Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Kenapa Ada “Salib” Pada Logo HUT-RI 75?

2 min read

polemik logo hut ri 75

Salib HUT RI 75 – Beberapa waktu lalu, orang ramai membincangkan salib pada logo HUT-RI ke-75. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah gabungan simbol yang membentuk salib itu disengaja, atau memang yang lihat aja cuma nyocok-nyocokin? Yuks kita bahas…

Yang Mana Sih?

salah satu supergrafis

Itu adalah gambar yang menjadi kontroversi beberapa hari lalu. Pecahan simbol logo HUT-RI 75 yang membentuk desain salib. ‘Diduga’ ini adalah bentuk semiotika misionaris yang ingin menyebarkan kristen di Indonesia.

Meski menurut istana, hal itu ‘tidak dibenarkan’. Desain itu katanya sudah mengacu pada pedoman visual penggunaan logo. Jadi, pihak istana menyangkal jika logo itu sengaja dibuat menyerupai salib.

Logo itu adalah supergraphics yang memberikan gambaran 10 elemen dari dekonstruksi logo 75. Maksudnya: logo 75 itu dipecah-pecah, terus dijadikan simbol baru yang memberikan pecahan makna filosofis. Diantara makna itu adalah:

  • Fokus
  • Kemajuan
  • Global
  • Merata
  • Kokoh
  • Progres
  • Efisien
  • Gotong royong
  • Maritim
  • Berkembang

(Nb: Sangat idealis memang, bila orang miskin tahu, mungkin mereka akan berkata, “Mana ada hal-hal seperti itu kami dapatkan.”… Tapi ya namanya aja simbol, logo, pasti maknanya ya sangat ideal.

Mengenal Supergraphics

Satu hal penting yang harus kamu tahu ketika melihat polemik logo HUT RI 75 adalah pernyataan Sekretaris Kemensetneg yang mengatakan itu adalah supergraphics.

Apa sih supergraphics itu?

Dari dictionary.com supergrafi adalah sini dekorasi lukis atau terapan berskala besar dengan warna-warni berani dan biasanya dalam desain geometris atau tipografi. Sulit dipahami ya?

Memang Google Translate terkadang seperti itu.

Intinya: supergrafis adalah sebuah elemen desain yang digunakan untuk menjaga keseragaman, keserasian, dan keseimbangan sebuah lukisan atau gambar abstrak. Tujuannya adalah untuk memperindah atau mewakili logo tersebut (baca: pemain pengganti logo).

Terus kenapa kok Dianggap Salib?

Ini yang menjadi polemik, ketika ada ormas islam yang mengatakan bahwa desain itu menyerupai salib. Apakah hal itu didasarkan pada ilmu cocokologi?

Ya! Banyak kok logo-logo di dunia ini yang didasarkan pada cocokologi.

Sebab yang namanya objek, selalu bisa diartikan dengan banyak sudut pandang. Misalnya: segitiga. Idealnya, hal itu diartikan sebagai sebuah keseimbangan, kekuatan, dan keserasian.

Namun segitiga juga bisa diartikan dajjal, wkwk… Ya, setiap prasangka dan cocokologi bisa dikatakan berasal dari: dasar pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

Jadi, tidak perlu menyalahkan ormas atau istana. Dua-duanya sama-sama tidak bisa dan memang tidak perlu dibela.

1. Pareidolia Manusia

Dalam ilmu psikologi, ada istilah pareidolia. Sebuah fenomena psikologi yang melibatkan stimulus samar-sama dan acak yang dianggap penting yang membuat seseorang menyamakan suatu objek dengan objek lainnya.

Mungkin saja ormas yang menolak desain HUT-RI 75 itu mengalami hal ini. Apakah salah?

Tentu tidak. Sah-sah saja seorang muslim merasa ada yang aneh pada objek penting yang memiliki kemiripan dengan ‘sesuatu yang mereka benci’.

Orang islam tidak membenci ‘orang kristen atau nasrani’ akan tetapi membenci misi pengkristenan kepada orang islam. Tindakan mereka adalah bentuk pembentengan diri (baca: praventif).

Saya rasa, ketika istana tidak mempermasalahkan. Satu desain itu hanya perlu dirubah satu titik saja, tentu urusan akan beres. Pokoknya, supergrafik itu tidak lagi membentuk salib. “Kan gampang? Wkwkw…”

2. Jangan-jangan Memang Iya

Mungkin bagi istana merubah desain yang sudah dipastikan, tentu berat. Apalagi sudah kadung tersebar di seluruh Indonesia.

Jadi, mau nggak mau mereka harus menyangkal. Entah di pembuat sadar atau tidak sadar, ya mungkin seharusnya mereka mengklarifikasi. Kalau perlu meminta maaf jika hal itu dilakukan tidak sengaja, kan gampang…

Umat islam juga harusnya tidak terlalu mengejar permasalahan ini. Klarifikasi dari istana maupun dari masyarakat harus terjadi, saling meminta maaf dan menyelesaikan urusan.

Jangan sampai, pihak istana terus membela diri atau bahkan ngaku kalau desain itu dibuat sengaja. Hal itu pasti bikin umat muslim Indonesia marah. Mengingat muslim di negeri ini adalah mayoritas.

Jangan Ada Kebencian

Negara Indonesia sebagai negara merdeka (dari penjajahan kolonial) sudah berumur 75 tahun. Udah tua kan?

Masak tetep aja suka konflik terus. Ya, semakin tua harusnya semakin dewasa. Pejabatnya semakin nasionalis, idealis, dan jujur. Terus rakyatnya juga harus semakin cerdas, loyal, dan suka damai.

Jangan sampai polemik logo HUT-RI 75 yang agak kontroversi ini, terus berlarut-larut menjadi bahan provokasi.

Selamat Hari ulang Tahun Indonesia ke 75…

 “Merdeka!”*

(*syarat dan ketentuan berlaku).

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *