Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

Ughtea Naughty: Membahas Distorsi Makna dan Kata Ukhti

4 min read

ughtea naughty

Ughtea adalah satu kata yang diserap dari Bahasa Arab, yaitu ukhti (artinya: saudara perempuan). Ukhti sering dipakai untuk memanggil teman perempuan agar lebih akrab. Satu komunitas tertentu malah menjadikan kata ukhti sebagai kata sapaan yang wajib.

Tujuannya adalah untuk membudayakan nuansa islam, melatih kosa kata bahasa Arab, dan menghormati saudara se-islam. Namun, tujuan-tujuan baik itu, akan hilang terdistrosi ketika diambil alih nuansa retorika yang buruk.

Sehingga terserap menjadi kata ‘Ughtea’. Terkadang ditambah Naughty agar lebih greget. Nampak arti dari serapan ini, menjadi sangat bertolak belakang dengan kata ukhti sendiri.

Ughtea Artinya dan Maksud Plesetannya

Ughtea bisa dikatakan terserap masuk dalam bahasa gaul (bahasa yang terkadang sedikit bar-bar). Ughtea memiliki arti sarkas yang dirujukkan pada cewek dengan penampilan islami, tapi kelakuannya tidak sama sekali.

Ada beberapa contoh ughtea yang mungkin berceceran di jalanan, wkwkwk:

  • Cewek pake jilbab, tapi mulutnya bar-bar poll
  • Cewek pake jilbab, tapi tindakannya bar-bar
  • Cewek jilbabnya menutup, tapi pacarnya double ganda
  • Cewek jilbabnya sempurna, tapi kerjaannya ternyata jual diri

Ya, mungkin itulah beberapa contoh maksud dari ughtea. Lagaknya islami, tapi tindakan, perkataan, dan perbuatannya tidak sama sekali. Lebih condong pada muslimah formalitas.

Ughtea + Naughty: Makna Sarkas yang Maksimal

Ketika ughtea bergabung dengan naughty, maka hasilnya adalah cewek berpakaian islami, tindakan tidak islami, ditambah dengan kelakuan bejat yang bertolak belakang dengan aturan islami.

Naughtea atau naughty itu memiliki makna nakal. Lebih condong ke makna genit. Sehingga ughtea naughty melahirkan makna maksimal. Cewek sok islami yang genit sekali. Beberapa contoh yang sering disebut sebagai ughtea naughty adalah:

  • Cewek berjilbab tapi pakaiannya ketat banget
  • Berjilbab tapi bajunya sobek + kaosnya ketat
  • Berjilbab tapi goyang-goyang seksi terus upload di media sosial
  • Berjilbab akan tetapi pergi pulang malam ngopi dengan cowok-cowok
  • Cewek ngaku islam, tapi suka genit ke banyak cowok
  • Cewek ngaku islam, tapi pacarannya tidak sehat

Pokoknya: ughtea naughty memiliki makna yang lebih bar-bar. Indikasi cewek yang terpaksa berpakaian islam. Padahal jiwanya ingin tampil cantik, menggoda, dan tentunya seksi membahana.

Sebab Distorsi Kata dan Makna

Agar lebih ilmiah, saya berikan satu pembahasan mengenai distorsi kata dan makna dari ukhti ini. Distorsi yang dimaksud disini adalah pemelintiran, plesetan, atau hal-hal yang sengaja disalahkan untuk menciptakan tendensi makna atau kata yang baru.

Termasuk pada kata Ukhti…

Awalnya baik, tapi sekarang maknanya menjadi buruk. Dari ukhti, menjadi ughtea. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Konteks Kata

Bila dilihat dari kata, ukhti tampak lebih islami. Diplesetkan jadi ughtea. Pada dasarnya, plesetan kata itu masih nyaman diucapkan. Malah, di mulut orang-orang gaul, tentu akan jauh lebih nyaman.

Bahkan, malah cenderung tercipta kecenderungan menyamakan semua ukhti dengan ughtea. Karena ketika dua kata ini kamu ucapkan, suaranya hampir sama…

Jadi, plesetan ini dibuat karena konteks kata yang hampir sama. Korelasi suara masih terpaut, sehingga dapat disebut memiliki satu ritme makna (yaitu antonimnya).

Konteks Makna

Tidak salah jika saya katakan, kata ini muncul dari lingkungan yang kurang baik. Mungkin lingkungan yang memiliki pola pikir, “Baik itu bukan dilihat dari penampilannya, tapi hatinya.”

Apalagi, didukung dengan banyaknya cewek yang berpakaian islam tapi bar-bar, mereka lebih percaya diri lagi mengucapkan kata ‘ughtea’.

Secara logika, memang benar. Banyak cewek sok islami (berpakaian islam), tapi kelakuannya nggak karu-karuan. Namun, disisi lain, istilah ini bisa menjadi satu tudingan dan penyetaraan universal semua muslimah (yang baik dan yang kurang baik).

Misal: ada ukhti yang benar-benar baik, benar-benar memiliki akhlak yang terpuji. Tapi gara-gara sudah sangat terkenalnya kata ini, orang-orang menyebutnya ‘ughtea’. Maka hal ini berdampak pada hilangnya kepercayaan seseorang dengan wanita yang menutup aurat.

Pakaian Tidak Menentukan

Satu hal yang saya kira salah dimata banyak orang adalah ungkapan, “Nggak penting pakaiannya gimana, asalkan hatinya baik”

Iya, secara logis hal itu memang benar. Tapi bisa saja menyesatkan.

Gini, kita bahas lebih intensif….

Kenapa ada pakaian adat? Kenapa orang arab pakaiannya kek gitu? Kenapa siswa sekolah memakai seragam?

Contoh di atas adalah bukti jika pakaian itu menentukan. Bukan dalam konteks akhlak saja. Akan tetapi juga identitas diri.

Ketika ada orang yang mengatakan, “Pakaian itu nggak menentukan hati,” Bukan berarti aspek berpakaian itu tidak penting. Iya, benar sekali pakaian itu tidak menentukan hati. Tapi ya tidak juga condong mengajak untuk berpakaian seksi dan mini.

Terkadang seperti itu: seseorang mengajak untuk meninggalkan doktrin dengan cara mendoktrin. Parahnya, orang yang didoktrin nggak sadar kalau sedang didoktrin.

Hati yang Paling Penting

Apakah saya menolak ungkapan itu?

Tidak. Sama sekali tidak. Memang benar hati yang paling penting. Tapi tidak juga memberikan isyarat jika kita tidak perlu memperhatikan penampilan sebagai identitas kita.

Kenapa ungkapan itu tidak diteruskan gini, “Hati yang paling penting, tapi pakaian juga penting.”

Kan lebih adil…

Terus ada yang bilang gini, “Pakaiannya aja islami, tapi tindakannya tidak sama sekali. Rugi berpakaian islam!”

Lho, nggak gitu dong konsepnya. Iya, pakaiannya islami. Ya udah… Nggak masalah meksi tindakannya tidak.

Berpakaian islami bukan satu tanda mutlak kebaikan hati seseorang. Bahkan umat agama lain pun nggak masalah memakai pakaian islami. Dan nggak ada yang ngelarang.

Jadi, berpakaian islami ya pakaiannya aja yang islami. Niat, hati, dan jiwanya nggak tahu…

Cenderung Menghina dan Menyamaratakan

Satu hal yang sangat disayangkan dari ungkapan ughtea adalah selalu dibawa dalam konteks menghina. Jika kamu di negara Arab, terus ngomong ughtea ke cewek Arab, mungkin nggak masalah. Karena bahasa sehari-harinya gitu.

Tapi kalau di Indonesia, ukhti itu diserap untuk dipakai dalam konteks islami. Jadi ketika ukhti diplesetkan jadi ughtea, ada konotasi menjelekkan muslimah yang beragama islam.

Maka seharusnya, kata ini dihindari. Karena bisa saja serasa mengejek.

Ughtea Naughty: Bentuk Degradasi Moral

Bisa saya katakan, jika ughtea adalah kata yang menunjukkan jika generasi muda sedang melalui masa degradasi moral. Selain itu, degradasi ini sudah masuk juga ke reling jiwa seorang muslimah.

Muslimah yang awalnya ukhti sejati, lambat laun menjadi ughtea naughty gara-gara perkembangan zaman. Nah, inilah beberapa sebab seorang ukhti menjadi ughtea naughty yang mungkin perlu kamu ketahui:

1. Ideologi

Satu dasar yang paling menentukan adalah keyakinan seorang muslimah terhadap sebuah ajaran. Di zaman edan ini, banyak berkembang gaya aliran islam yang terkesan ‘santai’, padahal menyeleweng kata para ulama.

Jika seseorang lebih percaya semua terletak pada hati, maka pelacur pun akan dihalalkan karena niatnya yang baik. Ideologi inilah yang sangat penting. Menentukan terhadap arus perkembangan akhlak seorang muslimah.

2. Lingkungan

Sebab kedua adalah lingkungan. Memang benar, jika kamu berbaur dengan pedagang wewangi, cepat maupun lambat, kamu bakalan wangi juga. Lingkungan itu sangat menentukan, karena manusia adalah makhluk sosial.

Anak pondok, tidak menutup kemungkinan bakalan terus baik. Apalagi ketika dihadapkan pada situasi yang membuat dia jadi buruk. Sama pula dengan seorang muslimah sejati, jika tidak berada di lingkungan yang mensupport kebaikan dia, lambat laun dia akan tergerus arus sosial juga.

Jadi, dalam perihal lingkungan, ukhti sangatlah dekat dengan ughtea. Salah lingkungan, seorang ukhti bisa saja menjadi ughtea.

3. Tontonan

Era teknologi membuat mata manusia bekerja berkali-kali lipat. Menciptakan kesan jika tidak update, maka kamu akan terjun lagi ke dunia purbakala.

Padahal, tidak demikian. Kamu sesekali harus rehat dari media sosial, internet, dan dunia maya. Karena di dalamnya terlalu banyak ideologi, aliran pemikiran, gaya hidup, yang kesemuanya memiliki sifat mendoktrin.

Tidak mustahil, gara-gara salah tontonan saja, seorang ukhti berubah jadi naughty. Apalagi ketika sudah terpedaya oleh satu aliran tertentu dengan satu tokoh yang kharismatik.

***

Mungkin itu saja dulu pembahasan saya tentang ughtea naughty. Memang agak kurang lengkap sih, tapi semoga saja bermanfaat. Saya rasa, kita semua harus memiliki dikta bertutur kata yang baik dan tidak menjelekkan satu sama lain.

Salam dari akhi antum…

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

One Reply to “Ughtea Naughty: Membahas Distorsi Makna dan Kata Ukhti”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *