk meyakinkan calon pelanggan)
  • Beberapa nomor kontak yang siapa BO
  • Rules Grup (katanya ‘budayakan membaca’: kalau kamu nggak membudayakan baca, literasimu lebih rendah ketimbang Mucikari + tentaranya).

Nb: Semua foto adalah perempuan, wanita, cewek.

Untuk harga dari setiap real angel itu beda-beda. Dibandrol dengan berbagai aspek dan kriteria. Tentunya cantik, testimoni bagus, dan tawaran dari layanan yang mereka berikan.

Kenapa Open BO itu Wanita/Cewek?

Masih menjadi sebuah tanda tanya, kenapa Open BO dilakukan oleh cewek, wanita, atau perempuan?

Kenapa yang dijual kok perempuan? Laki-laki kok jarang. Gigolo itu ada, tapi nggak begitu marak.

1. Sering Kali, Wanita itu Gengsi Kerja

Di era emansipasi ini, masih banyak wanita yang gengsi kerja. Sebagai laki-laki, saya mungkin merasakan gengsi kerja. Apalagi cewek?

Namun, gengsinya cewek itu lebih tinggi. “Ih, masak kerja kek gini. Ini kan kerja rendahan?”

Nggak salah kalau ada perempuan yang masih kuliah, lajang, dan nampak alim, ternyata Open BO lewat Facebook. Tujuannya buat apa?

Ternyata untuk beli tas, beli sepatu baru, dan smartphone baru. Open BO seringkali dipakai untuk mencukupi kebutuhan standar fashion modern mereka.

Lho, kenapa Open BO nggak gengsi?

Sebab Open BO hanya kepada satu orang. Ya, mungkin beberapa orang saja. Tapi kalau kerja umum, biasanya harus berinteraksi dengan teman, adik tingkat, dan tetangga (yang suka cibir dan komentar). Sehingga, akhirnya mereka lebih ‘nyaman’ Open BO ketimbang kerja umumnya.

2. Harga Memikat, Kerjanya Gituan

Katanya orang-orang, Open BO itu enak, “Kerjanya hanya ngelayani, terus dapat uang.”

Stop! Pola pikir kek gini salah banget. Kata siapa ngelayanin orang mesum + bedjat itu enak? Coba kamu bayangkan aja. Cukup bayangkan aja, jangan dicoba…

Iya, kalau yang dilayani tidak punya kelainan s3ks, penyakit s3ks, fetish yang aneh. Hayo kalau dapat pembunuh, pemerkosa, tukang narkoba, dan sejenisnya?

Jadi, motivasi wanita mau Open BO itu bukan terletak pada ‘cuma ngangkang’, akan tetapi tebalnya uang yang didapat.

Kamu kira dapat pelanggan itu gampang? Tidak!

Kenapa saya bilang ‘tidak’?

Sebab kalau gampang, maka tidak akan ada Mucikari. Adanya mucikari, adalah sebab kalau mencari pelanggan itu sulit. Sehingga harus ada agen. Kalau Open BO, mungkin bisa Open sendiri, tapi nggak semudah yang kamu bayangkan.

Jadi, Jangan Open BO dan pesan BO…

3. Strata Sosial, Tekanan Masyarakat

“Lho, katanya lulusan S1? Tapi kok nganggur?”

Nah, mulut-mulut bedjat kek gini nampaknya harus dibasmi. Fresh graduate jadi minder dan nggak berani pulang kampung. Kalau perempuan terkadang lebih dinamis, setelah kuliah terus nikah. Tapi ada lo, wanita yang nggak mau nikah dulu sampai tempus S2 bahkan S3.

Ada lho, yang setelah S2, tetep nggak dapat kerja. Terus pulang diginiin, “Lah, lulus S2 kok rumahnya tetep gitu, nggak kaya, kelihatannya nggak kerja juga…”

Akhirnya apa?

Ya kembali lagi ke perantauan, malu dicemooh masyarakat. Di Perantauan nggak dapat kerja, sulit dapat kerja, butuh uang, butuh makan, nggak sabar, akhirnya kenal gurita dari sindikat PSK dan Open BO.

Niatnya setelah Open BO, nanti dapat kerja pada umumnya. Tapi keterusan, hingga membuka BO sendiri…

4. Tuntutan Pergaulan yang Mahal

Laki-laki terkenal lebih simple. Masalah fashion dan gaya hidup mungkin lebih murah ketimbang perempuan. Apalagi perempuan modern yang hidupnya dipenuhi dengan hal-hal yang mewah.

Mulai dari make up mewah, tas mewah, kendaraan mewah, rumah mewah, dan apapun. Semuanya mereka turuti untuk fashion dan tidak memikirkan dampak buruknya apa.

Iya kalau mereka dapat uang terus. Padahal semakin dewasa, kita akan semakin sungkan minta uang ke orang tua. Mulai ada rasa ingin mencukupi kebutuhan sendiri. Terus, kalau kamu tetap hedon, ya mau nggak mau uangmu harus menyesuaikan kemauanmu.

Padahal konsep seperti ini adalah konsep kacau. Kalau uang harus nurutin kemauan, maka kalau kemauanmu menggebu-gebu, maka hal-hal yang di luar nalar pun akan kamu lakukan. Seperti Open BO.

Kalau penghasilan bisa tidak mencukupi untuk memenuhi keinginanmu, maka harus ada tambahan penghasilan. Salah satu cara yang ‘lebih gampang’ cari uang adalah jual diri.

Kenapa artis (yang notabenenya kaya) ada yang Open BO? Ikut prostitusi Online?

Sebab gaya hidup mereka melampaui jumlah uang mereka. Jadi, kalau mereka kurang uang (karena job ngartis, berkurang), mau nggak mau Open BO.

Bahaya Grup Telegram Open Booking

Era modern memang menggampangkan kehidupan manusia, termasuk juga dalam pemenuhan nafsu. Hal ini sangat disayangkan, karena bukti kalau moralitas dan intelektualitas masyarakat Indonesia masih kurang.

Moralitas yang dibalutkan pada aspek keagamaan dan kesusilaan, belum benar-benar melekat dalam diri seorang manusia. Jadi, seorang manusia masih rela menjual diri mereka sendiri.

Intelektualitas mereka juga dinilai kurang, karena belum bisa menerapkan skill dan mengembangkannya, sehingga butuh tubuh untuk dimonetisasi.

Entah yang Open BO maupun yang mesen BO, sama-sama salah dalam perspektif agama, sosial, dan moralitas manusia.

Apalagi, di zaman ini anak bayi pun bisa pegang smartphone dan membuka telegram. Siapa yang sangka kalau anak usia 15 tahun, gara-gara nafsu nggak ketulungan, terus rela bohong ‘uang gedung sekolah nambah’ eh ternyata buat pesen wanita jalang.

Jadi, kamu yang punya otak dan kedewasaan, yuks sama-sama mensosialisasikan bahaya grup telegram BO ini. Jangan malah mengajak atau membuat mereka membukanya.

Kasian Bat Ibu Kita Kartini

Pahlawan wanita yang dipuja karena pikiran emansipasi untuk menjunjung harkat dan derajat wanita di masa lalu, Ibu kita Kartini (putri sejati) mungkin kecewa kalau melihat kamu yang perempuan Open BO.

Dia rela meluangkan pikiran, memberontak, dan tidak nurut untuk menunjukkan kalau wanita juga bisa melakukan apa yang dilakukan pria. Sehingga tidak perlu ada pembedaan strata sosial maupun intelektual.

Susah-susah Ibu Kartini melakukan itu, eh wanita-wanita zaman ini banyak yang Open Bo, Open VCS, dan sejenisnya. Kasian dong…

Jadi, masih banyak pekerjaan yang bisa dicapai seorang perempuan selain kerjaan bedjat. Inilah perlunya bagi setiap orang untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan mengembangkan tubuh, akan tetapi mengembangkan potensi.

Tidak perlu muluk-muluk ingin berprestasi, cukup ‘jadi diri sendiri yang lebih baik dari kemarin’ dan berpuaslah ketika kamu berpikir dan mengatakan, “Bodohnya diriku di masa itu!”

Kesimpulan

Nggak ada. Pokoknya Grup telegram BO itu bahaya. Bisa menciptakan degradasi moral dan intelektual generasi virtual. J

*salam dari pengangguran yang sukses

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

4 Replies to “Grup Telegram BO : Fakta Sindikat Ini Masih…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *