Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Overthinking? Nggak Masalah, Asal…

3 min read

Overthinking, Solusi, Sebab

Melihat ada kata overthinking di trending twiter, membuatku sadar, “Ternyata banyak orang di luar sana yang merasa takut akan masa depan mereka. Masa depan yang belum terjadi.”

Pernah nggak kalian terlalu memikirkan suatu hal? Lebih-lebih hal buruk, seakan-akan bakalan terjadi menempa diri kalian. Terkadang sampe terbawa mimpi atau mengganggu kegiatan kalian.

Dulu pas zaman SMA, aku sering banget seperti itu. Sebab angan-anganku terlalu tinggi dan tak diimbangan dengan kepercayaan yang penuh akan takdir Tuhan.

Gara-gara passion nggak diimbangin dengan action. Takut gini lah, takut gitu lah. Lantas, kenapa sih kita bisa merasa overthinking (mikir berlebihan)?

Kurang Kerjaan (Gabut Pol)

Gerakkan tubuh

Ketika tubuh kita nggak dipakai untuk bekerja, bersibuk diri melakukan suatu hal, hanya direbahkan, dan didiamkan terlalu lama. Maka energi tubuh kita akan dialihkan ke pikiran.

Karena nggak ada yang dikerjakan, jadi pikiran terus bergelut. Berangan-angan, berimajinasi terlalu kompleks, hingga ke hal-hal buruk.

Gunakan tubuh untuk beraktivitas. Terserah mau ngapain, pokoknya positif. Olahraga misal. Biar energi dalam tubuh nggak terlalu difokuskan ke pikiran.

Terlalu Peduli

Jangan Terlalu Peduli

Mikir berlebih, berarti kita terlalu peduli. Sekedar peduli (pada hal-hal baik tentunya) itu nggak masalah. Tapi kalau terlalu peduli, pasti bakal jadi masalah.

Misal nih, kalian terlalu peduli dengan temen lawan jenis, mungkin aja bakal bisa menjalar ke masalah cinta. Bukankah seperti itu?

Maksudku, kalian terlalu mikirin orang lain. Peduli banget dengan urusan dan kondisi orang lain. Padahal itu nggak baik.

Sebab, sikap seperti ini sering kali menyebabkan rasa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Akhirnya insecure, rendah diri, dan takut ngapa-ngapain sebab nggak pede.

Terkadang kita perlu bodo amat, nggak urus, dan lomoh dengan kehidupan orang lain. Biarkan mereka bahagia. Terpenting, jangan jadi pengganggu, cukup.

Ribet Banget

Buat sesimpel mungkin

Apapun memang baik kalau direncanakan. Planning itu penting. Tapi bukan segalanya. Planning tanpa beginning itu pecuma.

Maka dari itu, apapun yang ada di otak kita (yang kita pikirkan), jangan dibiarkan terus-terusan bertumbuk dan mengumbruk. Lama kelamaan, bakalan penuh dan meledak.

Setelah meledak pasti kacau, mbulet, dan rumit (akhirnya lelet dan bingung). Pikiran bukannya menghasilkan alternatif solusi, tapi malah kebingungan bertindak sebab takut akan hal ini dan itu.

Padahal, make it easy, everything gonna be okay. Enjoy it all. Detail tapi fokus, bukan detail semua diurus. Tinggalkan dulu yang bukan prioritas, selesaikan yang urgen dulu. Ya nggak?

Kita hanya perlu merencanakan sedetail mungkin, lantas buang ke tulisan. Jangan ditumpuk dalam otak. Kalau nggak gitu buang ke otak temen kalian, biar kalian nggak mikir sendiri.

Meski otak kita dipercaya memilki space memori yang kuat, kita realistis aja: Otak manusia punya batas capeknya. Memindahkan file-file berat dalam otak kita, pasti berpengaruh.

Kebanyakan Informasi

Banjir Informasi

Media sosial adalah banjir bandang arus informasi. Terlalu sering mengaksesnya (apalagi tanpa keperluan) pasti bikin pikiran kita melayang kemana-mana.

Akhirnya menciptakan perbandingan. Kepingin kayak orang itu, tapi kondisi kayak gini. Mikir, mikir, mikin, buntu, akhirnya stress. Kita perlu banget membendung arus informasi itu, agar tak merusak segalanya.

Akan jauh lebih baik, fokuskan informasi. Maksudnya gimana? Jangan buka media sosial. Cukup buka buku atau buat list topik yang kalian fokuskan dalam satu hari.

Informasi yang bervariasi yang dimasukkan dalam jangka waktu yang terlalu dekat itu nggak baik. Apalagi, hanya secuil-cuil aja. Otak kita nggak bisa membentuk kerangka yang pas untuk dijadikan satu file. Sebab nggak nyambung informasi satu dengan yang lainnya.

Kalau baca buku, bisa membuat otak kita lebih nyaman ketimbang info dari media sosial. Sebab pembahasannya fokus satu topik.

Boleh aja bermain media sosial, bagus-bagus aja. Tapi kalau over dan berlarut-larut, pasti nggak baik.

Takut Gagal dan Komentar

Jngan coba bungkam mulut orang lain.

Yang muda yang berkarya, katanya. Kegagalan adalah pembelajaran, katanya. Habiskan gagalmu di usia muda, agar habis tak bersisa di hari tua, katanya.

Takut gagal, membuat kita was-was dan cenderung bersiasat, “Pokoknya jangan sampai gagal.”

Padahal, terlalu banyak bersiasat, malah bikin kerjaan kita nggak kelar-kelar. Hirup nafas dalam-dalam, mulailah. Pikiran pasti menyesuaikan.

Mulut orang lain pasti nggak diem. Ngoceh gini dan gitu. Apalagi ketika kita gagal. Wadooh, bla-bla-blah pokoknya. Dan parahnya itu nggak bisa kita bungkam.

Cukup biarkan, lama-lama pasti capek juga. Dengarkan hal lain yang lebih bermanfaat. Kalau kalian banci percekcokan, mending stop dengarkan komentar.

Beda lagi kalau kalian bermental bar-bar yang suka war. Monggo-monggo saja bertarung komentar, asal kalian tahu dengan cara itu kalian bisa berkembang dan memperbaiki diri.

Ikhtiar, Berdoa, Tawakkal

Usaha, berdoa, tawakkal

Nggak percaya dengan takdir Tuhan adalah salah satu sebab overthinking. Kita terlalu sombong, semua hal yang di dunia ini rasanya harus bisa kita kendalikan. Padahal nggak bisa kek gitu.

Rumusnya jelas, usaha, minta, udah. Proses berpikir masuk pada ikhtiar, itupun sub dari rencana. Jadi tak ada rumus berhasil gara-gara mikir berlebih.

Kalau usaha sudah, minta ke Tuhan juga sudah, ya udah. Selesai, nggak usah mikir gini dan gitu. Apapun yang didapat adalah pencapaian, termasuk kegagalan. Hidup itu dua kebaikan, “Berhasil harus bersyukur, gagal harus jadi pelajaran.”

Berpikirlah sesimpel mungkin, maka hidup kita bakalan simpel. Misal nih, tetangga beli mobil, terus kalian panas. Simpel aja, buat apa sih mobil kalau hanya dipajang di depan rumah?

Temen kalian berprestasi tapi kalian biasa-biasa aja. Simpel, “Memang belum waktunya, aku pasti punya jalan ninja sendiri. Kan semua bakalan indah pada waktunya.”

Jangan terlalu peduli dengan pencapaian orang lain. Cukup senyumin dan fokusin diri untuk jadi lebih baik dari hari kemarin.

Kesimpulan

Overthinking itu manusiawi. Hanya perlu ditindaki dengan menegaskan pada diri sendiri. Agar kondisi ini tak mengganggu kesehatan ragawi. Berlebihan itu ndak baik.

Jadi, overthinking itu nggak masalah, normal-normal aja, asal tahu gimana cara menyikapinya. Asal tak berlarut-larut dan segera bangkit untuk beginning, semua akan baik-baik saja.

Sampai ketemu di artikel selanjutnya, jangan lupa kasih komentar kalau perlu. Salam #sayang dari orang insecure yang kurang bersyukur.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Overthinking? Nggak Masalah, Asal…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *