Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Grup Telegram Pemersatu Bangsa Indonesia : Paradigma Sebagian Warga +62

3 min read

grup telegram pemersatu bangsa

Apakah kamu merasa ada konteks ‘negatif’ dari kalimat “pemersatu bangsa”? Apakah kamu malah pernah mencari grup telegram pemersatu bangsa Indonesia? Yah, sambil santai, saya mau bahas tentang paradigma netizen dengan frasa, ‘pemersatu bangsa’.

Lahirnya Istilah ‘Pemersatu Bangsa’

Sebenarnya, frasa pemersatu bangsa sudah ada sejak dahulu. Karena memang bangsa Indonesia adalah bangsa yang pernah dijajah. Sehingga harus ada seorang tokoh, perundang-undangan, dan instrumen yang memiliki fungsi sebagai ‘pemersatu bangsa’.

Namun di zaman ini, konteks frasa itu berganti. Bukan mewujudkan jiwa patriotisme dan semangat persatuan, akan tetapi lebih mengarah pada hal-hal tabu. Bagaimana maksudnya?

Lebih jelasnya, saya buat alur saja…

  1. Badai konflik politik, sosial, dan ekonomi masyarakat
  2. Kisruh dan benturan sosial
  3. Media sosial ramai isu politik
  4. Masyarakat butuh pemersatu
  5. Tidak ada tokoh yang berkharisma
  6. Tidak ada undang-undang yang mantap
  7. Akhirnya masyarakat butuh konten pemersatu bangsa

Nah, dari konteks itu, apa sih makna dibalik konten pemersatu bangsa?

Beberapa makna yang bisa saya simpulkan dari konten pemersatu bangsa adalah konten yang berisi:

  • Gambar atau video yang agak mengundang hawa napsu
  • Gambar lucu-lucu standar
  • Meme yang arahnya mengundang hawa nafsu
  • Dan beberapa hal yang bisa membuat masyarakat kompak dan setuju

Karena pada dasarnya, masyarakat itu sudah bosan pada isu politik dan janji kampanye. Sehingga, mereka butuh pelampiasan dan konten hiburan. Maka tidak heran kalau banyak orang yang nyari grup telegram pemersatu bangsa indonesia.

Ya yang jelas, isinya adalah orang-orang yang sem1-m3sum yang cari-cari gambar atau foto kek gitu. Hmm… Astagfirullah….

Penggunaan Frasa pada Konteks Negatif

Jika kamu penasaran makna di balik ‘pemersatu bangsa’, Youtube tentu bisa menjawabnya. Tapi, saya sangat tidak merekomendasikan kamu mencari hal-hal seperti itu. Ingat dosa ingat Tuhan bro n sist!!!

Karena rata-rata, ketika di-search, isi dari konten pemersatu bangsa bukanlah pidato Bung Tomo, Sukarno, ataupun video klasik perjuangan bangsa Indonesia. Akan tetapi isinya adalah hal-hal seperti:

  • Goyangan cewek nackal
  • Perempuan berpakaian tapi telanjang
  • Tik tok s3ksi
  • Tindakan amoral
  • Lelucon yang mengundang hawa n4psu
  • Cewek-cewek cantik

Dan konten-konten yang bertendensi pada hal-hal seperti itu. Jadi, dapat disimpulkan rata-rata pencari grup telegram pemersatu bangsa indonesia adalah kaum cowok. Kenapa demikian?

Ya nggak tahu. Kenapa sebagian kaum cowok itu sukanya hal-hal yang kek gitu. Padahal perempuan juga sama. Hanya saja tidak kentara… Wkwkw…

Kenapa Mencari Link Grup Telegram Pemersatu Bangsa

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa cari hiburan negatif yang bertajuk pemersatu bangsa”?

Setidaknya ada beberapa jawaban yang mungkin masuk akal. Kenapa orang cari konten kek gitu?

1. Cari Hiburan Mata

Alasan pertama adalah hiburan. Seseorang butuh membanjiri otaknya dengan dopamin. Entah cowok maupun cewek, memiliki potensi sama untuk mencari konten-konten negatif di internet.

Lantas pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa mata harus dihibur?”

Jawabannya sederhana, “Ya Nafsu ajah!”

Emang apa lagi. Ketika kamu mencari link grup pemersatu bangsa, apa yang ada di dalam otakmu coba (Selain hal-hal berbau m3sum?)….

Inilah mengapa, dalam islam memberikan isyarat untuk menjaga pandangan. Dalam konteks ini, menjaga melihat apapun yang menimbulkan hawa nafsu. Karena dampaknya tentunya juga buruk.

2. Ketagihan dan Membutuhkan

Alasan selanjutnya adalah ketagihan. Banyak banget artikel yang mengatakan, “P0rnograf1 adalah candu. Maka kamu harus hati-hati”.

Termasuk konten s3mi p0rnograf1 dong? Iya, keduanya sama-sama membuat otakmu terbanjiri oleh dopamin. Sehingga timbul rasa bahagia, terus pengen lihat, dan akhirnya kecanduan.

Memang sesimpel itu alasannya, tapi memang kek gitu kata temen-temen saya. Mereka ada yang ngatakan, “Ya, enak aja lihat konten-konten pemersatu bangsa. Nggak tahu kenapa?”

3. Mengisi Waktu Luang

Saya hampir bisa menjamin, orang-orang yang mencari grup telegram pemersatu bangsa adalah orang-orang gabut yang nggak ngerti mau ngapain. Jadi, karena kegabutan itu, orang sampai rela membuang waktu untuk mencari konten-konten negatif.

Apalagi di kala pandemi kek gini. Tentu lebih banyak orang yang gabut banget, sehingga akhirnya cari hiburan yang bisa membahagiakan otak mereka.

4. Main-main + Penasaran

Beberapa teman yang saya tanyai mengatakan, “Aku nonton film kek gitu (biru) ketika masih kecil. Gara-gara penasaran dikasih tahu temen.”

Termasuk mencari konten pemersatu bangsa. Salah satu motivasi terbesar seseorang melakukan itu adalah main-main, coba-coba, karena penasaran isinya apa. Akhirnya cari di internet grup telegram pemersatu bangsa.

5. Memang Mencari-Cari

Kadang, banyak orang mencari grup telegram pemersatu bangas memang niat mencari penghibur. Karena di dalam grup-grup itu, banyak orang yang 0P3n B0. Jadi, nggak salah jika banyak yang cari.

Jika kamu sudah membaca artikel ini, ya ingat Allah… Dosa lo ya!

Akhir Moralitas dari Logika

Distorsi makna dari patriotisme menjadi konten berbau negatif adalah bukti jika moralitas generasi muda benar-benar mengalami degradasi. Maraknya grup telegram pemersatu bangsa adalah bukti jika generasi ini banyak yang mengalami kemunduran mentalitas dan intelektualitas.

Nggak heran jika generasi muda memiliki tindak-tanduk yang terkadang kurang berkenan. Misal:

  • Berkata-kata slank secara blak-blakan
  • Mulutnya er0t1s dan menjijikkan
  • Otaknya lebih cenderung memikirkan konten negatif
  • Kalau merajut hubungan dengan lawan jenis tidak sehat
  • Hingga berpuncak pada pelanggaran moral dan norma

Ya itulah zaman akhir… Nggak tahu kenapa, banyak hal-hal yang awalnya positif bisa didistorsikan ke konten negatif oleh generasi milenial dan Gen-Z ini.

Ingat, semua bermula dari pikiran. Mencari konten pemersatu bangsa bermula dari pikiran. Akhirnya akan menjalan ke laku dan paradigma. Hancur tidaknya ucapan dan tindakan seseorang, ditentukan oleh isi dari otaknya.  

Menembus Batas Kenormalan

Satu hal yang membuat saya takut adalah ketika hal-hal yang abnormal menjadi normal. Hal-hal tabu menjadi biasa. Hal-hal jelek jadi dimaklumi. Hal-hal yang seharusnya dilarang menjadi ‘nggak papa’ karena sudah lumrah.

Beneran, saya bisa menjamin: “Apapun bakalan susah ketika kebaikan sudah menjadi minoritas.”

Bayangkan nih, jika karena konten-konten pemersatu bangsa ini generasi jadi hancur. Apa yang terjadi?

  • Nafsu berubah jadi cinta yang suci
  • S3k diluar nikah jadi sebuah ikatan kesetiaan
  • Gonta-ganti pasangan adalah sebuah kelumrahan dari sejarah hidup
  • Ketabuan menjadi sosialita yang B aja

Beneran, kehidupan seperti itu pasti ngeri adanya. Lama-lama perzinaan di pinggir jalan nampak biasa dan berakhir pada kehancuran tatanan moral manusia.

seharusnya, kita tidak boleh membuat tontonan menjadi tuntunan. Karena dampaknya akan sangat besar. Dalam hal normal, jangan sampai ada kata “Halah di zaman itu kek gituan sudah lumrah. Namanya juga anak muda…”

Ya mungkin itu saja pembahasan mengenai sajian progresif dari fenomena grup telegram pemersatu bangsa. Grup ini memang beneran ada, tapi saya benar-benar tidak merekomendasikan kamu mencoba membukanya. Titik.

Dosa dari tindakan apapun setelah membaca artikel ini bukan tanggungjawab saya….

Salam dari sahabatmu…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *