Berdampingan Dengan si Kecil Yang Berbahaya

2 min read

berdampingan dengan si kecil

Tidak dapat dipungkuri bahwa sekarang indonesia maupun dunia sedang mengalami proses penyesuaian diri, seperti yang telah dilakukan manusia selama berabad-abad dahulu mulai dari zaman es manusia menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrem untuk bertahan hidup.

Tak berbeda dengan sekarang, kita juga harus menyesuaikan diri dengan “si kecil yang berbahaya” yaitu virus covid-19 yang semakin kesini bukannya mereda tapi malah menjadi,

Beberapa daerah di indonesia sekarang kembali melakukan PSBB karena tingkat kasus positif corona kembali meningkat.

Selama ini para dokter diseluruh dunia sudah berjuang untuk menciptakan sebuah obat yang bisa menangani si kecil itu, tapi kenyataannya sampai sekarang manusia belum bisa menemukan obatnya.

Hanyalah vaksin sebagai alat perlindungan diri untuk imunitas tubuh agar tidak terjangkit dan kebijakan-kebijakan dari pemerintah untuk mengurangi potensi bertambahnya jumlah orang yang terkena virus ini.

Setelah semua itu dilakukan tapi tetap saja keadaan tidak berubah, dalam satu sisi kita tidak bisa menilai ini karena salah masyarakatnya, karena disitu ada orang-orang yang jika tidak pergi maka mereka tidak makan, dan jika tidak ada pembeli mereka pun tidak bisa mendapat rejeki untuk membeli makanan bagi dirinya atau keluarganya. Sebernarnya pemerintah sudah memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai.

Tapi sampai kapan hal itu akan terus berlanjut?

Sedangkan situasi sekarang di indonesia tingkat yang terkena covid-19 semakin banyak. Pemerintah juga tidak bisa terus menerus memberikan bantuan.

Oleh sebab itu, sepertinya kita sekarang harus bisa hidup berdampingan dengan si kecil ini mau tidak mau manusia harus menggunakan kembali insting atau kemampuan nenek moyang mereka Yaitu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Manusia pasti mampu melakukan hal itu karena kita diberi kemampuan untuk berpikir dibanding makhluk lainnya yang ada dibumi ini. Jadi apa salahnya jika kita menggunakan persepsi itu?

Selagi kita menunggu dan menemukan jalan keluar bagi masalah ini, tidak salahnya untuk dicoba. Karena jika kita terus menerus menekankan untuk menghilangkan virus ini di belahan dunia mungkin itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan manusia itu makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain tidak bisa kita dikurung dalam suatu kerangka bangunan untuk waktu yang lama berharap diluar sana virus itu akan menghilang dan mati dengan sendirinya karena tidak orang yang bisa terjangkit. Apa itu masuk akal?

Ya, sulit untuk membayangkan itu bisa terjadi karena itu sesuatu yang mustahil. kembali ke poin utamanya “bagaimana cara manusia berdampingan dengan virus ini?” jawabannya tidak sulit bahkan kita sekarang pun sudah melakukannya, seperti menjalankan Protokol Kesehatan (prokes) diantaranya menggunakan masker selama berpergian, menjaga jarak dan hindari kontak langsung dengan orang lain. Itu hal mudah untuk dilakukan tapi banyak orang yang menyepelekan hal itu dan merasa tidak ada dampaknya,

mungkin orang-orang tersebut yang tidak menaati dan menjalankan prokes lah  yang membuat keadaan semakin memburuk dan merugikan orang banyak.

Manusia sejak berjuta tahun lalu mengalami yang namanya evolusi, evolusi tersebut untuk menyesuaikan manusia dengan alam disekitarnya, apakah mungkin pada saat sekarang juga manusia harus berevolusi? Evolusi disni bukan berarti manusia harus menumuhkan ingsang untuk bisa bernafas di air, atau memiliki sayap untuk bisa terbang itu seperti di film-film fiksi yang sering kita tonton.

Tapi yang dimaksud evolusi disini adalah bagaimana manusia dapat mengoptimalkan imun tubuhnya untuk kebal terhadap virus covid-19 ini. Itu tidak terdengar seperti serum super solider nya captain america tapi tentu saja mungkin bisa diwujudkan dengan teknologi medis yang sudah sangat maju seperti sekarang. Tahap pertama kita sudah diberi vaksin mungkin beberapa waktu kemudian mungkin para dokter dan paramedis di dunia dapat menemukan obatnya atau tidak sama sekali.

Pola hidup baru atau sering kita sebut new normal suatu kebiasaan yang harus kita lakukan, mengerjakan hal-hal yang tak pernah kita lakukan sebelumnya, membiasakan diri dengan situasi yang tidak biasanya sampai menjadi hal yang lumrah bagi kita.

Sudah hampir 2 tahun kita berada dalam situasi ini dan mana mungkin kita tidak terbiasa? Waktu 2 tahun menurut saya cukup untuk manusia mengambil jalan penengah dengan berdamai dengan si kecil ini. Jangan kita usik keberadaannya atau kita lah yang dimangsa olehnya cukup menjadikannya sebuah awareness sehinga kita bisa hidup berdampingan dan terwujudlah arti dari new normal yang sesungguhnya.

Karena tidak mustahil juga jika virus covid 19 akan selamanya ada, karena sampai sekarang belum ada lembaga pemerintah dalam negeri ataupun dunia yang bisa mengatakan kapan pandemi ini akan berakhir, mereka hanya memperikarakan dan perkiraan manusia bisa saja tidak sesuai ekspektasi nantinya. Jadi kendati demikian kita manusia juga harus berpikir siapa yang sebenarnya virus itu kita manusia yang merusak alam atau covid ini?.

Semuanya kembali pada diri kita masing-masing bagaimana cara kita untuk menghadapi situasi ini tapi yang jelas apapun yang manusia lakukan sekarang hanyalah demi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan setiap makhluk dibumi ini punya kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri.

“Raja alim raja disembah, Raja alim raja disanggah. Mari kita berdoa semoga indonesia mampu menangani wabah, semua karena usaha dan Rahmat dari Allah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *