Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Pengen NgeMil, NgeMall: Semua Idealisme Akan Hancur Pada Waktunya

3 min read

idealisme akan hancur

Rileks, jangan baper ya, “Semua idealisme akan hancur pada waktunya!”

Tertangkap seorang pejabat karena korupsi, berita menyebar, nama almamater pun ternodai. Padahal, ketika jadi mahasiswa dulu, dia adalah salah satu pentolan organisasi yang suka koar-koar tentang keadilan, kesejahteraan, dan berjuang di pihak rakyat jelata.

Tapi boong!

Memang, mempertahankan idealisme bukan perkara mudah. Setiap manusia berubah, setiap perubahan menghadirkan perbedaan. Nampak tercermin dari kalimat, “Maaf mantan, aku yang dulu bukan aku yang sekarang,”

Berubah itu manusiawi. Tak ada yang salah. Akan salah ketika perubahan itu merugikan orang lain.

Bila idealisme diartikan sebagai standar sempurna, keteraturan, dan keselarasan di segala aspek. Maka “Idealisme adalah kemustahilan mutlak.”

Kamu harusnya sadar, jika manusia itu makhluk kacau, sekacau orang kesurupan terus diruqyah oleh raqi.

Perut Butuh Diisi, Mulut Perlu Dimanjakan

Seorang pria berikrar, “Aku akan mencontoh rasul kelak nanti. Hidup sederhana, miskin, dan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wata’ala”

Ketika dia menikah. Eh tahu-tahu beli mobil, rumah megah, kerja kantoran, sepeda motornya banyak. Si pria mungkin siap hidup miskin, tapi istrinya tidak. Kalaupun mau pilih-pilih ketika cari istri, keburu nggak dapet. “Mana ada cewek yang mau diajak susah, ya kan?”

Rata-rata manusia, membayangkan kehidupan yang seperti ‘beras segunung, kulkas penuh, brankas tak muat, dan garasi sesak’.

Itu manusiawi. Manusia selalu berhasrat bahagia, pasti! Dan apa sih, definisi bahagia rata-rata manusia? Jawabannya adalah harta.

Jadi, sekuat apapun kamu memegang prinsip kehidupan, komitmen sebuah ajaran, dan cita-cita, pada akhirnya semua akan hancur. Mungkin hanya gara-gara perut kamu laper atau mungkin malu diajak ngemall temen, sebab nggak punya uang.

Manusia: Mencari Bahagia

Memang, secara teori (apapun) penyebab bahagia itu relatif. Tapi tak bakalan ada yang menyangkal jika, “Harta dan kekayaan adalah salah satu sumber kebahagiaan.”

Kamu mau nyangkal? Jangan naif!

Apa yang dipikirkan rata-rata generasi muda?

“Lulus SMA kerja, sukses, nikah, jadi masyarakat seutuhnya, mati.” Kalau nggak gitu, “Lulus Kuliah, kerja, sukses, nikah, jadi takmir masjid, dapat uang pensiun, stroke, mati.”

Ciwi-ciwi cantik mungkin bilang, “Lulus, nunggu bentaran, dilamar cowok ganteng yang kaya raya, hidup bahagia, punya anak cantik ganteng shalih shalihah, jadi orangtua (tapi harus tetep cantik dong), suami setia, terus mati sama-sama.”

Bullshit, It’s not that easy, Ferguso!

Realita Vs Idealnya, Idealisme Akan Hancur

Saya melihat dan mendengar iklan shampo di tv, “Rambut lurus, sehat berkilau, hitam mempesona.”

La kok pas saya beli sachet-nya, saya coba. Wuh! Rambut saya, tetap!

Oh shit, rambut saya tetap menggeliat kesana-kemari, warnanya nggak hitam nggak merah, plus nggak ada kilauannya kayak di iklan. “Dosa benar tu iklan?”

Eits, nggak gitu. Iklan nggak salah dong. Yang salah adalah orang yang melihat dan berharap shampoo itu sesuai dengan ekspektasi (iklannya). Kayak nggak tahu iklan ajah…

Itu iklan lho, belum kehidupanmu. Tampilan video yang ideal dalam otakmu, nggak bakalan mulus ketika diterapkan.

Otak memang kompleks, tapi nggak lebih kompleks daripada kehidupan.

Ada seorang perempuan, mikir besar (overthinking), “Kalau aku menikah, aku ingin sama dia, beli itu, harus gini, harus gitu. Pokoknya sesuai dengan kemauanku.”

Eh, setelah menikah, lihat suaminya, hilang semuanya.

“Kalau nggak manut nanti gini, kalau manut nanti gitu. Rasanya bosen, mau cerai kok kanak-kanak banget. Yoks, semangat saling menghargai.” Terkadang gitu pemikiran orang yang udah nikah.

Sebulan, setahun pertama mungkin adem ayem bahagia sehat sentosa, tapi masalah bakalan mulai menerjang, menghujam, dan membentur. Kasian memang orang yang udah nikah itu…

Mau nggak mau, suami dan istri harus memadukan prinsip. Menjadi satu prinsip baru yang beda banget dengan apa yang dipikirkan di awal. “Jadi, jangan terlalu berharap ya,”

Nggak Usah Naif, Manusia Selalu Ingin Oportunis

Pernah nggak kamu nemu ada manusia yang kerja di perusahaan, dan dia memiliki niat untuk mensukseskan perusahaan itu. Nggak ada! Termasuk bosnya.

Mereka hanya ingin mensukseskan diri mereka masing-masing.

Hanya saja, niat sukses mereka, memberikan impact pada perusahaan. Tak heran, jika buku ilmu kepemimpinan, rata-rata mengajari, “Perjuangkan cita-cita bawahan kamu, maka perusahaanmu bakalan maju.”

Manusia itu tentang aku, diakui, dan akuisme.

Kalau nggak gitu, nggak bakalan ada peribahasa ‘kesempatan dalam kesempitan’.

Manusia itu selalu oportunis. Mulut mereka mungkin berkata, “Aku nggak oportunis,”

Tapi laku, niat, dan rasa ketika survive dalam hidup selalu memaksa mereka untuk oportunis. Apakah oportunis salah? Nggak juga. Asalkan tidak merugikan orang lain. Ya kan?

Idealisme Akan Hancur Sayang…

Situasi dan kondisi lingkungan itu merubah manusia. Ibaratnya, pria dewasa normal dengan taraf iman setipis plastik swalayan, mau nggak mau bakalan nafsu jika dihadapkan dengan wanita cantik yang telanjang di depannya.

Sepersekian detik, dia pasti berpikir jorok mau mengawali musim kawin. Itu pasti! Kalau iman setebal nabi dan rasul, mungin beda lagi ceritanya.

Sehebat-hebatnya mahasiswa, sekeras-kerasnya aungan mereka, sekuat-kuatnya prinsip yang mereka pegang, kalau dikasih uang pasti redup juga kok, “Diem gitu, kayak cewek ngambek.”

Apalagi uangnya tebal, wub, pasti mahasiswa langsung mengerut.

Kecuali, si mahasiswa itu benar-benar mengalami kesengsaraan dari apa yang mereka perjuangkan. Kalau cuma numpak gaya, healah! Dikaplok uang tipis aja paling udah “Nggih, kersane pun, mboten nopo-nopo. Kulo kendalikan situasinya.”

Hehehe… Maaf ya, bercanda kog.

Apakah Kehidupan yang Ideal itu Nyata?

Nggak tahu, hihihi… Sampai saat ini, saya belum menjumpai sih. Mungkin gara-gara saya masih muda ya,. Mungkin kamu pernah menjumpai? Share pengalaman dong, biar saya tahu juga…

Yang saya tahu hanya pengkhianatan dari idealisme mereka sendiri karena idealisme akan hancur.

Pejabat negara yang ingkar janji kampanyenya, mahasiswa yang mengkhianat citanya, manusia yang merusak agamanya sendiri, dan paling keren, “Manusia-manusia sok idealis yang padahal belum tahu 30% dari apa yang mereka perjuangkan, gaungkan, dan cita-citakan.”

Kemarin kiri sekarang kanan, besoknya tengah. Eh, dikasih uang, langsung jadi bawah.

Mana idealismemu itu?

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

3 Replies to “Pengen NgeMil, NgeMall: Semua Idealisme Akan Hancur Pada…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *