Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Palestina Hilang dari Peta? Memang Seharusnya…

2 min read

palestina hilang

Palestina hilang kembali memanas selah isu ini pernah ada di tahun 2016 silam. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Melihat media sosial ramai memberitakan Palestina, orang-orang pada iba dengan Palestina, hati manusia benar-benar tergores ketika melihat anak-anak kecil yang nggak tahu apa-apa dibakar, dibom, dan terbunuh.

Alhamdulillah, semua orang pada lihat sekarang. Meski sebenarnya konflik ini sudah berlarut-larut puluhan tahun. Sejak perang dunia kedua selesai. Bahkan sebelum itu…

Palestina Hilang, Kenapa Bisa?

Bagi seorang mukmin, tidak boleh baginya mengatakan kalau Palestina hilang. Palestina harus masih tetap ada sebagai salah satu kota suci agama islam. Setelah satu lihat di Google Maps, memang Palestina hilang dari peta dunia.

Tapi tidak boleh hilang dari hati dan jiwa seorang mukmin. Palestina adalah negara yang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Palestina adalah saudara kita, seiman dan se-manusia.

Google Maps milik siapa? Google milik siapa? Tidak perlu heran jika Palestina tidak ada. Karena Google bukan miliki umat islam. Otoritas penuh bagi mereka untuk mengubah peta dunia lewat Google Maps.

Fokus ke Kemanusiaan yang Hilang

Konflk Israel – Palestina adalah konflik dan perang panjang dan menahun. Dasar perang ini nampak terjadi sebab wilayah semata. Palestina yang menyimpan Masjidil Aqsho, dan menjadi sebuah daerah suci tiga umat beragama.

Pertanyaannya, jika konflik perebuhan ini didasarkan wilayah, wilayah didasarkan pada agama, apakah hal ini dibenarkan? Tentu saja tidak.

Pada dasarnya, agama tidak akan mengajarkan konflik. Jikalau agama benar dilaksanakan, maka mustahil konflik bakalan terjadi. Kalian tentu tahu apa arti a dan gama.

Jadi, kenapa konflik Palestina ini nampak terlihat didasarkan atas agama.

Mandat Britania Atas Palestina

Mungkin dari sinilah konflik terjadi. Meski bila ditelisik lebih jauh, maka sumber konfliknya tentu masih ada. Tetap saja berurusan dengan politik dan pergulatan orang-orang berkepentingan lainnya.

Atas mandat ini, eksodus orang-orang Yahudi berjalan lancar. Populasi manusia di Palestina membengkak. Tentu gara-gara ketambahan orang-orang Yahudi. Rakyat Palestina tentu saja menolak dan sempat terjadi Revolusi Al-Buraq.

Sebab bangsa Yahudi menyerang Masjid Al-Aqsho dengan lindungan tentara Britania yang pro-dengan orang-orang Yahudi. Dari sini, nampak jelas yang salah siapa bukan?

Palestina Hilang, Bukti Dunia ini Dikuasi Seseorang

Apakah Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap pembelaan Palestina? Entah ketika Dubes Amerika Serikat di Israel dipindah atau sekarang ini. Bagi pemerintah Indonesia, mungkin pembelaan Indonesia terhadap Palestina mungkin sudah amat besar, tapi apakah hal itu berpengaruh?

Tentu. Tapi pengaruh itu belum cukup untuk mengalahkan orang-orang yang berkuasa. Orang-orang yang melindungi eksodus Yahudi, orang-orang di balik Mandat Britania, mereka sebagai negara pelaku penjajahan begitu pede dan berani mengakuisisi banyak wilayah.

Hanya dengan organisasi dan beberapa lembar konsesus semata. Hebat bukan? Inilah the power of orang dalam. Kalau sebagai Yahudi berkepentingan itu memiliki orang dalam di organisasi dan perserikatan dunia, maka gampang saja melakukan akuisisi.

Analoginya gini, kalau PBB adalah organisasi negara-negara di dunia, mengusulkan persatuan, perdamaian, dan cinta kasih sayang, kenapa ada Hak Veto? Kok enak mereka bisa membatalkan ketetapan meski sudah disetujui oleh negara-negara lain.

Logikanya, kalaupun semua negara yang tergabung dalam PBB membuat ketetapan untuk membebaskan Palestina dari Israel dan Mandat Inggris, apa boleh dikata kalau 5 negara pemilik hak veto itu menolak? Selesai sudah, nggak bakalan ketetapan ini terjadi.

Kalian tahu, semua nampak seperti mainan belaka, senda gurau yang mengorbankan jutaan nyawa yang mati karena disembelih, dibakar, dibom, ditempak, dan diracun.

Terus Bagaimana?

Orang-orang yang geram, gregetan, dan sudah nggak tahan dengan segala konstitusi ini, mungkin bakalan terjun langsung ke Paletina. Disana membantu sebisa mungkin. Tapi kalau kategori manusia seperti kita? Manusia bodoh yang hanya bisa emosi di media sosial saja.

Manusia yang cinta dunia, takut mati, dan wegah jihad, gimana caranya mau bergerak?

Mungkin, kita hanya bisa mendesak pemerintah untuk berbuat dan berkontribusi terhadap konflik di Palestina. Mau gimana lagi? Nggak mungkin mau ngobrak-ngabrik kantor PBB atau LBB. Nggak mungkin tanpa persatuan, manusia bisa sadar jika saudara se-manusia mereka sedang teraniyaya di Palestina.

Dan pesatuan itu, bakalan sulit terjadi. Jangankan di Palestina, kalian mungkin sudah muak dengan segala konflik politik di negara sendiri. Jadi, tetap semangat menyebarkan pembelaan. Marahlah di media sosial, itu lebih baik daripada diam merasa nggak bisa ngapa-ngapain.

Tapi yang paling penting, “Berdoalah untuk kebaikan islam dan umatnya”

Bukan untuk kepentingan Palestina secara spesifik, akan tetapi untuk kepentinganmu sendiri sebagai umat islam. Allah bakalan menilai, “Dimana sekarang engkau memihak?”

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *