Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Privilege itu Menentukan! Kaya dan Good Looking, Holy Shit!

3 min read

privilege itu menentukan

Kali ini saya akan membahas privilege, sebuah hak istimewa. Hak yang tidak pernah dipilih seseorang, tapi serasa menjadi keberuntungan yang membuat banyak orang iri. Memang, pada faktanya, “Privilege itu menentukan!”

Meskipun banyak motivator yang ngatakan, “Semua orang punya hak sukses, asalkan mau bekerja keras, membanting tulang, blah-blah-blah…”

Seolah menegaskan jika bisnis motivasi memang sangat diperlukan. Apalagi untuk memberikan harapan-harapan yang terkadang terlalu tinggi bagi seseorang yang hidupnya terlalu rendah.

Lahir di Keluarga Kaya

Ada berapa ahli agama yang bilang, “Kaya itu tidak harus. Nggak perlu bahkan. Karena akan memperlambat hisab, harus bertanggung jawab, stress, dan lain-lain…”

Sebanyak ahli agama bilang gitu, sebanyak itu juga ahli agama yang cari uang menumpuk kekayaan dengan menjual ilmu agama mereka. Memang shit kan?

Sebanyak orang menyangkal, “Kekayaan tidak menentukan kebahagiaan.”

Sebanyak itu juga seseorang mengkhianati perkatannya sendiri, bahwa setiap orang ingin kaya, ingin bahagia. Kaya adalah kebahagiaan mutlak. Orang bahagia harus kaya.

Terus ada penguasa besar, lahir dari orang kaya, orang sukses, ngomong gini, “Sukses itu bisa diraih oleh semua orang, asalkan dia mau berusaha…”

Seakan-akan, mereka berkata tanpa tanggung jawab sama sekali. Mereka itu nggak pernah miskin, tapi kok sok-sokan ngomong orang miskin bisa sukses. Memang shit kan?

Hanya sebagai pandangan, inilah beberapa aspek kenapa keluarga kaya itu menentukan…

Modal

Secerdas apapun seseorang, ia bakalan buntu ketika nggak ada dana yang mendasari idenya. Terus orang bilang, “Jangan mikirin dana, lakukan hal-hal kecil dulu.”

Lho, melakukan hal-hal kecil itu butuh dana. Oke, kalau melakukan hal yang tanpa dana mungkin sudah. Tapi di zaman ini, apa sih yang gratis? Apa!

Orang dari keluarga kaya, bahkan sedikit idenya saja bisa menjadi besar. Padahal ide itu nggak benar-benar direncanakan, nggak benar-benar sengaja ditelurkan, tapi karena aspek pendanaan yang kuat, realisasinya sangat hebat.

Masak nyuruh orang miskin menggadaikan rumah untuk ngutang agar idenya terealisasi. Jadi, kaya itu menentukan…

Relasi

Anak orang kaya, kenalan ayahnya tentunya luas dan banyak. Sedangkan orang miskin, jangankan kenal orang kaya. Kenal orang gaya (sok kaya) aja syukur…

Kata motivator, “Bergaullah dengan orang sukses, maka kamu sukses…”

Pertanyaannya, “Apa ada sih orang sukses mau bergaul dengan orang miskin?”

Ya mungkin ada. Tapi si miskin keburu minder, karena gaya hidup, pembahasan, dan pola pikir orang kaya tidak dapat ditangkap si miskin.

Suasana

Katanya motivator, “Orang kaya memiliki cara sendiri mendidik anak-anaknya hingga jadi kaya!”

Benar-benar kata-kata yang shit! Seolah-olah mereka nggak peduli gimana nasib orang miskin yang nggak pernah dididik kaya oleh orang tuannya.

Mana bisa mendidik kaya, lha wong tiap hari susah. Masak orang miskin bilang gini, “Nak, untuk bisa kaya itu, kamu harus gini dan gitu…”

Terus si anak menjawab, “Lah pak, bapak aja nggak kaya. Kenapa cara itu nggak bapak lakukan aja sendiri. Biar keluarga kita kaya…”

Hayooo…

Wes tho… Keluarga kaya itu menentukan. Privilege itu sangat menentukan.

Pendidikan

Nah, sekarang saya bahas pendidikan. Sistem rumit yang nggak ada habis-habisnya untuk dibahas.

Keluarga kaya (dengan uang yang mereka miliki) bisa dengan gampang menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus pada pendidikan yang memudahkan mereka nyari kerja. Lha orang miskin?

Boro-boro mau nyekolahkan ke sekolah bergengsi, “Udah sekolah aja syukur…”

Itu Pun harus dibarengi kerja keras, kerja kasar, mati-mati hingga mati beneran untuk membayar uang SPP yang kadang-kadang harganya benar-benar shit!

Hayoo… Di titik mana si miskin bisa berkembang? Modal nggak ada, pendidikan nggak terlalu, suasana biasa aja, parahnya, relasi ya sama si-miskin yang lainnya…

Wes tho, orang miskin itu rata-rata akan tetap miskin. Beneran!

Lahir Good Looking

Nggak usah basa-basi, anggap aja goodlooking itu ganteng kalau nggak gitu cantik. Mustahil ada rasa keadilan ketika membahas hal ini. Standarisasi sudah terlalu menghiasi atmosfer kehidupan manusia.

Keadilan bagi seluruh rakyat yang Good Looking itu bener!!!

Siapa sih yang mau deket-deket sama si jelek? Kalau pinter dimanfaatkan. Coba kalau yang pinter si cantik, pasti dikejar-kejar mau dijadikan pacar atau temen dekat. Pasti itu, jangan naip!!

Orang cantik atau ganteng tapi bodoh atau mungkin nyebelin, wes to bakalan tetap ditemani. Bakalan tetap memiliki pengagum. Tapi sekaran lihat, orang yang nggak cantik dan ganteng bodoh lagi. Pasti akan dijauhi, serasa disampahkan…

Mana ada keadilan di titik ini?

Katanya semua orang berhak bersosialisasi, berhak memiliki teman, memiliki hak yang sama… Mbelgedes!

Orang cantik atau ganteng pasti prioritas! Benar-benar shit!!!

Pernah nggak lihat meme, yang kata perempuan zaman now gini, “Aku nggak suka cowok perokok, pemabuk, liar!! Tapi kalau ganteng gpp!!!”

Shit kan? Jadi nggak salah jika ada anak bandelnya minta ampun, hobinya bertengkar, kegiatannya nyusahin banyak orang, bahkan pacarnya sendiri dianiaya, tapi si pacar tetap sayang. Hayo… Ganteng itu menentukan kog! Beneran…

Gara-gara inilah di dunia itu ada:

  • Standarisasi kecantikan
  • Operasi plastik
  • Orang jelek bunuh diri
  • Anak nakal jadi bangga dan banyak
  • Banyak orang jadi sok keren
  • Dan lain-lain

Memang shit!

Ketahuilah! Bukan Tuhan yang Salah

Apakah Tuhan yang salah? Karena sudah menciptakan ada yang Good Looking dan ada yang Bad Looking. Karena sudah menciptakan si-kaya dan si-miskin… Tidak!

Tetep yang salah itu manusia sendiri.

Coba kalau semua orang ganteng atau cantik, maka kisah asmara seseorang nggak bakalan teramplas dengan halus. Perjuangan, kasih sayang, dan cinta yang beneran cinta tidak akan terbuktikan.

Coba kalau semua orang kaya, bagaimana arus pergerakan ekonomi? Pasti kacau.

Semua sudah diatur dengan baik oleh Tuhan. Tapi intinya bukan itu…

Kenapa manusia begitu naif menyombongkan apa yang Tuhan berikan kepada dirinya?

Sadar diberi wajah Good Looking, kenapa nggak dipakai untuk menghargai yang Biasaajalooking. Sadar diberi kekayaan yang lebih, kenapa nggak dipakai untuk membantu yang membutuhkan?

Jadi, tidak perlu ngomong sesuatu yang membuat kelas kaya miskin makin lebar. Kaya miskin memiliki palung pemisah sedalam Mariana. Ganteng dan B-aja seperti terjadi klasterisasi dan klasifikasi. Benar-benar shitt!!

Padahal, semua itu bukan miliki kita. Tapi kenapa kita menyombongkannya dengan kesombongan yang maksimal. Terlihat tolol tahu!!! Tolol, nggak keren… Holy Shit!

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Privilege itu Menentukan! Kaya dan Good Looking, Holy…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *