Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Masa Depan Covid-19, Kajian Konstruksi Futuristis

2 min read

Masa Depan Covid-19

Bagaimana masa depan Covid-19? Semua media rasanya tak memiliki kejenuhan untuk mengulas topik yang satu ini. Pemerintah setiap hari meng-update statistik rantai penularan dan kesembuhan dari Covid-19.

Tujuannya: agar masyarakat semakin was-was dan melakukan tindakan preventif. Tapi bangsa Indonesia bukanlah masyarakat angguk-angguk padam. Kreativitas tanpa batas mereka menembus hingga relung tulang rusuknya.

Kekangan protokol kesehatan dan himbauan Work from Home, PSBB, dan lain-lain, membuat tubuh mereka berontak menuntut haknya untuk diajak jalan-jalan, mencari hiburan, dan bekerja mencari penghidupan.

Seringnya berita update Covid-19 itu, malah cenderung membuat masyarakat bosan dan nggak peduli lagi. “Terserah situ lah, mau pasiean nambah, sembuh, atau mati, nggak ada efeknya bagi kehidupan gue.”

Melihat perilaku masyarakat yang semakin hari semakin biasa aja, saya menyimpulkan: pasti ada sebuah gambaran masa depan, bagaimana Covid-19 ini selesai. Tentunya dengan tetap melihat realita yang ada.

Perspektif, Stigma, dan Interpretasi

Perspektif masyarakat akan Covid-19 hari ke hari makin layu. Kekhawatiran itu semakin hilang seiring perkembangan jumlah pasien sembuh. Pikirnya, “Halah, kan cuma dikit persentase kematian, jadi meski tertular pun nggak jadi masalah. Wong tinggal isolasi aja.”

Karena sudut pandang ‘mengentengkan’ itu, stigma negatif masyarakat mungkin turun. Pasien Covid-19 tidak lagi ditakuti sebagai ujung tombak penularan. Namun, disisi lagi masyarakat semakin bodo amat.

Sehingga pada akhir konklusi logika masyarakat timbul istilah, ‘back to normal’. Dengan narasi, “Halah, ternyata aktivitas seperti biasanya tidak masalah. Asalkan tidak dites, nggak bakal ketularan kok. Nah, jangan-jangan benar apa kata orang kalau Covid-19 hanya konspirasi aja.”

Perspektif, stigma, dan interpretasi yang terdistorsi ini, menimbulkan usaha kita semua selama hampir 4 bulan melawan Covid-19 ini rasanya agak sia-sia. Inilah alasan kenapa dari hari ke hari, pasien Covid-19 bertambah dan parahnya orang-orang semakin nggak peduli dengan protokol kesehatan.

Masa Depan Covid-19

Jadi sebenarnya, tulisan ini adalah bentuk ramalan dari tinjauan realita yang ada. Ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan, bagaimana akhir dari Pandemi Covid-19 ini. Setidaknya, saya menemukan empat kesimpulan.

Kesimpulan 1: Stagnasi Media

Akhir Pandemi ini diawali dengan redupnya pemberitaan media. Sebab, sudah sangat jelas. Jiwa dari kengerian pandemi tampak nyata di media. Realita tidak demikian. Masyarakat tampak biasa saja, apalagi di daerah desa pelosok.

Jadi, seumpama pemberitaan media berhenti, maka Covid-19 akan terasa berhenti. Maka otomatis herd immunity benar-benar dijalankan. Semua orang bekerja seperti biasa, walaupun tertular dianggap sakit biasa, dan sembuh sendiri tanpa diketahui.

Prediksi ini, dalam skala ekstrem bisa dicoba. Kalau pasien Covid-19 bisa sembuh dengan sendirinya, kenapa harus diperlukan tes, pengobatan, dan perawatan segala. Coba saja biarkan masyarakat hidup seperti sedia kala, dicoba, “Mematikan nggak sih Covid-19 ini?”

Kesimpulan 2: Distorsi Problem

Dalam artian, fokus masalah dunia teralihkan. Covid-19 tersepelekan gara-gara ada masalah yang lebih besar. Perang misalnya. Atau kalau nggak gitu, invasi Alien. Wkwkw…

Pokoknya, harus ada hal yang melebihi pandemi sehingga fokus masyarakat teralihkan. Sorot mata publik beralih pada masalah baru, sehingga Covid-19 terlupakan.

Distorsi problem ini bisa terjadi karena masyarakat adalah komunitas yang gampang sekali teralih fokuskan. Intinya tetap pada kontrol media sebenarnya. Namun, tetap harus ada objek besar yang lebih potensi viral dan logis yang menggantikan Covid-19.

Kesimpulan 3: Vaksin Ditemukan

Prediksi kedua, ilmuwan berhasil mengembangkan vaksin dan disebar ke seluruh masyarakat. Namun, uji coba ini bakalan menimbulkan banyak pro dan kontra, sebab terdoktrin keras dalam otak masyarakat sebuah stigma buruk akan vaksin Covid-19.

Vaksin ini bisa jadi solusi dari Pandemi Covid-19. Tapi dengan melihat konflik antar ilmuan, rasanya tak ada kemungkinan vaksin ini diadakan. Sebab penemuan vaksin bukan hanya tentang mematikan virus, akan tetapi pengaruh jangka panjang dan doktrin media.

Jadi, kecil kemungkinannya kalau vaksin menjadi solusi dari akhir Pandemi Covid-19.

Kesimpulan 4: Kiamat

Akhir-akhirnya banyak terjadi revisi kiamat oleh panitianya. Katanya tanggal ini, eh nggak jadi, diundur, terus nggak jadi lagi. Sampai-sampai orang mikir, “Halah, pasti ngundur lagi ni. Niat sih mau tobat, tapi nanti dulu aja lah…”

Prediksi terakhir ini adalah prediksi final. Covid-19 akan selesai ketika kiamat terjadi. Siapa yang bakalan sangka? Tuhan nggak pernah ngasih tahu kapan kiamat terjadi.

Bagi orang yang nggak percaya kiamat, ya anggap saja mati. Covid-19 akan selesai ketika kalian meninggal dunia. Sebab di alam kubur, nggak ada media yang memberitakan Covid-19.

***

Itulah beberapa konstruksi masa depan Covid-19 dengan melihat realita yang ada. Belum pasti sih, masih ada kemungkinan banyak akan terjadi beberapa kejadian diluar dari empat kesimpulan itu.

Kemungkinan paling besar ada di kesimpulan 1. Sebab dengan stagnasi media, Covid-19 akan redup dan sosial akan kembali seperti semula. Apalagi herd immunity masyarakat kuat. Tentunya juga harus diimbangi dengan otak yang cerdas.

Ini semua hanya sebatas teori sih, muncul dari dugaan yang dikaji lebih mendalam. Sebab di setiap koridor sektor kehidupan, interpretasi akan masa depan Covid-19 pastilah sangat berbeda. Bagaimana menurut kalian?

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *