Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Lelang Keperawanan: Prank Pengen Viral Aja!

4 min read

“Gua nggak peduli si… Pelaku udah minta maaf atau terserah dia ngapain! Tapi kalau mau nyindir, kalau mau buat sarkas ke masyarakat caranya nggak gitu lah! Nggak ngerti gitu lo, otaknya ditaruh mana pas upload perlelangan keperawanan itu.”

Mungkin niatnya baik, bantu tenaga medis. Tapi, caranya nggak gitu dungs. Iya, bantu boleh, bagus, ship, joss! Tapi, kalau caranya dengan melelang keperawanan, ya masa bisa dimaklumi lah? Kok nggak mikir gitu lo!

Pertama, keperawananan itu adalah hal tabu yang sangat tak pantas bila dibicarakan di publik secara vulgar atau malah dilelang. Gila benar, kalau seorang wanita berani upload lelang keperawanan.

Bukan masalah niat, tapi harga diri bro! Cowok mana yang mau bayar dan viral sebagai cowok hidung belang berotak mesum yang rela bayar 2 M untuk memerawani cewek intagram itu.

Kedua, kalau mau bantu, kenapa sih nggak semampunya aja. Nggak usah terlalu dipaksakan, hingga terlihat menciptakan tipuan (prank). Tapi beneran goblok kalau memang dia benar-benar mau bantu orang lain tapi dengan cara melelang harga diri dia sendiri.

Gua ngomong goblok, sebab ya gimana lagi. Nggak niat menggoblokkan orangnya, tapi tindakannya itu lho. Kok nggak dipikir dulu! Iya tahu, mungkin loe geram ingin mbantu tenaga medis yang berjuang mati-matian hingga mati beneran untuk melawan corona. Tapi ya caranya nggak gitu dongs!

Apa nggak ada cara yang baik gitu lho! Nggak usah pakai ada acara lelang keperawanan. Sebab gini, ketika hal itu loe lakuin, yang harga dirinya rusak bukan loe ajah. Akan tetapi wanita di seluruh dunia. Keperawananan serasa sebuah benda yang patut dan layak untuk dilelang dan diperjualbelikan.

***

Iya, gua tahu kalau sangat banyak cewek di dunia ini yang keperawanannya sudah nggak jelas sebelum menikah. Tapi kalau konteksnya dipublish kek gini, rasanya harkat dan derajat wanita tercoreng. Pakai banget, polll!!!

Ya kalau kalian nggak setuju sama gua, nggak masalah sih. Tapi beneran, “Itu kebangeten mbak! Gua bukan siapa-siapa memang, tapi gua punya emak yang perempuan! Rasanya gimana gitu. Seenaknya bikin viral dengan lelang keperawanan.”

Emang sih, kalau gila popularitas jadinya kek gitu. Gua nggak mau nyalahin sebenarnya, tapi beneran kebangeten. Gua nggak merasa salah nggoblok-nggoblokin tindakan mbak-nya itu. Meski akhirnya dia mengklarifikasi itu hanya sebuah sarkas untuk masyarakat.

Gini aja mikirnya, “Kalau loe pengen bantu tenaga medis lawan corona, nggak usah nyindir masyarakat, nggak usah buat sarkasme, nggak usah bikin konten viral kek gitu. Cukup bantu semampu loe aja. Kalau bisa dengan sembako, bantu dengan sembako. Kalau bisa dengan uang, banyak platform yang menerima bantuan uang loe. Nggak usah aneh-aneh dah!”

Loe udah tahu, hidup di kondisi kek gini susah! Jangan ditambah lagi bikin emosi orang-orang. Loe mungkin enak, jadi tukang instagram yang bisa endors dan dapat uang. Bisa kerja di rumah berpacu kreativitas.

Tapi, ada orang lain yang nggak bisa kek gitu. Mereka harus panas-panasan di luar banting tulang, mati-matian untuk hidup, ya mbok dihargai gitu lo. Jangan biarkan mereka sibuk menghujat tindakan goblok mbaknya.

Parahnya, akhirnya ternyata lelang keperawanan itu adalah tipuan. Bukannya gua suka kalau mbaknya beneran lelang keperawanan, akan tetapi dengan adanya klarifikasi itu, membuat mbaknya terlihat goblok banget. Bikin netizen geram dan gregetan.

Nggak salah kalau orang menghujat mbak dan keluarga mbaknya. Emang kebangeten lho. Kayak nggak tahu aja netizen kek gimana. “Bikin viral itu gampang memang mbak, tapi yang lebih penting itu harga diri dan martabat. Percuma terkenal tapi terkenal gara-gara keburukan. Terkenal gara-gara hal positif itu baik, tapi kalau sampai terkenal gara-gara tebar sensasi ketidakjelasan. Itu hina namanya.”

Nggak Tahu Lagi, Otaknya Dimana?

Gua bisa memaklumi kalau konten yang mbaknya buat niatnya bagus. Tapi katanya terbongkar kalau hal itu hanya dibuat untuk sensasi. Gua lebih emosi lagi. Parah beneran,  kok tega mbaknya bikin konten viral kek gitu di tengah kondisi yang kek gini.

Nggak tahu lagi gua harus bilang gimana, “Otaknya gitu ada nggak sih? Kemarin sempat ada prank sembako sampah, sekarang prank lelang keperawanan. Selanjutnya apa lagi? Kenapa sih tindakan goblok nggak bisa dihentikan? Kalau jadi konten creator itu yang baik, yang berakhlak, yang bermoral ngapa sih? Tuhan ngasih otak, ya mbok di pakai, jangan hanya disimpan berdebu nggak terpakai!”

Beneran harus sabar, lihat tindakan kek gini. Membuktikan akhlaknya itu nggak ada. Iya gua tahu, semua orang mungkin ngganggap loe cantik, gaul, keren, penuh dengan prestasi, tapi kalau sampai melakukan prank lelang keperawanan, itu kalau nggak goblok apa lagi?

Sorry ya, gua ngomong goblok terus. Soalnya, gua nggak tahu harus ngatain apa lagi melihat tindakan kek gitu di kondisi kek gini. Ya tuhan, malaikat bakalan bingung nyatat tindakan kek gitu. “Bismillah, lelang keperawanan…”

Gua nggak paham dengan kata bismillah. Loe mau maksiat, loe mau bikin viral dan mungkin loe sadar juga hal itu pasti bakalan viral, tapi loe nyebut bismillah di situ. Beneran, gua nggak sanggup lagi harus ngomong apa. Kebangeten!

Gua setuju kalau netizen bully mbaknya untuk sementara waktu. Biar mbaknya sadar tindakan yang mbaknya lakukan itu parah. Nggak bisa dimaklumi gitu aja.

BACA: Dunia Penuh dengan Prank

2 M, Dapat Apa?

Gini, di zaman ini cara dapat menikmati keperawanan itu gampang banget. Fakboi-fakboi yang pacaran, minta jatah, itu adalah salah satu cara untuk cari keperawanan tanpa ketahuan dan tanpa acara lelang-lelangan segala.

Siapa yang bisa njamin kalau mbaknya masih perawan? Nggak ada kan? Terus logikanya siapa sih yang mau bayar 2 M cuma untuk merasakan lezatnya tubuh mbaknya. Benar-benar nggak jelas banget deh! Dengan angka segitu, manusia bisa membeli istana bro! Masak ya ada orang normal yang mau beli tubuh itu dengan harga segitu?

Benar-benar semakin terlihat kalau pelaku ini cara sensasi aja. Cuma bikin viral agar lebih banyak traffic orang yang mengikuti dan mengunjungi akun instagramnya. Biar bisa endors atau apapun lah itu. 

Uang 2 M itu, kalau dibuat ke tempat lokalisasi atau tempat-tempat malam, itu sudah bisa dipakai untuk berkali-kali. Kalau untuk membeli keperawanan, banyak banget yang harganya nggak sampai segitu. Apa sih bedanya tubuh seorang yang populer dengan orang yang nggak populer?

Goblok beneran! Sumpah, gua nggak tahu lagi. Segitunya pengen viral dan terkenal. “Udah to, kalau udah terkenal udah, bantu sebisanya. Uang seribu dua ribu dengan ikhlas itu lebih berharga untuk tenaga medis, daripada konten-konten pengen viral kek gitu. Akhirnya juga nggak bantu tenaga medis, malah dihujat netizen!”

Puji tuhan, kalau dia mengklatifikasi mau bantu 1000 sembako setelahnya. Tapi, hal itu nggak bakalan bisa menghapus rekam jejak, kalau mbaknya pernah melelang harga diri berupa keperawanan kepada semua orang.

Pelajaran Bagi yang Lain

Capek gua emosi sama nggoblokin si pelaku. Nasi udah basi, kayu udah jadi arang, dan kertas udah jadi abu. Hanya pelajaran yang bisa kita ambil, nggak ada yang lain. Bagi wanita-wanita lainnya, “Nggak usah ditiru! Nggak usah ikut-ikut bikin konten yang aneh dan menghancurkan harga diri kalian sendiri.”

Kalau nggak terkenal ya udah. Kenapa sih pengen banget terkenal? Padahal jadi terkenal itu susah. Apalagi terkenal gara-gara hal yang buruk, lebih susah!

Di saat banyak artis porno tobat dan kepengen memperbaiki nama baiknya tapi nggak bisa, kalian nggak perlu cari kehinaan itu di media sosial. Percuma terkenal, tapi dengan cara yang nggak baik.

Udah, tindakan goblok stop pada mbak itu aja, yang lain jangan ikut-ikutan niru apalagi buat viral dengan cara yang lebih goblok. Negara ini sudah banyak terhiasi dengan orang-orang nggak jelas, jangan ikutan nggak jelas! Beneran!!!

Nggak usah pakai acara ingin bantu dengan cara salah kek gitu. Sebisa kalian ajah! Semampu kalian ajah! Jangan bikin viral dengan merendahkan harga diri kalian di kondisi kek gini. Kondisi dimana orang-orang sedang sibuk berselancar di media sosial.

Emosi Gua!

Kalau kalian udah merasa hina, ya stop! Makan kehinaan itu untuk kalian sendiri. Jangan disebar, diviralkan, sehingga menyulut emosi banyak orang. Plis deh, orang merasa banyak dosa itu tobat, bukan malah semakin menjadi-jadi.

Capek gua menghujat terus, okay lah itu aja cuitan kali ini. Kalau gua salah, nggak papa! Kalau loe nggak setuju, nggak masalah! Gua nggak peduli amat. Kalau nggak setuju komentas nggak papa. Gua itu sebenarnya nggak pengen buat masalah sama siapapun.

Tapi ya mbok tahu diri gitu lo, semua orang yang mengaku manusia dan terbukti udah gede, pasti tahu kan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak? Ada otak harusnya dipakai kan?

Haduuh! Bisa cepet tua kalau emosi terus kek gini gua. Semoga tidak timbul lagi kegoblokan-kegoblokan yang lainnya. Semoga netizen semakin cerdas mengambil mana konten yang baik dan membuang konten yang buruk.

Salam stop kegoblokan unfaedah, sampai ketemu di artikel selanjutnya… Loe suka gua nggak peduli, loe nggak suka gua juga nggak peduli. Terserah loe mau share atau nggak, gua nggak peduli amat. Sekian….

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Lelang Keperawanan: Prank Pengen Viral Aja!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *