Izdihar Aisy Mahasiswi Pendidikan Geografi yang suka nulis, ngebacot tapi gak asal bacot. Paling suka kalo bahas tentang Sosial, budaya, geografi, sama pendidikan.

Refleksi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru)

4 min read

Refleksi PPDB

Refleksi PPDB – PPDB merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan yang bertugas untuk menyeleksi calon peserta didik baru.

Penentuan calon peserta didik baru diperlukan beberapa pertimbangan yang matang yaitu standarisasi nilai, persyaratan masuk sekolah serta kebijakan-kebijakan dari pemerintah dan lembaga pendidikan yang sering berubah setiap tahunnya.

Sistem seleksi dalam PPDB dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : seleksi berdasarkan daftar nilai, seleksi berdasarkan penelusuran minat dan kemampuan, dan seleksi berdasarkan hasil test masuk. Proses PPDB saat ini menggunakan system online dimana formulir pendaftaran dan nomor peserta dapat diperoleh dari akses web Dinas Pendidikan.

Seiring bergantinya kurikulum, maka peraturan PPDB pun berubah mengikuti kebijakan Menteri Pendidikan dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Setempat.

Pada tahun 2012, seleksi nilai UN menjadi pertimbangan untuk PPDB baik tingkat SMP maupun SMA. Tetapi, karena Kota Surabaya harus siap menghadapi MEA, maka oleh Menteri Pendidikan dicanangkan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional).

RSBI dan Sekolah Kawasan

Untuk bisa masuk RSBI, maka setiap siswa harus melakukan test RSBI dengan tiga mata pelajaran yang terdiri atas Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA dengan tingkat kesulitan soal setaraf olimpiade. Sehingga, selain mempertimbangkan nilai UN, hasil test RSBI juga menjadi pertimbangan PPDB bagi siswa yang ingin bersekolah di RSBI.

Sejak tahun 2012, RSBI dibubarkan karena dianggap tidak sesuai dengan Standart Pendidikan Nasional. Pada tahun 2013, Pemerintah Kota Surabaya merubah system PPDB dari RSBI ke Sekolah Kawasan.

Sekolah Kawasan merupakan system pemetaan sekolah di Kota Surabaya berdasarkan pembagian rayon wilayah yang terdapat di Kota Surabaya, diantaranya Surabaya Pusat, Surabaya Timur, Surabaya Selatan, Surabaya Barat, Surabaya Utara.

Setiap rayon terdapat dua sekolah unggulan yang menjadi rujukan rayon wilayah tersebut. Contoh : rayon Surabaya Timur pada saat itu jatuh ke SMAN 16 Surabaya dan SMAN 20 Surabaya. PPDB Sekolah Kawasan pada saat itu mempertimbangkan syarat masuk Nilai UN yaitu minimal 32,00 untuk PPDB SMA Kawasan.

Jika Nilai UN dibawah 32,00 maka tidak bisa mendaftar ke Sekolah Kawasan. Selain prasayarat nilai UN minimal 32,00 juga diadakan TPA(Test Potensi Akademik) yang bertujuan untuk memetakan potensi siswa dan persebaran SMA Kawasan di Kota Surabaya.

Selain Sekolah Kawasan, juga terdapat PPDB Sekolah Reguler. Sistem penerimaannya sama dengan Sekolah Kawasan, namun PPDB Sekolah Reguler tidak menggunakan TPA, hanya seleksi nilai UN.

Dalam PPDB Sekolah Reguler juga dibagi beberapa rayon wilayah di Kota Surabaya pada saat itu. Sistem PPDB Sekolah Kawasan dan Sekolah Reguler ini berlaku di Kota Surabaya mulai tahun 2014 hingga 2016.

Pada Tahun 2017, kebijakan Dinas Pendidikan tingkat SMA diambil alih oleh Provinsi Jawa Timur, maka Seleksi PPDB pun demikian. Mulai tahun 2017, diberlakukan Sistem Zonasi.

Pro-Kontra PPDB

Sistem Zonasi merupakan seleksi PPDB yang mempertimbangkan system jarak dari rumah. Dimana, nilai UN tidak lagi menjadi patokan dalam seleksi ini. Melainkan jarak dari rumah ke sekolah yang dituju. Contoh : jarak rumah saya ke SMAN 16 sejauh 1 km. Maka peluang saya diterima di SMAN 16 cukup besar, meskipun nilai UN saya hanya 32,00.

Sistem Zonasi mulai diperlakukan sejak tahun 2017-2019. Tahun pertama dan kedua, masih mempertimbangkan nilai UN dan jarak dari rumah. Namun sejak tahun 2019, nilai UN sudah tidak lagi dipertimbangkan.

Sistem Zonasi ini menuai banyak pro-kontra dari masyarakat. Dampak positif dari Sistem Zonasi ini, dimana adanya pemerataan potensi siswa di setiap sekolah, juga memudahkan akses dari rumah menuju sekolah.

Dari perspektif Sosiologis, Sistem Zonasi ini akan mengkonstruksi sosial, dimana tidak ada lagi kesenjangan sosial antara sekolah favorit dan tidak favorit, siswa pintar dan tidak pintar, dan siswa dari kelas menengah atas maupun kelas menengah bawah.

Dampak negative dari Sistem Zonasi ini, memicu penolakan dari kelompok masyarakat tertentu, terutama masyarakat kelas atas yang merasa kehilangan haknya untuk masuk ke sekolah favorit. Penolakan ini wajar karena seolah masih ada stigma “siswa pintar seharusnya msuk ke sekolah favorit”, meskipun itu hanya stigma dari masyarakat tersebut.

Stigma tersebut sebenarnya dapat dibalik dengan sebuah pertanyaan : “apakah sekolah favorit hanya ditujukan bagi siswa yang cerdas dan pintar?”. Jawabannya tentu saja tidak, karena dengan prinsip meritokrasi idealnya semua siswa dapat masuk ke sekolah manapun, tidak terkait ia kaya atau miskin, pintar atau bodoh.

Dari perspektif lain, zonasi dipandang secara system yang mengusik kenyamanan bagi guru-guru yang selama ini mengajar di sekolah favorit. Mereka selama ini nyaman karena mengajar siswa cerdas dan mayoritas berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas.

Kini kompetensi guru di sekolah favorit diuji dan dipertaruhkan dengan mengajar siswa dengan kemampuan akademik yang sangat beragam.

Dengan kata lain, system zonasi menentang sekolah-sekolah yang selama ini nyaman dengan predikat “sekolah favorit” untuk membuktikan kemampuannya. Benarkah mereka mampu mendidik siswa dengan kemampuan di bawah standar menjadi “siswa genius”? Atau mereka sebenarnya menjadi favorit karena mereka sebenarnya hanya “mengolah” siswa yang sudah cerdas “dari sananya”.

PPDB : Kompetisi Sekolah

PPDB merupakan suatu ajang kompetisi sekolah untuk menunjukkan kualitas nya di mata orang tua murid dan calon peserta didik baru. Istilah “kompetisi” dalam pendidikan lebih banyak muncul dari perspektif “konflik”.

Perspektif ini dipelopori Karl Marx sebagai pencetus teori konflik yang menjadi cikal bakal berbagai konflik yang terjadi dalam praktik pendidikan. Menurut perspektif konflik, sekolah juga memberikan kontribusi terjadinya ketidaksetaraan social dalam masyarakat.

Sekolah dinilai telah melebarkan jarak antara si pintar dan si bodoh. Pendidikan juga telah membantu kelompok anak pintar untuk mempertahankan dominasinya.

Sebagaimana diketahui, dalam kehidupan social masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas tertentu. Posisi mereka bertingkat secara hierarkis, ada individu yang menduduki posisi atas ada individu yang menduduki posisi bawah.

Perbedaan kelas ini berimbas pada perbedaan kesempatan (re : kemampuan) untuk mengakses lembaga pendidikan. Dengan kata lain, sekolah yang mayoritas dihuni siswa pintar akan berbeda dengan sekolah yang dihuni siswa dengan kemampuan akademik biasa-biasa saja.

Refleksi Sistem Zonasi

Sistem zonasi sebenarnya merupakan kebijakan yang ideal. Tetapi, pelaksanaanya cukup mendadak sehingga menyebabkan sebagian orang tua tidak siap menyesuaikan rencana studi anaknya dengan kebijakan baru.

Tidak semua orang tua mendapatkan informasi yang cukup mengenai system zonasi ini karena sosialisasi sangat minim. Akan tetapi, terlepas dari teknis implementasi system zonasi yang sangat mendadak, implementasi zonasi sejak tahun 2017 masih memiliki kekurangan yaitu hingga sekarang, pemerintah masih belum menjamin pemerataan kualitas sekolah di setiap wilayah.

Padahal seharusnya, masyarakat memerlukan jaminan tersebut agar  mereka juga nyaman menyekolahkan putra putrinya di sekolah manapun. Dengan menjamin kualitas ini, maka pemerintah juga akan menjamin pemenuhan standar kualitas lulusan setiap sekolah.

Kedua adalah pada masalah posisi letak geografis sekolah. Secara historis, pemerintah tidak memperhatikan persebaran letak geografis sekolah. Akibatnya ada beberapa sekolah yang mengumpul pada wilayah tertentu, terutama di wilayah pusat kota.

Ketidakmerataan letak sekolah ini menyebabkan orang tua di wilayah tertentu tetap harus mengeluarkan banyak biaya untuk transportasi dari rumah menuju sekolah. Inilah kendala lain yang berkaitan dengan system zonasi di Indonesia.

Juga, sebagian orang tua masih mempercayai bahwa sekolah tertentu lebih baik daripada sekolah yang lain. Anggapan ini menunjukkan bahwa mereka belum meyakini bahwa pemerintah belum dapat menjamin bahwa semua sekolah memiliki kualitas yang sama.

Jaminan kualitas adalah kunci keberhasilan program zonasi ini. Jika jaminan ini tidak diberikan, maka sistem zonasi akan selalu menuai pro dan kontra karena ada sebagian kelompok masyarakat yang merasa dirugikan karena cita-citanya masuk ke sekolah favorit seolah dihambat.

Daftar Pustaka

Asri Ulfah, Ali Imron, Ahmad Yusuf. 2017. Efektivitas Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Melalui Sistem Penerimaan Peserta Didik Online. Jurnal Manajemen Pendidikan. (6-9)

Martono Nanang, Puspitasari Eli, Wardiyono. 2018. Kematian Sekolah Swasta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta.

Izdihar Aisy
Izdihar Aisy Mahasiswi Pendidikan Geografi yang suka nulis, ngebacot tapi gak asal bacot. Paling suka kalo bahas tentang Sosial, budaya, geografi, sama pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *