Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Indonesia Terserah! Nggak Peduli Lagi Dah…

7 min read

“Nggak tahu lagi dah lihat kelakuan orang-orang yang beli baju lebaran di tengah kondisi kek gini. Otaknya apa nggak diletakkan pada tempatnya gitu?”

Sabar aja ya ketika baca artikel ini, gua bakalan emosi meletup-letup. Soalnya udah gregetan plus-plus, nggak terbendung lagi.

Kalau loe keluar rumah, kerja cari penghidupan, gua nggak masalah. Joss, tetap membanting tulang meski kondisi kek gini. Asal jangan lupa ikutin protokol yang diberlakukan pemerintah. Memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan lain-lain. Kalau keluar rumah untuk kerja, nggak masalah. Tapi kalau untuk belanja! Gobloknya itu nggak ketulungan.

Apa mereka nggak melihat angka perkembangan positif corona? Apa nggak punya Youtube? Google? Masak segitu primitifnya kehidupan loe, sehingga informasi nggak masuk sama sekali ke otak.

Oh, gua tahu, mungkin loe-loe yang nantangin corona di mall-mall itu, nggak punya otak kali ya, sehingga nggak ada informasi yang bisa masuk ke otak loe. Ya otaknya nggak ada kok.

“Gregetan gua! Masak ya kok sempetnya berdesak-desakan beli baju lebaran. Iya gua tahu, kalau hasrat ingin keluar rumah banyak orang di kondisi ini memang menggebu-gebu. Tapi masalahnya adalah, kalau loe tertular, tenaga medis yang susah!”

Loe mati gua nggak peduli, tapi kasian dong tenaga medis nangani terlalu banyak pasien covid-19 yang semakin hari semakin membeludak. Susah amat dikasih tahu yah!!!

Loe Mikir Herd Immunity

Loe kira herd immunity bisa efektif, loe kira teori ini bisa berlaku untuk covid-19? Loe dan kawan-kawan loe terpapar dulu, terus kebal gitu? Loe semakin semangat keluar rumah gitu, agar terpapar terus kebal gitu? Nggak!

Setelah loe terpapar, loe mungkin aja mati gara-gara corona. Mikir gitu lho! Tuhan kasih loe otak itu dibuat mikir, logika itu dipakai. Kalau loe ngandalin herd immunity, masak nunggu banyak orang terpapar dan mati duluan gara-gara corona?

Goblok bro! Nggak ngerti deh kalau orang punya pola pikir kek gitu. Di saat pemerintah susah dengan keputusannya, banyak orang ngempet (nahan) nggak keluar rumah, dan tenaga medis mati-matian sampek mati beneran demi menangani banyak pasien covid, loe malah asyik beli baju lebaran.

Gini lo! Loe yang berceceran di mall-mall itu kan masih muda. Maksimal mungkin umur 40 tahun lah, itu udah tua banget untuk pergi ke mall di tengah kondisi kek gini.

Kalau dihitung dengan rata-rata usia full manusia yaitu 60 tahun, loe masih punya banyak waktu untuk pergi ke mall. “Apa nggak bisa gitu sabar, satu tahun nggak ke mall beli baju? Baju yang kemarin kan masih ada. kalau nggak gitu loe kan bisa beli online!”

Kalau ada diskon, kan tahun depan masih ada! Mall nggak bakalan hilang kok dari muka bumi. Bahkan bakalan semakin banyak dan terus bertambah. Nggak usah khawatir. Kok ngebet banget sih pergi ke mall di tengah kondisi kek gini. Nggak terlogika banget! Bebalnya itu tembus ke kromosom.

Wes to, herd immunity itu nggak beneran efektif. Penelitiannya belum beneran bisa menyelesaikan pandemi ini. Masih sangat beresiko untuk diterapkan. Maka dari itu, loe itu harusnya nurut aja sama pemerintah untuk ikut PSBB bagi wilayah yang telah ditentukan.

Kerja ya kerja, kalau keluar rumah ya ikuti aturan yang berlaku. Jangan mikir kalau kekebalan tumbuh kelompok masyarakat bisa menyelesaikan semua ini. Malah gua mikirnya, kalau hal itu dilakukan, malah bisa terjadi banyak kematian. Kayak genosida malahan.

Maka dari itu, sembari menunggu keputusan jelas dari pemerintah, kita harusnya ikuti aturan yang telah dicanangkan oleh tenaga medis. Itu aja! Tahan dulu dong, semua bisa online kan? Kalau nggak perlu-perlu amat, nggak usah keluar rumah ngapa sih! Stress? Ya semua orang merasakan itu, tapi kan bisa hubungan secara online kan?

“Kurang maksimal kalau nggak ketemu langsung.” Iya gua tahu. Tapi gimana lagi, kondisinya memang kek gini. Loe mau terpapar terus sakit-sakitan mati gara-gara corona? Nggak mau kan? Maka dari itu, patuhi aja protokol kesehatan untuk covid-19 ini. Sabar dong! Semua orang sedang melakukan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Kita harusnya menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Jangan Jahat Deh!

Loe asyik-asyikan keluar rumah, beramai-ramai ngumpul, terus terpapar hampir 1000 orang dalam sehari, yang susah bukan loe! Tenaga medis. Tugas mereka bakalan semakin berat. Beneran, kasian mereka. Loe-loe yang seenaknya keluar rumah tanpa tujuan jelas terus berkerumunan, loe jahat banget!

Nggak salah kalau ada #Indonesiaterserah. Memang terserah dah! Dibilangi bebal amat! Disuruh di rumah aja, sulit gitu. Selain masalah covid, jangan nambah masalah lagi dengan stupid.

Goblok, jangan goblok lah! Kan udah modern, loe juga udah gede kan? Tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari. Dipikir dulu lah…

Loe kan juga tahu, pemerintah itu juga susah menangani ekonomi. Sebagian pemerintah juga masih asyik main politik. Tapi gua nggak peduli itu, intinya pemerintah juga sibuk mengurusi masalah ini. Nggak hanya dari segi kesehatan, akan tetapi ekonomi sosial juga.

Banyak orang yang kesulitan ekonomi, di-PHK, nggak punya kerjaan, nggak punya uang. Kalau loe nggak bisa bantu mereka, ya udah loe bantu ajah dengan tertib aturan pemerintah. Nggak usah ngeyel!

Semua sedang susah, jangan nambah-nambahi kesusahan ini. Semua pengen pandemi ini segera selesai, maka dari itu, loe mau nggak mau ya harus ikut protokol kesehatan ini.

Kalau nggak ada perlu, wes to di rumah aja. Masih ada video call untuk saling berhubungan. Sekarang juga musim lebaran, nggak usah berjabat tangan dulu.

Bukannya melarang saling memaafkan, tapi ini demi agar tidak ada penularan virus terus menerus. Kalau pandami ini segera selesai, kan enak bisa bersilaturrahmi lagi seperti sedia kala?

Loe-loe yang muda-muda, jangan jahat! Otak yang masih fresh itu dipakai. Jangan dibiarkan ngembun, ngangkrak, nggak guna. Kalian generasi muda kan bisa baca, baca aturan itu, sosialisasikan!

Jangan malah jadi provokator untuk melawan protokol kesehatan. Cerdas gitu lo, ngapa sih? Kalau nggak pinter matematika dan pelajaran sekolah, masak kek gini aja nggak bisa pinter juga?

Bayangkan, Tenaga Medis Ngambek!

Kalau loe nggak bisa diatur, terus kena corona, tenaga kesehatan nggak mau ngerawat loe. Loe terus mau ngapain? Di rumah aja karantina? Ya kalau imun lo kuat menahan virus ini hingga virus ini mati di dalam tubuh loe. Kalau loe sakit-sakitan parah, terus mati? Mau nyalahin pemerintah, tenaga medis? Nggak bisa!

Lha wong loe dibilangi nggak bisa! Ibaratnya, ada orang ngomong ke loe, jangan lewat situ nanti kepleset, tapi loe tetep ngeyel aja. Terus loe kepleset. Mau nyalain siapa loe? Nggak ada! salah loe sendiri kan? Makanya punya otak itu dipakai!

Kalau masyarakat nggak cerdas, terus seenaknya melanggar protokol kesehatan, terus banyak terpapar, tenaga medis capek, terus mereka mau udahan. Mau apa loe, minta maaf? Nggak bisa! Tenaga medis udah ngambek kok!

Maka dari itu, kalau ada protokol kesehatan, diikuti dong. Sabar, loe semua harus sabar. Nggak boleh ngelunjak juga.

“Kan tenaga medis dibayar, mereka harus kerja dong!” Pola pikir kek gini ni yang bikin males, yang bikin orang cerdas kepengen banget menghujat. Gini lo, bener kalau tenaga medis dibayar, tapi tenaga medis juga manusia. Kalau mereka kualahan ngurusin loe, terus banyak yang gugur, loe juga kan yang susah! Mikir gitu lho!

Ngeritik itu boleh, tapi ya harus pakai otak! Nggak cuma ngandalin emosi aja. Kalau tenaga medis nggak sanggup karena pasien covid-19 terlalu banyak, terus banyak yang nggak keurus, banyak yang mati, loe mau nyalahin tenaga medis? Ya nggak bisa dong!

Enak loe dong kalau kek gitu. Loe seenaknya keluar rumah, asyik di keramaian, giliran yang positif banyak, terus tenaga medis yang disalahin dan dituduh tidak benar menjalankan tugas. Mikir gitu lo! Tenaga medis juga manusia, punya rasa capek. Meski mereka dibayar, tapi kalau ketekan terus, juga stess bro!

Bahkan, dengan melihat beberapa mall yang ramai di media sosial, gua nggak nyalahin kalau tenaga medis ngambek. Mereka pantes ngambek kalau lonjakan kasus bisa sampai hampir 1000 orang positif dalam satu hari. Itu pasien, bukan kaya bakar yang bisa dilempar dan dibuang gitu aja.

“Ayo lah, kita jadi masyarakat harus cerdas! Berpikir ke depan. Percuma baju baru tapi positif covid-19 terus mati! Kenapa nggak loe sekalian beli kain kafan di mall-mall itu? terus beli plastik juga, untuk mbungkus jenazah loe yang ngeyel banget dikasih tahu.”

Jangan Percaya Virus Ini, Konspirasi!

Okay, kalau loe hidup mati percaya dengan konspirasi covid-19, terus nggak percaya dengan virus ini. Gini gua jelasin, entah konspirasi atau nggak, nyatanya virus ini menjangkit dan beneren membunuh banyak orang. Meski mereka bisa saja terbunuh gara-gara penyakit lain yang diperparah oleh covid-19.

Intinya, loe bisa lihat tenaga medis yang sibuk menangani ribuan kasus yang terjadi. Masak lihat kek gitu, loe tetap aja nggak mau percaya kalau virus ini beneran bisa menjangkit semua orang? Ayo lah, agak cerdas sedikit aja ngapa sih!

Kalau loe percaya virus ini konspirasi, tapi faktanya virus ini memang menjangkit dan menuliari banyak orang. Mau bilang apa lagi? Entah loe merasa sebagai orang awam, lihat banyak penelitian para ahli, terus nyimpulin kalau virus ini nggak ada. Tapi nyatanya banyak orang mati gara-gara virus ini. Terus loe mau apa?

LIHAT: Covid-19: Konspirasi Apa Nggak Ya?

Nggak ada pilihan selain menaati protokol kesehatan itu. Protokol itupun nggak sulit-sulit amat kok. Kalau pun nggak ada pandemi ini, sebagian dari protokol itu mengajari loe semua untuk lebih bersih diri, cuci tangan, dan menjaga diri agar tidak tertular penyakit. Protokol ini sangat baik untuk diterapkan.

Kalau loe lihat ada artis yang nggak mau cuci tangah, pakai masker, terus publish biar tenar. Nggak usah dipeduliin, anggap dia aja orang gila. Orang kok koproh banget, orang kok jorok banget! Di saat banyak orang mulai terbiasa dengan kebersihan, dia kok bangga berprilaku jorok. Itu artis goblok, oon, otaknya nggak dipakai!!!

Sekarang, Hidup Mati Terserah Loe!

Kalau nggak bisa dibilangi, terserah loe deh! Gua juga nggak peduli. Kalau masih pengen ngantri terus desak-desakan beli pakaian ataupun cari promo atau apalah perkumpulan kalian. Terserah! Nanti kalau loe terjangkit covid-19, berdoa aja imun loe kuat. Kalau imun loe nggak kuat, berdoa aja, tenaga medis nggak ngambek ke elo!

Prilaku dan tindakan loe yang lakukan, jadi konsekuensinya juga loe yang nanggung. Kalau loe percaya banget herd immunity, ya terserah aja dah. Monggo loe aja yang ketularan, gua nggak mau. Pokoknya, loe berdoa aja, kalau loe terpapar, ada orang yang mau bantu loe.

Capek gua emosi terus lihat kelakuan sebagian manusia +62 yang gila dan gobloknya ke DNA. Stupidnya itu sampek tembus ke impuls saraf, menyatu dengan elektron yang ada di otak. Jadi, kelakuannya itu kegoblokan yang unfaedah.

Ngapa sih? Ada masyarakat yang kek gini. Egois banget deh. Ada yang bilang, “Ini nyawa-nyawa gua, mati-mati urusan gua, virus nyerang gua, gua yang nanggung kok, kenapa loe yang sibuk kritik gua!”

Eh, bajing kecepit pintu loe-loe yang bilang gitu, nyawa emang punya loe. Tapi pas loe terjangkit, masalahnya orang-orang yang deket sama loe itu berpotensi terjangkit pula. Loe mati terserah loe emang, nyawa punya loe, tapi loe kan nggak hidup di hutan sendirian, jadi hargai dong orang lain!

Mati ya mati aja, jangan bikin masalah bagi orang yang masih idup. Masalahnya, meski loe bilang nyawa punya loe, orang yang ngurus jenazah loe itu juga ikutan terjangkit. Masak loe mau, udah mati tapi tetap merugikan. “Idup nggak bisa diatur, mati nyusahin orang banyak!”

Mikir gitu lho! Jangan bikin orang-orang emosi. Jangan sampai orang lain nggak peduli sama loe, kecuali loe bisa kremasi diri sendiri ketika mati. Loe bisa jurus ngilang ketika loe mati. Kalau loe bisa kek gitu, terserah loe mau ngapain. Masalahnya, loe bersosial! Banyak orang lain yang dirugikan ketika loe terjangkit covid-19. Pliss deh!!!

Capek Gua Lihat Terus Emosi Kek Gini!!!

Gua emang bukan siapa-siapa, tapi kalau melihat prilaku gaada akhlak orang-orang yang keluar rumah seenaknya nggak ada tujuan jelas itu, gua juga ikutan emosi. Makanya gua nulis artikel kek gini. Biar emosi gua tersalurkan.

Sebenare capek gue emosi terus, lihat prank sampah, prank lelang keperawanan, sekarang lihat kelakuan banyak orang yang kek gitu. Ya tuhan, gila bener. Nggak nalar lagi gua. Susah banget dibilangi.

LIHAT: Lelang Keperawanan: Prank Pengen Viral Aja!

Kalau melihat kemacetan mudik, gua mungkin masih agak mikir, “Mungkin mereka beneran bisa mati kalau tetep di perantauan. Makanya mereka mudik.”

Tapi yang sampai beli baju untuk lebaran, gua sebal beneran. Goblok bener. Coba deh, mungkin loe ngerti alasan lain pergi ke mall yang bener-benar masuk akal di kondisi kek gini? Alasan mau berdesak-desakan kek gitu agar gua nggak emosi itu rasanya nggak ada!

Goblok aja gua lihatnya. Jangan-jangan lama-kelamaan kegoblokan ini nular juga ke gua. Virus kegoblokan mungkin aja penularannya lebih hebat daripada covid-19. Memang, Covid and stupid itu bisa saja bersatu untuk menciptakan banyak kematian.

Terserah loe semua dah! Mau ke mall, mau keluar rumah tanpa tujuan jelas. Atau mau kumpul-kumpul nggak jelas. Terserah dah! Gua nggak peduli. Lama kelamaan, masyarakat ini semakin nggak peduli aja dengan protokol kesehatan. Mereka nggak peduli lagi dengan covid-19.

Ya, terserah dah! Gua nggak peduli juga. Mati urusan loe, kalau tenaga medis nggak mau ngerawat loe, ya kapok! Nggak usah berharap sama tenaga medis kalau loe nggak bisa diatur. Terserah!!!

Udah ya, gua cukupkan cuitan kali ini. Capek gua emosi terus… Tapi kalau nggak emosi itu rasanya bisa stress. Semua kegoblokannya ini nggak terlogika, nggak bisa dinalar lagi. Udah parah lah!!!

***

Okay, di akhir ini, kalau loe nggak setuju dengan artikel yang gua buat ini, terserah juga! Gua nggak peduli. Kalau loe mau share terima kasih, kalau nggak ya nggak masalah. Pokoknya terserah loe ajah dah. Loe suka gua nggak peduli, loe benci gua juga nggak peduli.

Kalau ingin kritik, tu di bawah ada kolom komentar. Monggo, dipesilahkan! Tapi kritiknya pakai otak lo ya. Jangan berbekal emosi aja. Kalau nggak setuju, nggak setujunya itu harus pakai otak, nggak boleh hanya pakai emosi ajah. Okey?

Salam stop kegoblokan unfaedah, sampai ketemu di artikel selanjutnya, semoga kita masih idup…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

3 Replies to “Indonesia Terserah! Nggak Peduli Lagi Dah…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *