Pelecehan Seksual, Harus Direspons Oleh Semua Pihak

2 min read

pelecehan seksual

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum, maupun di tempat pribadi. Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal.

Di indonesia beberapa waktu lalu sempat dihebohkan dengan kasus pelecehan yang dilakukan oleh Gofar Hilman yang menuai beragam reaksi dari banyak pihak. Belum reda permasalahan itu muncul kembali sebuah kasus pelecehan yang diduga dilakukan oleh rektor disebuah PTS di Jember. Melihat kejadian-kejadian itu tidak terjadi disuatu tempat tertentu tapi bisa dimana saja,kapan saja, dan oleh siapa saja.

Melihat kejadian yang terjadi dan mungkin masih banyak lagi diluar sana khususnya dilingkungan kampus yang marak terjadi menimpa para mahasiswinya tetapi tidak bis berbicara lebih dan memutuskan untuk diam karena mereka takut.

Data statistik menunjukan sejak  1 Januari 2021 menurut PPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak) telah tercatat kurang lebih 426 kasus terjadi kekeresan dan pelecehan terhadap perempuan.

Jumlah ini terbilang cukup tinggi dan itu pun berdasarkan data pengaduan dari korban belum lagi yang tidak mengadu masih sangat banyak diluar sana.

Alasan Korban Pelecehan Seksual Bungkam

Kebanyakan dari para korban pelecehan cenderung diam karena ada beberapa alasan:

1. Korban bukan dilindungi tapi dipublikasikan

Korban pelecehan bukannya dilindungi tapi malah dipublikasikan dan disebarkan oleh media-media, belum lagi sosial media lainnya. Salah satu alasan bagi mereka untuk tidak berbicara padahal kondisi psikologis korban mungkin sedang rapuh menghadapi trauma pelecehan seksual tersebut. Ditambah lagi dengan pemberitahuan berita kemana-mana yang membuat sebagian besar korban merasa tersudutkan.

2. Tidak siap menghadapi proses hukum yang berjalan

Faktor lainnya yaitu korban tidak siap menjalani proses hukum yang berjalan diindonesia, apalagi prosesnya biasanya berjalan lama. Sehingga mereka lebih menyimpan sendiri permasalahannya, karena proses hukum ada tahapan-tahapannya yang membuatnya lama, sehingga para korban harus memiliki mental yang kuat untuk bisa mengikuti semua proses hukum yang ada.

3. Korban tidak melapor karena stigma

Banyak sekali korban pelecehan seksual yang tidak membicarakannya kepada orang lain atas apa yang dialaminya termasuk kepada pihak kepolisian. Karena masyarakat seringkali menuduh balik korban atas apa yang dialaminya seperti karena pakaian yang terbuka yang bisa memancing dan mengundang bahkan ada juga yang bilang jika korban pun menikmatinya. Oleh sebab itu para korban memilih diam karena stigma yang beredar dimasyarakat.

Dalam penindakan pelaku ini juga terkadang tidak adil bagi sebagian korbannya, banyak dari para pelaku misalnya jika seorang dosen yang melakukan tindak pelecehan tersebut kepada mahasiswinya paling oleh pihak kampus hanya memberikan skors kepada dosen tersebut tidak boleh mengajar untuk beberapa bulan dan setelah itu dia diperbolehkan mengajar lagi. jarang ditindak tegas seperti langsung di pecat dari kampus tersebut, disini terlihat jelas jika banyak juga pihak yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dan dipedulikan, padahal dampak bagi si korban ini bisa saja sampai bertahun-tahun menghantui kehidupannya oleh bayang-bayang perlakuan si pelaku kepada dirinya.

Faktor relasi kuasa yang seringkali dijumpai di kampus, korban kekerasan seksual merasa terpaksa, tidak berani menolak atau hanya diam ketika mengalami pelecehan seksual lantaran pelaku biasanya adalah seseorang yang memiliki kedudukan dan kuasa di kampus, entah itu sebagai seorang dosen, staf ataupun pemimpin organisasi tertentu di kampus.

Korban kekerasan seksual di kampus merasa takut, lantaran status sebagai seorang mahasiswa yang tentu saja akan masih berhubungan dengan pelaku, adanya ancaman serta diskriminasi nilai ataupun kesulitan untuk lulus menjadi salah satu faktor korban tidak berani melaporkan tindakan pelaku. Selain itu, ketakutan mendapat stigma negatif dari masyarakat atau disalahkan oleh berbagai pihak dan dianggap melebih-lebihkan atau bahkan dianggap “ia yang menggoda”, “ia menikmati”  menjadi pertimbangan korban untuk memilih diam. Padahal korban punya hak untuk mendapat keadilan dan mendapatkan pemulihan.

Pihak kampus dan kepolisian harusnya memberikan rasa aman kepada para korban, seperti memberikan tempat pengaduan oleh pihak kampus, lalu diberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku oleh pihak kepolisian.

Ketika Mengetahui Adanya Pelecehan Seksual

Lalu apa yang bisa kita lakukan jika ada teman kita atau orang lain yang mengalami peristiwa itu?

  1. Kekerasan seksual dapat dialami oleh siapapun dan terjadi dimanapun. Termasuk kepada diri kita sendiri. Maka, mulai berani melaporkan tindakan pelaku.
  2. Jika mendapati seorang teman yang mengalami hal tersebut, hal yang dapat dilakukan dengan mendengarkan dan berempati. Memang terlihat sepele, namun dapat menjadi bentuk dukungan kita terhadao korban yang sedang merasa trauma.
  3. Mulai mendengarkan dan tidak menghakimi korban. Biarkan korban bercerita dan meluapkan emosinya.
  4. Menanyakan kebutuhan korban dan menyediakan informasi, apakah ingin mengakses layanan konseling atau melaporkan kepada pihak berwenang.
  5. Mendessak kampus agar membuat regulasi tentang pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual yang berpihak pada korban.

Oleh sebab itu peran aparat penegak hukum, masyarakat dan orang tua adalah memberikan perlindungan terhadap korban, mengungkap penyimpangan sosial yang marak terjadi ini dan memberikan perhatian lebih, dukungan kepada para korban pelecehan seksual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *