Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Ngalor Ngulon, Menikahlah Atas Dasar Logika dan Agama

3 min read

ngalor ngulon

Tak perlu basa-basi, “Aku jan sama sekali nggak percaya dengan mitos ngalor ngulon yang bikin suami istri kena masalah pasca-nikah.”

Kali ini, saya akan membahas mitos ngalor ngulon (utara barat) ini dari segi yang lebih logis, ketimbang doktrinis. Menurut kepercayaan sebagian orang Jawa, nikah ngalor ngulon (dibaca: arah rumahnya utara barat) bisa menimbulkan masalah.

Ada yang bilang bikin orang tuanya meninggal, keluarganya kacau, nggak bahagia, penuh masalah, dan lain sebagainya.

Bullshit!

Kenapa demikian?

Satu Fakta yang Nyata

Saya punya saudara, menikah dengan arah ngalor-ngulon. Tapi hidupnya merasa biasa aja. Bahkan sudah punya dua anak dan bangun rumah. Konflik besar nggak terlihat juga tuh.

Kalau konflik kecil mah sudah pasti ada. Masa menyatukan dua insan, terus nggak ada crash sama sekali. Pasti ada masalah, meskipun kecil. Apakah ortunya saudara saya tadi meninggal?

Gak! Nyantai aja kog saya lihat…

Satu Fakta Lagi ya

Saya punya temen, ibu sama bapaknya ngalor ngetan (utara timur). Tapi cerai!

Lho, kan…

Ternyata kog nggak mesti. Mentang-mentang arahnya nggak ngalor ngulon, terus aman gitu dari konflik? Tidak sesimple itu ferguso!

Cek dari Islam

Saya nggak nemu juga dalil yang mengatakan kalau nggak boleh arah ngalor-ngulon. Ya, berarti dari agama islam, tidak mempermasalahkan. Kalau agama lain nggak tahu ya..

Lantas, kog bisa mitos ini begitu mengakar kuat dalam benak beberapa orang ya?

Sampai-sampai diyakini, dipegang sepenuh hati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anaknya mau nikah sama anak orang, tapi arahnya rumahnya ngalor ngulon. Otomatis Putus! 

Kepethuk mitos, otomatis kandas. Wkwkw…

Sabar ya, yang mengalami hal ini. Saya buat artikel ini juga buat cari pembenaran, “Eh, siapa tahu jodoh saya ngalor ngulon sama saya. Wkwkw, b-e-r-c-a-n-d-a…”

Gini Penjelasanya, Biar Tahu

Entah dari mana mitos yang satu ini, tapi karena sudah kadung dipercaya. Jadi, harus benar-benar ditanggapi dengan baik.

Di bawah ini adalah beberapa tips untuk merubah mindset ini, sehingga kamu bisa lebih santai ketika (seumpamanya) bernasib ngalor-ngulon dengan calon suami/istri kamu.

1. Mainan Pikiran

“Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya.” Kata Rasul Muhammad yang diriwayatkan Ibnu Majah. (kualitas hadits ini saya tidak paham, monggo yang sempat dicek,)

Meski ucapan rasul Muhammad ini dalam konteks penyakit penggugur dosa. Namun masih ada korelasinya dengan logika ngalor ngulon.

Jadi, kalau ungkapan, bisikan, kata orang, serba-serbi, omongan gjls, dan mitos tentang ngalor-ngulon benar-benar merasuk ke dalam otak, maka nggak salah akan beneran terjadi.

Kata motivator, “Semangati dirimu agar semangat, pikirkan yang positif agar hidupmu positif, katakan yang baik agar kedepan kamu sukses.”

Sebab pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Pikiran kita akan menarik faktor-faktor yang menyebabkan apa yang kita pikirkan itu bisa terjadi.

Semua tentang pikiranmu sendiri…

2. Percaya adalah Kenyataan

Pernahkah kamu berharap kepada Tuhan, meminta sesuatu dan akhirnya terkabulkan?

Doa adalah harapan, harapan adalah menangguhkan kepercayaan, dengan kepercayaan sesuatu bisa terjadi. Permasalahannya adalah: “Perkataan adalah doa.”

Semakin sering mulut dan hatimu berkata bahwa mitos ngalor-ngulon itu benar, ya itu bakalan jadi doa. Tentu setiap doa akan dikabulkan, yaitu pada waktu yang tepat.

Syaratnya dikabulkan adalah masuk akal, nah dampak-dampak kesengsaran pasca nikah yang dipercayai (karena ngalor ngidul) adalah sesuatu yang logis dan bisa terjadi semua.

Jadi otomatis, bisa terkabulkan juga.

Entah kamu percaya atau nggak, “Percaya = kenyataan.”

3. Kok Terlalu Peduli

Konstruksi pikiran masyarakat adalah satu faktor yang sangat penting. Maling bisa jadi profesional jika dididik dari lingkungan maling profesional.

Jika kamu tidak percaya pada mitos, ya sudah. Itu benar…

Tidak perlu memikirkannya sampai ke hati dan akal. Jadi bagaimanapun konstruksi masyarakat yang membangun konsep berpikirmu tentang ‘ngalor-ngulon’, Acuhkan!

Karena bila kamu tanggapi, alam bawah sadar akan bekerja untuk memikirkannya. Nah, hal ini yang membuat mitos itu akan bekerja pada kamu.

Jadi, kok terlalu peduli? Wes tho, biarkan…

Stop! Jangan Dilawan

Meski saya tidak percaya sama sekali dengan mitos ini, tapi bukan berarti saya melawannya dengan mempropagandakan. Sebab jika saya melawan dengan terang-terangan, maka secara nggak sadar, alam bawah sadar saya ikutan memikirkan itu…

Jadi gini,

1. Masyarakat itu Jangan Dilawan

Jika kamu tak punya banyak uang untuk menyumpal mulut semua masyarakat, jangan berharap kamu menang melawan komentar dan hasutan mereka.

Jadi, jangan dilawan. Kalau nggak percaya mitos, ya udah. Kalau mereka percaya, ya udah. Urusan mereka…

2. Menikah itu Ibadah

Sudah saya mewawancarai orang berilmu yang sudah meteng nikah, hampir semua ilmu tentang menikah, hubungan rumah tangga, dan anak sudah dipelajari, tapi apakah lantas masalah keluarga tidak ada?

Tetap banyak!

Kalau menikah untuk ‘buat anak’, nuruti gengsi, biar gaya, biar kaya, ya hasilnya adalah konflik n masalah. Menikah itu rasanya cobaan, ‘Jadi jok mikir senenge tok bro n sist!’

Kalau nikah gara-gara napsu, ya ngalor ngulon besar kemungkinan terjadi. Beda kalau niatnya ibadah, ya agama yang ngelindungi. Ya nggak?

3. Diakali jangan Dimaki-maki

ketika kamu sudah kadung cinta dan bener-bener nikah atas dasar ibadah dan melanjutkan keturunan tapi kepethok ngalor-ngulon. Rileks, tarik nafas dalam-dalam, tahan 20 jam…

b-e-r-c-a-n-d-a . . .

Mungkin, kamu bisa buat rumah dengan arah yang berbeda. Kalau nggak mampu, numpang sama sahabat dekat yang arahnya nggak ngalor-ngulon.

Kalau tetep nggak boleh karena ‘pakai standar kelahiran’, kamu harus cek, kamu dilahirkan dimana. Di rumah atau rumah sakit (Atau mungkin rumah mbah dukun beranak).

Cari sekat dimanapun, asalkan kamu bisa terhindar dari konsep mitos ngalor ngulon itu.

Jadi, jangan galau, merasa pupus, terus takut nikah. Ya, mungkin harus sedikit memutar otak untuk mengalihkan ‘apa kata orang’.

4. Cari Lingkungan yang Aman

Ini adalah hal yang musti diperhatikan. Lingkungan…

Jangan biarkan kamu dipengaruhi lingkungan penuh dengan mitos. Saudara dan bahkan paman saya keluarganya biasa aja (meski ngalor-ngulon), sebab di lingkungan saya nggak ada mitos-mitos kek gitu.

Jadi, aman dari pemaksaan kerangka berpikir masyarakat.

Kalau keluarga pasanganmu percaya, ya jangan hidup di situ. Kalau keluargamu yang percaya, setelah nikah jangan hidup di situ. Kalau dua-duanya percaya, buat rumah agak jauh… (Gampang banget ya, wkwk).

Ingat! Kualat itu Dari Sini Lhoo…

Ketika ortumu percaya kalau nikah ngalor ngulon nggak boleh, terus kamu bentak-bentak sehingga membuat mereka jengkel.

Nah, disitulah titik mitos ngalor ngulon bisa bekerja…

Jadi, kalau ortumu percaya, lebih baik turutin. Mungkin bisa cari yang lain (gampang banget yek…).

Kalau kamu sudah cinta buaangeeett dengan kekasih pujaan, separuh jiwa, dan hidup matimu, ya kamu harus pikirkan bagaimana cara dapat ridho mereka, tanpa harus memaksa dan membuat hati mereka jengkel…

Ingat, “Ridha Allah bersama ridha orang tua”.

Kesimpulan

Jangan durhaka, nikahlah atas dasar agama dan logika. Baru itu gaiyaaa…!*

(*saya sok bijak,)

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Ngalor Ngulon, Menikahlah Atas Dasar Logika dan Agama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *