Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Selingkuh atau Diselingkuhi?

3 min read

Selingkuh atau diselingkuhi, LDR diselingkuhi, Pasangan

 Pilih selingkuh atau diselingkuhi? “Ya Pilih yang setia dong!”

Meski susah carinya, kesetiaan dalam hubungan adalah sebuah dambaan. Mana ada sih orang yang mau dikhianati (diselingkuhi) pasangannya sendiri?

Namun, kenapa masih banyak kasus perselingkuhan? Meski konon katanya kesetiaan adalah dambaan.

Kasusnya sangat beragam, mulai dari perselingkuhan PNS, pacar, orang kaya, artis terkenal, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Di kolom berita online, hampis semuanya memiliki tag “selingkuh”.

Menandakan, topik bahasan ini sangatlah menarik untuk dibahas bagi sebagian orang. Disimak, diamati, dan terus dikejar update-nya untuk dijadikan bahan gunjingan. Terkadang, kalau tetangga yang selingkuh, orang lain juga ikutan ngompor-ngompori.

Terkadang, manusia itu bahagia banget ketika melihat orang lain lagi kena masalah. Nampak seperti hiburan yang harus terus ada dan dibesar-besarkan masalahnya.

Kasus perselingkuhan sangat ramai di dunia sekarang. Apalagi di masa pandemi Covid-19. Kasusnya meningkat beberapa persen dari sebelum pandemi. Lantas pertanyaannya, kenapa hal ini bisa terjadi?

Logikanya, ketika manusia sudah memilih untuk menikah (atau berpasangan). Dia harus menerima segala konsekuensi dan godaannya. Namun kenapa orang ke tiga bisa muncul dan mengganggu rumah tangga?

Hingga ada istilah perebut laki orang (pelakor) dan perebut bini orang (pebinor). Meramaikan kasus perselingkuhan yang sering kali difilimkan jadi drama FTV yang alurnya bisa ditebak.

Alasan Selingkuh

Sebelum bahas kesetiaan, aku mau bahas alasan manusia mengkhianati cinta (selingkuh) dari orang lain. Alasan ini hanya opini dari logikaku saja, sebab aku juga belum menikah. Hehe…

1. Bosan

Bayangkan, kalian punya channel Tv hanya satu aja. Setiap hari kalian lihat. Bahkan kalian sampai hafal di luar kepala jadwal acara dari channel Tv itu.

Aku jamin, cepat maupun lambat, kalian pasti bakalan bosan. Ingin cari hiburan lain. Mungkin beralih ke media sosial atau hiburan offline seperti olahraga untuk menghilangkan kebosanan kalian.

Nampaknya, manusia juga seperti itu. Ketika satu pasangan sudah terlihat membosankan, maka condongnya akan cari hiburan lainnya. Mungkin kumpul bareng temen atau mengurangi kontak dengan pasangannya.

Salah satu hiburan manusia ketika sudah bosan dengan pasangannya adalah cari pasangan baru (selingkuh). Sehingga, produksi dopamine dan hormon cinta kembali berjalan untuk membanjiri otak manusia.

Sering kali, laki-laki bosan sebab fisik dan interaksinya. Akan tetapi, perempuan bosan sebab emosionalnya. Hal ini tentunya relatif sih.

2. Jarak

Long Distance Relationship (LDR) dekat banget dengan perselingkuhan. Sebab, di setiap lingkungan pasti ada interaksi baru, artinya bertemu dengan orang baru. Akhirnya ada cinta yang baru.

Jarak membuat intensitas ketemu berkurang, sehingga komunikasi memburuk. Akhirnya menciptakan kesenggangan. Cinta kepada sang dia pun berkurang sebab tertutup rasa suka dengan orang yang baru.

Kenapa aku bilang seperti itu? Sebab ada ungkapan “tresno iku jalaran soko kulino.” Suka itu gara-gara kebiasaan. Kebiasaan ketemu, bercakap, nyaman, kebawa perasaan, akhirnya tertarik, dan cinta.

3. Kecewa

Sakit hati memang tak selalu berujung perpisahan (perceraian atau putus). Namun, sering kali akan menciptakan renggangnya komunikasi. Ketika ngambek dengan mama kalian, kalian mungkin menutup diri di kamar atau pergi dari rumah.

Itu sifat alamiah manusia. Ketika kecewa, mereka akan menutup diri kepada orang yang membuatnya kecewa.

Ketika seseorang kecewa pada pasangannya, sering kali dia curhat dengan orang lain. Tak terkecuali dengan lawan jenis yang dikira mungkin bisa memberi solusi.

Kalau lihat film-film FTV, sering kali suami kecewa pada istri. Suamipun pergi meninggalkan rumah, tau-tau bawa cewek baru ke rumah. Memang berlebihan, tapi memang kecewa sering kali menumbuhkan rasa ingin balas dendam.

Balas dendam dalam hubungan identik dengan orang ketiga.

4. Keterbukaan

Saling mengerti bisa terjadi jika satu sama lain mengungkapkan apa yang dimau. Terkadang manusia itu gengsi untuk mengungkapkan kemauannya, inginya si pasangan harus tahu sendiri atau cari tahu (peka maksudnya).

Pasangan suami istri sering kali kecewa gara-gara tidak terbuka. Entah itu masalah keuangan, seksual, rencana masa depan, dan atau masalah pribadi lainnya. Bahkan, Whatsapp-nya pun terkadang di-lock agar pasangan tidak tahu aktivitasnya sosial medianya.

Ketika pasangan sejoli sudah mainan privasi, besar kemungkinannya terjadi, “Karna kau selingkuh, aku pun selingkuh. Ayo sama-sama kita selingkuh!”

5. Tujuan yang Nggak Jelas

Ketika manusia memutuskan untuk menciptakan hubungan ‘cinta’. Entah dengan pacaran, menikah, ataupun lainnya. Otomatis dia harus siap menerima konsekuensi kecewa. Pertemuan menciptakan perpisahan, itu pasti.

Apalagi hubungan itu nggak jelas hendak dikemanakan. Pacaran hanya main-main nggak untuk menikah. Menikahpun hanya untuk gaya-gayaan dan kepuasan semata, bukan untuk menunjang kesuksesan atau beribadah.

Jika hubungan miskin komitmen, maka sudah bisa dipastikan akan lenyap cepat maupun lambat. Maka dari itu, tujuan harus jelas.

Setia? Apakah Mustahil?

Tentunya tidak. Kata orang-orang, nggak ada yang mustahil di dunia ini. Kesetiaan bisa aja terjadi, asalkan hubungan itu dilandasi dengan ilmu.

Menikah harus dengan ilmu, menciptakan hubungan harus dengan ilmu, berkomunikasi harus dengan ilmu. Ketika manusia punya ilmu yang mempuni, selanjutnya adalah kesabaran.

Mustahil sebuah hubungan berjalan lancar mulus begitu aja. Pasti ada halang rintang yang mengujinya. Semakin banyak ujian yang dilalui, semakin besar kekuatan hubungan itu.

Ketika ujian menimpa, jawabannya adalah sabar. Waktu yang akan menyelesaikan, manusia hanya perlu berusaha sedikit demi sedikit untuk menghilangkan ego dan gengsi. Dengan kepala dingin, semua pasti terselesaikan.

Hubungan adalah sebuah seni. Seni adalah tentang hasrat dan hiburan. Harus ada kreativitas dan innovasinya. Kalau gitu-gitu aja, ya akhirnya pasti bosan dan cari alternatif lainnya. Dan selingkuh adalah jawabannya.

Apakah Mungkin Pasangan LDR Bisa Setia?

Bisa kayaknya. Tentu dengan syarat adanya komunikasi yang jelas, waktu bertemu yang jelas, dan komitmen yang kuat. Ketiga syarat itu berat. Kalau kalian kuat, berarti hebat. Wkwkw…

Pilih Diselingkuhi atau Dipoligami?

Memang pertanyaan ini sangat tidak bermutu bagi kalian. Namun, kalau dilihat dari sudut pandang agama islam, poligam itu lebih baik ketimbang selingkuh. Maka harus disiasati.

Sungguh besar pahala wanita yang dipoligami suaminya. Eits, tapi poligami yang bener. Dasaran laki-laki tukang nafsu dan bosenan dengan satu fisik aja, seringkali menjadi sebab poligami yang mengarah ke kehancuran keluarganya.

Menurutku, poligami itu baik. Asalkan sang istri mau dengan kesadaran penuh dan suami memiliki urgensi banget untuk menikah lagi.

Suami juga harus sadar, poligami bukan hanya tentang ibadah aja, bukan tentang seks dan kelamin aja, bukan tentang menghindari zina aja. Tapi tentang pentingnya memanajemen keadilan (tak boleh condong ke salah satunya), ekonomi yang mapan, dan tentunya pandai menyelesaikan segala permasalahan.

Memang, semua hal harus didasarkan dengan ilmu, agar tidak kacau balau.

Mohon dikoreksi jika ada yang salah. Aku doakan kalian setia dan mendapatkan yang setia di hidup kalian.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *