Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Teori Dominasi Sosial Berbasis Egosentris

2 min read

terori dominasi sosial berbasis egosentris

Eh, udah lama nggak nulis artikel… Kali ini, Saya sempatkan mencurahkan satu teori hasil kegabutan saya. Namanya aja gabut, jadi hasilnya pasti hal-hal yang percum tak bergun. Wkwkw…

Sebenarnya, sudah ada yang namanya teori dominasi sosial. Kemasannya tentu tegang dalam lini teori humaniora yang disusun secara ilmiah. Karena saya malas dengan hal-hal yang berbau karya ilmiah, saya akan mengajukan teori dominasi sosial yang nggak ilmiah…

Halah, kebanyakan bicit, langsung aja!

Mengenal Teori Dominasi Sosial Berbasis Egosentris

  • Dominasi = penguasaan satu pihak terhadap yang lemah
  • Sosial = ruang waktu yang berhubungan dengan masyarakat
  • Egosentris = menjadikan diri sendiri sebagai pusat pemikiran (anggap aja pusat alam semesta)

Tiga kata di atas sebenarnya sudah cukup jelas. Dominasi sosial berbasis egosenstris bisa diartikan sebagai psikologi sosial relasi mayoritas dengan minoritas yang didasarkan pada perspektif kebenaran subjektif kaum mayoritas.

Paham?

Kalau nggak paham, coba deh baca sekali lagi. Santai, memang ini teori ngawur, jadi kadang saya pun juga nggak paham apa yang saya tulis.

Aspek Dominasi Sosial Berbasis Egosentris

Meski ini adalah teori ngawur, tapi tetap ada prinsip dasarnya dong!

1. Ada Mayoritas dan Minoritas

Dimana dalam satu lingkungan ada kaum mayoritas yang mendominasi banyak hal, sehingga kaum minoritas merasa tidak memiliki panggung untuk mengekspresikan diri (tertekan).

2. Kebenaran Subjektif

Gap antara kaum mayo dan kaum mino menciptakan distorsi kebenaran suatu hal. Sehingga menutup klarifikasi, terlambatnya pemahaman alur kausalitas, dan akhirnya menciptakan kebenaran subjektif dari kaum mayoritas.

3. Manajemen Provokasi

Provokasi sering kamu ungkapkan dengan kata-kata, “Kompor-kompori”

Unsur penting dalam provokasi adalah:

  1. Provokator
  2. Isu yang masih belum terklasifikasi
  3. Narasi pembelaan diri

Dari unsur itu, lahirlah sebuah proyeksi kebenaran versi provokator yang menutup kebenaran subjektif lainnya. Sehingga, proses klarifikasi dan perbandingan kebenaran tertutup.

Intinya: manajemen provokasi itu adalah proses mengambil alih kebenaran relatif masyarakat untuk ditunggangi kepentingan pribadi.

Terciptanya Dominasi Sosial Berbasis Egosentris

Pada bagian ini, saya membahas alasan kenapa dominasi sosial bisa tercipta. Mungkin bisa saya jelaskan pada sub-pembahasan di bawah ini.

1. Perihal Eksistensi

Pernahkan kamu berada di lingkungan baru?

Tentu kamu akan merasa agak tertekan, atau mungkin sangat tertekan. Kenapa bisa begitu?

Karena kamu belum memiliki eksistensi dalam hubungan sosial di lingkungan baru itu. Mencari eksistensi artinya mencari pengakuan, maka eksistensi akan menghilir pada alasan-alasan klasik seperti:

  • Dihormati
  • Disegani
  • Memiliki bala tentara sosial

Bila sudah disemati oleh egosentris, maka akan tercipta rasa ‘mencari pengakuan yang lebih’. Sehingga, pengakuan berlebih itulah yang menciptakan gap antara kaum mayor dan minor.

2. Mengambil Alih Kebenaran

Bukan rahasia lagi, jika kebenaran adalah ‘opini kebanyakan orang’.

Siapa yang memegang dominasi sosial, dialah yang memegang kebenaran dalam masyarakat tersebut.

Ketika seseorang sudah mendapatkan ruang untuk mengemudikan mayoritas, maka dia sudah memiliki otoritas penuh pada ‘konsep kebenaran’. Boleh dikatakan, “Siapa yang mengendalikan mayoritas, dialah yang mengendalikan kebenaran”

Jadi, pengendali mayoritas tidak akan pernah salah. Meski kadang, benar-benar salah! Tapi karena bala tentara banyak, kesalahan itu terlalu dibela, akhirnya kebenaran yang hakiki tertutup.

3. Mengambil Kepentingan

Memegang dominasi, artinya memegang kebenaran. Memegang kebenaran artinya mengendalikan kepentingan. Karena manusia itu bergerak berdasarkan apa yang ia rasa benar dan sesuai dengan keberpihakannya.

Kepentingan itu banyak macamnya, misal saja:

  • Jabatan
  • Proyek
  • “Dia”

Kenapa kok saya cantumkan ‘dia’? Karena urusan cinta bisa diplintir 79880, asalkan kebenaran bisa didominasi. Dengan memiliki dominasi sosial, seseorang (dalam urusan cinta) bisa:

  • Menjadi Fuckboy atau fuckgirl profesional dengan citra yang baik
  • mengendalikan alur hubungan dengan seenaknya
  • Memiliki bala tentara untuk membelanya ketika terjadi apa-apa
  • Meski Salah ataupun benar, hasilnya adalah benar (karena sudah mengendalikan dominasi)

Dah lah, mungkin itu saja dulu. Mungkin pembahasan teori dominasi sosial berbasis egosentris ini akan saya lanjutkan kapan-kapan. Intinya, mendominasi adalah ciri khas manusia yang ingin menguasai orang lain.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Teori Dominasi Sosial Berbasis Egosentris”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *