Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

VCS adalah? Ulasan Logis Wanita Nackal di Media Sosial

3 min read

VCS adalah

Terdengar agak tabu memang, pembahasan kali ini. Apa sih VCS itu? VCS adalah…

(PERINGATAN! Kalau merasa belum siap jaga hati dan belum bisa dewasa menyikapi, silahkan meninggalkan artikel ini, 18+)

Video Call S3x, arti singkatnya: panggilan video berbau p0rnograf1 yang dimana para pelakunya mencari kepuasan ber4hi dengan menunjukan beberapa organ spesifik sistem reproduksi.

Bingung ya? Intinya VCS adalah video call, tapi nggak seperti lumrahnya. Video call bugi1.

Kenapa hal seperti ini perlu dibahas?

Sangat perlu. Sebab banyak banget anak-anak belum pubertas, terpaksa pubertas dini gara-gara layanan VCS ini. Lho, kok ada layanannya? Layanan VCS itu apa?

Layanan VCS adalah jasa yang memberikan pelayanan kepada konsumen m3sum untuk video call berfasilitas video bugil atau sejenisnya.

VCS Sistemnya Bagaimana?

Pastinya, VCS itu bertarif. Sebab VCS adalah sebuah jasa dari wanita nackal. Menurut sumber berita yang saya dapatkan, orang bisa pesan VCS bertarif ini lewat berbagai media sosial.

Ada VCS Instagram, VCS Twitter, VCS Whatsapp, dan mungkin saja berbagai aplikasi media sosial lain yang memiliki fitur video call. Faktanya, jasa ini tidak dicari, akan tetapi ditawarkan oleh pelakunya sendiri.

Siapa yang Melakukan VCS?

Secara spesifiknya, saya belum tahu. Namun beberapa waktu lalu, ketika saya baru buat new akun facebook, tiba-tiba ada yang messenger (personal messenger). “Kak Vsc murah 200 ribu saja,”

Wah, saya kaget. Siapa yang tanya dia? Kok tiba-tiba menawari. Padahal berteman pun enggak, kenal juga enggak.

Karena penasaran, saya membuka linimasa akun dia. Eh, ternyata memang dagang tubuh dia. Banyak banget, laki-laki berwajah bapak-bapak yang mengucapkan terima kasih. Pakai upload foto segala si bapak-bapak itu.

Saya berbaik sangka aja, mungkin kata ‘terima kasih’ itu untuk konfirmasi pertemanan. Eh, ternyata ketika dia posting sesuatu, yang komen laki semua. Ada satu postingan yang berbunyi, “Yang belum tidur bisa PM aku ya, aku sendirian.”

Dalam hati saya, “FIX! Pelacur, Wkwkwk…” Astagfirullah.

Korban VCS adalah Siapa?

Ini ni pembahasan yang harus kalian tahu. Kalau saya saja yang tidak niat ngapa-ngapain di facebook dapat chat seperti itu, bagaimana yang benar-benar niat cari jasa VCS?

Otak saya mulai menghubung-hubungkan. Kalau yang respon di postingan pelacur online itu bapak-bapak, waduh! Berarti banyak bapak-bapak ikut-ikutan gitu dong. Apalagi mereka sudah bekerja…

Rp 200 ribu itu perkara yang gampang banget dicari (apalagi bagi bapak-bapak yang mapan finansial).

Ya semoga saja tidak seperti yang saya pikirkan. Semoga, suami kalian juga tidak. Semoga kakak ipar, kakak laki-laki, dan ayah kalian tidak melakukan hal-hal seperti ini. Aamin.

Kalau dapat jasa VCS sangat mudah, bagaimana nasib anak-anak yang bergelut di media sosial?

Apalagi di zaman ini, anak-anak masif banget pake yang namanya smartphone. Mereka pasti tidak asing lagi dengan media sosial. Apalagi, di twiter pernah sekali saya menemukan kata #VCS trending nomor sekian.

Wah-wah-wah bahaya nih!

Coba kita Pikirkan Dari Segi Si Wanita Nackal

Coba tebak, kenapa mereka mau melakukan hal memalukan seperti itu?

Yups, karena butuh uang. Motivasi terbesar pasti itu. Apalagi coba? Mungkin ada sedikit sih, dampak psikologi yang menjadikan seorang wanita mau Open VCS. Misal, diputus pacar, sakit hati, atau merasa hina-sehina-hinanya sebab diperkosa.

Namun Motiv terbesar tetaplah, money.

Mereka nggak ada kerjaan, malas cari kerja, atau bingung kerja apa, akhirnya open jasa tubuh. Mereka mungkin saja merasa, “hanya punya tubuh yang bisa ditukar dengan uang.”

Dan ini salah! Mereka itu salah ketika dengan senang hati buka jasa VCS.

Hindari Toleransi Moralitas Atas Humanisme yang Berlebihan

Kalau kita ambil kajian humanisme westren, pasti akhirnya diliberalkan menjadi, ‘Nggak masalah kok, nggak dosa. Ya mau bagaimana lagi, wong hanya itu yang mereka bisa. Mungkin dia perlu untuk menghidupi anak, keluarga, bahkan suaminya.”

Padahal, kalau konsep seperti itu yang dipakai, maka akhirnya kebenaran relatif terwujud. Sama saja melegalkan korupsi untuk kebaikan seseorang. “Nggak papa kok, mungkin hanya korupsi yang mereka bisa. Mereka korupsi hanya untuk mencukupi kebutuhan mereka saja.”

Karena konsep ‘butuh’ itu luas. Orang punya istri dengan jomblo, kebutuhannya pasti beda. Pelacur dan koruptor, pasti kebutuhannya berbeda. Jadi nggak boleh, konsep ‘nggak apa-apa’ untuk sesuatu hal yang jelas-jelas salah.

Yang benar itu, “Hukum dijadikan pagar batasan! Bukan hukum dipelintir, dikoyak-koyak, dan dimanipulasi agar menyesuaikan.”

Solusinya Gimana?

VCS itu boleh! Asalkan dalam koridor spesifik dan eksklusif suami istri dengan jaminan protected systems video call. Selain itu, nggak boleh. Segi agama pun, VCS suami istri mungkin boleh atau bahkan wajib tapi ada S&K-nya.

Jasa VCS itu melanggar syariat dan merugikan orang. Titik! Solusinya, biarkan mereka (mbak-mbak jasa VCS), nasihati kalau situasi dan kondisi-nya pas, dan bantu semampunya. Dan “Jangan dikasih uang!”

Sebab terkadang, wanita itu dikasih uang bukan untuk hidup tapi untuk merias diri. Lebih baik beli make up glowing seleser best singing slash singing, berpuasa, dan berhemat daripada mencukup kebutuhan gizi tubuh sendiri. Ada lho dan mereka hidup.

Kalau mbak-mbak VCS itu masih muda, apa nggak ada kerjaan lain yang lebih layak untuk mereka terima? Kenapa harus Open VCS kalau banyak Loker pekerjaan di facebook dan media sosial lainnya?

Preventif: Pendidikan Seksual dan Skill

Maksudnya gimana? Pencegahan dilakukan dengan memberikan pengetahuan kepada anak yang mulai memegang smartphone. Bukan mulai pubertas lho ya! Sebab sering kali anak (tak laki tak perempuan) mulai dewasa dan pubertas dini gara-gara smartphone.

Pengawasan dan ketegasan orang tua jadi hal yang penting. Penggunaan smartphone harus dibatasi. Pasti bakal sedih bukan, kalau kalian jadi ibu, terus lihat anak kalian bayar Rp 50 ribu (dari uang yang kalian beri) untuk ambil jasa VSC dengan mbak-mbak seusia kalian.

Jangan merasa kasihan kepada pelaku VCS, mereka rata-rata masih muda (bahkan SMA). Logika mereka masih bisa bekerja menyelesaikan berbagai pekerjaan, ketimbang memuaskan banyak laki-laki yang sudah beristri.

Coba bayangkan, suami atau istri kalian yang pesan gituan? Ngeri bukan?

Memang, skill berkehidupan itu penting. Kalau orang nggak punya skill, ya akhirnya hanya tubuhnya dan rasa malunya yang bisa dijual.

Maka dari itu, mari belajar apapun yang positif, agar di usia dewasa kita tidak senasib dengan mbak-mbak VCS yang make-up-nya tebal banget.

Arya Hudaraja
Arya Hudaraja Aku tidak tahu apa-apa

4 Replies to “VCS adalah? Ulasan Logis Wanita Nackal di Media…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *