Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Pendidikan? Jangan-jangan Konspirasi dan Permainan Belaka

10 min read

Bagi lo yang klik artikel ini gara-gara terkesan sama judulnya, jangan tersinggung ya. Bagi lo yang penasaran dengan siapa penulisnya, maaf, gua nggak bukan siapa-siapa, manusia yang full false perlu pembenahan teruuss. Namun, bagi lo yang memang berniat baca sebab ingin tahu isi dari artikel ini, semoga semua sisi positif dan pengetahuan dari artikel ini bisa menambah cakrawala pengetahuan kalian.

Pertama, ini adalah artikel santai untuk mengisi waktu luang kalian. Jangan percaya tulisan gua di sisi manapun, kalau lo nggak punya dasaran lainnya. Cuitan ini adalah hasil kegabutan gua, jadi kalau salah ya maklum aja. Hihihi…

Kalian mungkin langsung mikir, “Ni penulis nggak niat banget sih! Nggak tanggung jawab banget sih.”

Okey, nggak masalah. Memang nggak niat-niat amat kayak sebagian pejabat merawat kehidupan bangsa dan negara ini. Kalau masalah tanggung jawab, gua tanggung jawab kok. Segala masukan bakalan gua tampung, kalau lo tanya, gua jawab (via e-mail bisa). Pokoknya gua maunya diskusi, nggak mau debat. Kalau lo ngajak debat, gua angkat tangan, “Nggak papa lah, njenengan aja yang menang, njenengan hebat, jenius, tak terkalahkan.”

Kedua, kalau kalian percaya apa yang gua tulis, jangan percaya dulu. Cari sumber lain, sebab ini nggak bersumber. Hehe… Tapi kalau kalian nggak percaya, gua bersyukur, berarti ada proses berpikir dalam otak kalian. Gua nggak menampung hujatan, kalau nggak terima, silahkan cari kebenaran kalian sendiri, jangan seret-seret idealisme gua ke lingkatan ketidakterimaan lo.

Anggap aja, ini artikel nggak bermutu, hasil dari kegabutan, hiburan, fiktif, dan pokoknya nggak niat banget. Awokaka… Ini prolog kok lama banget sih?

Kalian mulai bosen baca? Nggak papa, silahkan tinggalkan artikel ini. Hahaha…. Kita masuk ke pembahasan yang serius banget. Siapkan penglihatan, otak, dan hati. Bernafas panjang, inilah pendidikan dari logika gua.

Tidak ada Kebenaran

Gua sekarang nggak ngomongin agama lho ya. Sebab agama itu berdalil, dalil menjadi kebenaran mutlak sebab ada iman dalam diri seseorang. Kalau dalam agama, kebenaran itu wajib ada, sebab ada pembawa risalah yang menunjukkan jalan ketuhanan secara eksklusif.

Nah, sekarang gua ngomongin tentang kebenaran alam, sosial, dan aspek-aspek peradaban lainnya (coba ubah pola pikir lo jadi agak sekuler, bukannya gua ngajak sekuler). Logika ini jauh lebih mudah dipahami jika kalian agak sekuler. Tenang aja, gua nggak bahas aqidah keagamaan kok.

Menurut lo benar itu apa? “Tidak salah, sesuai dengan keadaannya, tidak bohong, dapat dipercaya, dan sebagainya.”

Gini, gua kasih tahu, kebenaran adalah sebuah konsep penerimaan logika terhadap sesuatu. Terlepas dari doktrin agama, hakikat kebenaran itu tak ada. Semua hal berada di tengah-tengah, mengambang sebagai sesuatu yang “terserah kalian interpretasi seperti apa.”

Stop! Jangan emosi dulu ya. Gua belum lanjutin. Nah, konsep benar dan salah itu muncul ketika sudah lo terima dan lo telaah dengan informasi yang sudah lo percayai sebelumnya. Dari sini, muncul konsep pendapat benar. Menurutmu benar, tapi belum tentu orang lain.

Konsep benar itu bakalan ada jika lo dengan lawan bicara lo sudah sepakat akan suatu hal. Dengan kata lain, kebenaran adalah kesepakatan. Contohnya,: sekarang gua tanya, lo yakin Covid-19 itu ada dan benar-benar mematikan?

Kalau lo percaya itu benar, lo tahu dari mana? Kan lo nggak pernah neliti. Pasti tahu dari media, dikasih tahu orang lain, atau sumber lainnya. Bener nggak? Kenapa lo kok bisa yakin kalau Covid-19 itu adalah fakta?

Sebab lo yakin kalau peneliti tidaklah salah, media nggak bakalan berbohong, dan temen lo nggak bakalan sebarin hoax ke lo. Bener nggak? Darisini, mungkin lo nggak sadar. Kalau sebenarnya, Covid-19 itu sebenarnya sebuah informasi netral. Lo boleh percaya dan nggak. Sebab masyarakat sudah sepakat untuk percaya, “Meyakini para peneliti, mempercayai media, dan sepakat menganggap Covid-19 adalah informasi yang benar. Meski mereka nggak pernah neliti.”

Masih belum paham? Nggak papalah. Kalau mau lebih paham, ulangi lagi bacanya guys. Kalau nggak mau, terserah. Gua nggak peduli kalau lo nggak paham. Sekarang, kalian ambil nafas panjang-panjang untuk menerima logika selanjutnya.

Bumi itu bulat adalah kesepakatan. Gua nggak mau doktrin bumi datar, kotak, lonjong, segitiga, ataupun bentuk lainnya ya guys. Kalau lo nggak percaya, nggak masalah! Lo nggak bakalan mati, beneran! Dengan tidak percaya bumi itu bulat, kalian memiliki kesempatan untuk mencari kebenaran lain dengan logika kalian.

Kalau kalian nggak sepakat bumi itu datar, jangan menghujut penganut flat earth. Begitu juga, kalau kalian nggak sepakat bumi itu bulat, jangan menghujat penganut globe earth. Sukanya kok debat nggak jelas ngalor ngidul nggak ada kongklusi. Gua tu nggak suka kalau gara-gara kek gini, sampek dibawa-bawa ke kehidupan nyata. Sampai nggak mau menyapa, nggak mau akur, terus bertengkar. Sepele banget!

Bahasa adalah kesepakatan. Ini adalah contoh gampang yang membuktikan bawah kebenaran itu sebenarnya adalah kesepakatan. Air dalam bahasa Indonesia adalah cairan tak berwarna mengandung unsur hidrogen dan Oksigen. Secara Bahasa Indonesia, itu adalah kebenaran, sebab masyarakat Indonesia sepakat pengertian air memang seperti itu.

Coba kalian bawa kata Air ke Bahasa Inggris. Artinya adalah, the invisible gaseous substance surrounding the earth. Apakah itu benar secara bahasa Indonesia? Salah! Kecuali kalian terjemahkan. Tapi yang harus kalian tahu, dalam bahasa Inggris, Air tak bisa diartikan udara. Akan tetapi diterjemahkan.

Konspirasi adalah Kesepakatan. Kalau kalian menganggap konspirasi itu ada, bisa saja itu benar, karena memang ada banyak komunitas yang percaya dengan konspirasi. Semua hipotesa, data-data yang dihubung-hubungkan hingga terkesan masuk akal itu disepakati oleh kelompok tertentu. Jadi konspirasi itu memiliki potensi menjadi kebenaran.

LIHAT: Korona, Konspirasi Apa Nggak Ya?

Kalau kalian menganggap konspirasi itu nggak ada, bisa aja itu juga benar. Sebab banyak komunitas yang menyangkal adanya konspirasi yang seolah-olah dihubung-hubungkan dan dibuat-buat. Kesepakatan yang memiliki kuantitasi tinggi, berpotensi menciptakan kebenaran.

Kebenaran adalah kesepakatan. Jadi, kebenaran itu adalah kesepakatan. Kebenaran nggak bakalan mutlak (kecuali kalian sudah masuk ke pembahasan agama). Kebenaran bisa mendekati 100% tapi nggak bakalan bisa 100%.

Istilah kebenaran memiliki arti inplisit “kesepatakan yang memiliki kuantitas tinggi.” Atau kalau nggak gitu, “Dominasi rasa percaya bareng-bareng yang dimiliki masyarakat dalam satu wilayah tertentu yang minimal memiliki satu latar belakang yang sama.”

***

Okay, gua rehat sejenak. Gua menjamin, 75% yang baca konsep di atas bakalan bingung, bosen, ngantuk, nggak paham, nggak percaya, dan merasa nggak jelas sama sekali.

Jadi, kalau kalian masih ingin membaca artikel ini, silahkan dipahami lagi. Kalau nggak terus kalian salah tafsir atau interpretasi, gua nggak mau tanggung jawab. Wkwkwk… Hakikat kebenaran di atas adalah syarat untuk memahami tulisan gua yang satu ini.

Lanjut…

Karena kebenaran adalah kesepakatan yang memiliki kuantitas, maka kebenaran bisa dimanipulasi. Lo pasti tahu kan, kalau benda dunia apapun yang memiliki kuantitas itu bisa dimanipulasi, kalau nggak minimal berpotensi bisa dimanipulasi.

Pertanyaannya adalah? Bagaimana cara memanipulasi kebenaran?

Sudah gua jelasin sebelumnya kan, kalau kebenaran itu kesepakatan. Jadi cara memanipulasinya adalah meyakinkan masyarakat agar sepakat dengan informasi yang disampaikan. Maka dari itu, disinilah peran besar komunikasi dan media informasi.

Dua hal itu (komunikasi dan media informasi) arahnya adalah doktrinasi. Wow, pemabahasannya makin berat ini. Wkwkw, lo jangan khawatir. Santai aja, nggak paham nggak masalah kok.

Sekarang, doktrinasi itu apa sih? Kalau kalian masih menganggap doktrinasi sebagai “Pengajaran otoriter tanpa kritik atau penggemblengan akan suatu ajaran” itu kurang benar. Intinya bukan di situ guys. Doktrinasi itu permainan retorika, narasi, serta informasi yang menutup kesempatan logika manusia.

Doktrinasi itu menciptakan isitlah kebenaran. Boleh kalian katakan, kebenaran adalah sebagian dari permainan doktrinasi. Istilah benar dan istilah salah (bukan dalam konteks agama lho ya) gencar digaungkan untuk menutup “fitrah logika yang punya tendensi mencari solusi, menghubungkan, dan mencari sesuatu lagi dan lagi.”

Doktrinasi itu seolah-oleh mem-finalkan informasi dan menutup kesempatan masyarakat untuk mengolah data dan mencari sumber lainnya. Ditambah dengan gencaran yang kesannya mencekoki, terus diupdate, terus ditekankan, sosialisasinya masif sehingga masyarakat seolah-olah mau nggak mau harus percaya.

Dimana sajakah doktrinasi bisa terjadi? Lo pasti udah nebak, kalau internet dan media sosial adalah tempat doktrinasi paling ramai. Kalau nggak gitu, televisi yang masih sangat diminati oleh masyarakat milenial dan baby boomers.

Jangan salah ya guys, salah satu doktrinasi adalah komunikasi langsung. Dengan berkomunikasi langsung, lo bisa mempengaruhi temen lo hingga dia terpaksa percaya dengan pendapat lo. Tentunya lo harus pandai mengolah kata, beretorika, dan menepatkan posisi sebagai influencer ulung.

Pendidikan = Doktrinasi (?)

Kalau lo masih bertahan hingga saat ini, selamat! Lo udah di klimaks artikel. Tapi gua yakin, lebih 50% pembaca, bakalan udah nggak males. Kalian bisa rehat sejenak dulu, untuk memulihkan konsentrasi. Baru bisa lanjut…

Lo tahu nggak pendidikan itu apa? Gini aja wes, gua definisikan pendidikan versi gua sendiri. Menurut gua, pendidikan adalah proses komunikasi indra maupun jiwa yang menciptakan perubahan pada diri seseorang.

Komunikasi indra dan jiwa itu merupakan penyampaian informasi lewat indra (bisa pendengaran, ucapan) dan jiwa (rasa, empati, dan kepedulian). Dari sini, kalau kalian paham, “Pendidikan itu dekat banget dengan doktrinasi.”

Sebab bila komunikasi indra dan jiwa itu satu arah dan dimonopoli satu wilayah (di-otoritasi), maka pendidikan bukan lagi pendidikan, akan tetapi pendoktrinan. Pendidikan hanya bisa jadi pendidikan jika pihak yang terdidik merasa tergerak untuk lebih mencari dan mengetahui dari sudut pandang lain.

Kalau pendidikan mengajarkan 1+1=2 untuk dihafal dan ditanamkan secara paksa pada logika siswa, itu bukanlah pendidikan, akan tetapi pendoktrinan. Siswa harus diberikan kesempatan luas untuk mencari kenapa angka 2 itu muncul dan disepakati oleh masyarakat dunia.

Jika jawaban 2 dijadikan harus benar dan memang dari sononya seperti itu, maka itu adalah doktrin. Memang perbedaannya sangat sedikit. Selayaknya, pendidikan itu harus mengajarkan “kenapa hal ini disepakati jadi kebenaran?” bukan mengajari kebenaran itu sendiri.

Lo merasa gua radikal banget? Gua bersyukur, berarti otak lo masih gerak di kata ke 1525 dari artikel gua ini. Kalau lo, sudah mulai nggak connect, berarti ya lo udah kesulitan untuk paham. Oke, lanjut…

Kenapa gua bilang “pendidikan itu selayaknya mengajarkan kenapa sesuatu bisa jadi benar”?

Sebab kalau ‘kebenaran’ yang diberikan, maka itu bukan pendidikan, akan tetapi pendoktrinan. Kembali ke konsep benar salah yang gua ulas sebelumnya. Sebab kebenaran adalah istilah dari sesuatu yang disepakati.

Jangan sampai siswa ikutan menyepakati tanpa mengerti isi dari kesepakatan itu. Biarkan siswa membuat keputusan sendiri. Kenapa demikian?

Sebab informasi di semua lini kehidupan dunia ini memiliki potensi besar dimonopoli dan dimanipulasi, “Nggak ada jaminan satu informasi bisa dikatakan benar meski sudah disepakati banyak orang.”

Jadi, apapun yang disampaikan di kelas, di ruang belajar, di internet dan lain sebagainya, belum tentu benar. Maka dari itu, jangan paksa siapapun untuk membenarkan informasi apapun. Inilah sebab kenapa di pelajaran sains rata-rata ada praktikumnya, sebab pelajaran ini harus benar-benar dirasakan sendiri oleh siswa.

Praktikum adalah proses pendidikan yang mengajarkan siswa mencari jawaban dari kenapa kok gini, dan kenapa orang sepakat ini benar atau salah.

Dari sini gua bisa ambil satu kesimpulan lagi bahwa kebenaran itu bersifat pribadi. Kalau umum itu adalah kesepakatan positif dan kesepakatan negatif. Sangat naif bila pengalaman orang lain lo percaya dan lo pakai untuk mewakili pendapat lo. Pengalaman orang lain tetaplah jadi kebenaran orang lain. Kebenaran yang bisa lo percaya hanya bisa lo dapatkan dari pengalaman diri lo sendiri.

Sekali lagi, kalau lo membaca sekilas beberapa kalimat gua di atas, lo bakalan nyimpulan gua itu penulis yang sesat logika dan salah nalar. Nggak masalah kalau lo berpendapat kek gitu.

Ketika guru di kelas tak mengajak diskusi siswanya, maka itu doktrinasi. Seolah-oleh guru itu memaksakan kebenarannya untuk disepakati oleh siswanya. Sehingga, murid bukan berkembang sebab keingintahuannya, akan tetapi tercetak layaknya doktrin gurunya.

Pendidikan = Konspirasi (?)

Apakah pendidikan adalah bentuk persekongkolan untuk memonopoli ilmu pengetahuan? Jangan-jangan banyak banyak informasi yang salah dalam dunia pendidikan kita? Atau jangan-jangan pendidikan adalah permainan aja untuk menciptakan manusia yang tak merdeka logikanya.

Sebelum ke situ, kata pendidikan yang gua maksudnya adalah pendidikan formal.

Kalau pertanyaannya seperti itu, bisa saja benar bisa saja salah. Kenapa? Karena banyak doktrinasi di dunia pendidikan. Kalau pendidikan dianggap sebagai media pencetak robot dan sampah masyarakat, mungin aja benar. Kalau ada orang-orang yang bermain di balik pendidikan untuk mengeruk keuntungan, mungkin juga benar.

Tergantung latar belakang, pengalaman, dan informasi yang lo terima. Atas dasar tiga hal itu, lo mungkin aja bisa memutuskan, apakah pendidikan itu sebuah konspirasi atau bukan. Kalau menurut gua, 75% pendidikan memang menyimpan sesuatu di baliknya. Ya meski hanya segelintir aja sih, tapi gua yakin ada sesuatunya.

Kembali lagi, bila pendidikan bukan doktrinasi, maka konpirasi di balik pendidikan kecil kemungkinan ada. Tapi kalau pendidikan adalah doktrinasi, maka besar kemungkinan pendidikan memanglah sebuah rencana pembodohan umat manusia, rencana mematikan logika manusia, dan alat untuk mengendalikan normal manusia.

Sebab gini, pendidikan (khususnya formal) itu tak hanya soal pengajaran terhadap generasi muda. Akan tetapi, permainan kapitalisme, strata sosial masyarakat, bulliying, dan berbagai kasus lainnya.

Gua nggak nyalahkan pendidikannya, akan tetapi sistem pendidikannya. Nggak tahu sih, ruwet banget, semua ada plus minusnya, tinggal bagaimana cara pengelola untuk memaksimalkan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan itu Permainan? Refleksi Hari Pendidikan

Anggaran APBN yang besar katanya dialokasikan pada pendidikan. Gua doa aja, semua itu beneran. Apalagi, di kondisi pandemi ini, pendidikan harus benar-benar menyesuaikan. Kalau nggak, bisa-bisa semua bakalan hilang kendali.

Bayangkan, ketika pendidik bosen mendidik via online sedang siswa sudah bosen dididik via online, yang terjadi ada yaudah. Pendidikan seadanya dan formalitas aja. Paham nggak paham ya mau gimana lagi. Nampak buntu, tapi ya gimana lagi, kondisinya emang seperti ini. “Semoga orang-orang atas yang mengelola pendidikan segera menemukan cara adaptif yang efektif untuk menjadikan pendidikan Indonesia ini tetap berjalan dengan baik.”

Ya mungkin berjalan aja sih, tapi kualitasnya kayaknya beda. Gua lihat dari adik dua yang nggak ada kemauan untuk belajar. Soalnya semua sudah instan tersedia di Google, plus tak ada yang mengawasi, jadi tanpa hafal dan paham pun semuanya ada jawabannya. Kalau nggak gitu tetap santai, masih ada temen yang pintar yang jawabannya bisa di-share.

Kreativitas pendidik dalam kondisi kek gini, benar-benar diuji guys. Gua berharap, para pendidik sekarang lagi mikir (keras pol-polan), untuk mencari jalan efektif agar materi, informasi, dan ilmu pengetahuan bisa disalurkan dan diterima baik oleh siswa.

Itu sih masalah lapangan, aplikatif. Di akhir bahasan ini, gua lebih mengulas ke formalitas orang atas. Seseorang yang bermain-main di sektor pendidikan untuk meraup keuntungan. Apakah itu ada?

Gua sih yakin mereka itu ada. Tapi kalau lo nggak yakin sih, nggak masalah. Gua hanya menyayangkan, kalau APBN yang gede banget itu ada yang mempermainkan dan pergi ke kantong orang-orang tak bertanggungjawab. Bukannya pendidikan yang maju, tapi orang-orang tertentu yang malah kaya.

Gua yakin ada sesuatu yang membuat sistem pendidikan di Indonesia itu serasa, “Kuraaang!”

Sesuatu inilah yang patutnya diwaspadai dan dilawan. Entah itu konglomerat yang main-main sektor pendidikan, atau kapitalis yang memonopoli pendidikan, atau pejabat yang dibayar untuk merusak pendidikan. Gua Nggak Peduli!

Gua hanya nggak terima kalau anggaran besar untuk pendidikan itu malah lari ke kantong-kantong orang yang nggak berkepentingan dalam dunia pendidikan. Bisa aja kan itu terjadi?

Kalau lo lihat, banyak sekali sekolah yang butuh biaya perbaikan, gaji guru yang nggak layak, media pembelajaran yang tak mendukung, dan banyak lagi masalah pendidikan lainnya yang perlu diperbaiki. Keluar dari topik pendidikan itu konspirasi atau bukan, memang pemberdayaan sistem pendidikan secara lapangan dan aplikatif itu memang perlu lho!

Sebab ini perihal mencetak kualitas generasi. Kalau sekolah gagal menciptakan pola pikir yang bagus pada siswa, minimal sekolah nggak boleh gagal pada afektif dan psikomotorik siswa. Sebab dua hal ini yang menentukan nasib bangsa kelak.

Tapi kalau pendidikan dijadikan mainan? Generasi emas adalah bullshit, bangsa yang besar di hari esok adalah utopia, negara yang kuat dan berdikari adalah mimpi. Beneran, gua yakin itu. Gua ngomong kek gitu, sebab dominasi pencetak generasi itu ada pada pendidikan formal (sekolah dan universitas) yang mana negara memiliki otoritas penuh akan hal itu.

Kalau pemerintah main-main dengan pendidikan. Beneran, biadab mereka! Begitu busuk akal dan hati mereka mengorbankan pendidikan untuk generasi penerus mereka sendiri.

Di hari pendidikan ini, gua hanya bisa berdoa, “Pertama, semoga di tengah pandemi ini pendidikan tetap menciptakan informasi yang jelas kepada siswa. Memberikan motivasi belajar kepada siswa. Bukan malah menciptakan rasa malas dan bosan kepada siswa.”

Doa pertama ini memang terlihat mustahil, sebab faktanya, malas belajar pasti, bosen lihat layar adalah kenyataan, fakta. Ngerjakan soal bareng-bareng, yang mikir hanya satu orang aja, yang lain makmum pokoknya jawabannya copas dijamin bener.

Doa selanjutnya, “Semoga sistem pendidikan Indonesia ke depan semakin jelas. Entah sistemnya seperti apa, pokoknya digarap dengan serius dengan anggaran yang beneran terdistribusi ke hal-hal yang tepat. Sekolah diciptakan bukan untuk melahirkan penipu, pemanipulasi, dan pengangguran! Dan pendidikan memiliki kesempatan besar untuk melahirkan generasi gemilang.”

Doa kedua ini juga terlihat sangat idealis. Sebab fakta di lapangan tidaklah demikian. Di saat negara maju mengunggulkan pendidikan sebagai bagian sangat penting negara, di negeri ini serasa B-aja. Nggak tahu sih, apa propagandanya kurang atau gimana, tapi pendidikan kayaknya bukan di urutan depan. Nggak salah aja kalau koruptor terkadang lahir dari sekolah. Orang pinter (bohong, manipulasi, berkata-kata manis) terkadang juga tercipta dari sekolah dan kampus. Tapi hanya sebagian aja kok, jangan khawatir. Masih banyak orang baik di luar sana, tapi nggak bisa apa-apa. Wkwkwk…

Doa selanjutnya, “Semoga pendiri bangsa ini, nggak kecewa melihat negara dan bangasnya kek gini. Semoga mereka tenang di surga sana.”

Gua terkadang mikir, kalau Pak Karno lihat utang negaranya segini, apa nggak nangis dia? Pasti nangis. Kalau Ki Hajar Dewantara lihat cukong pendidikan dan generasi hasil pendidikan banyak yang jadi koruptor, semoga dia nggak nangis di alam sana. Aku berdoa kepada Tuhan, semoga beliau diberi ketenangan.

***

Okay mungkin gua sudah kebanyakan bacot. Kalau kalian masih bertahan baca penutup ini, kalian hebat. Meski gua nggak jamin lo paham atau nggak. Tapi minimal lo tahan itu udah baik. Lebih joss, kalau paham.

Semoga cuitan ini menghibur kalian, kalau nggak gua juga nggak peduli! Semoga kalian makin pinter di hari pendidikan ini. Nggak cuma pinter nge-les, tapi juga pinter membuktikan kata-kata, pinter memberikan kepedulian, dan pinter menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa kita. Semoga, “Pendidikan = Kemerdekaan”

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

2 Replies to “Pendidikan? Jangan-jangan Konspirasi dan Permainan Belaka”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *