Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

“Tapi Boong!” Ketika Media Nggak Dipercaya

6 min read

Media Sosial, Social Media, Tapi Boong, Kebohongan Pemerintah

Ada ratusan berita bohong yang menyebar di masyarakat akhir-akhir ini. Pandemi covid-19 memang memberikan dampak yang begitu hebat terhadap arus informasi di seluruh dunia.

Orang yang awalnya hidup dengan dominasi interaksi sosial langsung, sekarang berubah menjadi serba online. Sehingga, penggunaan media online untuk mengakses informasi terbaru sangat masif dilakukan oleh masyarakat.

Bertambahnya kedekatan masyarakat dengan media tentu memberikan peluang bisnis bagi beberapa pihak. Contoh saja, sempat ada berita bohong kalau ada obat spesifik untuk Covid-19. Berita itu muncul di media sosial, disebarluaskan dari satu orang ke orang lain.

Padahal, kalau mau berpikir logis sesuai dengan berita, informasi, dan sumber yang sangat dipercaya, ‘obat untuk Covid-19 itu belum ditemukan’. Benar nggak?

Anehnya, berita itu terus-menerus disebarkan. Bahayanya adalah, “Ketika satu kebohongan terus diucapkan berulang-ulang, maka bisa-bisa jadi kebenaran.”

Kebenaran: Opini Kebanyakan

Bisa jadi, sebuah kebenaran sesaat tercipta karena dipercaya banyak orang. Misal nih, loe pernah nggak lihat DNA secara langsung? Tentunya nggak kan?

Tapi loe pasti tahu gimana gambar detailnya DNA, sebab di internet membeludak gambar kek gitu.

Misal nih, semua ilmuwan pemrakarsa gambar DNA itu bohong, gua jamin loe tetap bakalan percaya kalau bentuk DNA itu seperti itu. Jadi, kebenaran itu selain timbul dari fakta yang loe lihat, bisa juga timbul dari tingkat kepercayaan yang tinggi kelompok masyarakat.

Itu contoh sains padahal, sebuah ilmu pasti. Nah, sekarang dihubungkan dengan sosial masyarakat. Contoh lagi nih, masyarakat percaya kalau si-A adalah pejabat yang baik dan bijaksana. Padahal, kenyataannya si-A adalah pejabat tukang pencitraan.

Suka bayar media untuk mencitrakan dia itu baik, bijaksana, berjiwa kepemimpinan, loyal, dan lain-lain. Itu hanya menguntungkan satu orang, bukan sebuah kelompok. Jadi, dibanding topik sains, hoax dengan topik sosial masyarakat sangat mudah terjadi.

Intinya, “Serang terus masyarakat dengan judul menarik. Perlahan pasti bakalan terjadi kebenaran kelompok dan berlanjut ke kebenaran dominan.”

Kebohongan: Siapa yang Diuntungkan?

Kalau bertanya siapa yang diuntungkan, tentunya orang-orang yang nggak bertanggung jawab. Spesifiknya, gua juga nggak tahu. Tapi cara mbacanya gini. Contoh nih, diberitakan kalau obat covid-19 adalah rokok. Nah, loe pasti tahu siapa yang diuntungkan. Yups, perusahaan rokok. Itu hanya contoh ya..

Jadi, loe bisa lihat siapa yang diuntungkan dari sebuah hoax dengan segampang itu. Namun, loe juga harus tahu. Media penyebar hoax itu juga dapat keuntungan. Traffic pengujung (terutama website), bisa dicairkan menjadi uang.

Ada puluhan ribu website yang mengaku sebagai pemberi berita paling aktual dan faktual. Akan tetapi yang benar-benar terverifikasi sangat sedikit. Itupun dari yang sudah terverifikasi banyak yang belum tentu valid juga.

Jadi, nggak salah kalau arus informasi sangat kencang. Sebab jutaan berita, artikel, dan tulisan yang nggak bisa dipertanggungjawabkan (nggak ada nama penulisnya misal) ngumbruk di internet.

Mau nggak mau, kebijaksanaan masyarakat benar-benar dituntut harus ada. Kalau nggak, masyarakat bakalan mudah termakan hoax. Akan tetapi, satu masalah besar adalah, “Kebanyakan masyarakat pengguna media maya malas baca dan sebagiannya adalah anak kecil yang belum tahu mana benar mana salah.”

Hoax Kala Pandemi: Pasti Terjadi

Kenapa kok pasti? Sebab semua orang butuh penghasilan, sebab kebanyakan orang beralih hiburan ke media sosial, sebab semua orang butuh informasi yang menggemparkan. Kenapa seperti itu?

Gua juga nggak tahu ilmu psikologinya gimana. Kok bisa ya, kebanyakan masyarakat itu suka banget kalau orang lain tertipu. Viralitas dicari-cari, tapi kualitas nggak digubris sama sekali.

“Sebagian orang pengen jadi pusat alam semesta.” Salah satu sebab kenapa sebagian manusia selalu ingin diperhatikan sendiri dan mendapat keuntungannya sendiri. Jiwa peduli ke orang lain lantas tertutup.

Bayangkan, ketika hampir semua orang beralih ke media sosial, siapa sih yang nggak mau memanfaatkan hal ini? Segala model iklan dari yang terpercaya hingga boongan, semua bisa terjadi. Lha wong nggak pandemi aja, pembohong media sosial nggak terhitung kok. Apalagi di situasi kek gini?

Jadi, harus pandai-pandai baca, meresapi, haus informasi dari sumber lain, dan mengklarifikasi. Berita bohong dalam situasi pandemi (yang semua jadi online ini), adalah pasti.

“Dalam mencari uang dan penghidupan, media sosial itu kejam. Penipu nggak segan-segan mengeruk uang loe habis-habisan, kalau loe nggak mawas diri.”

Kalau yang Nyebar Hoax Pemerintah Gimana?

Nah, ini ni yang susah. Kalau orang yang punya uang sudah nggak peduli dengan kebenaran. Lantas siapa yang bakalan ngelawan? Misal nih, orang gede (uang dan jabatannya) pengen satu media berbohong.

Suap aja! Kalau nggak bisa suap, buat media sendiri. Kan gampang? Uang banyak, relasi luas, jabatan di pemerintahan juga tinggi. Hayo gimana?

Tetap aja, proteksi ada pada diri sendiri. Kita nggak bisa melawan media besar. Apalagi media kelas internasional. Meski besar, apakah tidak ada kemungkinan mereka berbohong? Tetap aja mungkin. Kata orang, “Di dunia ini apa yang nggak mungkin?”

Terus, kalau pemerintah yang sebar hoax? Kemungkinannya kecil sih. Sebab pemerintah bisa dikatakan sumber informasi. Tapi tetap mungkin aja kan? Pemerintahan kan juga dihuni oleh manusia?

Hal itu bisa terjadi ketika pemerintahan didominasi oleh manusia yang nggak bertanggungjawab. Manusia yang memikirkan diri sendiri dan kelompoknya. Dominasi orang-orang jahat ini, menciptakan lingkungan dimana, “Orang baik nggak bisa apa-apa dan mau nggak mau ikut kebejatan mereka.”

Memang kejam sih, tapi hal itu sangat mungkin terjadi.

Bosen Berita Covid-19?

Setiap hari, pemerintah mengumumkan berapa orang yang positif, sembuh, dan meninggal sebab kasus Covid-19. Apapun yang diulang-ulang, pasti bikin bosan. Berita juga semakin hari semakin menggembor-gemborkan, kalau covid-19 gini lah, gitu lah.

Itu masih televisi, belum lagi di media sosial. Berita tentang Covid-19 sangat banyak, tak terhitung jumlahnya. Plus, komentar netizen yang jumlahnya ratusan juta, tak terbendung. Makian, hujatan, pembelaan, dan sebagainya, memenuhi jagat media sosial.

Pokoknya, semakin hari, pesatnya laju informasi ini merubah pola pikir masyarakat. Dari yang awalnya masyarakat percaya, setelah melihat ratusan hoax, mereka mikir-mikir lagi mau percaya atau nggak.

Hal itu menyebabkan, masyarakat juga mempertimbangkan kepercayaan pada media arus utama. Pikirnya, “Entah dari pemerintah, dari orang, atau dari siapapun, tetap aja berita dalam kondisi seperti itu, rawan hoax. Males deh percaya.”

Akhirnya timbul istilah media tak lagi dipercaya. Nah, ketika media tak lagi dipercaya, mau dibilangin 1000 x pun “Jangan keluar rumah kalau nggak ada kepentingan,” masyarakat bakalan ngeyel. Mereka sudah nggak mau percaya lagi dengan media.

Maka dari itu, independensi dan validitas tulisan dalam sebuah media itu penting (terlebih yang sudah besar dan utama). Pemerintah harus memberikan perhatian terhadap arus informasi, sebab satu kesalahan media besar, bakalan sangat berpengaruh.

Jangan sampai masyarakat merasa dibohongi dan diperdaya. “Sekali kau bohongi manusia, jangan harap kau dapatkan kepercayaannya.”

Melawan Hoax

Sebenarnya, melawan hoax itu gampang banget guys. Hanya perlu sedikit kesabaran. Karena hoax itu tercipta dari misinformasi dan disinformasi. Jadi, kalau nggak sumbernya pembohong, ya pembacanya yang salah tangkap.

Kalau sumbernya bohong, bisa ditanggulanggi dari diri kita sendiri.

  1. Baca dengan Sungguh-sungguh

Ini ni kesalahan kebanyakan orang. Jangankan isinya, baca judulnya aja yang menggemparkan, sudah main share aja. Kalau nggak gitu, lihat gambarnya cukup baru dan mengesankan, share aja.

Isinya seperti nggak berarti, nggak berfungsi. Padahal, inti dari sebuah berita itu bukan judul, tapi isi. Judul hanya sebuah penggambaran isi. Maklum kalau dibuat heboh, untuk menarik perhatian mata yang membaca.

Loe jujur aja, ketika baca artikel, pasti banyak yang dilewati. Kalau nggak gitu, loe hanya fokus dengan judul dan sub judul aja. Kalau nggak gitu, di awal udah mbosenin, ditinggal gitu aja.

Nggak salah sih (itu hak loe), tapi ya minimal kalau loe nggak selesai baca sebuah berita atau bacaan, ya jangan asal share. Share harus benar-benar loe lakuin dari lubuk pikiran loe dengan kepercayaan kalau ‘berita atau link itu betul-betul tidak bohong isinya.’

2. Jangan Terpesona Judul

Pernah lihat judul yang menggelegar? “Astagfirullah! Ya Ampun! Bombastis! Subhanallah!” kalau loe baca, serasa ada sensasi emosional yang memaksa hati loe ikutan teriak. Usahakan, loe jangan berhenti disitu terus share aja.

Kalau loe nggak tertarik banget, ya udah. Tapi kalau loe tertarik, jangan asal share. Usahakan baca isinya dulu. Nah setelah baca isinya, loe simpulin. Masuk akal nggak?

Tapi tetap ingat nomor pertama. Baca isinya yang bener. Jangan asal baca, jangan ngeloncat-ngeloncat. Jangan sampai informasi itu terpecah, terus loe tafsirkan sendiri. Setelah sesat, ngajak orang lain. Itu yang bikin hoax semakin banyak mengumbruk.

3. Cari Perbandingan

Penting juga, loe harus mencari berita, artikel, atau bacaan lain topiknya sama. Sehingga dengan begitu, otak loe nggak hanya nyimpulin dari satu sudut pandang. Dengan cari ini, informasi yang loe dapatkan pasti bakalan semakin murni.

Terlebih, kalau loe cari sumber aslinya, dibandingkan dengan opini pakarnya, atau kalau nggak gitu, dengan isi buku yang setopik. Itu jauh lebih baik. Sehingga informasi yang loe dapatkan benar-benar kebenaran.

Jadi, jangan asal percaya aja. Memang sih, loe sudah punya informasi di otak loe sebagai bahan perbandingan dari sebuah bacaan, tapi itu rasanya belum cukup, kalau loe belum membandingkan dengan artikel sejenisnya secara langsung.

Jadi, interpretasi atau tafsir yang muncul bisa lebih objektif dan logis.

4. Jadi Gelas Kosong

“Jangan sampai menuang sebelum informasi yang ada di otakmu udah banjir.” Jadi, ketika otak loe masih sibuk memproses informasi, belum menciptakan sebuah konklusi konkret yang nampak logis dipandang semua orang, loe harus memasukkan variasi info lainnya.

Jangan dengan sedikitnya pengetahuan loe itu, loe udah berani sebarin info. Jangan sampai, loe nggak sadar jadi tukang sebar hoax! Caranya gimana?

“Anggap aja, loe orang awam yang nggak tahu apa-apa. Sebelum tahu informasi dengan lengkap, tugas loe adalah mencari dan menyelidiki. Bukan memaki dan menasehati.

“Jangan jadi tong kosong nyaring bunyinya, air beriak tanda tak dalam, banyak omong hoax semua, koar-koar nggak jelas maksudnya.”

5. Batasi Arus Informasi yang Masuk

Otak punya batasan untuk memahami sesuatu, bisa capek dan letih. Loe harus mengistirahatkannya. Informasi yang terlalu banyak dan variasi dalam satu waktu, itu malah membahayakan. Sebab potensi miss komunikasi lebih besar.

Jadi, sehari dua hari loe nggak ngikuti berita nggak masalah sebenarnya. Sehari dua hari loe nggak on mobile phone nggak masalah sebenarnya. Loe juga nggak bakalan mati. Beneran, gua udah coba.

Jangan ambil pusing dan stress ikut merasakan panasnya media sosial. Loe perlu santai menikmati kehidupan dan lingkungan sekitar loe. Jadi, tak perlu takut dikatakaan kudet (kurang update), yang penting otak loe bisa dibuat mikir jernih.

Batasi, batasi, dan batasi! Kalau perlu ganti online menjadi offline. Dari media sosial jadi buku. Dari TV menjadi diskusi. Beneran, loe nggak bakalan sakit ketika nggak mengakses media.

6. Jangan Mudah Percaya

Tutup pintu kepercayaan kalian! Sebab kalau udah percaya, terus ternyata, “Tapi boong!” Pasti rasanya kecewa berat. Jadi, jangan mudah percaya, terlebih lagi di media sosial. Kalau loe mudah percaya, loe juga bakalan mudah kecewa.

Serita yang bersumber dari siapapun, jangan loe percaya dulu sebelum loe lakukan 4 hal sebelumnya. Bukannya ngajarin loe untuk nggak mudah percaya orang, gua hanya ingin agar kita nggak mudah ditipu aja.

Media itu bukan guna-guna guys, jadi bisa loe logikakan. Gampang dipikirkan dan mudah disimpulkan. Jadi, tetap baca, baca, dan baca. Jangan asal share.

“Anggap semua berita ataupun apapun itu adalah orang baru. Jangan dipecaya. Sebelum lo klaritifkasi atau loe bandingkan atua loe validasikan.”

***

Gimana? Gampang kan melawan hoax. Hanya butuh kesadaran pribadi. Beneran! Tanpa teori konspirasi ataupun melawan media besar dalam atau luar negeri. Cukup loe sendiri yang tentukan, semua pasti bisa terselesaikan.

Memang, kita tak perlu memikirkan untuk merubah sesuatu yang besar. Cukup lakukan kebenaran kecil, semua pasti bakalan berubah. Percayalah, Loe adalah perubahan jagat raya.

Kesimpulan

Sedikit lagi, akhir dari artikel ini. Hoax itu bakalan selalu ada. Maka dari itu, kita perlu tameng pribadi. Cukup terapkan hal-hal kecil diatas, loe sudah ikut serta memerangi hoax.

Kendati demikian, loe juga punya hak untuk nggak percaya arikel ini. Maka dari itu, loe bisa bandingkan dengan media lainnya. Kalau nggak gitu, loe punya hak untuk komentar ataupun mengoreksi.

Kalau gua salah, gua pasti ngaku dan membuka diskusi. Sebab logikami.id termasuk media sosial yang memabahas hal-hal aktual. Kesalahan dalam media ini mungkin aja terjadi. Jadi, kalau loe anggap ini artikel bermanfaat loe share nggak papa. Tapi kalau loe anggap ini adalah artikel hoax, stop di otak loe, cari sumber lain dan bandingkan.

Semua menfaat, salam stophoax sampai ketemu di artikel selanjutnya. Semoga kita tetap masih idup.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *