Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Hidup itu Simple, Tapi Kok Ribet

2 min read

hidup itu simple

“Kita selalu membuat rumit setiap pemberian Tuhan dalam hidup yang pada dasarnya sederhana.” Hidup itu simple.

Diogenes (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia).

Manusia memang seperti itu. Padahal, hidup adalah anugrah, tapi kenapa selalu saja menyesali sesuatu hal. Bahkan menyesali kehidupan yang dijalani.

Tulisan ini ditulis dalam keadaan malas hidup, nampak aneh jika orang malas hidup membuat tulisan tentang kehidupan dan semangat hidup. Tapi, saya coba…

Praktek tak Semudah Teori

Hal yang hingga saat ini saya percaya adalah, “Semua idealisme akan hancur pada waktunya.”

Sebab dalam realitas dunia ini, omongan seseorang tidak selalu sesuai ketika dilakukan orang lain. Bahkan, orang yang ngomong pun terkadang merasa, “Praktekku tidak sesuai dengan omonganku.”

Manusia itu makhluk oportunis dan egosentris, sudah nggak aneh lagi. Kamu yang sudah dewasa, pasti sudah merasakan. Merasa kamu yang egois atau orang lain yang egois.

Kenapa praktik tidak semudah teori? Karena teori adalah bentuk konstruksi interpretasi bahasa. Sedangkan, praktik adalah realitas objektif di depan mata yang terjadi atas kesatuan elemen ruang dan waktu, serta prilaku.

Jika teori ada karena praktik pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, maka hasil dari teori itu bakalan terus berubah (meski sangat sedikit) sebab: kecil kemungkinan elemen penyusun satu detik frame kehidupan sama dengan elemen penggalian teori yang pertama.

Bisa dikatakan: sebuah kemustahilan kemiripan universal terjadi. Tak heran ilmuwan mengecilkan jangkauan itu menjadi konsep sistem dan lingkungan.

Teori Kehidupan: Pasti Beda!

Apa yang orang kaya katakan tentang tips n trik kesuksesan, mustahil bisa kamu tiru sama seperti dia. Kalau mirip, mungkin bisa. Kalau mustahil, kesimpulannya adalah: kamu tidak memiliki kesuksesan yang beda.

Maka dari itu, rasa ingin menyamakan nasib, membanding-bandingkan dengan orang lain, dan terlalu berambisi untuk jadi seperti dia, adalah tindakan yang tidak masuk akal. Sebab elemen penyusun kesuksesan mustahil dibuat sama dengan orang lain.

Teori bisa dikatakan melebih-lebihkan sesuatu yang simple. Keluar dari bahasan sains yang terpaut kepastian, kehidupan (terutama sosial) sangatlah relatif. Jadi: hidup itu bakalan ribet kalau diteorikan.

Ambisi: Amunisi Kekecewaan

Kamu orang bermental kuat, silahkan berambisi sekuat mungkin.

Berambisilah sampai suatu saat kamu merasa bosan dan kehilangan rasa perjuangan itu.

Sebuah prinsip yang mungkin bakalan bisa berguna, “Berambisilah untuk menghilangkan cita-cita dan bercita-citalah menghilangkan ambisi.”

Jika ambisi menyaratkan patokan dan target, maka kekecewaan pasti mendamping. Apalagi ketika ambisi itu tidak berjalan sesuai realitas. Ekspektasi berlebihan itu berakhir pada kekecewaan.

Hidup sehidup-hidupnya, fokus untuk 10 detik ke depan, dan memaksakan senyuman. Itu jauh lebih baik mungkin.

Jadikan Hidup Bahagia

40% bahagia itu dari harta, 60% bahagia itu dari hati. Itu berkolaborasi.

Jika sudah punya harta, pertajam hati. Jika nggak punya harta, lebih pertajam hati. Hanya sebuah kepercayaan hati akan rezeki tuhan yang membawa hati pada kedamaian.

Kita adalak anak kecil, semua kebutuhan dicukupi tuhan, mungkin perlu sedikit gretakan agar kita tidak malas-malasan untuk bermain dalam hidup. Karena anak kecil kerjaannya adalah bermain.

Pernah nggak, merasakan Tuhan begitu baik memberikan rezeki kita kita butuhkan? Harusnya kita bersyukur atas karunia itu.

Tak Perlu Ribet

Memikirkan sesuatu yang belum terjadi dan berlarut dalam sesuatu yang sudah terjadi adalah sebab manusia jadi rumit. Saya juga masih berusaha menghilangkan itu.

Kalau lapar ya makan, haus ya minum, ngantuk ya tidur, ditanya ya jawab. Sesederhana itu, tapi prakteknya tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Bernafaslah dengan Baik

“Kamu tidak bisa menolak proses nafasmu!” Itulah setitik tanda Tuhan masih sayang padamu. Jika tuhan itu maha hebat dan kuasa, maka dirimu diciptakan secara secara unik dan spesifik.

Menyamakan diri dengan orang lain mungkin bisa dikatakan sebagai tindakan menghina Tuhan.

Salam dari orang bodoh…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *