Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Buku The Alpha Girl Guide : Bukti Bahwa Perempuan Butuh Perspektif Laki-Laki

2 min read

The Alpha Girl's Guide : Bukti Bahwa Perempuan Butuh Perspektif Laki-Laki

Aku sedikit menyesal baru membaca buku Tha Alpha Girl Guide yang ditulis om Henry Manampiring yang ditulis tahun 2015 ini sekarang. Tapi ya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Jadi aku akan sedikit membahas dan berbagi pendapatku kepada kalian mengenai buku uwuw satu ini..

Aku dulu tertarik membeli buku ini karena setelah membaca tulisan yang menyebutkan buku ini dengan keterangan : “Alasan perempuan indonesia menikah”. Dari judulnya, kita pasti sudah mengetahui bahwa buku ini merupakan panduan untuk menjadi “Alpha Girl” dengan mengusung tagline :

Menjadi cewek smart, independen, dan anti-galau

Lalu apa itu Alpha girl?

dalam buku ini dijelaskan bahwa alpha girl merupakan cikal bakal dari lahirnya alpha female.

Alpha female sendiri adalah perempuan-perempuan yang terus berusaha dipuncak karena prestasi dan attitudenya. Mereka dihormati dan disegani, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Mereka percaya diri dan mengoptimalkan potensinya.

Aspek-aspek dalam menjadi alpha girl pun dijelaskan secara rinci dan gamblang dalam buku ini. Meliputi aspek bagaimana menjadi : Alpha Student, Alpha Friend, Alpha Lover, Alpha Worker, Alpha Look, bahkan sampai Alpha Care. Jika kalian ingin mengetahui lebih banyak maka bacalah buku ini, beneran deh wkwkwk

Setiap baca bab dari buku ini, banyak hal yang saya “iya sih” “oh iyaya” “oh begitu”. Tapi ada juga beberapa pemikiran yang saya tidak setuju. Tapi bukankah itu hak saya? Karena dibuku ini penulis pun sudah menghighlight bahwa kita sebagai pembaca tidak boleh menelan ilmu secaramentah-mentah. Salah satu ciri-ciri Alpha Girl adalah mau bersikap kritis terhadap hal yang dia dapatkan. Bukan hanya mengandalkan perasaan dan air mata saja.

Buku ini dimuat dengan bahasa yang ringan. Namun untuk benar-benar mengingat dan bisa mengaplikasikannya, aku pikir kalian harus baca dan praktekkan pelan-pelan, karena banyak sekali ilmunya. Tapi tak apa, menjadi Alpha Girl memang tidak bisa dengan hanya simsalabim, jadi.

Bergelut dengan proses dan tidak hanya berorientasi dengan hasil. Yak itu ciri Alpha Girl berikutnya.

Haduh udah 2 tips nih yang aku bocorkan. Udah deh itu, nanti kalau aku bocorkan banyak-banyak kalian malah gak mau baca bukunya, hahahah.

Jadi, selanjutnya aku mau bahas perspektifku saja mengenai buku ini

Mengapa sih buku seperti ini sampai harus ada, bahkan cukup tebal pula bukunya (260 halaman). Dan yah, hal yang membuat aku thinking hard : Buku ini loh tentang perempuan, tapi kok ditulis oleh laki-laki?

Tapi di bab awal buku ini, penulis sudah menjawab pertanyaan saya dengan : Pertama, beliau bisa berada dalam posisi netral. Sehingga tidak akan timbul pernyataan dari perempuan lain mengenai “pembelaan diri”, wong dia laki-laki bukan perempuan. Kedua, beliau berpendapat bahwa pada fase remaja, keputusan yang kita ambil juga butuh perspektif dari lawan jenis.

Lalu, kenapa buku ini rasa-rasanya sangat related dengan pembaca? Contohnya aku sebagai perempuan?

Nah ini menurut aku ya, aku ingin menyoroti pendapat penulis yang kedua. Lebih umum, menurutku bukan saat remaja saja kita butuh perspektif dari lawan jenis, tapi seumur hidup. Kecuali saat bayi dan kanak-kanak ya, hahaha. Oleh sebab itu, orang yang menikah tidak akan bisa saling romantisan setiap hari. Mereka juga harus menerima konsekuensi untuk berbagi pemikiran dan penyelesaian dalam masalah rumah tangga kita.

Oke, aku ingin menghiglight bahwa perempuan juga butuh perspektif laki-laki. Lalu mungkin kalian akan bertanya :

“Loh berarti perempuan harus bergantung pada laki-laki dong?”

“Loh katanya harus menjadi perempuan mandiri, kok bergantung pada laki-laki?”

“Loh katanya bosen jadi objek, kok nggantung terus sih?”

Hahaha iya-iya, hayuuk deh dibahas pelan-pelan:

Maksudku, ketika perempuan membutuhkan perspektif laki-laki, tidak mengharuskan dia bergantung pada laki-laki tersebut. Toh ketika kita membutuhkan perspektif orang lain, itu pertanda kita telah melakukan diskusi atau melewati masalah yang sulit bukan? Kita kan hanya butuh “pandangan” orang tersebut mengenai masalah kita, tidak membutuhkan orang itu untuk menyelesaikan masalah kita bukan? Jika menyelesaikan masalah, itu bukan tandanya meminta perspektif, tapi minta tolong. Dan meminta tolong gak harus dilakukan perempuan ke laki-laki bukan?

Aku mengatakan “perspektif” tadi ingin menekankan sebuah asas yang bernama “saling”. Bukan berarti bergantung perempuan ke laki-laki atau sebaliknya. Tapi dengan berbagi perspektif, perempuan dan laki-laki bisa berbagi “sudut pandang”. Bisa menjadi partner dalam berbagai hal, sehingga tidak ada yang akan menjadi subjek dan satunya adalah objek. Namun keduanya bekerja sama untuk memecahkan suatu hal, “saling melengkapi”.

Nah, kalian pasti kemudian berpikir gerakan-gerakan tentang perempuan

Bukan berarti ya jika ada suatu gerakan yang ingin menyetarakan perempuan, menandakan perempuan harus tampil unggul di atas laki-laki. Aku sebagai perempuan juga tidak ingin seperti itu kok. Aku mendukung gerakan penyetaraan, hanya karena melihat banyak perempuan-perempuan yang masih tertindas di zaman kebebasan

Tapi aku hanya menginginkan perempuan dan laki-laki bisa berjalan secara beriringan, menerapkan asas “saling” dalam berbagai bidang. Tentunya bukan perempuan saja yang membutuhkan perspektif laki-laki, tapi sebaliknya juga pasti bisa bukan? Jangan jadikan perbedaan jenis kelamin ini menjadi ajang kuat-kuatan, gengsi dan saling merendahkan yang lain. Tapi mari jadikan ajang untuk saling melengkapi satu sama lain.

Ingat, “asas saling”, oke !

Rosyi
Rosyi Aku hanya menulis untuk mengabadikan dan berbagi pemikiran maupun keresahan kok, nggak lebih. kepo kepo cek di sosmed aku aja yak, see you~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *