Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Stop Playing Victim, Kamu juga Pelaku Lho!

5 min read

Playing Victim

Sudah lama saya tidak menulis tentang hal-hal kek gini. Ya, saya luangkan waktu untuk menulis sebuah teori yang nampaknya sudah saya rasakan sendiri. Namanya, Playing Victim.

Disclaimer: Ini adalah tulisan untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang mbaca terus baper, saya nggak tangungjawab. Sudut pandang sudah saya kolaborasikan, sehingga perspektif tulisan ini akan dibuat seobjektif mungkin.

Mengenal Playing Victim

Playing victim itu bermain korban. Maksudnya, seseorang sikap seseorang yang berlagak menjadi korban, padahal tidak seperti itu. Sikap seperti itu tercipta dikarenakan egosentrisme yang didukung dengan rasa dominasi sosial.

Alurnya gini:

Dia kena masalah > Merasa dirugikan > Membaca situasi dan kondisi > Memainkan Drama > Memprovokasi dengan satu perspektif saja > Playing Victim.

Alur di atas adalah karangan saya. Ya, timbul dari apa yang saya pikirkan saja dari pengalaman. So, tidak perlu mencari sumbernya dari mana, wkwkwk…

Kenapa Playing Victim?

Tindakan sosial masyarakat pasti ada sebabnya, apalagi playing victim. Sikap itu timbul karena beberapa hal di bawah ini:

1. Gangguan Kepribadian

Alasan pertama yang menyebabkan orang bersikap playing victim adalah gangguan kepribadian. Ya, memang psikologi-nya aja yang terganggu. Inginya jadi korban, dikasihani, diperhatikan, dan diberi pengertian.

Sehingga, bisa dikatakan basisnya adalah egosentris. Gangguan kepribadian ini berbeda banget dengan self-blame. Karena self blame ini lebih ke urusan personal dan tidak melibatkan provokasi dan manipulasi narasi kepada orang lain.

Gangguan kepribadian ini lebih cenderung kecacatan sikap sosial yang terlalu menjadikan diri sendiri sebagai pemain utama dan mengenyahkan orang lain. Sehingga, ada kecenderungan untuk:

  • Memaksakan perspektif kepada orang lain
  • Menutup cerita dari orang lain
  • Berbohong dan memanipulasi
  • Memprovokasi untuk menciptakan kebenarannya
  • Mendramatisir kejadian yang (pada dasarnya) tidak sedramatis itu

Ya itu semua adalah konsekuensi logis ketika orang bersikap playing victim. Mereka harus melakukan hal-hal itu karena ya memang mau nggak mau mereka harus melakukan hal-hal kek gitu. Apalagi jika sudah merambah ke ranah perasaan, dramatisnya semakin membabi buta. Beneran….

2. Dominasi Sosial

Alasan kedua adalah mengambil dominasi sosial. Maksudnya bagaimana?

Gini, pernah nemuin nggak, model manusia yang memiliki pengaruh dalam satu lingkungan? Entah itu memiliki pengaruh gara-gara hartanya, kedudukannya, ataupun tindakan sosialnya. Pasti Anda memiliki orang seperti itu.

Nah, orang seperti itu, pasti gampang banget untuk memainkan situasi dan kondisi sosial lingkungan. Sebab, ia memiliki kedudukan di mata teman-teman di sosialnya. Bayangkan, gimana jadinya jika orang seperti itu jadi seorang pelaku?

Maka ia akan dikenal buruk oleh teman-temannya. Maka dari itu, ia bisa banget melakukan provokasi ataupun permainan narasi agar ia tampak seperti ‘manusia yang paling jadi korban’ dari suatu permasalahan.

Itu memang tindakan sosial yang logis. Self branding itu sangatlah mempengaruhi tindakan seseorang. Mustahil seseorang mau dikenal buruk oleh teman-temannya. Iya nggak?

Sehingga, mau nggak mau ia harus menutup perspektif kebenaran orang lain dengan narasi-narasi melankolis agar ia merasa menjadi yang paling tersakiti.

3. Merasa Tidak Diuntungkan

Emang sih, apa untungnya jadi pelaku dari setelah terjadinya sebuah kasus? Mungkin saja tidak ada. Pelaku akan disalahkan, dimaki-maki, dijadikan subjek paling bertanggung jawab dari sebuah permasalahan.

Nah, kalau kasusnya samar atau mungkin terjadi hanya melibatkan sedikit orang saja, maka yang pelaku dan korban itu sama juga. Konsepnya, “Dulu-duluan nyalahin, siapa yang duluan menyalahkan, maka dialah yang benar dan jadi korban.”

Hal itu bisa terjadi karena tidak ada gabungan perspektif. Sehingga, kebenaran subjektif menjadi termonopoli oleh orang yang speak up dulan. Yang dirugikan adalah, orang yang tidak memiliki keberanian ngomong.

Dalam kondisi seperti itu, orang yang paling diuntungkan adalah:

  • Orang yang punya banyak temen (mengendalikan dominasi sosial)
  • Orang yang pandai ngomong dan buat-buat cerita
  • Orang yang berpengalaman memainkan drama kehidupan

Bagi orang-orang yang hobinya mengalah, self-blame, dan malas mengungkit-ungkit masalah, kondisi ini sangat merugikan mereka. Mereka akan lebih cepat menjadi subjek (pelaku) dari sebuah kasus.

Menyatukan Semua Perspektif

Sikap playing victim menciptakan pola pikir deduktif. Karena sikap ini menuntut seseorang untuk bisa menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain agar seolah-oleh masuk akal sehingga ia bisa benar-benar bisa terkesan ‘menjadi korban’.

Tidak heran, jika sikap playing victim ini menuntut pelakunya untuk memanipulasi data lapangan, teguh akan kebohongan (tidak mengakuinya), dan menutup semua keburukan diri sendiri dan membeberkan kesalahan orang lain.

Meski demikian, ketika semua pihak yang memiliki sangkut paut disatukan perspektifnya, maka kebenaran yang sebenarnya akan tercipta. Maka dari itu, inilah pentingnya klarifikasi, yaitu untuk menyatukan perspektif.

  • Alur waktu (kronologi) harus dijelaskan detail
  • Masalah harus diulas hingga ke hal yang fundamental
  • Semua pihak harus jujur mengungkapkan perspektifnya
  • Fokus ke sumber masalah dan konflik utama
  • Logika diutamakan dahulu daripada perasaan

Jika 5 hal di atas dipadukan, dijamin kebenaran akan terungkap mana yang korban dan mana pelaku. Pada lima hal itulah, inti permainan korban ini tetap berjalan. Jika semua hal di atas dibeberkan secara jelas, maka akan benar-benar jelas yang korban itu siapa.

Playing Victim itu Kejam

Kenapa saya katakan kejam? Ya memang kejam. Bayangkan lho ya, bukankah sangat kejam bila seorang korban tahu-tahu merasa jadi pelaku karena pelaku aslinya sudah merasa jadi korban. Parahnya, lingkungan juga sudah mengklaim si-korban itu juga adalah pelaku.

Bayangkan saja, Anda itu ngejar maling, maling itu kalian pukul, eh tahu-tahu Anda yang jadi pelaku pemukulan manusia. Padahal Anda kan memukul maling? Bukankah hal semacam itu kejam banget? Apalagi dari sisi psikologi.

Misal ini ada cerita cinta kek gini (misal aja, misal):

Ada laki-laki pacaran sama perempuan. Laki-laki ini dikenal pendiam, sedangkan si perempuan ini dikenal ekstrovert. Pokoknya nggak pendiem lah.  

Nah, terus ada sebuah masalah yang bikin si laki-laki itu nggak bisa meneruskan hubungan itu (entah masalah keluarga, sudah capek—sebab si-perempuan itu ekstrovert dan punya banyak teman laki-laki lain yang entah hubungannya itu apa), atau jelas-jelas tidak direstui oleh orangtua di perempuan.)

Suatu saat, si laki-laki nih pengen klarifikasi masalah itu semua ke rumah si perempuan, agar clear. Maksudnya tidak saling menyakiti—udahan dengan baik dan dewasa. Eh, si perempuan nggak mau didatangi ke rumahnya (paling ya takut si-laki-laki tersakiti sama orang tuanya). Nah, akhirnya si laki-laki ini, ngajak si perempuan keluar, makan atau apalah itu (pokoknya biar bisa membicarakan semua masalah itu baik-baik). Eh, si perempuan nolak, alasannya nggak dibolehin orang tua (tapi ternyata ia keluar juga ke rumah temannya, ke mana lah, dan lain-lain. Pokoknya, si perempuan ini sulit banget ditemui oleh si laki-laki.

Nah, karena hal itu, si laki-laki menyerang dong. Logis, capek juga nurutin kek gitu. Akhirnya si laki-laki jalan-jalan ke rumah temen-temennya (perempuan, soalnya memang sekelas dia hampir perempuan semua temannya).

Si laki-laki itu ndak izin. Ya logis! Wong si-laki-laki ditemui aja nggak mau, masa ada pacar kek gitu? Pacar macam apa yang nggak mau ditemui pacarnya sendiri tapi ketemuan dengan orang lain (di waktu lain).

Dari itu, jelas bukan yang salah siapa?

Akhirnya sesudah si laki-laki ini ke rumah temen-temennya (perempuan), pertemuan itu terjadi dan keduanya saling menyepakati untuk udahan. Tidak ada yang memutus dan yang diputuskan, sebab ya memang kondisinya kek gitu.

Nah, beberapa hari setelah itu, si perempuan mengetahui kalau si-laki-laki pergi ke rumah temen-temennya (perempuan). Si perempuan itu akhirnya merasa jadi korban. Dikhianati lah, dibohongi lah, diperlakukan tidak adil lah, dan lain-lain. Pokoknya si laki-laki itu beneran disalah-salahkan dari semua kejadian itu.

Pertanyaannya, Siapa yang salah?

Tidak ada. Dua-duanya salah! Jelas banget. Tapi jika si perempuan itu berkoar-koar ke teman-temannya dan menyalahkan si laki-laki bahwa dia diputus dan blah-blah-blah, maka diasudah playing victim.

Apalagi jika si perempuan juga menyalahkan teman-teman si-laki-laki sebagai orang ketiga. Ia salah paham dan ia nggak sadar dengan kesalahpahaman itu. Namun karena egosentrisme, ia merasa menjadi orang yang paling jadi korban.

Sampai-sampai, nama si laki-laki tercemar jadi tukang selingkuh, hina, jahat, nakal, dan lain-lain. Bahkan, perempuan (yang tidak ia suka) yang kebetulan ditemui si-laki-laki juga ikut kena fitnah juga sebagai orang ketiga, perebut pacar orang, dan tuduhan-tuduhan sejenis itu. Padahal ia tidak tahu apa-apa dan tidak salah apa-apa.

Nah itu adalah salah satu contoh playing victim. Sekedar contoh, cerita hanya karangan penulis saja ya… Kalau baper atau terjadi kesamaan cerita, jangan nyalahin saya, saya cuma ngarang kok. Wkwkw…

  • Orang selingkuh bisa saja mencuri momen untuk membuktikan ia tidak selingkuh
  • Orang tabrakan, rata-rata dulu-duluan nyalahin
  • Orang berbohong, rata-rata mencari celah untuk menutup kebohongan itu
  • Orang salah, rata-rata akan menutup kesalahan itu dengan kesalahan orang lain
  • Orang rela berbohong untuk mendapatkan posisi yang aman untuk dirinya

Apakah hal-hal di atas benar? Ya Anda sendiri yang bisa membuktikan. “Manusia itu jauh lebih suka jadi korban, agar orang lain memperdulikannya, membelanya, dan memberikan perlindungan kepadanya. Dan itu nyata!”

Play Victim: Jangan Ikuti Dramanya!!!

Satu hal yang harus Anda pikirkan dari orang Playing Victim adalah, “Jangan ikuti dramanya!” Karena, jika terus diikuti, ia akan semakin membabi buta mendramatisir hal-hal yang bahkan biasa saja.

  • Jangan hindari orangnya, tapi hindari provokasinya
  • Perbanyak perspektif agar tahu siapa yang korban sebenarnya
  • Jangan percaya omongan, percayalah pada bukti real
  • Jika perempuan, jangan baper sebab tangisan (artis aja bisa nangis kok pake script)
  • Jangan membenci orang karena cerita, pastikan kebenarannya
  • Jadilah teman yang cerdas, damaikan suasana, jangan mengompori
  • Menyadarkan si playing victim agar sadar bahwa dia juga kadang salah dan mengakuinya
  • Semua orang pasti memiliki salah, jadi jangan percaya orang yang terlalu menyalah-nyalahkan orang lain
  • Kebencian itu bisa mendistorsi kebenaran, maka berhati-hatilah

Beberapa hal patut kiranya Anda catat. Agar Anda terhindar dari permainan korban dari orang-orang yang bermental playing victim.

Mungkin itu saja penjelasan singkat saya mengenai playing victim. Apapun isi dari tulisan ini, tidak berniat untuk menyinggung siapapun. Kalau Anda tersinggung, saya minta maaf. Semoga bermanfaat, terima kasih…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *