Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

“Kapan Nikah?” Tips Menghadapi Omongan Tetangga

4 min read

Ghibah, Kapan Nikah, Menghadapi Omongan Tetangga, Kodrat Manusia, Quotes Omongan Tetangga, Menyikapi Omongan Tetangga, Tips Menghadapi Omongan Tetangga

Bersosial artinya menciptakan interaksi. Interaksi menimbulkan aksi dan reaksi. Kamu tak usah khawatir dikomentari orang lain, sebab itu adalah kepastian. Termasuk omongan tetangga.

Satu hal yang harus kamu ketahui, pengomentar tak selalu lebih baik dari yang dikomentari. Maka, kamu cukup diam dan bodo amat. Nggak usah terlalu dipedulikan.

Kalau kamu pedulikan, terkadang akan merugikan dirimu sendiri. Digosipkan, malu. dijadikan bahan pembicaraan, langsung dan insecure, dibercandai langsung overthinking. Omongan orang nggak bakal ada habisnya.

Parahnya, mulut mereka nggak bisa ditutup. Kamu hanya punya dua tangan untuk menutup telingamu, bukan untuk menutupi jutaan kata dari mulut mereka.

Bahas Omongan Tetangga dan Lainnya

Merasa omongan tetangga mengganggu kehidupanmu? Inilah ragam perilaku tetangga yang bikin kesel dan jengkel.

1. “Kapan Nikah?”

Di muka umum, seringkali tetangga bergurau soal “Kapan nikah?”

Bagi mereka memang gurauan, tapi bagi sebagian orang tentunya tidak! Karena menikah bukan soal perkara seks, punya anak, terus berkeluarga. Nikah itu pilihan hidup yang berat banget.

Jadi, nggak main-main. Tapi terkadang tetangga (atau salah seorang keluarga kamu), dengan lamis mulutnya bergurau, “Sudah umur, keburu tua, kapan nikah nich?”

2. Julidnya Minta Ampun

Julid adalah iri hati dan dengki. Iri dan dengki lumrah dalam hati manusia. Asalkan tak diungkapkan, bukan jadi masalah. Merasa orang lain lebih beruntung dari diri sendiri adalah sifat asli manusia.

Tapi ada banyak manusia jenis tetangga yang sering banget, “Weh, sudah gede, bangun rumah, kaya. Kalau gini, jangan lupa sama aku. lo ya”

Kalau nggak gitu, “Eh, hidup mbak kok bahagia banget ya. Emang gaji suami berapa sih?”

Belum nikah dibuat bahan gurauan, ketika sudah menikah ketepatan dapat orang kaya terus sewa gedung mewah untuk resepsi, “Sombong banget ni orang, gaya-gayaan nikah sewa gedung. Boros banget. Mending uangnya ditabung.”

Nggak sewa gedung, pernikahan yang sederhana, “Kataya dapat orang kaya, kok resepsinya sama aja kayak yang lainnya?”

Biar nggak dijadiin bahan gunjingan, nikahnya diam-diam di KUA, hanya keluarga besar yang melihatnya, “Eh, jangan-jangan tu hamil duluan. Nikahnya diam-diam! Pasti nggak langgeng tuh.”

Pokoknya, kamu mau ngapain aja selalu saja dikomentari mereka. Diam aja dikomentarin, apalagi bergerak.

3. Bandingin Semaunya

Pernah nggak kamu pas kecil dibandingkan sama temanmu yang pintar. “Kayak si B gitu lo. Udah baik, pintar, rajin, berbakti pula.”

Kalau kamu pernah, jangan risau. Banyak banget penduduk bumi yang merasakan hal itu. Rileks aja, dengarkan, lupakan, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan, fokus memperbaiki diri.

Make it simple. Don’t make it difficult. Life is cruel. Be strict on yourself.

Terkadang menemui tetangga yang mulutnya comber banget. Suka banding-bandingin kamu dengan dirinya, anaknya atau anak orang lain.

4. Tukang Ghibah

Ghibah-ghibah aja mungkin nggak terlalu masalah. Tapi yang jadi masalah itu, ghibah nya di depan rumah. Berkerumun,bersorak-sorai, dan mulutnya nggak terkontrol.

Satu demi satu orang di seluruh superkluster (dari planet namek hingga penduduk matahari), dikuliti satu per satu. Masalahnya diulik, diulas setajam silet berkarat.

Jadi nggak hanya terluka, namun menyebabkan tetanus pula.

Aku juga nggak terlalu masalah ketika setelah ghibah masalahnya selesai. Nggak diperpanjang lagi. Tapi kasusnya sering kali tidak! Setelah ghibah ya broadcast. Sebar fitnah dan sebar berita tanpa bukti.

Orang yang jadi bahan pembicaraan nggak tahu apa-apa tiba-tiba terkenal. Diomongin sana sini, padahal hal itu tidak terjadi. Memang, kecepatan gosip itu lebih besar ketimbang kecepatan cahaya.

Kalau cahaya, sumbernya ada dulu baru bisa memancar. Tapi gosip? Meski sumbernya belum ada, kasusnya belum terjadi. Kronologinya bisa sudah lengkap + bumbu sedapnya.

Tips Menghadapi Omongan Tetangga

Mengalami 4 hal di atas? Tak perlu khawatir. Cukup sabar dan jangan ikut terprovokasi.

1. Bodo Amat

Kamu harus bisa menghiraukan perkataan mereka. Jangan pedulikan. Ambil yang baik buang yang buruk. Memasukkan komentar orang (yang sangat subjektif) itu nggak sehat untuk jiwamu.

Sesekali, senyum sedikit terus sadarlah, “Eh, ternyata banyak juga yang merhatiin aku.”

Kamu nggak bakalaa bikin semua orang suka dan setuju dengan tindakan dan perkataanmu.

2. Diam

Kalau kamu nggak bisa menjawab, jangan umbar janji dan rencana masa depan. Itu bakalan jadi bumerang.

Kalau belum bisa jawab, tak perlu mengarang atau melebih-lebihkan sesuatu. Kamu punya hak atas itu. Kalau nanti dikira sombong, jangan khawatir. “Mulut mereka nggak bakalan merubah hidupmu.”

3. Bukti: Jawaban Telak

Tetangga itu nggak peduli dengan nasibmu. Mereka hanya peduli kebahagiaan mereka sendiri. Jadi, jangan terlalu diambil hati. Cukup tangani dengan santai, jalani dengan senyuman, fokus lakukan yang kamu rencanakan. Jangan sampai mereka tahu.

Jawab pertanyaan dan gunjingan mereka dengan prestasi versimu. Balik semua kata-kata mereka dengan hasil kerja kerasmu. Buat mereka sadar, betapa tidak bergunanya kehidupan mereka.

4. Jangan Sama

Percuma juga kalau kamu benci dijadikan bahan perghibahan, tapi kamu hobi juga ghibahi orang lain. Kalau kamu nggak suka digituin orang, jangan gituin orang lain. Cukup!

“If You Don’t Want To Be Hurt Don’t Hurt”

Kalau perlu, hindari berbaur dengan golongan-golongan seperti mereka. Berinteraksi harus, tapi seperlunya. Beli sayuran ya beli. Pilih, cek sayurnya, bayar ke penjualnya, pamit pulang.

Tidak perlu nyandar di teras tetangga, komentar sini komentar sana. Wes tho, ghibah nggak bakalan bisa bikin kaya dan masuk surga.

5. Burung Pasti Diam

Sesekali mereka memang berkicau, abaikan aja. Lama-lama pasti capek sendiri. Kamu hanya perlu sedikit berpikir untuk tidak peduli dengan orang lain.

Asalkan kamu berbuat baik, nggak pernah ganggu orang lain, suka bantu, dan sopan santun, orang lain pasti menghargaimu.

6. Tak Perlu Overthinking

Penilai seseorang itu subjektif banget. Kamu harus skeptis dengan opini orang lain. Apalagi menyangkut dirimu sendiri. Jaga pikiran agar tidak berlarian ke mana-mana liar menghubung-hubungkan semua keburukan-keburukanmu.

Manusia itu tempatnya salah. Maka dari itu tugasnya memperbaiki, bukan menyesal terus memaki-maki diri sendiri. Ampuni, relakan, lupakan, dan jalani seadanya.

7. Fokus Kerjakan Sesuatu

Omongan mereka nggak bakal merubah apapun. Meski kamu pikirkan selama hidupmu, kalau kamu tidak bergerak, hidupmu bakalan gitu-gitu aja.

Persetan dengan omongan tetangga, jadilah kamu yang kamu banget. Bukan kamu yang termasuk omongan tetangga. Berhasil ataupun gagal, mereka bakalan tetep komentar kok. Jadi, santai aja…

Dua Kodrat Manusia

Inilah alasan, kenapa kamu harus lebih peduli dengan dirimu sendiri…

1. Manusia itu Egois

Pasti! Kalau nggak egois, Allah nggak bakalan menggambarkan manusia bakalan lupa pada ibunya ketika hari kiamat. Coba ingat-ingat, ketika gempa tiba-tiba terjadi. Apa kamu mikirin keluargamu?

Nggak. Seketika langsung berlari untuk menyelamatkan diri sendiri. Nggak usah naif merasa loyal, berusaha mementingkan orang lain, dan terus membohongi diri sendiri.

Kamu manusia, egois adalah sifat aslinya. Pernah nggak kamu berpikir, “Kenapa ya aku kok jadi aku? Kenapa aku nggak bisa merasakan jadi dia?”

Manusia itu makhluk central. Setiap manusia selalu menganggap dirinya adalah pusat dari alam semesta. Jangankan alam semesta, Tuhan pun serasa harus ngikut apa kata dia.

2. Manusia: Suka Melihat Orang Lain Menderita

Apa yang kamu rasakan ketika melihat nilai ujian temanmu lebih rendah dari dirimu? Dalam hati, “Aman! Masih ada yang di bawahku.”

Gara-gara egois itu, manusia bakalan terkutuk untuk berlomba menjadi yang number one. Kalau sifat ini diarahkan pada kebaikan, sangat joss! Tapi rata-rata orang memakainya untuk menjegal orang lain.

Konsepnya di hidupnya: Kalau tak bisa jadi juara pertama, bunuh orang yang juara pertama.

Bukan: Kalau tak bisa juara pertama, harus kerja lebih keras lagi untuk menjadi yang pertama.

Itulah sedikit opini dan tipsku untukmu dan untuk diriku sendiri. Apakah aku bisa melakukannya? Tidak! Manusia itu makhluk pembelajar, kalau manusia tak luput dari kesalahan, dia bukan lagi manusia.

Cukup berusaha sebisanya, saling menasehati dan memberikan motivasi.

Salam bodo amat untukmu kawan…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *