Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Khilafah Solusi? Jangan Baper Dulu Dong…

3 min read

khilafah solusi

Pernah ada 11 ribu lebih tweet yang membuat #khilafahsolusi jadi tren Indonesia di Twitter. Membuat saya ingin juga ikut-ikutan bahas isu ini. Sebuah isu yang bisa dibilang kontroversi, apalagi di masyarakat Indonesia. Apakah benar khilafah solusi?

Bagi yang setuju khilafah pasti teriak, “Ya! Solusi.”

Bagi yang tidak setuju, tentu bakalan menolak, “Tidak!”

Terus, yang bener mana? Khilafah itu solusi nggak?

Islam dan Khilafah

Tidak ada yang menyangkal jika khilafah sangat erat dengan islam. Mulai zaman khalifah yang diberi petunjuk, Umayyah, Abbasiah, Ayyubiyah, hingga terakhir Turki Utsmani. Dari zaman ke zaman, tidak ada kontroversi tentang makna ‘khilafah’.

Bahkan banyak kitab yang membahas khilafah. Kenapa? Sebab khilafah dan islam memang tidak bisa dipisahkan. Entah dari aspek historis maupun ideologi. Maka tidak heran juga, jikalau mata pelajaran Fiqh Madrasah Aliyah kelas XI, juga memuat bab khilafah.

Bahkan di mata pelajaran itu ditulis hukum mendirikan khilafah adalah Fardhu khifayah. Gara-gara buku ini pula, orang-orang pada nggak terima. Menganggap kementrian agama salah dan harus direvisi.

Saya secara pribadi membenarkan kalau ada bab khusus khilafah dalam pelajaran fiqh Madrasah Aliyah. Memang saya diajari itu dulu. Bahkan saya memahami dengan baik apa yang disampaikan dari bab itu oleh guru saya. Lantas, apakah saya langsung “Dirikan khilafah! Bebaskan dunia!”

Nggak kog. Saya dan temen-temen B aja. Bahkan terkesan nggak peduli. Lebih peduli beli pentol cilok di depan sekolah.

Intinya: khilafah itu memang diajarkan dalam islam. Entah hukumnya gimana, tapi ya mbok jangan dihilangkan gitu dong. Ini kan syariat islam, bab ini perlu diajarkan agar umat islam paham.

Bukan asal menjastifikasi bahwa khilafah itu ‘buruk, jelek, bahaya, radikal, intoleran, dan lain-lain’.

Stigma Khilafah Harus Diluruskan

Kata sebagian orang, “Pengusung khilafah itu radikal!”

Sek tho, jangan gitu dulu. Umat islam kok serang-serangan sendiri. Khilafah itu dipelajari, bukan dijustifikasi. Setelah kita belajar dengan baik, komprehensif, dan mengakar, baru kita tarik kesimpulan. Jangan asal monyong…

Tulisan ini bukan untuk membela HTI lho ya. Saya hanya ingin apa yang diajarkan guru fiqh saya (dia ustadz NU yang alim dan sepuh) tidak disalahartikan oleh orang. “Khilafah itu ajaran islam, tidak boleh dihilangkan!”

Coba deh, kamu baca bab khilafah dulu. Nanti kamu pasti ngerti kalau konsepnya baik. Tapi setelah itu, jangan langsung jadi HTI, baca kitab yang lain pula. Terus dibandingkan…

Saya yakin, khilafah itu milik islam. Islam punya ajaran dan sistem pemerintahan sendiri. Saya bangga islam punya itu. Saya bangga islam dikonsepkan sebagai ideologi universal yang mengulas segala aspek kehidupan.

Maka, jika konsep islam yaitu khilafah atau imamiyah dihilangkan atau dicitrakan buruk, maka maklum saja kalau saya geram.

Perjuangan Menegakkan Khilafah?

Organisasi yang didirikan oleh Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani pada tahun 1953 sebagai bentuk pan-islamisme yang bernama Hisbut Tahrir adalah salah satu organisasi (sebut: partai) yang memperjuangkan khilafah.

Kehancuran dinasti Turki Utsmani tahun 1924 dengan tokoh terkenal Kemal Attaurk, menjadikan islam terpecah belah menjadi negara-negara. Ini adalah fakta sejarah, memang kejadiannya demikian.

Kekuasaan global yang semakin hari semakin mencengkram, membuat ulama-ulama berpikir untuk memperbaiki islam kembali. Di Indonesia, HT disebut dengan Hizbut Tahrir Indonesia. Fokus ajarannya adalah pada ideologi dan pemikiran islam.

Stop! Jangan baper dulu ketika saya bahas HTI.

Saya rasa, semua hal harus didiskusikan. Satu muslim dengan muslim lain (lintar ormas, lintas partai, lintas negara, lintas mazhab) adalah saudara. Patutnya sebagai saudara, ya mbok ngobrol santai, bertukar pendapat, dan tidak saling menyalahkan.

Kebenaran itu bukan ‘kata orang’, kamu mungkin perlu mencicipinya. Tidak salah jika kamu ikut dalam ngaji-nya HTI. Nanti kamu bisa menilai sendiri…

Apakah Khilafah Solusi?

Jawabannya, ‘tergantung sistem khilafah yang mana’. Iya memang khilafah adalah satu sistem ketatanegaraan islam. Tapi, terkadang idealisme teori tidak selalu berjalan sesuai prakteknya.

Apapun kalau dijalankan sesuai teori, hasilnya pasti sesuai teori. Tapi, permasalahannya manusia itu punya otak dan pola pikir masing-masing. Satu pihak merusak pelaksanaan teori, maka hasilnya juga pasti melenceng dari teorinya.

Bukan mustahil, jika khilafah didirikan yang ada malah bentrok dan perpecahan. Tapi tidak mustahil pula, ketika khilafah terjadi, kedamaian, kesejahteraan, toleransi, dan kemakmuran bakalan terjadi seperti zaman Umar bin Abdul Aziz. Bisa jadi khilafah solusi, bisa jadi tidak.

Maka dari itu, perjuangan mendirikan khilafah harus benar-benar memiliki sistem yang sempurna. Mengingat, khilafah itu bukan sistem pemerintah negara federasi, akan tetapi dunia.

Maka tidak main-main. Tidak bisa khilafah hanya didirikan di Indonesia aja, mustahil! Jadi mungkin, ketika Indonesia menjadi pusat pemerintahan khilafah.

Lha wong khilafah itu fungsinya persatuan umat islam kog, kalau hanya didirikan di Indonesia, ya salah. Harus ada koordinasi spesifik, terstruktur, dan kolaboratif.

Menurut saya, sistem pemerintah yang baik pasti menghasilkan solusi. Apakah demokrasi tidak bisa jadi solusi? Tentu saja bisa, asalkan dilaksanakan dengan benar.

Gini lo, yang bikin rusak itu yang ngejalanin, bukan alat yang menjalankan. Oke, kalau demokrasi dianggap buatan manusia, tidak sempurna. Tapi saya percaya, kalaupun teori ideologi pancasila dengan backing demokrasi pancasila dijalankan sesuai teori, hasilnya pasti sesuai apa kata pancasila.

Korelasi Pancasila dan Khilafah

Silahkan kamu baca dasar pemerintahan khilafah. Bandingkan dengan pancasila. Pasti ada korelasinya. Keadilan, ketuhanan yang satu (Esa atau Tauhid), kedaulatan rakyat, kejujuran, keikhlasan, tanggungjawab, apakah semua itu tidak termuat dalam pancasila?

Secara teori, pasti iya. Wes tho, bagi kalian yang baper merasa takut akan khilafah, coba deh baca dulu. Setelah kamu pahami, kamu pasti tercerahkan.

Jangan kok dengar dari tokoh A, langsung monyong-monyong nyalahin ini dan nyalahin itu.

“Islam tidak memperbolehkan umatnya Taklid buta.”

Umat islam tercermin dari nabi dan rasulnya, memiliki kecerdasan (fathonah). Otaknya bergerak, bermain, dan logikanya dinamis rasional. Umat islam tidak boleh monat-manut aja apa kata orang. “Iya kalau orang itu benar, kalau sudah termakan aura politik dan menyepelekan syariat, masa ya tetep harus diikuti?”

Solusi Sebenarnya Adalah…

Coba deh, yuks sama-sama belajar berislam dengan baik. Jangan setengah-setengah. Banyak lho, orang-orang yang ngaji ketiduran, diajar agama nggak memperhatikan, tapi berani ngafir-ngafirkan orang.

Solusi dari semuanya adalah belajar. Bukankah kita wajib belajar dari lahir hingga meninggal dunia. Kenapa seperti itu?

Sebab, “Orang yang paling bodoh bukanlah orang yang kesulitan memasukkan informasi ke otakknya. Akan tetapi orang yang berhenti belajar, sehingga ia merasa berpuas diri pada dirinya saat itu, yang pada dasarnya belum tahu apapun dari 1/sejuta lebih tetesan ilmu Allah.”

Yuks belajar dulu, baru monyong. Minimal kalau kita salah, sudah pernah baca. Daripada sudah salah, tapi nggak tahu apa-apa, sudah nggak pernah baca, tapi mulutnya kemana-mana.

***

Cari informasi logis, kritis, dan dinamis lainnya di beranda logikami.id – logis, kritis, dan dinamis.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Khilafah Solusi? Jangan Baper Dulu Dong…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *