Culture Shock, Keberagaman Indonesia yang Unik

2 min read

culture shock

Gegar budaya atau shock culture adalah suatu perasaan bingung,cemas,risau,gelisah ketika bertandang atau bermukim di lingkungan masyarakat yang baru dan sangat berbeda dari situasi yang biasanya. Terlebih bagi mereka yang baru pertama kali tinggal dalam waktu lama di daerah baru. Umumnya culture shock yang sering dialami oleh orang lain adalah pada proses berkomunikasi. Penglaman berbicara bahasa asing di negara yang berbeda. Tetapi tidak hanya saat pergi ke luar negeri culture shock dapat terjadi. di indonesia sendiri sering terjadi culture shock karena keberagaman suku,budaya,bahasa dan adat-istiadatnya sering kali dijumpai bagi mereka yang berasal dari beda pulau pindah ke daerah yang baru.

Perubahan kebiasaan ini tak jarang membuat beberapa orang menegeluh dan merasa frustasi dengan keadaan. Culture shock yang terjadi di indonesia sangat beragam, ada yang dari makanannya,bahasa sehari-hari dan juga kebiasaannya. Sebagai contohnya culture shock dari segi makanan orang-orang ambon,makasar dan sekitarnya di pulau sulawesi memakan pisang goreng itu harus pakai sambal dan ketika orang itu pergi ke daerah jawa disana pisang goreng tidak memakannya dengan sambal karena itu sesuatu hal yang aneh padahal di sulawesi itu hal yang lazim.

Lalu dari segi bahasa contohnya orang jawa yang berkunjung atau bermukim di bali, ada seorang anak kecil yang memanggil wanita tua dengan sebutan mohon maaf alat kelamin wanita, tentu bagi orang jawa itu hal yang aneh dan tidak sopan, tetapi di bali sendiri sebutan itu maklum dijumpai karena kata itu yang memilik arti ‘Ibu’ di daerah tersebut dan masih banyak lagi hal-hal lainnya karena keberagaman bangsa indonesia yang kaya akan budaya di setiap daerahnya.

Culture shock sering terjadi pada mahasiswa atau pekerja yang merantau jauh dari daerah asalnya. Biasanya mereka yang mengalami gegar budaya atau culture shock ini adalah mereka yang masih labil dalam beradaptasi. Keadaan lingkungan yang tidak sesuai dengan harapan mereka menjadi suatu faktor yang menyebabkan timbulnya gejala shock culture.

 

Adapun proses adaptasi yang harus dilalui agar terbiasa dengan lingkungan barunya, pada setiap orang proses adaptasi pasti berbeda-beda ada yang berhasil melaluinya dengan cepat atau lambat. Begitu pula shock culture sendiri yang mempengaruhi kehidupan setiap orang dalam bentuk yang beragam.

Shock culture juga sering memberikan banyak dampak buruk bagi sebagian orang yang merasakannya karena sangat berbeda dari daerah asalnya, orang-orang yang mengalami shock culture ini sering ditandai dengan merasa bosan, menarik diri dari lingkungan baru/ enggan bersosialisasi, diliputi dengan rasa tidak berdaya, mudah lelah dan lebih sering tidur dibanding bersosialisasi dengan lingkungan barunya, terlalu sering ,mengomentari budaya atau adat daerah setempat, homesick alias rindu tempat tinggal asalnya dan juga bisa sampai mengalami gejala depresi.

Cara Mengatasi Culture Shock

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi culture shock ini, diantaranya :

1. Memperlajari daerah tujuan

Mencari tahu lebih dalam mengenai seluk beluk suatu daerah yang baru yang akan disinggahi atau bermukim disana, hal ini tidak terbatas pada pengetahuan umum saja, tetapi juga terkait dengan anjuran atau perilaku kebiasaan yang terdapat pada daerah tersebut.

2. Menghafal lokasi-lokasi penting

Ketika sudah sampai di daerah tujuan, biasakan untuk memahami lingkungan sekitar dimulai dari yang terdekat. Hafalkan lokasi tempat-tempat penting seperti kantor polisi, rumah sakit dan fasilitas publik yang dapat membantu.

3. Tidak membanding-bandingkan daerah

Hindari kebiasaan membandingkan segala sesuatu di daerah baru yang disinggahi atau ditempati dengan daerah asal. Karena hal ini dapat menyulitkan kita untuk terus bergerak maju dan waktu beradaptasi. Biasanya perantau akan terus ingat dengan kampung halaman mereka dan merasa berat untuk menjalani kehidupan ditempat baru.

4. Menjalin relasi di daerah baru

Di daerah baru, perantau sebaiknya menjalin relasi dengan masyarakat setempat, sering bersosialisasi dan mengikuti setiap adat yang berlaku di tempat atau daerah tersebut. Karena itu bisa menjadi salah satu kunci keselamatan diri dan juga mempercepat waktu beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

5. Berpikiran terbuka

Tetap menjadi seorang yang memiliki pola pikir karena hal itu dipercaya menjadi cara paling efektif dalam menghadapu shock culture. Dengan menjadi pribadi yang adaptif tanpa harus memaksakan diri terlalu keras.

Berdasarkan hal-hal diatas, inti yang harus kita lakukan dalam menghadapi gegar budaya (culture shock) ini adalah dengan berpikiran terbuka dan berperilaku positif. Karena hal itu dapat dimulai dari kita sendiri. Dengan berpikir dan berperilaku positif, kita dapat menyebarkan hal-hal positif kepada lingkungan sekitar dan diri kita sendiri, sehingga dapat mengatasi dampak-dampak dari culture shock tersebut dan memahami keberagaman yang ada di indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *